
Qiunaya tersenyum di gendongan Janson sepanjang perjalanan mereka kembali, betapa lucunya wajah kekasih hati Anaya ini baginya ingin Qiunaya mengerjainya sekali lagi.
"Jan, janson aku.. Lapar, janson.." Qiunaya bergumam lagi di gendongan Janson.
Janson melirik sekilas ke belakang, ia mempercepat langkahnya. Ketika langkah Janson cepat dan tidak memperhatikan arah, Janson menginjak pecahan kaca secara tidak sengaja, tapi dampaknya Janson kesakitan di bagian kakinya, darah keluar dari sana. Darahnya tidak sedikit namun cukup banyak.
Saat itulah Qiunaya merasa sudah keterlaluan pada Janson kekasih Anaya. Ia tiba tiba bangun di gendongan Janson.
"Tu, turunkan aku." Qiunaya berseru kencang dengan suara Anaya yang dimirip miripkan.
"Anaya, tapi.." Janson lebih menghkawatirkan Anaya dibanding luka kakinya.
"Turunkan!" Anaya berseru lebih kencang, nadanya serius.
Baru kali ini Anaya bersikap seperti orang lain pada Janson, seketika Janson merasa bukan menolong Anaya melainkan Gadis lain yang tidak ia kenali, dengan wajah yang familiar di mata Janson.
'Anaya, sejak kapan kau berubah begini?' Batin Janson.
Janson menurunkan Qiunaya dari gendongannya, Qiunaya pura pura masih patah patah untuk berdiri, ia melihat luka kaki Janson, segera Qiunaya mendorong janson agar duduk.
Gerakan spontan dari Qiunaya membuat Janson tidak siap. akibatnya mereka berdua terjengkang ke belakang, Qiunaya berada tepat di dada Janson, dada keduanya berdegup kencang, pipi keduanya memanas.
Suasana berubah canggung ~
Qiunaya bangkit berdiri patah patah dari dada datar Janson, Qiunaya langsung meraih dedaunan sekitar dan menutup pendarahan di kaki Janson, ia mengeluarkan sedikit energi pemulihan lukanya di dedaunan yang tadi ia raih, perlahan luka Janson menutup.
"Aaakkh.. Sakit, Anaya apa yang kau lakukan?" Janson merasakan sakit di kakinya.
"Ini daun yang berkhasiat, tenanglah." Qiunaya tentu telah membuat mata merahnya terlihat coklat di mata Janson agar tidak ketahuan.
Janson membiarkan Anaya melakukannya.
Qiunaya beranjak berdiri, "Mari aku papah kau." Qiunaya mengulurkan tangannya, Janson belum pernah mendengar Anaya tidak menyebutkan namanya. Kali ini dengan datar Anaya berbicara dengan aneh dan dingin padanya, seolah ia bukan Anaya.
"Anaya, sejak kapan kau berhenti memanggil namaku?" Janson bertanya pada Qiunaya.
'Astaga aku lupa, bocah ini selalu menyebut nama janson di setiap kalimatnya.' Qiunaya lupa akan hal kecil kebiasaan Anaya.
"Janson, aku hanya ingin berkata berbeda saja, mungkin itu hanya perasaanmu. Yang penting sekarang kau harus diobati di perkampungan sana. Di rumah Kakek Heng, ya." Qiunaya mencoba tersenyum bahagia seperti Anaya. Janson sekali lagi melupakan perasaan bahwa ini bukan Anaya, mungkin ia hanya menduga. Jelas jelas ini Anaya dan bukan orang lain.
"Ya baiklah,"
Setelah mereka sampai di tepi hutan, Dian yang sedari ditinggalkan Janson di sana, selalu mondar mandir tidak karuan seperti setrika.
Beruntung kecemasan Dian hanya sampai di sana, setelah Janson muncul dengan kondisi yang luka, Dian ikut memapahnya kembali ke kediaman Heng.
Ketiga orang yang sudah berumur itu bahu membahu membaringkan Anaya dan Janson di ranjang, kemudian diobati oleh Quen. Cuma dia yang menguasai teknik pengobatan dengan tenaga dalam, sedangkan Heng mengandalkan tetumbuhan tertentu untuk membuat obat.
Qiunaya merasa diperhatikan oleh Quen secara tajam.
'Ada apa dengan Anak manusia ini, ia seperti siluman. Apa ini cuma perasaanku saja atau ia benar benar siluman?' Batin Quen menerka nerka karena penglihatannya setajam elang, ia tidak mungkin salah.
"Kenapa kalian berdua bisa terluka seperti ini? Anaya sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kata Janson kau menghilang!" Dian langsung membanjiri Qiunaya dengan banyak pertanyaan, mengalihkan pandangannya segera dari tatapan tajam Quen.
"Aku tadi mengikuti kunang kunang sampai tepi sungai sana. Tiba tiba ada makhluk air yang muncul menerkamku, aku hendak dimakan tapi aku malah pingsan, dan aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya. Hewan itu telah pergi begitu saja..!" Mendengar cerita singkat dari Qiunaya, Dian menjadi jeri ketakutan, hal itu terlihat jelas karena wajahnya yang mulai memucat.
"Hewan, hewan apa?" Heng menyahut dari kursi di sebelah Dian. Heng tengah menumbuk biji bijian di dalam benda yang dinamakan lesung.
"Hewan itu besar, punya cakar tajam, ia seperti ikan namun badannya licin." Qiunaya mencoba mengarang cerita tentang ciri ciri makhluk itu.
"Apa seperti belut?" Rey bertanya.
Anaya mengangguk.
Hening sesaat.
"Itu adalah Naga Air."
Ucapan itu terlontar dari mulut Quen, ia beranjak berdiri setelah mengatakan kalimat tersebut dengan yakin. Nadanya sedingin es, tatapannya tajam ke arah Anaya bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
"Naga? Makhluk apa itu?" Dian bertanya tidak mengeri dan tidak faham.
Quen sejenak menoleh ke arah Dian, "Kau ingin tau?" Quen berada tepat di depan matanya.
Dian mengangguk mantap. Janson mengangkat tangannya karena ingin bertanya.
"Nenek Quen memangnya tau itu hewan apa?" Tanya janson yang duduk di sebelah Anaya.
Ruangan kamar dengan lima kursi kayu itu lengang lagi, Quen menghembuskan nafas pelan.
"Tentu aku tau, sebentar." Quen mengeluarkan gulungan abu abu dari balik bajunya. Melebarkannya di depan sahabatnya dan anak anak itu.
Seketika terbentang selembar gambar yang di atasnya terlihat banyak sekali bentuk nan rupa hewan hewan maupun siluman, dari siluman lemah sampai siluman tingkat tinggi, banyak catatan juga yang tertulis di setiap karakter gambar. Setiap satu info tentang hewan dunia siluman catatannya sampai 20 - 40 halaman paling banyak, sedangkan catatan untuk Naga Air sedikit sekali, jauh berbeda dari yang lainnya.
Sebuah gambar Naga Air terpampang jelas di atasnya.
"Wuahh bagus banget gambarnya." Dian kagum menatap gambar itu.
"Naga Air atau disebut DRAGON WATER adalah makhluk legendaris dari kerajaan Air, makhluk mitologi ini katanya mendiami sungai Abadi sejak awal kemunculan siluman, namun itu semua belum terbukti sampai sekarang, mitosnya ia adalah hewan yang diasingkan oleh seorang Pangeran Kerajaan Air. Ia mempunyai cakar tajam di keempat kakinya yang diselimuti bulu biru halus, serta bertubuh licin karena dari dalam tubuhnya selalu mengeluarkan lendir berwarna putih transparan, hewan ini lebih besar dari sungai Abadi jika sudah dewasa, pertumbuhan hewan ini sayangnya lambat, ketika musim kawin tiba Naga Air akan keluar dari air dan bertelur di dalam pasir, seperti kura kura. Telurnya kira kira sebesar 2 meter dengan panjang 1 meter. Bayi Naga Air akan keluar dari telur saat usia telurnya 1 abad, hewan ini termasuk langka bahkan di daerah asalnya yaitu wilayah laut selatan. Selain itu hewan ini adalah hewan yang tidak berbahaya, makanannya adalah ikan ikan kecil di sungai. Naga Air pernah dipelihara oleh pangeran, selain Naga Air ada satu lagi jenis yang sama namun sangat Agresif. Belut Naga Listrik rupa dan perawakannya hampir sama dengan Naga Air, yang membedakan adalah bentuk mulutnya dan sirip di bagian samping matanya, hewan ini kerap menyerang tiba tiba. Ada banyak leluhurnya di wilayah Selatan dan Sungai Abadi." Itu akhir kalimat yang tertera.
"Apa benar perawakan hewannya seperti Naga Air, atau seperti Belut Naga Listrik?" Tanya Quen kepada Anaya setelah ia membaca karakteristik serta ciri ciri kedua hewan itu panjang lebar.
Anaya menggeleng tidak tau.
'Dari mana wanita manusia tua ini bisa mendapatkan gulungan kerajaan Hirina di Kota Bansar, cap hitamnya tertera hampir di semua detail kecil kainnya, aku memperhatikan kala dia mengeluarkannya pertama kali tadi. Apakah ia juga musuhku atau kawanku?' Ujar Anaya di benarnya, tepatnya Qiunaya yang sedang berfikir.