
Heng menghentikan tawanya dan bergegas memanjat pepohonan tempat Quen tersangkut. Terlihat dari bawah Quen menggantung seperti boneka yang digantung, alias hadiah di pekan raya.
"Hei Quen, apakah jika aku melempar batu ke ranting itu apakah kau akan jatuh?" Heng menahan tawanya sejenak.
"Kau bergurau ya, aku akan memukulmu jika kau melakukannya! Dasar kakek tua. Hh.. " Quen marah sejenak.
Heng sempurna di atas pohon dan mengulurkan tangannya, Quen menanggapi tangan Heng.
Srakk..
"Astaga.. "
Seketika pakaian Quen robek, punggungnya terbuka. Ada ikatan perban putih yang melilit punggungnya.
"Sejak kapan kau terluka Quen?" Heng yang melihat lukanya yang masih tampak baru itu bertanya, ada banyak ramuan yang meresap di kain perbannya. Sehingga Heng dapat melihatnya dengan jelas.
"I.. itu luka lama, tak usah pedulikan. Lagi pula luka ini tak berhubungan dengan kalian." Jawab Quen datar, lantas bergegas turun dari pohon dengan mantap.
"Kenapa tinggahnya jadi aneh begini? Apakah Quen menyembunyikan sesuatu? Lagi?" Heng mulai mencemaskan Quen.
Tuk!!
Sebuah kerikil tepat mengenai kepala Heng, sedikit nyeri rasanya.
"Ya ampun, Rey. Apa yang terjadi padamu?!"
Heng melihat temannya itu dipenuhi oleh lumpur dan jerami. Benar benar hal lucu tapi Heng memutuskan bungkam. Karena mereka telah bersahabat lama.
"Huh!! Kuda itu, menendangku hingga jatuh di lumpur, ketika aku menenangkannya dia malah menandangku lagi.. Beruntung aku mendarat di tumpukan jerami bukan lumpur lagi, mataku dan telingaku penuh lumpur dan jerami gara gara kuda itu!!" Rey marah marah di depan Heng.
"Apa yang kalian lakukan sampai membuat kuda kuda itu marah?" Tanya Heng.
"Entahlah, mungkin kudanya membenci kami!" Rey menjawab ketus.
"Haiih, sudahlah kau harus membersihkan dirimu. Lalu kita antar anak anak itu pulang, orang tuanya akan cemas bukan? Mereka kan menghilang selama berbulan bulan. Lagi pula mereka tidak akan bertahan lama jika tinggal di dalam hutan, terlalu berbahaya. Hewan buas terlalu sering memasuki desa ini, jadi kita jangan mengambil resiko untuk menampung mereka. Kemarin aku bertemu ular di sekitar rumah, ular itu datang sendiri tengah malam saat semuanya terlelap. beruntung aku sadar tepat waktu sebelum ular besar itu tiba di pekarangan rumah belakang. Jika tidak Anak anak akan panik." Heng beranjak memasuki rumah setelah selesai menyampaikan hal itu.
"Sebenarnya aku ingin mereka tinggal disini beberapa hari, ketiga anak itu memiliki potensi untuk menggunakan panah dan pedang. Sepertinya Heng berpendapat lain, baiklah Heng kali ini aku setuju. Aku agak ganjil jika menatap bocah usia sepuluh tahun itu, dia punya aura yang aneh. Kurasa dia memiliki sesuatu.. Emm entahlah.. Aku harus mandi dengan lama, kuda si** itu melemparku dengan keji!! Awas saja kubalas kuda itu nanti." Runtuk Rey.
Rey bergegas menuju sungai dan berenang, agar lumpur dan jerami lebih cepat berkurang. Itu juga cara tercepat untuk membersihkan seluruh badannya yang dipenuhi lumpur dan jerami.
Byurrr..
Rey menyelam dan berenang sembari menggosok seluruh badannya di bawah air, setengah menit menyelam sosoknya timbul ke permukaan lalu menyelam lagi.
...*****...
Janson tengah duduk di ruang tengah, ditemani beberapa cemilan disana, cemilannya buah namun Janson tidak peduli ia tetap memakannya dengan lahap. Seketika pada buah yang terakhir Anak lelaki itu mengingat rumah.
"Apa kabar Ayah dan yang lain ya sekarang? Mereka pasti menganggapku telah tiada. Satu hal yang aku pertanyakan hingga saat ini. Mengapa siluman itu mengejar Anaya? Ahh aku tidak mengerti.. " Janson meletakkan lagi buah yang tadi ia pegang selera makannya menguap saat itu juga.
Janson berdiri dan melangkah menuju kamar Anaya, pintu kamarnya Anaya menutup sempurna.
Ia gugup karena kejadian di danau pagi ini, dirinya merasa malu malu untuk menemui Anaya.
Janson tetap berdiri bersandar di pintu kamar Anaya sembari memikirkan masa lalunya, Anak lelaki itu tidak bergeser satu sentipun. Anak seusianya biasanya akan bermain sepak bola atau bergurau dengan teman temannya, jalan hidupnya sangat berbeda dari anak seusianya, selain tidak mempunyai ibu sedari ia balita Janson juga kekurangan kasih sayang keluarganya. Ayahnya kerap kali mengacuhkannya dan lebih memperhatikan bisnis dibanding dirinya, pada saat itu Janson kesulitan dalam bergaul dengan teman teman kompleksnya.
Janson selalu mendapat sebutan Anak pungut karena mereka hanya tau Ayah Janson, sedangkan mereka sama sekali tidak mengenal ibu Janson. Terlebih lagi Fariz dan Janson sangat berbeda. Dari wajah dan tingkah mereka sangat berbeda. Apalagi Mata janson berwarna biru, berbanding terbalik dengan mata Fariz yang coklat.
Tapi, Janson tau satu hal. Ayahnya takkan menyembunyikan sesuatu dibelakannya karena Janson percaya itu.
"Anaya, apakah sikapmu akan berubah setelah mendengar perkataan anak anak dahulu yang selalu mengejekku di lingkungan rumahku, apakah kau akan mempercayai rumor tentangku begitu mudah? Aku khawatir akan hal itu, bagaimana jika kau mulai mengolokku seperti mereka? itulah sebabnya aku tak ingin keluar dari rumah, dan mempelajari pelajaran dengan guru privat yang ayah panggil untukku." Janson kembali bergumam, raut wajahnya terlihat amat sedih.
Mungkin jika Anaya melihat ini Anaya akan menghibur Janson, sisinya yang terlihat kuat tetap mempunyai titik rapuh.
Krieet..
Tak sadar dengan pintu yang terbuka mendadak membuat sandaran Janson hilang, akibatnya Ia terjengkang ke belakang.
"Aaa.. "
Brukk!!
"Aduhhh! Janson apa yang kau lakukan di depan pintu kamarku! Kau membuatku kaget, lihat kita seperti mengulangi kejadian saat dirumahku! Kau kenapa suka sekali bersandar di depan pintu seperti ini?" Anaya membanjiri Janson dengan banyak pertanyaan.
"Em, aa.. aku tidak bermaksud apa apa kok, hanya bersandar. Maaf jika mengagetkan. Apa kau sakit, kakimu baik baik saja kan?" Janson menjawab dan melontarkan pertanyaan.
"Iya, aku baik baik saja, lantai kayunya cuma menggores sedikit." Balas Anaya.
Dian tiba tiba lewat dan menghentikan langkahnya di depan kamar Anaya.
"Eh, kalian tidak mendengar sesuatu?" Dian bertanya.
"Dengar apa Kak Dian!?" Anaya bertanya.
"Di belakang terjadi hal kocak banget, ayo sini kalian harus lihat deh." Dian mengajak mereka berdua, tangan dian langsung menggandeng tangan Anaya dan Janson.
"E -eh, kita mau ke mana Kak Dian!"
"Sudah yang penting kalian ikut saja tidak usah banyak ngomong. Kalian pasti akan suka melihat ini." Mereka bertiga berlari di. lorong rumah kayu. Suara langkah kaki mengiringi setiap langkah di lorong, membuat gema selintas.
Sesampainya di halaman belakang mereka bertiga tertawa melihat Nenek Quen yang sedang diturunkan dari atas pohon oleh Heng.
"Hahaha, kenapa Nenek Quen bisa ada di atas sana?" Tanya Anaya dengan riang.
"Nenek Quen dilempar tuh oleh kudamu, makanya bisa nyangkut!!"
"Oh ya?!"
'Entah kenapa aku senang menatapnya terus seperti ini' Batin Janson.