
Kini angin sepoi sepoi menerpa beberapa helai rambut Anaya dan Janson, memainkannya perlahan lahan lalu dengan segera keduanya merasakan deraan rasa kantuk.
Ditengah hutan belantara yang lebat dan pohon pohonnya yang berukuran raksasa dan diluar kelaziman ukuran pohon pada umumnya maka manusia tidak akan menyadari bahwa ia sudah masuk ke dalam alam yang sama sekali berbeda dengan alam yang sebelumnya.
Semilir angin membawa dedaunan kering berwarna kecoklatan bercampur warna gelap kini menyelimuti area tempat keduanya tertidur, lantas dari jarak yang cukup dekat dengan lokasi kedua bocah itu melangkahlah seseorang yang berpakaian serba putih dengan kain bercampur warna biru yang indah, rambutnya ditata rapih dan ia memakai riasan yang tipis namun terlihat tebal jika dilihat oleh manusia.
Kakinya putih kemilau kekuningan karena terkena pantulan sinar matahari, tatapannya kini mengarah ke samping dan memandang sesuatu yang ada di belakangnya.
Bola sanggulnya yang berbentuk kelopak bunga terlihat bagus disertai benda semacam tusuk rambut dikepalanya. Pakaiannya mirip orang orang Jepang namun kain motifnya adalah berciri khas jawa, yaitu batik canting. Pakaiannya hanya sepanjang lutut dan terbelah di sisi sisinya. Kain yang menutupi atasannya hanya sebatas siku. Selain motif batik di pakaiannya tak ada satu hiasan yang mewah ditubuhnya. Selain wajahnya yang cantik pakaiannya lebih terlihat sederhana. Di kakinya tak memakai alas apapun karena ia mengambang beberapa senti dari atas tanah.
Wanita ini berjalan di ujung ujung daun yang jatuh dari atas pepohonan hutan, sungguh cara berjalan yang elok.
Ia hanya memakai anting di sebelah telinganya, dan itupun hanya anting perak biasa.
"Hei nak, apa yang kalian lakukan di hutan dunia siluman?" Tanya Wanita itu yang kini melangkah mendekat ke arah Anaya dan Janson yang kini samar samar merasa terbangun dari tidur mereka.
"Nak, bangunlah dari mana kalian berasal?" Tanya wanita itu namun Anaya masih samar samar mendengarnya.
"Kak Xin ada buaya, tolong kami. Kami ada di sebelah selatan sekitar 3 kilo dari mobil kita." Anaya mengigau.
"Sepertinya mereka tertidur karena kelelahan. Aku sebaiknya mencari tahu sendiri kenapa anak anak manusia ini bisa berada diperbatasan Hutan Kionh selatan." Wanita itu bergumam pelan.
Tangannya mengepal dan menciptakan aura padat berbentuk bola kristal yang bisa mendeteksi asal muasal para anak anak ini, dan itu adalah kekuatan tingkat tinggi.
"Ooh, jadi ternyata mereka tak jauh dari sini. Portal menuju dunia ini sangatlah misterius bagaimana mereka bisa memasukinya dengan sembarangan? Aku padahal sudah menyamarkannya menjadi dedaunan akar pohon namun masih ada yang bisa tersesat ya." Wanita itu geleng geleng sendiri sembari terduduk di sebuah batu yang dimunculkan dari dalam tanah oleh sihirnya.
Seketika Wanita itu duduk bola padat auranya itu melayang dan menunjukan lokasi terakhir mereka memasuki perbatasan Hutan Kionh.
"Daun Shima. Anak anak ini memegang tanaman Shima tempatku menyembunyikan portal menuju dunia ini, dan kenapa keduanya melakukan hal yang nekat seperti ini? Tunggu sebentar ada seekor buaya kecil yang mengganggu mereka! Ternyata mereka masuk secara tidak sadar ya. Di hutan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan di hutan sana. Hewan disini berukuran 5 kali lipat lebih besar dibanding buaya kecil tadi. Bahkan nyamuk saja ada yang seukuran dengan sapi di dunia kalian lho!" Wanita itu terkekeh seorang diri sambil beberapa kali memandangi Anaya dan Janson yang masih tertidur pulas.
"Nona, nona Yui Jiyan."
Setelah beberapa saat hanya hening dari arah semak semak dibelakangnya ada siluman yang tengah mencari siluman lain.
"Ada apa," Wanita yang tengah memperhatikan lagi bola aura padatnya kini menyudahi kegiatannya sesudah kalimat yang tak asing itu memanggilnya.
"Yui, kau dimana?" Suara itu semakin terdengar jelas karena jaraknya memang tak jauh lagi.
Wanita tadi yang tengah sibuk sendiri menoleh ke belakang karena mendengar panggilan namanya yang berulang ulang, ya dialah Yui Jiyan yang merupakan panglima di sebuah kerajaan di wilayah selatan hutan Kionh. Dia seorang panglima yang perkasa kala berhadapan dengan lawan lawannya di medan perang. Selalu bersikap apa adanya dan ramah ke semua kalangan Siluman kelas bawah. Namanya tersohor di kerajaan itu. Namun satu hal yang belum pernah ia ketahui hingga saat ini.
"Anak ini entah siapa dia, namun aku merasakan aura yang murni pada dirinya. Sedangkan bocah lelaki ini, entah mengapa aku iba terhadapnya dan nasibnya di masa mendatang. Ada apa sebenarnya? Tidak Sembarang orang yang bisa menyebrang ke dunia siluman dengan begitu mudah. Anak anak ini bukan anak biasa." Cetusnya.
"Belum lagi masalah kerajaan yang terbagi menjadi tiga, selama 1abad terakhir semua siluman tak lagi bisa hidup tentram, termasuk aku. Selama satu abad aku merasakan ada yang janggal di wilayah timur sana dan wilayah utara. Sejak meletusnya pertempuran saudara yang melibatkan Raja dan keluarganya di lokasi pusat kerajaan di daerah barat tempat hutan kematian berada, negri dunia Siluman tak lagi memiliki masa kejayaan. Wilayah timur dikuasai ratu dan utara dikuasai raja. Sisanya pada putri mereka yaitu putri Shi ya. Hanya Putri Shi ya yang memberikan peraturan yang wajar bagi kami para prajurit siluman dengan pemerintahan yang adil bagi seluruh kalangan siluman, sisanya mereka hanya dijadikan robot untuk menguasai dunia luar, kabar burung lainnya mengatakan jika Ratu di wilayah timur sudah mengirimkam pasukan kecil untuk mencari keturunan sang pemilik tahta sesungguhnya. Siapa yang ratu itu maksud, apakah pangeran itu yang dibicarakannya?" Gumam Yui.
"Hei Yui, disini kau rupanya, sudah berapa kali aku berusaha mencarimu? Apakah perburuanmu sudah selesai?" Ruha berceloteh kepada sahabatnya.
"Ruha, kenapa kau membawa pelayan kemari?" Tanya Yui.
Ruha mendengus, "nah tunggu apa lagi, ayo kita ke istana, dan.. Apa yang kau lakukan disini?" Ruha menoleh lagi ke belakang, ia menemukan sesuatu hal yang aneh.
"Ini yang mau aku bicarakan, mereka manusia yang menerobos portal tak terlihatku."
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Keduanya dikejar oleh buaya kecil, lalu bersembunyi di lubang pohon. Itu adalah portalnya, setelah itu buaya kecil itu juga ikut memasukan moncongnya ke sana. Dan jadilah ketiga mahkluk itu di dunia ini."
"Jadi kau akan melaporkannya?" Tanya Ruha.
"Jangan laporkan ini pada Putri, mereka hanya manusia biasa yang tersesat. Aku akan mengembalikan mereka. Tunggu disini aku akan segera kembali." Yui beranjak berdiri lalu melesat dengan membawa Janson dan Anaya bersamanya, Anaya dan Janson tak perlu keluar dari dunia siluman sendirian mereka akan diantar.
'Aku tidak yakin mereka hanya manusia biasa, aku harus memastikannya sendiri dengan kedua mataku kalau mereka hanya rombongan kemah yang tersesat. Intuisi fikiranku meragukan kalau mereka sekedar manusia biasa. Ditambah lagi ada saksi yaitu Ruha dan pelayan. Jangan sampai hal ini bocor ke luar sana, jika benar mereka bukan manusia biasa aku akan menyampaikan ini pada putri langsung.' Yui melesat cepat di antara pepohonan, Anaya yang sedang dalam keadaan tertidur denga temannnya terus dibawa terbang ke langit langit.
Ketiganya melesat lebih cepat dari kedipan mata. Ruha dan pelayan di bawah sana harus tutup mulut karena ini perintah panglima, dan Ruha tampak kesal di bawah sana, wajahnya berkerut tipis.
'Dia lagi lagi menyembunyikan sesuatu yang penting dariku!!' Gerutu Ruha.
"Kembalilah ke kerajaan, aku akan menyusul panglima dan tak perlu khawatir aku akan segera kembali." Ruha melesat tanpa sihir, karena Yui akan mendeteksi apapun yang mengikutinya, tapi dia takkan tau kalau Ruha tidak menggunakan sihir.
Ruha menggunakan kekuatan fisiknya untuk mengejar Yui Jiyan.
Diantara lebatnya hutan hutan itu, kedua peringgi kerajaan itu saling mengejar. Yui tiba di pintu perbatasan dan langsung melangkah hingga jejak auranya tak bisa terdeteksi lagi.
Di detik berikutnya sat Yui melewati pintu perbatasan Ruha berhenti. Karena ia tak mungkin melewati pintu itu. Yui pasti tengah mengawasi siapapun yang keluar melalui pintu buatannya.
Ruha mengumpulkan auranya dan memadatkannya. Ia tengah berusaha meniru gerbang antara dunia manusia dan Siluman dengan melihat pintu perbatasan yang Yui buat.
Lima menit berlalu dan Ruha berhasil membuat pintu perbatasannya sendiri, dan itu jaraknya jauh dari pintu buatan Yui.
Ruha sempurna berada di dunia manusia dengan portal buatannya sendiri, Ruha mulai meneliti setiap aura aura di sana. Dan ia menemukan beberapa alat alat manusia seperti handuk dan beberapa pakaian. Ruha tiba di tepi sungai tidak seperti Yui yang muncul di tepi hutan.
Kebetulan disana ada seseorang yang tengah berendam di ceruk sungai dangkal, ia adalah kakaknya Anaya Xin.
"Haahh, melegakan sekali rasanya berendam di air sungai yang dingin setelah puas berlatih. Entah kemajuanku sudah seberapa jauh, tapi setidaknya aku harus memperlihatkan keahlianku pada Nyi Yawana. Beliau mengajariku banyak sekali, dari mulai membuat aura menjadi padat, ledakan aura sampai menyamar. Dan sekarang tinggal menunggu beberapa jam lagi saja, lalu aku akan kembali." Xi. Berceloteh sembari kata katanya didengarkan oleh Ruha.
Ruha yang merupakan siluman kerajaan tentu saja faham kalau yang ia lihat bukan manusia yaitu siluman yang menyamar, namun di hutan ini adalah tempat yang tak pernah berani dikunjungi siluman kecil sepertinya, ia juga tak terlihat asing bagi Ruha.
"Hei kau!!" Ruha memutuskan keluar dari bebatuan, dan berhenti mengintip Xin."
Xin beranjak melilitkan handuk ke tubuhnya dengan sihir sebelum menoleh.
"Siapa kau?" Tanya Xin.
Ruha terdiam sejenak.