TO THE DEAD

TO THE DEAD
Melawan Ular Raksasa



Rey kewalahan di tengah-tengah kerumunan ular raksasa besar, dia terus menyerang bagian kulit ular, kepala, dan bagian badannya. Namun tidak juga berhasil menembus kulitnya, kulit ular itu keras bagai batu. Saat terakhir tidak mampu lagi menahan serangan ular ular itu, serta telah terbanting ke sana ke mari juga tersungkur ke sana kemari, namun Rey tidak lelah sama sekali menghadapi ular - ular raksasa itu, namun disaat ia sudah terdesak dan akan menjadi santapan ular raksasa. Quen maju menghadang salah satu mulut ular yang sudah sempurna terbuka dan akan melahap Rey yang tengah kewalahan bertarung melawan ular raksasa.


Itu yang membuat Quen khawatir kepadanya. Quen ingin menolong Rey.


"Kenapa kau lengah Rey, tadi salah satu mulut ular raksasa itu hampir menyantapmu!" Seru Quen dengan kencang diantara desis - desis ular raksasa.


"Ya Rey tahu Quen Berhentilah berteriak! Kau membuat konsentrasi ku hilang Quen!" Rey balas berteriak ditengah kerumunan ular raksasa.


Ketiga ular raksasa itu mulai menyerang serempak Quen dan Rey, mereka serempak mengayunkan ekor mereka untuk melilit mereka berdua. Ekor - ekor ular itu segera melilit Quen dan Rey, keduanya tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun sedari tadi berusaha melepaskan diri dari ekor-ekor ular itu.


"Ukh.. Ini gara-gara kau Quen! Lihat gara-gara Rey lengah, mereka menyerang kita." Rey berseru menyalahkan Quen.


"Ini terjadi gara-gara tindakan ceroboh mu sendiri Rey, kalau aku tidak menahan salah satu mulut ular itu, kau sudah dari tadi dilahap oleh ular itu. Berhentilah menyalahkan ku, ini justru salahmu sendiri!" Quen balas berseru kepada Rey, yang sibuk mencoba melepaskan dirinya dari lilitan ular raksasa tersebut.


Keadaan mereka sangatlah genting, senjata mereka terlempar entah ke mana. Dan situasi semakin rumit ketika lilitan ular raksasa yang tadinya sedikit kendur menjadi ketat. Sesak nafas melanda keduanya. Susah payah Quen dan Rey mencoba bernafas.


"Hah.. Aaakh.. Apa yang harus kita lakukan?" Susah payah Queen mengatakan kalimat tersebut.


"Hah ... Ukhh.. Ular si*l! Rey tidak tahu Quen!" Rey juga barsusah payah mengeluarkan suaranya, sembari memaki ular raksasa tersebut.


Melihat kedua temannya tengah dalam bahaya Heng akhirnya membantu mereka.


Heng tidak bisa begitu saja menyerang ular ular itu, ia harus menggunakan rencana terlebih dahulu untuk bisa melepaskan Quen dan Rey secara bersamaan. Ia terlebih dahulu memancing ular - ular itu mendekat ke arahnya agar ular-ular itu menyerangnya.


Sepuluh ular raksasa mengejar Heng, ia segera berlari menuju tengah hutan kembali, itu hanya untuk mengalihkan perhatian beberapa ular tersebut. Gerakannya yang lincah memanjat pohon meniti dahan dan loncat dari dahan ke dahan seperti seekor tupai, yang lincah bergerak di antara pepohonan.


"Hap, hap!" Begitu yang keluar dari deru nafasnya yang memburu.


"Dasar Ular raksasa bod*h, aku sudah tahu taktik kalian! Aku hanya memancing kalian menuju jebakan yang sebenarnya." Heng bergumam sembari terus loncat dari dahan ke dahan.


Beberapa menit tiba di terjalnya jurang, ia berhenti sampai di sana.


Heng berdiri di dahan dekat jurang, Sementara ular-ular tadi perlahan mendekat. Heng bisa mendengar desis - desis mereka yang semakin kencang.


"Ayo mendekatlah!" Heng berkata tegas.


Tanpa Heng berkata apapun ular-ular itu mendadak menyerangnya tanpa peringatan.


"Ho ho ho kalian agresif sekali ternyata! Baiklah aku akan menunjukkan siapa yang terbaik di sini!" hang menghunus pedang panjangnya, Iya segera menusuk bagian mata ular tersebut.


JLEB.


Tusukan itu telah mengenai kedua mata ular tersebut, ular raksasa tersebut langsung ambruk sembari mengerang kesakitan karena tusukan Heng.


"Bagaimana rasanya kesakitan. Heh! Kalian telah menyakiti kedua sahabatku rasakan ini! Hiaa.." Pedang Hang selanjutnya telak menusuk beberapa mata ularraksasa yang lain.


Beberapa ular lain yang merasa sedang dalam keadaan terancam mendadak balik arah untuk menghubungi rekan-rekannya untuk meminta bantuan, Heng tidak akan pernah membiarkan satu dari mereka pergi.


Setelah selesai membuat 9 ular kesakitan dan tidak bisa bangkit lagi, Heng bergegas secepat mungkin menghalangi ular yang ke-10 itu.


"Kau mau lari kemana? Ayo pertarungan kita belum selesai!" Tanpa basa-basi Heng menyerang ular ke-10. Ular raksasa itu belum siap, maka ia segera menerima serangan Heng dan ular raksasa itu tumbang seketika.


"Karakteristik ular di dunia manusia dan di dunia siluman amat berbeda, tapi aku sudah mempelajarinya bertahun-tahun. Kelemahan mereka tidak hanya terletak pada ekor, tapi pada kedua mata mereka." Heng melangkah kembali ke arah perbatasan sembari pedangnya ia gesekan kepada tanah ataupun bebatuan, berbunyi nyaring dan membuat telinga ngilu, tapi Heng tidak peduli dengan suara ngilu tersebut.