
Quen melompat menghindari terkaman binatang suruhan dari kerajaan hirina yang lebih dari buas, namun lincah cerdas dan kuat. Mustahil baginya untuk menang. Selain itu Quen juga sudah tua sekarang, berbeda dengan dirinya yang dulu mampu menaklukan macan tutul kerajaan. Kini usianya menghalangi gerak lincahnya seraya menguntungkan baginya karena dapat mengidentifikasi letak kekurangan lawan di jarak dekat.
Macan tutul hitam melompat buas sambil menghunuskan kedua cakar hitamnya yang mengkilat ke depan Quen, Quen tidak dapat menghindari serangan itu kembali ia telak terkena serangan cakar Macan tutul hitam itu, pipinya yang tergores oleh cakar macan seketika meneteskan butir butir darah yang segera membanjiri lehernya yang penuh keringat.
"Apa kau berniat mati ditanganku, Quen?" Macan tutul itu menggeram senang melihatnya terluka.
Heng dan Rey sudah jauh meninggalkannya dan sudah berada di jarak yang aman untuk sementara.
Quen tidak menanggapi ocehannya ia segera balik kanan dan menunggang kuda, kuda digebah berlari ditengah gerung senang Macan tutul hitam. Macan tutul hitam yang sadar akan Quen yang meninggalkan dirinya ditengah pertarungan itu kemudian mengejarnya.
Saat mereka saling berkejaran di jalanan hutan, Quen sadar ia tidak bisa lari maka dari itu ia membutuhkan suatu trik untuk bisa lolos dari bahaya, ia mengeliarkan masker kain di saku dan mengenakannya, iapun menabur bubuk hijau tepat di hidung Macan tutul itu. Macan itu terganggu hingga ia terjatuh saat berlari kencang dan terguling di belakang Quen. Sedangkan Kuda itu sudah dikasih ramuan penangkal abu bius hingga kuda Quen tidak mempan dibius. Di belakangnya Macan tutul itu terbaring tidur pulas, namun Quen sadar ia langsung menghilang karena misi Macan tutul itu yang gagal ia kembali dengan sendirinya ke kerajaan Hirina.
"Entah apa yang dilakukan Ratu itu lagi pada Anaya, bagaimanapun juga aku akan tetap menjaga putri Anaya dengan nyawaku, takkan ku biarkan bahaya menghampirinya." Quen yang menghentikan kudanya sejenak berguman, kuda yang ia tunggangi mendengus setuju. Kuda itu juga menyukai Anaya sejak keempat kuda dipertemukan.
Quen terus berada di jarak aman supaya lokasi Anaya tidak ditemukan, sedari ia diserang mayana setengah tahun lalu Mayana menamcapkan racun yang terdapat alat pelacak di tubuhnya. Makanya ia selalu membawa kesulitan bagi Heng Dan Rey teman teman baiknya, itu juga yang membuat Wayana bisa menyerang pekan raya, karena deteksi pada tubuh Quen akan aktif jika ada kekuatan murni siluman anggota keluarga kerajaan.
Gara gara Quen yang terus mengawasi Anaya dari jarak dekat, Anaya mendapat banyak masalah dikota. Termasuk jadi bulan bulanan warga karena tuduhan isu.
Quen harus memperbaiki kesalahannya dengan membantu Anaya secara terang terangan.
Dan disanalah pertama kalinya Anaya mengenal Quen, saat Quen menyelamatkan nyawanya dan juga Janson.
...----------------...
Quen menatap langit malam dengan menghela nafas lega. "Aku ingin tidur" Quen berbaring di samping kudanya dan tertidur, ia sudah terbiasa tidur tanpa alas dan juga di atas rumput yang alami.
'Ingat kau harus menjaga Anakku dan cucu cucunya Quen, berjanjilah kau akan pertaruhkan nyawamu demi melindungi mereka. Berjanjilah!!'
'Ya aku berjanji Pangeran, Aku kan menjaga Laras dan bayinya dengan nyawaku. Serta menjaga garis keturunan anda pangeran.'
'Cepatlah tinggalkan istana ini dan bawa laras pergi.'
"Tidak!! Tidakk Quen aku tidak ingin meninggalkan suamiku, Kezi ayo kita pergi bersama, aku tidak sanggup jika harus membesarkan anak kita seorang diri. Kau tidak akan melawan ratu sendirian bukan?! Kita pergi saja dari sini sekarang!!"
'Aku tidak akan mati Laras, tidak sampai aku melihat anakmu dan cucu cucuku! Aku berjanji. Lagi pula aku punya senjata lain untuk melindungi diriku selain Quen, Shi ya dan temannya Yu Jian, mereka tidak akan kalah dan aku takkan mati sayang, jangan menangis.'
'Laras, tetaplah hidup dan lahirkan bayi kita, aku yang akan berusaha menahan mereka. Aku tau ini bukan akhir tapi justru awal, keturunan kita yang tau perihal ini nanti pasti akan murka dan membalaskan dendam. Jika tidak, maka kehidupan cucu cucuku bisa lebih damai. Pergilah.. Quen bawa Laras..'
'***Baik pangeran, Ayo putri Laras, kita tidak punya waktu Ratu Shayana akan membunuhmu jika kalian bertemu.'
"Tolong jangan lakukan ini.. "
'Ayo kita pergi, portalnya akan menutup putri.. '
"Kezi, tetaplah hidup***.. "
"Hah... Hahh.. Apa itu tadi? Itu mimpi kah?" Anaya terbangun dengan keringat dingin. Ia seperti merasakan apa yang ada di mimpi itu, itu seperti terasa nyata baginya.
"Kenapa ada Nenek Quen yang masih seusiaku di mimpi, apa aku salah kira atau itu cuma imajinasi karena terlalu sering bertemu siluman? Dan siapa Laras dan Kezi dalam mimpiku. Di mimpinya Laras sedang hamil besar dan hei, tunggu dulu.. Bukankan Laras ada di buku yang dulu ku baca, "Kisah masa lalu" Itu, aku membacanya sampai akhir. Dan siapa Shayana. Nenek Quen mamanggilnya Ratu, siapa dia?" Anaya bertanya tanya di gumamannya. Ini masih dini hari masih dua jam lagi matahari akan terbit.
'Sudah tidak ada waktu, kau harus tau kebenarannya Anaya' Qiunaya berkata dalam raga Anaya.
"Aku akan menanyakannya pada Nenek Quen jika bertemu." Anaya bergumam kecil dan kembali berbaring untuk melanjutkan tidur, ini masih satu dini hari langit pun masih petang.
(Dari awal cerita memang tidak ada waktu sholat ya guys karena ini murni fantasi. Dan thor pun ribed jika di sangkutin sama agama atau sholat gitu. karena memang alurnya mirip mirip film fantasi luar negri, tapi tetap mempertahankan budaya indo tentunya. Happy reading ya:)
...******...
Kayu bakar ditumpuk oleh Heng pada pukul 04.00 pagi, ia menyalakan api dengan suatu trik fisika, ia menggunakan bilah bambu yang berlubang dan menggesek gesekan bambu pada lubangnya yang ada daun daun kering di dalamnya, ia melakukannya selama 15 menit, cukup lama memang karena bukit itu berangin. Beruntung Rey membantunya dengan mencari pematik kecil di ransel kalau tidak Heng takkan bisa menyalakan api, tentu mereka punya pematik kecil yang berupa korek api. Mereka mendapatkan itu dari kota bansar tentunya. Tapi mereka selalu lupa tiap kali menaruh korek api tersebut.
"Rey kenapa kau membantuku, aku sebentar lagi bisa menyalakan api!" Heng menggerutu.
"Heng, seharusnya kita berganti pada korek api ini saja dari pada melakukannya dengan cara manual, kita harus menghemat tenaga, sebaiknya kau berburu hari ini karena perbekalan menipis, di sekitar sini ada sungai. Segeralah tangkap ikannya dengan panah. Atau kita akan kelaparan." Rey menyuruh Heng segera pergi, ia menunjuk ke bawah sana karena di sana memang ada sungai.
"Ya baiklah, dan jangan lupa anak anak harus bangun sebelum fajar ya kita harus melanjutkan perjalanan karena desa tidak bisa ditinggal lama lama." Heng berseru.
"Baiklah, akan ku urus itu.. Tangkap ikan yang banyak ya Heng!! " Rey berteriak. Heng tidak menjawab ia telah turun dari bukit.