TO THE DEAD

TO THE DEAD
Nama dari Quen



Quen melangkah santai di ke arah Heng yang berhenti sejenak untuk melihat pemandangan saat Quen menghabisi Lipan raksasa itu seorang diri dengan sebuah benang.


Itu tadi merupakan pemandangan yang luar biasa yang pernah dilihat oleh Heng sepanjang hidupnya, betapa tidak! Quen di atas sana tidak seperti berperang melawan dengan kekuatan penuh, melainkan Heng seolah melihat penari benang tipis yang amat berbahaya. Benang tipisnya itu sangat menakjubkan dan terlihat berkilauan dari bawah.


"Bagaimana keadaanmu Heng, apa kau baik baik saja? Tapi kelihatannya kau baik baik saja baiklah aku akan merubah wujudku menjadi lebih normal." Sekejap kemudian Pakaian Quen yang berkemilauan kain kuning itu menghilang digantikan dengan pakaian pemanah yang biasa dikenakannya.


"Siapa kau sebenarnya Quen? Berpuluh puluh tahun kau menyembuyikan hal ini dariku dan Rey, kenapa?" Heng berkata serius padanya.


Quen yang tadi bertanya ramah padanya setelah melihat lagi raut wajah dari Heng, nampaknya kali ini Heng benar benar marah padanya dan bukan hanya ada kemaraan di raut wajahnya, Quen melihat raut kekecewaan dari wajah Heng.


Heng, Quen dan Rey membangun hubungan mereka dari awal adalah dengan kepercayaan dan juga kesetiaan, kini Quen telah melanggar dua peraturan tak terucap mereka.


Quen harus menerima konsekuensi atas apa yang ia lakukan ini, Quen tidak mengharapkan untuk dimaafkan dan kini ia bebas untuk menjaga Anaya saja sudah lebih dari cukup. Quen tidak menjawab kata kata Heng.


Quen mulai beranjak mengubah diri lagi, dalam sekejap ia berganti lagi penampilan.


Kali ini Heng berusaha menghadangnya dengan mengacungkan pedang di saku pinggangnya.


Quen terkejut atas apa yang Heng Lakukan saat ini, matanya terbelalak tapi ia berbalik ke arah lain dan tidak peduli.


"Quen!! Tunggu dan jawab pertanyaanku!! Kau siapa sebenarnya?" Kali iniHeng benar benar merasa sangat marah.


"Aku siluman Heng, hanya itu. Selebihnya kau tidak perlu tau sekarang aku akan pergi.. " Quen menjawabnya dengan singkat dan terdengar jelas di telinga Heng.


Mata Heng terbelalak, dan mengingat kembali saat oa bertemu Quen.


("Gadis itu dalam bahaya, Siluman Mayana akan menerkamnya dari belakang!! Aku harus melakukan sesuatu untuk segera menolongnya..!! Oh ya, beri hitam ini!!")


Hal itu menjelaskan satu hal padanya, jika benar Quen siluman tapi ia bukan ada di pihak yang kezi tapi Quen sebenarnya memiliki tujuan apa hinga menyamar sebagai manusia dan menipu Rey dan dirinya?


Saat Heng ingin berbalik dan bertanya pada Quen dia telah hilang, namun ada kertas yang menggelinding di kakinya.


"Aku tau Heng kau bingung terhadapku kan, Panggil saja aku Nyi Quen alias Dwi Quen yang menjadi pelayan dari Ratu Laras dan Raja Kezi. Walaupun pada akhirnya tahta itu direbut dan terpecah jadi tiga. Kini tujuanku adalah menjaga kerurunannya yaitu pada Anaya." Heng membacanya sekilas dan mengerti situasinya walau sedikit.


Tapi ada satu hal yang membuat Heng bingung, "Quen menuliskan disini, bahwa dia harus menjaga keturunan dari Ratu Laras dan Raja Kezi yaitu Anaya, tapi bocah itu tidak nampak seperti siluman. Yang aneh dari anak itu ialah auranya yang seperti siluman. Apa aku salah menilai Anaya?" Heng bergumam dengan pemikirannya sementara ia berfikir, ia sambil berjalan ke arah kudanya dan ia kini menyusul Rey yang membawa Anak Anak itu ke tepi jalan raya kota.


...ΩΩΩΩΩ...


Mobil berwarna merah cerah itu memasuki pelataran rumah, satpam penjaga gerbang selalu siap di tempat untuk menyambut sang pemilik rumah.


Galih melajukan mobilnya ke arah garasi dan memarkirkan lagi kendaraan itu, salah satu supir di rumah itu terkejut karena mobil dipenuhi debu dan arang dimana mana, cemong.


"Den Galih, Den Galih habis dari mana? Kok mobilnya belepotan gini! Mamang kan habis cuci mobilnya pagi ini, eh udah kotor lagi." Tanya sopir itu.


Dan Galih tidak menyangka bisa melihat Ayahnya keluar dari kamar, kini Fariz duduk sambil meminum teh hangatnya.


"Ayah, ayah tidak marah lagi?" Galih bertanya heran.


"Galih," Mendengar suara putranya yang bergetar, Fariz meletakkan tehnya sekejap.


"Nak, Ayah merasakan Janson akan segera kesini.. Beberapa jam lagi, ia mungkin masih ada di tepi kota." Fariz menjawab yakin sambil menatap Galih dengan gembira.


"Memang Janson akan segera kesini paman? Janson akan pulang??" Aliza berseru senang.


Wajah Galih terlihat sedih, Fariz yang melihatnya langsung bertanya padanya.


"Ada apa Galih? Kau tidak senang ya Janson kembali?"


"Yah, Ayah mengacaukan kejutan!!" Galih duduk bersandar sofa selelah mengatakannya.


"Kejutan, kejutan apa? " Fariz tidak mengerti apa yang Putranya katakan.


"Paman Fariz, kak Galih tadi ngajak Aliza lho jalan jalan!!" Kini Aliza yang bercerita sembari menggandeng tangan Fariz.


"Oh ya, Jalan jalan kemana?" Fariz bertanya riang.


"Jalan jalan ke rumah Anaya, dan aku nemuin ruang bawah tanah di sebalik tangga rumah Anaya!! Lho hebat kan Aliza!!" Puji Aliza pada dirinya.


Tapi raut wajah Fariz yang mendengarnya tidak terlihat senang, melainkan raut wajah terkejut yang terpampang disana.


"Ada apa Ayah?"


"Galih, apa kamu menemukan pintu menuju dunia siluman?? Apakah di ruang bawah tanah itu?? Jawab Ayah Galih!"


"Iya, Galih menemukannya Ayah. Dan Galih menemukan Jam tangan Janson disana. Pasti mereka lewat sana saat kebakaran membara di seluruh rumah, dan kemungkinan mereka terluka ada bekas bekas darah di tangga besinya. Darah itu nampaknya milik Anaya, tapi Janson mungkin saja juga terluka. Tapi sekarang situasinya bukan itu Ayah. Siapa orang yang mengantarnya pulang nanti? Kita harus mencegahnya pergi dan menanyainya apa yang terjadi pada Janson dan Anaya setahun ini!!" Galih berkata serius.


"Ayah setuju Janson, kita harus bertanya pada orang yang mengantar mereka secepat mungkin." Fariz mengangguk.


Aliza yang melihat keduanya berbicara dengan wajah yang serius hanya bisa bolak balik melihat wajah Galih dan pamannya, selebihnya Aliza tidak memahami kalimat keduanya yang sedang mengobrolkan hal yang penting.


Aliza seperti lalat yang terbang kesana kemari tanpa tau tujuan, Aliza yang lapar meraih garpu yang ada di meja dan memakan kue bolu coklat di atas meja, kue itu tadinya mau dijadikan sarapan untuk Fariz, tapi karena ke asyikan mengobrol dengan Anaknya Galih jadi ia melupakan sepotong kue terakhir diatas meja. Walaupun nanti Bi ina bisa membawakan cemilan lain tetap saja, kue yang terakhir dinikmati adalah yang paling enak.


"Aku seperti menonton film bioskop yang menayangkan orang orang yang berdebat dengan wajah senang, apa aku gak bisa mengomentari ini? Kakak dan Paman melupakan ada aku di ruangan ini menyebalkan!!" Gerutu Aliza.