TO THE DEAD

TO THE DEAD
Area istirahat



Galih masih terjaga di kursi kemudi sebelum ia sampai di perbatasan kota luar sebelum memulai perjalanan menembus hutan kota bansar, ada Area istirahat dan restoran disana. Galih membelokkan kendaraan dan memarkirkan mobil tersebut disana, sedangkan matahari kini sempurna tenggelam di sisi gunung bagian barat, kedua anak yang ada didalam mobil tengah tertidur pulas dan tak bisa diganggu.


Xin juga tengah beristirahat untuk menyerap berbagai aura yang bertebaran disana sini. Sebenarnya ia bisa saja melakukan itu sejak tadi tapi ia tak bisa menunjukan sisi itu pada galih, ia juga menambahkan daging ular dalam bekalnya, ular ular itu memiliki nutrisi pengganti bunga Freziana, ular itu lebih bergizi daripada bunga itu. Xin sudah membawa bagian terbesarnya hati ular itu, berisi inti dari energi dari ular raksasa dari dunia siluman. Ia memasaknya supaya auranya tersamarkan. Xin siang tadi sudah melahap sebongkah besar nutrisi aura. Maka kini ia pasti akan kenyang beberapa hari dan merasa tidak akan kelaparan beberapa hari mendatang.


Kini yang tak dapat dimengerti adalah mengapa lorong itu terhubung dengan dunia siluman, bahkan saat Xin beberapa kali mencoba menembus lorong itu ia telah banyak menemukan ular ular besar yang menyerangnya, bahkan di berbagai arah. Banyak Bunga Frezia di sarang para ular, seolah tumbuh subur didalamnya. Bahkan ia menemukan beberapa senjata seperti tombak pedang dan sebuah mustika, ia memakainya sekarang di pinggang. Mustika itu dengan mudahnya melekat bagai pakaian di pinggangnya. Mustika hijau itu dan beberapa tombak juga pedang ia kecilkan melalui teknik manipulasi kemudian benda itu ditaruh dalam kotak pusakanya, ia mendapatkan itu saat ia berusia 15 tahun.


Angin malam menelisik daun daun pepohonan dekat dengan rest area. Membuat dedaunan yang telah berwarna kecoklatan berguguran bersama ke tanah. Debu-debu berterbangan kesana kemari membuat banyak kendaraan berdebu. Kini lolongan serigala terdengar samar-samar dari area hutan.


Anaya yang tengah tertidur pulas di dalam mobil tidak merasakan angin dingin itu karena jendela mobilnya tertutup. Di sekitarnya pun keramaian masih sesekali terlihat, para pejalan kaki sesekali ada yang berhenti di pom bensin dekat dengan areal parkir tempat mobil Galih berada.


Di area rumah makan Galih masih mengantri untuk sekedar membeli beberapa nasi untuk menjadi bekal perjalanan makanan mereka.


Galih masih berada di luar rumah makan karena antriannya bagai rel kereta api yang panjangnya tak berujung.


"huh, Yang benar saja antriannya enggak terkira, Bagaimana aku bisa selesai dalam waktu cepat kalau antriannya sepanjang ini?!" Galih mengoceh this panjang antrian hingga antriannya menipis menjadi beberapa orang saja.


" Ya ampun Ini sudah larut, coba aku melihat jam dulu." Galih melipat lengan bajunya sejenak dan melirik kearah jam tangan.


" Ini sudah pukul 22.00 malam rupanya, ini sih enggak kelar-kelar sampai tengah malam." Galih berguam.


"Mas mas," Galih di berbicara pada orang yang ada di depannya, orang yang merasa dipanggil pun menoleh padanya.


" Ada apa ya dek? " orang itu menoleh pada Galih dan mereka terlibat percakapan.


" Apakah saya boleh duluan memesan? saya harus melanjutkan perjalanan. Tolonglah Pak ini mendesak kalau saya terlalu lama di rest area, saya bisa terlambat pulang kampung." Galih memberikan alasannya untuk menyela antrian.


" Maaf dek tidak bisa saya juga sedang terburu-buru, istirahat makan saya Tinggal 15 menit lagi Jadi saya harus bergegas. Saya sedang lembur di kantor.." ucapannya terputus oleh perkataan pelayan, antrian itu beranjak maju lebih cepat. Seusai beberapa orang berganti tibalah saatnya Galih memesan.


" Akhirnya aku bisa memesannya juga! Mbak tolong fried chicken nya 3 kotak dengan nasi putihnya tiga kotak. Ditambah dengan minuman soda nya 4 dan chicken pedas nya satu kotak." Galih mengucapkan pesanan.


" Mohon maaf atas permintaannya, tapi kami kehabisan soda baru habis tadi saat kami memberikannya kepada pelanggan kantoran. Apakah anda ingin memesan minuman lain?"


"Ya sudah aku pesan 4 miltie saja."


Drama antrian panjang makanan pun selesai.


...*****...


Galih membawa empat kotak makanan daging ayam dan 4 kotak nasi. Dia menyuruh salah satu karyawan toko makanan untuk membawakan makanan tersebut bersamanya. Setelah mematikan pengamanan mobil Galih masuk dan orang yang membawakan makanan pesanan itu meletakkannya di dalam mobil kemudian kembali ke dalam toko melanjutkan tugasnya.


Dirasa sudah cukup istirahat selama di rest area Galih menyalakan kendaraannya kemudian melanjutkan perjalanan yang beberapa jam lalu sempat tertunda.


Kini tibalah saatnya mobil merah mengkilap milik Galih Akbar melewati kawasan hutan lebat yang menjadi perbatasan antara kota bansar dan jalan tol yang menghubungkan ke arah kota selanjutnya yaitu kota soro.


Area hutan terbuka sangatlah gelap gulita, berbeda dengan kawasan kota yang sebelumnya yang penuh dengan lampu-lampu di seluruh sudut jalan juga disetiap bangunan selalu ada lampu yang menyala.


Membuat setiap sudut kota menjadi terang oleh hiasan lampu.


Di kota Saat tengah malam sejauh mata memandang selalu diterangi oleh lampu lampu, maupun Itu lampu kendaraan, bangunan atau lampu jalan. Jauh berbeda dibandingkan ketika mobil hanya melewati kawasan hutan, seakan menembus kegelapan dengan sebuah lilin. Keadaan pun sangat mencekam karena ini adalah tengah malam, lolongan serigala makin terdengar jelas. Seketika Galih menjadi cemas dengan bahayanya berada di tengah-tengah hutan.


Walaupun mereka berada di Jalan raya tetap saja tempat itu terbuka. Bisa jadi saja ada rombongan harimau yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan dan menerkam mobil dari balik semak-semak belukar yang tinggi kemudian mengamuk sampai menggores mobil dengan marah lalu berusaha masuk ke dalamnya karena merasa kelaparan.


Tapi Galih tak punya waktu untuk memikirkan semua itu, ini bukan saatnya ia mencemaskan makhluk apa yang akan keluar menerkam mobil mereka. Kalaupun memang ada binatang buas yang bisa mengancam mereka Xin pasti akan melawannya dengan mudah hanya dengan sihir. Melemparkan hewan hewan itu kembali masuk ke dalam hutan.


Pendar pendar semak belukar yang ditimpa cahaya lampu mobil menghiasi sisi-sisi jalan, sesekali pohon besar terlihat di pinggir jalan. Kelelawar malam terkadang melewati cahaya mobil, bintang-bintang berkelip di angkasa ditemani oleh bulan sabit yang mulai berbentuk bungkuk. Lama-kelamaan lolongan Serigala Malam membuat mata Galih menjadi berat rasa kantuk mulai mendera nya.


" hoam.. rasanya ngantuk sekali ingin tidur. Aku akan menepikan kendaraan dulu lalu aku akan tidur." Selesai berujar demikian kendaraan pun menepi dan Galih mulai tertidur di kursi kemudi. Bersamaan dengan itu salah satu dari ke empat orang yang terlelap mulai terbangun. Xin mulai membuka matanya karena ia merasakan ada aura aneh yang mengikutinya, tepatnya mereka sudah diikuti sedari pergi dari rumah Anaya.


" Ada yang datang, ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang, dengan keadaan kami yang tertidur tentu akan sangat diuntungkan baginya, inilah gunanya aku ada di dalam perjalanan, aku akan mengawasi sesuatu yang tak terlihat. Aku akan menjadi yang pertama kali menyambut tamu tak diundang. Ayolah kemari, lawan aku!" Xin merasa senang jika di tengah perjalanan dia akan menemukan lawan tanding karena itu sama saja dengan latihan.