
Bab 17 Kenangan bersamamu
Angin malam kini terasa lebih bersahabat dibandingkan cuaca sebelumnya yang dingin hingga menusuk tulang, meski rasa dinginnya tetap sama tetapi suhu dingin di malam hari yang cerah tanpa awan ini adalah suhu normal, dedaunan kering tertiup oleh angin di sepanjang taman yang juga telah hancur dan dalam perbaikan. Pepohonannya terlihat patah di beberapa tempat akibat angin. Terlihat di sepanjang jalan banyak lampu lampu yang patah, gedung gedung dan rumah rumah yang hancur.
Jika situasi terus memburuk seperti ini kemungkinan besar ia harus meninggalkan kota Bansar dan kembali ke kampung halamannya kota soro. Rizka adalah warga asli kota seberang kota soro, karena kota basar terkenal lebih maju dibandingkan kota soro jadi Rizka dan putranya merantau ke sini, rantauan itu sudah berlangsung selama 3 tahun, jadi wajar jika ia tidak tau tentang Siluman itu.
Rizka mendekatkan kedua kakinya yang duduk di bangku taman, lantas memeluk kedua kakinya erat, sambil menenggelamkan wajahnya dalam dekapan.
Rasa kehilangannya perlahan lahan timbul lagi, jangan ditanya karena Rizka sangat terluka.
Rizka mengangis dalam diam sambil terus membayangkan semua kenangannya bersama Fiqri.
"Ayo Fiqri kejar Ibu!"
"Tunggu!!"
Rizka berlarian lagi dan Fiqri mengejarnya hingga ia puas dan lelah.
Suara suara yang tersendat sendat saat mengangis terdengar dari sebalik tembok taman yang tidak terjangkau.
Terlihat disana seorang pria yang tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya menuggu wanita itu selesai meluapkan perasaan yang sejak lama terpendam dalam tiga hari terakhir, rizka ingat betul saat saat terakhirnya persama Putra satu satunya di dalam mobil pengantar makanan itu, ia tau ia sangat bodoh karena tidak mau mendengarkan peringatan burhan yang tidak sedang main main dengannya.
"Ini semua salahku.."
Burhan berjalan ke ujung tembok dan ia mengintip keadaan apa saja yang sedang dilakukan oleh rizka disana.
"Sedang apa om?"
"Astaga telur, meli ternyata kamu ya? " Burhan terkejut karena Amelia tiba tiba muncul dari belakangnya melayang di punggung Burhan.
"Iya, om sedang apa disini?" Amelia bertanya, kepalanya miring karena ingin tau, menatap Burhan dari atas kepalanya dengan rasa penasaran.
"Pergilah dari sini, kau mengganggu, tinggalkan om sendiri." Burhan berbisik ketus menurunkan volumenya karena takut Rizka akan kemari.
"Uuhh, ya sudah kalau gak mau kasih tau, gak usah ngusir dasar om Burhan!" Meli cemberut lalu meninggalkannya.
"Dasar Amelia, kalau dia tidak meninggal di umur 10 tahun dia pasti saat ini sudah remaja usia 18 tahun ya, dan Fariz sudah seperti adik baginya." Burhan bergumam kecil, tentang Amelia yang meninggal itu adalah kesedihan Burhan juga yang sudah menganggap Amelia seperti ponakan sendiri. Usia Burhan saat itu masih 23 tahun, dan Amelia merupakan bocah yang selalu ingin bermain dengannya. Setelah Amelia meninggal tak lama Burhan memperistri Zahra dan mereka pindah dari sana. Mang karman memang telah lama menduda dan tidak tertarik pada wanita lagi sejak Amelia beranjak dewasa. Sampai sekarang status Mang Karman tidak berubah.
Sedikit larut dalam lamunan Burhan tidak menyadari akan sesuatu.
Rizka menutup gerbang taman dan berbalik, ia melihat Burhan yang melamun bersandar di tembok.
"Pak Burhan, anda sedang mengikuti saya?" Rizka berseru pada Burhan, seketika itu juga Burhan salah tinggkah.
"Apa, tentu saya tidak akan melakukan hal itu. Lagi pula untuk apa saya mengikuti Bu Rizka, ini hanya kebetulan saja. Kalau begitu saya pergi dulu." Burhan hendak berbalik dan pergi.
"Ayah, apa ayah sudah selesai menunggu teman ayah, katanya aku bisa menunggu di toko makanan sambil menunggu Ayah." Itu seperti suara Fariz, tapi burhan tau itu bukan Fariz tapi Amelia yang berusaha melatih kemampuan menirunya. Ia membuat situasi semakin rumit dan kacau.
"Ayah kenapa meninggalkanku?"
Bu Rizka yang bisa melihat keberadaan Amelia pun bertanya.
"Apa kalian ingin membeli sesuatu?" Tanya Rizka.
"Ayah ingin membelikan Tas untuk Bu Rizka." Celetuk Amelia dalam wujud Fariz. Kakinya tidak sepenuhnya menapak di tanah hanya melayang satu senti dari tanah.
Wajahnya seolah berkata, 'apakah benar anda tidak mengikuti saya Pak?' begitu raut wajah itu berkata, dan burhan benar benar terpojok tertangkap basah.
"Ya sudah karena Ayah ada bersama Bu Rizka maka Fariz kembali dulu ya, kata ayah kalau Bu Rizka sudah keluar dari taman aku harus kembali, dah Ayah." Amelia buru buru kabur sebelum Rizka sadar akan sesuatu.
Rizka menatap tajam pada mata Burhan, yang ditatap hanya bisa menghindari pandangan yang sedang tertuju padanya.
"Haahh, baiklah ayo belikan tasnya."
Burhan menoleh cepat ke arahnya. "Katanya Anda ingin membelikan tas makanya mengikuti saya, anda pasti membohongi Fariz bukan? Apa ada sesuatu? Karena anda tidak mungkin ingin membohongi saya kan, saya jelas masih mengingatnya dengan jelas mengenai putra saya, saya ingin meminta maaf pada anda karena saya ngeyel sekali padahal sudah diberi peringatan oleh anda pak." Rizka merasa bersalah, wajahnya menunduk pada trotoar tepi jalan.
Burhan tidak mengerti tentang perkataan Rizka, namun ia berkata. "Sudahlah, tak usah pedulikan perkataan Fariz dia mengerjai Ayahnya, saya ingin memberikan ini pada Bu Rizka.. "
Burhan mengambil benda itu dari saku celana.
Rizka memandang benda itu yang tak asing lagi baginya, "Jam ini.. "
"Saya menemukan ini dalam pusaran angin, kemungkinan nbenda ini ikut terbawa dengan pemiliknya dan mengapung apung di dalam angin. Saya mengambilnya sebelum jam ini terbang lebih jauh. Punya Bu Rizka bukan?"
"Iya, trimakasih. " Bu Rizka menerimanya lalu berseru pelan.
Benda itu kacanya sudah retak dan hancur, tapi Burhan dan Mang Karman berusaha memperbaiki
Benda itu sebaik mungkin sebelum Rizka sadar dari pingsannya, setelah Rizka berada di depannya langsung Burhan mempunyai hal yang harus dikatakan setelahnya.
"Maaf, sudah membuatmu kehilangan jam ini. Sungguh maafkan Aku." Burhan mengacak acar rambutnya di belakang kepala sesekali menggaruknya.
Mata Rizka terlihat berbinar karena perkataannya barusan yang menyejukkan hatinya yang sedang sedih.
"Jadi apakah bisa kita membeli tas." Burhan bertanya malu malu.
"Iya, tentu saja lagi pula saya sudah memaafkan anda jadi bisa saja." Rizka menanggapi.
Keduanya berjalan di tepi trotoar, diantara bintang gemintang yang ada di atas sana terlihat komet yang melewati tata surya di luar sana, terlihat seperti bintang jatuh sekilas.
Amelia menatap dari atas pohon kejadian yang sedang berlangsung itu.
"Sepertinya om Burhan menemukan satu cinta baru dalam hidupnya. Selain bibi Zahra yang mata duitan itu. Bu Rizka terlihat lebih mencintai om Burhan apa adanya. Fariz pandai sekali memilih Ibu baru untukknya tapi Ayah, aku ingin ayah juga bisa bersama wanita lain selain Ibu. Ayah sendirian dan tidak ada yang merawatnya, aku kasihan melihat Ayah. Diajuga masih butuh-" Meli berhenti bergumam karena Ayahnya tau kalau ia sedang dibicarakan.
Meli bergegas berdiri dari dahan pohon, sosoknya meloncat dari ketinggian kemudian berlari menyusuri trotoar tepi jalan raya.
"Celaka Ayah pasti mendengarnya, kenapa aku ini bicara hal yang bukan bukan sih.. " Amelia telah menyesal karena perkataannya sendiri.
...*****...
Meli memainkan ujung jarinya, kakinya terlihat bergetar karena rasa bersalah yang ia timbulkan sendiri.
Diluar gumamannya itu ia menyesal telah mengatakan hal yang tidak disukai oleh Mang Karman Ayahnya.
"Ayah sudah pernah bilang padamu Meli, benar bukan? Ayah tidak butuh Ibu baru untukmu, ayah tidak ingin menduakan Ibumu dan memiliki anak lain. Ayah tidak ingin kau terabaikan, kalaupun Ayah mati setidaknya nanti Ayah bisa ada di sisimu bukan? Kau bisa membangkitkan roh Ayah kan?" tanya Ayahnya.
Amelia mengangguk, tentu saja. Bisa karena Wayana sudah mengajarkannya membangkitkan roh seseorang dan syarat itu hanya dibutuhkan kekuatan yang setara dengan Wayana. Untuk sekarang Amelia tidak bisa, mungkin lain kali ia pasti bisa melakukannya.