TO THE DEAD

TO THE DEAD
perdebatan



Xin beranjak berdiri sembari melilitkan handuk ke tubuhnya sebelum menoleh dan menjawab peetanyaan yang keluar dari suara asing yang tak pernah didengarnya.


"Siapa kau?" Xin bertanya tegas, wajahnya terlihat sekali raut terkejut dan kemarahan yang bergejolak.


"Apakah kau siluman?" Ruha bertanya datar sambil menatap Xin dengan tatapan dingin. Bukannya menjawab pertanyaan itu Xin malah melepaskan bola ledakan aura pada Ruha.


Bukan karena Ruha menyerangnya duluan, tetapi ini situasi yang memalukan bagi Xin. Ia sedang mandi dan tiba tiba ada yang pria siluman yang muncul dari sebalik batu. Tentu saja ia seperti tak punya harga diri ditanyai saat sedang mandi.


Ruha terkejut dengan serangan mendadak tersebut, sekarang bola itu tak mengenainya tetapi bebatuan yang ada disampingnya. Mudah saja menghindari bola ledakkan kecil, kurang dari sedetik Ruha berpindah ke belakang Xin.


"Hei hei nona kecil, kau akan menyerangku dengan bola tadi. Kau takkan bisa! Kau memang terlihat kuat, tapi kau bukan tandingan untukku. Kita berbeda level." Ruha berseru.


"Kau seenaknya saja bertanya saat aku dalam kondisi begini, hah!!" Xin berteriak keras.


"Hm, tak perlu pakai wujud manusiamu, lawan aku dengan wajah aslimu!!" Ruha menceletuk.


"Beraninya!!"


Xin melesat dengan cepat, namun mudah saja bagi Ruha menghindari serangannya yang seperti patukan seekor burung.


"Sekarang kau main fisik, hei aku hanya sedang mencari seseorang yang kedunia ini. Apa kau mengenal barang barang ini?" Tanya Ruha, memperlihatkan beberapa handuk dan pasta gigi Anaya pada Xin.


"Hah, itu itu.."


Ruha kembali menatap barang barang yang ia dipegang, sebaliknya Xin menatap penuh amarah pada Ruha.


"Kau apakan adikku!! Heiii!!" Xin berteriak murka.


Ruha terdiam, kemudian tertawa mendengar teriakan Xin didepannya.


"Hahahaha.. Dia Adikkmu? Yang benar saja nona kecil, kau bahkan tidak mirip dengannya! Dan bagaimana mungkin manusia seperti itu punya kakak siluman?" Ruha berseru mengejek, ini lelucon yang paling buruk yang pernah didengarnya.


"Jadi kau tidak percaya?" Xin menggeretakkan giginya karena kesal.


Xin berbalik dan menuju sebuah batu besar lalu mengganti bajunya dan juga mengganti tubuhnya menjadi wajah aslinya, kini ia berpakaian serba kain putih. Dengan langkah mengambang dan rambutnya yang panjang telah ditata dan disanggul. Menggunakan riasan sederhanya yaitu pita di sanggulnya. Kulit nya berganti menjadi putih, tidak seperti kulit sebelumnya yang kuning langsat. Matanya mempunyai bulu lentik, ditambah di kelopak mata Xin terlihat berwarna biru tipis. Matanya berwarna merah darah berkilauan ditimpa cahaya matahari.


Ruha berdiri dari jongkoknya di batu paling tinggi. Bersamaan dengan Xin sampai di depan Ruha. Ruha berhenti menertawakan Xin dan maju dengan banyak pertanyaan lainnya.


"Kau kakaknya, wajah kalian tampak mirip. Tapi bagaimana bisa? Apa kau keturunan pangeran itu?" Ruha mendekat hingga mengikis jarak hingga menyisakan dua inci didepan Xin yang masih terlihat marah padanya.


Akan ku katakan bahwa Siluman ini sungguh tak sopan sama sekali, mana ada Siluman terhormat bisa mengintipku saat mandi apalagi di tempat terbuka seperti ini, sungguh memalukan dan memuakkan!!


Kini kepalan tanganku terasa panas membara karena rasanya aku ingin memukulnya sampai benar benar puas!


"Cih!" Xin berdecak kesal.


"Asal kau tau saja nona kecil, sekarang adalah waktuku yang sangat berharga. Jadi kau mau kan memberitahukan dimana kendaraan kalian? Manusia bukannya menggunakan kendaraan untuk berpergian?" Tanya Ruha berusaha mengempiskan rasa jengkel Xin padanya dengan berkata jujur.


"Eh," Tatapan penuh amarah Xin memudar.


"Bukankah kau tau itu benda milik siapa? Kau membawa adikku dan kau bertanya tentangnya padaku? Sekarang kau menanyakan kendaraan kami, apa maksudnya kau mengatakan semua ini jika kau sudah menangkap adikku." Xin berseru sambil mengerutkan dahi.


"Aku baru pertama kali bertemu dengan kalian para manusia, aku malah menemukan ini di tepi sungai kecil ini, jadi bisakah kau membantuku?" Ruhapun tak tahan lagi dengan amarah Xin, dia menghela nafas sambil menjelaskannya dan sesekali mengangkat bahu karena ia memang tidak tau kalau Gadis yang tersesat bersama bocah itu adalah adik siluman kecil ini.


Xin membeku seketika, ternyata ia baru saja menuduh siluman yang terlampau jauh usianya dari Xin, 'astaga aku sudah salah sangka hanya karena ia membawa barang barang Anaya bukan berarti dia menyekap adikku. Terlalu terburu buru menyimpulkannya karena kukira siluman ini telah menyekap adikku di suatu tempat, ternyata itu tidak nyata hanya dugaan perasaanku yang buruk karena terkejut kenapa barang barang adikku ada padanya, padahal aku sudah menyerangnya dengan alasan pribadiku juga terlihat brutal. Tapi dia malah mewajarkan sikapku yang kelewat tidak sopan. Apalagi usianya melebihi siluman Wayana yang baru muncul 40 tahun lalu. Raut wajah siluman ini lebih bersahabat.'


"Maafkan aku!" Xin menunduk meminta maaf.


Ruha terlihat mengerutkan alis karena kesal oleh bocah ini yang terus mengulur ulur waktunya yang berharga.


"Sekarang katakan padaku dimana letak kau dan manusia lainnya berada? Aku harus menemui siluman lainnya disini. Kini tak banyak waktu yang kumiliki." Ruha berseru.


Xin terlihat mengangguk angguk mengerti dengan penjelasannya, lalu mulai berbicara.


"Di kejauhan sana terdapat mobil Yoha dengan warna merah, Adikku mungkin sudah sampai disana. Tapi boleh tolong kembalikan barang barang itu?" Xin berbisik pada Ruha.


Ruha yang sudah setengah jam meladeni Xin dengan amarahnya kini cemberut lalu melemparkan handuk, baju dan beberapa sikat itu kepada Xin. Ruha hanya melemparkan barang barang itu dengan ujung jari, sewaktu memperlihatkannya pun sama Ruha hanya mengangkatnya dengan sihir.


Xin menangkapnya dengan sihir namun gagal mengendalikannya lalu ia menangkapnya dengan kedua tangan.


"Kukira kau bisa berlatih dengan baik jika terus berlatih. Bola aura itu bisa kau isi dengan aura api. Tinggal panaskan aura panasmu dan teorinya sama dengan memadatkan energi. Tinggal balik, cairkan auramu dan bakar auramu menggunakan ujung jari. Kala aura panas dicairka akan semakin panas. Kalau aura dingin dipadatkan secara padat maka akan semakin dingin ingatlah itu!" Ruha melesat setelah melontarkan kalimat tersebut, kecepatannya berpindah sangat mengagumkan.


Xin yang tadi mendengarkan kalimat kalimat Ruha menjadi sedikit bingung dengan teori yang barusan diajukannya.


"Memanaskan aura? Nyi Yawana tak pernah bilang padaku, tapi apakah semua itu benar benar ada? Meledakkan bola api aura." Gumam Xin.


*****


Aku akan bergerak dengan cepat dan menyusul Yui ke arah ini, kata gadis siluman tadi aku akan menemukan jalanan luas.


Ruha berhenti sejenak karena merasakan aura besar sedang menuju ke arahnya.


"Ada yang datang, apakah itu Yui?" Ruha berhenti dan menyembunyikan dirinya disebalik pohon besar, kala itu juga Yui terlihat membawa sesuatu di tangannya, berupa makanan yang mungkin diberikan oleh Galih.


Ruha kembali bergerak dan batal menuju ke arah mobil karena telah melihat yui siluman yang ia cari.


Yui hilang beberapa detik setelah Ruha muncul dari sebalik pohon pinus yang menjulang hingga puluhan meter dengan dedaunan lebat dan bunganya yang tak kalah lebat, beberapa pohon mangga besar terlihat di sisi sisinya.


Yui tidak menyadari ada siluman yang mengikutinya sampai sini, karena memang Ruha tak menggunakan aura untuk bergerak hanya kekuatan fisik dari siluman. Namun itu juga tidak mudah dilakukan karena Yui juga mendeteksi setiap pergerakan yang ada disekitarnya. Ruha tidak ketahuan karena ia bergerak sesuai kecepatan hewan dan bisa melacak bau aura Yui walaupun berbeda alam itulah keistimewaannya.