
BAB 4
Itu adalah wanita yang menabrak Ayah juga diriku di anak tangga. Ayah menatapku. "Nak, jangan ramah padanya yah. Bisa jadi dia mau mencelakaimu lagi." Burhan berbisik pada Anaknya. Dia menatap benci ke arahnya. Guru itu melihat ke arahnya.
"Eh, ada Pak kepala sekolah! Pak, ada apa ya?" Wanita itu menatap heran.
"Ada murid baru Bu. Ini.." Pak kepala sekolah menunjuk Fariz. Dan juga Burhan yang berada di sisi kanan Fariz.
Burhan menatap datar, "Perkenalkan, ini namanya Bu Rizka. Guru yang paling pintar, baik, dan tepat waktu." Wanita itu membungkuk sopan. Bukankah, dia sama sekali tidak perduli Anakku akan jatuh dari tangga, karna kecerobohannya. Sekarang bertindak sok sopan, di depan Pak kepala sekolah. Cari muka. Munafik. Gerutu batin Burhan.
Sementara Ayahnya hanya menatap datar, sementara justru Fariz menatap antusias. "Oh, Ibu tadi yang terburu buru di anak tangga ya?" Ucap Fariz yang jujur dan polos membuat wajah wanita itu seketika tertegun. Pak kepala sekolah menatap serius ke depan Fariz, ia membungkuk. Burhan menatap senang, ia tersenyum.
"Apa maksudmu?" Tanya Pak kepala sekolah dengan serius.
"Tadi Bu Guru lari, trus menabrakku. Aku hampir terjatuh dari tangga, tapi Ayah segera memegang lenganku dengan erat. Jadi aku tidak terjatuh. Ayah marah sekali sama Bu Guru lho!" Fariz tertawa geli, Ia menyangka ini adegan sinetron. Yang sering di tonton Ayahnya malam malam. Ia juga kadang menemani, tapi tertidur di tengah acara. Karena ia tidak kuat begadang.
Burhan hanya menahan tawa melihat tingkah anaknya. Dan merasa senang telah membalas Wanita di depannya, Sebaliknya Pak kepala sekolah menatap tajam ke arah Bu Rizka. Yang di tatap merasa menyesal.
"Saya minta maaf Pak Burhan, atas keteledorannya." Burhan mengangguk, Pak kepala sekolah menjadi tidak enak hati.
Bu Rizka segera maju untuk meminta maaf. Mengantupkan tangannya di depan Burhan. Ia hanya mengangguk sopan. Dia masih merasa marah sebenarnya, tapi demi sopan santun dia memaafkan Wanita yang bernama Bu Rizka.
"Asal jangan di ulangi, kamu tadi bahkan tidak minta maaf!" Ucap Burhan, tatapan Pak kepala sekolah tambah tajam, ia merasa malu karna pernyataan Fariz barusan. Meskipun Fariz anak yang polos, juga keterangan tambahan dari Burhan, membuat Pak kepala sekolah menanggung rasa malu. Sementara Bu Rizka semakin menunduk, juga semakin merasa bersalah dan malu. "Tapi, sudahlah.. Pak! Apakah Fariz bisa langsung masuk ke kelas?" Pertanyaan itu memotong sejenak kemarahan Pak kepala sekolah kepada Bu Rizka.
Burhan merasa sedikit kasihan melihat Bu Rizka yang terus di tatap tajam begitu, "Oh iya silahkan, Pak Burhan." Wajah ramah Pak kepala sekolah kembali. Burhan menyuruh Fariz melangkah masuk menuju kelas barunya.
"Nanti Ayah tunggu ya. Di parkiran." Ucap Burhan sembari jongkok, mengelus kepala Fariz singkat. Ia kembali berdiri, melanjutkan percakapan ringan bersama Pak kepala sekolah.
"Bapak sudah berapa tahun jadi 'Kepala sekolah' disini?" Tanya Burhan.
"Sekitar 10 Tahun ada.."
Percakapan mereka terdengar samar. Keduanya berbelok ke lorong sebelumnya, kembali ke lantai atas. Mungkin ke ruang guru. Menyelesaikan beberapa dokumen perpindahan Fariz ke sekolah baru. Atau untuk melihat keindah permaiannya sekolah baru Fariz.
"Ayo, Nak Fariz." Bu Rizka menyuruhnya memasuki kelas, sembari menggandeng bahu kanannya. Fariz menatap Guru itu sekilas, mengangguk tersenyum.
"Perhatian!! Anak anak!!"
Ucapan Bu Rizka yang mendadak membuat para Murid yang tengah bersenda gurau, tertawa, ataupun bertingkah konyol. Segera ke bangku masing masing. Mereka tak menyadarinya. Fariz yang melihat teman teman di kelasnya ini, menahan tawa.
"Kita kedatangan murid baru. Nah Fariz perkenalkan namamu!" Bu Rizka menepuk bahunya, lalu kembali ke mejanya.
"Namaku Fariz Akbar, hai semua.." Fariz menyapa teman temannya, melambaikan tangan. Para Siswa maupun Siswi balas melambaikan tangan padanya.
Bu Rizka mempersilahkan Fariz duduk di bangku tengah, karna disana kosong. Fariz mengangguk.
Kegiatan belajar mengajar itu berlangsung amat menyenangkan, sesekali di selingi tawa dari beberapa murid karna penjelasan Bu Rizka yang menarik dan lucu.
Seusai itu berlangsung beberapa jam, bel istirahat akhirnya berbunyi.
KRINGGG...
Berdengung di seluruh bagian sekolah. Para murid segera berhamburan keluar termasuk Fariz. Sedangkan Bu Rizka masih berada di tempatnya belum beranjak, anak anak di pintu keluar berdesakan, mereka saling menatap kesal satu sama lain.
Fariz yang menonton pertengkaran hanya diam, dia tak mau ikut campur. Bu Rizka sedang mencari sesuatu di dalam tas.
"Astaga.. Dimana kertas itu. Ya ampun itu catatan yang di berikan Pak kepala sekolah. Aku taruh dimana ya?" Bu Rizka bergumam cemas, sementara pertengkaran itu masih berlangsung di pintu keluar. Fariz yang melihat situasi tambah runyam memutuskan tidak jadi melangkah keluar ia berbalik arah. Melihat Bu Rizka sedang mencari sesuatu, Ia penasaran dan menghampirinya.
"Ada apa Bu?" Fariz bertanya. Melihat Gurunya yang tengah mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Kertas Fariz, tadi Ibu taruh di dalam! Kemana ya? Kok gak ada!" Fariz terdiam.
####
Flashback di anak tangga.
Ayah Fariz menatap kesal. Sebuah kertas keluar dari tas Guru itu, jatuh di sebelah kaki Fariz, "Surat peringatan" Fariz membaca sejenak. Dan memutuskan menyimpannya.
Flashback off.
Fariz melangkah kembali ke bangkunya setelah terdiam. Dia membuka tasnya, mengeluarkan kertas putih itu. Dan melangkah mendekati Bu Rizka.
"Ini Bu, tadi jatuh di anak tangga." Fariz mengulurkannya. Bu Rizka tercengang.
"Astaga! Fariz, trimakasih ya. Kamu sudah menolong Ibu." Bu Rizka segera mengambilnya, lalu memeluk muridnya.
"Kamu lapar tidak?"
"Iya Bu," Fariz mengangguk.
Fariz bersorak kegirangan. "Asikk!!"
Keduanya melangkah di pintu, Anak Anak tadi sudah tidak ribut lagi, karna melihat Gurunya. Takut di marahi mereka keluar bergiliran.
####
Fariz memakan baksonya dengan lahap. Bu Rizka tertawa melihat muka Fariz yang belepotan. Ia mengambil tisu di meja mengusap muka Fariz.
Fariz menatap Bu Rizka dengan bingung. "Kamu makannya belepotan sekali."
"Oh.." Fariz memegang pipinya. Bu Rizka tersenyum.
Mereka tengah berada di kantin sekolah letaknya tak jauh dari parkiran. Hanya beberapa meter. Burhan yang menunggu di parkiran motor, tengah kelaparan. Ia menuju kantin. Karna ia sudah tau dari informasi kepala sekolah.
Saat tiba di keramaian kantin, Burhan tertegun melihat pemandangan di depannya. Fariz tengah bercanda dengan Bi Rizka.
Burhan melangkah mendekati keduanya.
"Wah, sedang ngobrol tentang apa?" Burhan muncul tiba tiba di sebelah kanan Fariz, duduk di bangku.
"Eh, Ayah!" Fariz terkejut. Demikian juga Bu Rizka.
"Fariz kenapa kamu sama Guru ini." Burhan berbisik di telinganya. Fariz menjawab dengan berbisik pula. Bu Rizka yang tengah memperhatikan mereka, tidak mengerti. Aneh sekali melihatnya.
"Fariz membantu Bu Rizka. Ini sebabnya Fariz di traktir." Bisiknya pada Ayahnya.
"Oh, kalau begitu, Ayah juga di traktir dong!?" Bisik Burhan.
"Eh,." Fariz berfikir sejenak. Lalu mengangguk. 'Dia kan Ayahku, kalau aku di traktir! Kenapa Ayah tidak' Burhan tersenyum jahat.
"Bu Rizka." Burhan berbicara pada Wanita itu.
"Ya." Bu Rizka menelan bakso itu.
"Bagaimana kalau Bu Rizka mentraktir saya, sebagai permintaan maaf!" Bu Rizka yang sedang minum hampir tersedak.
"Ap-" Belum genap kalimatnya. Burhan sudah berteriak. "Bang, baksonya! Lima posri." Tukang bakso yang sedang duduk beristirahat, mendadak berdiri mendengar teriakan itu. Lantas semangat menyiapkannya.
Cukup lama Burhan menghabiskan bakso itu. Ia kekenyangan saat menghabiskan mangkuk ke tiga. "Mang, ini tolong di bungkus ya." Burhan menunjuk. Orang itu mengangguk. Bu Rizka tengah memengang kepalanya. Memijat pelan dahinya.
"Total 70.000 Ribu Pak!" Burhan menggeleng. "Bukan saya yang membayar, tapi Bu Rizka yang membayar." Tukang bakso itu menatap bingung kearah Burhan.
Tanpa menoleh Burhan dan Fariz melangkah pergi. Sementara Fariz terus menoleh ke belakang.
"Maaf pak, saya boleh hutang dulu.. "
"Enak saja.. Ngutang lagi.. Kemarin saja belum di bayar tuh 5 Mangkuk!!" Bentak penjual itu.
Fariz yang memperhatikan dari jauh pertengkaran keduanya menahan lengan Ayahnya. Dia memberi kode. Agar Ayahnya menoleh.
"Ayah.." Fariz berkata pelan.
"Biarkan saja!" Ucap Burhan. Tidak peduli dengan kejadian itu.
"Bayar, atau saya laporin ke kepala sekolah..!!" Ancamnya. Bu Rizka tertegun segera gelengkan kepalanya. "Ja.. Jangan. Saya mohon Pak. kalau begini saja Ini.. Bisa pakai jam tangan saya. Ini harganya 150.000 Ya, Pak.!" Sesaat orang itu menatap jam tangan yang sangat itu, ia mengangguk. Mengambilnya dengan terburu buru.
"Bagus juga nih jam!!" Gumam orang itu melangkah kembali ke gerobak jualannya. Bu Rizka terduduk.
"Maaf, Ibu.. Rizka gk bisa menjaga pemberian Ibu!!" Bu Rizka terisak. Di tengah ramainya kantin, tak ada seorangpun yang memperhatikannya.
####
Seusai istirahat itu jam pelajaran berlangsung lagi, bukan Bu Rizka yang mengajar. Tak terasa sudah hampir pulang sekolah.
Bel pulang itu berdering. Fariz bergegas menemui Ayahnya yang menunggu di parkiran sekolah. Dalam sekejap Burhan sudah mengendarai motornya lagi kembali ke rumah Mang Karman, Sesampainya di rumah. Fariz langsung melangkah ke kamarnya.
Sekejap ia terkejut melihat ada kehadiran boneka itu di kamarnya. Dia sampai tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Boneka itu menoleh.
"Tidak usah kaget berlebihan.. Aku tidak berniat buruk. Kau justru harus berteman denganku." Boneka itu mendekatinya. Berbicara ramah padanya.
"Bagaimana, aku bisa percaya kepadamu? Apa jaminannya?!" Fariz tetap tidak bergerak semilipun.
"Aku sudah membantumu banyak. Fariz." Boneka itu berujar.
"Bagaimana.. Kau tau namaku?" Fariz menatapnya penuh tanya.
"Karna aku Amelia. Putri Bapak Karman. Tumbal sosok itu. Sekaligus budaknya." Kali ini, Fariz terduduk mengdengar ucapan boneka kelinci misterius itu.