TO THE DEAD

TO THE DEAD
Memecahkan bola cristal



Janson memegang lengan Anaya dan membungkam mulut Gadis itu sejenak. Karena Janson menariknya terlalu kencang Gadis itu mendarat di dada bidang milik Janson, sempurna sudah mereka berpelukan.


"Anaya percuma kau berteriak kepada mereka berdua, mau sampai duri berubah jadi ulatpun mereka tidak bisa mendengar kita! Kau tau? Bola Cristal ini kedap suara. Semua yang kau teriakkan tadi percuma. Berhentilah melakukan itu sekarang, kau membuat telingaku sakit keren suaramu. Ukh!" Janson memegang kedua telinganya lalu melepas tangannya dari mulut Gadis itu, Anaya mendadak mundur satu langkah sedangkan Janson masih mengusap usap di bagian tengah telinganya.


Anaya memainkan jari jemarinya sembari menunduk. "Maaf."


Uluran tangan terlihat mendekat dan mengelus kepalanya Anaya, Gadis itu terlihat tertegun lalu mendadak melihat ke arah depan.


"..."


"..."


Tidak ada kata yang terucap antara mereka berdua seluruh dentuman dan erangan kesakitan di sekitar seakan tidak terdengar lagi oleh Janson dan Anaya.


Suasana pun berubah menjadi Canggung, mereka berdua saling memalingkan diri. Seakan akan malu dengan kejadian barusan.


Janson mengusap kepalanya yang tidak gatal, Dia berbicara di dalam batinnya 'Astaga Apa yang kulakukan kepada Anaya, tanganku tadi? Tanganku tadi mengelus kepalanya kan!? Astaga kenapa bisa aku melakukan semua itu. Apa yang akan dipikirkan oleh Anaya terhadap ku nanti. Dasar Janson! Bertingkah normal saja acuhkan saja perasaanmu. Situasi sekarang sedang runyam. Tolong Jangan pikirkan perasaanmu sendiri, Janson Janson Janson.' Janson menyalahkan dirinya sendiri sambil menampar kedua pipinya, beruntung baginya Anaya tidak mengetahui tingkah laku sahabat dekatnya. Janson terus memukul kedua pipinya itu, kalau Anaya melihatnya tentu saja Janson malu untuk kedua kalinya.


Sama seperti keadaan Janson. Anaya pun sedang gundah Gulana. 'Astaga jantungku berdebar kencang sekali saat Janson yang tengah mengelus kepalaku tadi, apalagi saat Janson memelukku. Aku merasakan Janson tengah berdebar kencang di dadanya, Aku merasakan juga mendengarkan detak jantungnya berdebar kencang sekali - DAG DIG DUG - begitu.' Batin Anaya sembari meremas jari jemarinya masih gelisah akibat kejadian itu.


Kesekian kali kejadian yang membuat pipinya seketika merah merona, membuat jantung berdetak tidak karuan, membuat suasana menyanggung. Membuat kesan romansa pada mereka berdua, hati yang mulai menghangat karna perasaan bahagia.


Tanpa di cegah siapapun Rey mendekat ke arah bola Cristal mereka. Rey mulai mengetuk ngetukan tangannya.


"Anaya! Janson!" Ketukan dari tangan Rey membuat keduanya yang sedang melamun jadi tersadar kemudian.


"Ayo kalian harus membantu Quen sekarang!" Rey berseru kepada mereka berdua yang tengah menatap ke arah Rey dengan bingung.


"Apa? Bibi ingin bicara apa?" Anaya tidak mengerti bahasa isyarat bibir yang di tunjukan oleh Rey.


"Astaga! Bukan isyarat aku mengatakannya! Astaga!" Rey menjadi tidak sabar kepada tingkah kedua Anak ini.


"Anaya, kan sudah ku bilang ruang Cristal ini tidak bisa memantulkan suara ke dalam. Jadi tentu saja Bibi tidak mengerti perkataanmu Anaya." Janson menjelaskan dengan sabar pada Anaya yang sekali lagi ingin berteriak kepada Rey supaya terdengar dari luar.


"Apa yang terjadi di dalam apa kedua bocah itu mendengarku? Aku tak bisa mendengar suaramereka!" Rey juga beefikiran sama.


Sementara di belakang Rey, Quen masih berusaha memenangkan pertarungannya dengan panglima Yu Jian.


"Aku takkan membiarkanmu melewatiku!" Yu Jian berkata tegas kepada Quen. Yu Jian akan terus menahannya di sana, sambil terus menyerang Quen.


'Ukh, bagaimana aku bisa melewatinya. Dia saja bukan lawan sebandingku! Bagaimana ini?"


PRANGKK


Suara memekakan telinga terdengar dari arah belakang Yu Jian. Keduanya menoleh secara bersamaan karna rasa penasaran.


"Apa yang terjadi?" Tanya keduanya secara bersamaan. Pertanyaan keduanya segera terjawab dikarnakan keadaan. Bola Cristal yang membungkus Anaya dan Janson pecah berantakan menjadi serpihan kaca kecil yang terlihat berkilauan biru di sinari cahaya rembulan yang putih.


"BERANINYA!!" Teriak Yu Jian seraya berlari ke arah Rey, Anaya dan juga Janson.