
Beberapa hari sebelum perjalanan Heng dan rombongan dimulai Anaya sudah diberi tau bahwa Paman Fariz dan yang lain tengah berkabung untuk Janson dan Anaya belum menceritakan hal tersebut pada Janson dikarenakan suasana hatinya sedang bagus.
Anaya khawatir kalau Janson tau bahwa seluruh keluarganya menganggapnya telah meninggal Janson akan marah setiba mereka dirumah Janson, tapi memberitahunya terlebih dahulu juga penting saat ini.
...ΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari sebelum perjalanan Heng dimulai, keadaan di rumah Janson buruk sekali hingga selalu terdengar teriakan marah ataupun suara barang barang hancur. Setelah Fariz diberitau oleh Amelia tentang keadaan yang sebenarnya tentang putranya. Fariz merasa memiliki secercah harapan dan acara berkabung dibatalkan saat itu juga.
Mereka berusaha beraktifitas dengan normal, meski wajahnya masih terlihat denting kesedihan.
"Kakak Galih, paman Fariz percaya kalau Janson masih hidup! Memangnya hantu Amelia itu bisa dipercaya apa?" Aliza bertanya pada Galih mengenai permasalahan baru di rumah mereka.
"Entahlah Aliza, Kakak juga tidak tau tapi tidak ada salahnya jika kita bisa berharap pada perkataan Hantu itu bukan, katanya dia melihatnya sendiri Janson dan Anaya masih hidup.
"Tapi kak, Aliza bingung!!" Aliza berseru dari sofa ruang tamu, Galih sendiri masih mencari tambahan informasi mengenai kebakaran setahun lalu.
"Apa yang membuatmu bingung?" Galih bertanya sembari terus fokus ke layar laptop.
"Rumah Anaya kan tidak ada di dalam hutan kak, bagaimana bisa mereka tiba tiba ada di desa tengah hutan. Apa Kakak tidak sadar? Mungkin hantu itu sedang mempermainkan kita secara dia kan hantu!!" Apa yang Aliza bilang ada benarnya, tapi sekaligus keliru.
"Aliza, coba lihat! berita di sini tidak ada tanda tanda baju Janson yang tertinggal dan hangus terbakar, hanya ada puing puing bangunannya saja yang porak poranda! Bagaimana kalau kita kesana dan meninjau secara langsung lokasinya, kita bisa mencari bukti buktinya sendiri disana. Kita tidak perlu percaya 100% pada berita publik yang memang sudah tidak asli. Kita langsung saja kesana dan cari buktinya dengan mata kepala kita. Ayo kamu mau ikut tidak? Kakak akan berangkat kesana sekarang juga." Galih meninggalkan laptopnya dan hanya membawa kunci mobil dan alat detektor canggih yang ia buat sendiri.
"Eh, kakak!! Tunggu Aliza, dong!! Iya Aliza juga mau ikut!" Aliza berdiri dan menyusul galih dengan berlari, mereka membuka garasi tempat mobil merah mengkilap itu terparkir sempurna.
Sekejap mereka telah sempurna duduk dan menganakan sabuk keamanan, Galih bersiap menyalakan kendaraan roda empatnya dan melesat di jalan raya.
"Saat tiba di rumah Anaya apa yang akan kakak cari?" Aliza bertanya ditengah Galih sedang mengemudikan mobilnya.
"Oh iya, sedang ada di jalan maaf." Aliza berhenti berbicara dan hanya menikmati perjalanan.
Angin menerpa rambutnya yang panjang, dan wajah Galih tampak sangat yakin dan serius bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di rumah Anaya, yang membuat suatu celah saat kebakaran terjadi. Ayahnya saja saat ini punya ruangan bawah tanah di rumahnya jika terjadi apa apa pada rumah mereka, jadi kemungkinan orang tua Anaya juga pasti punya cara kabur dari bencana, sama seperti apa yang ayahnya fikirkan.
"Ruang bawah tanah itu pasti ada! Aku yakin. " Galih menambah kecepatan mobilnya tapi Aliza tidak keberatan karena ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Galih tersebut. Ya apalagi kalau bukan ugal ugalan di jalanan.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Koak.. Koak.. Koak..
"Bu -bunyi apa tadi!? Apa kau mendengarnya Anaya?" Janson sedari tiba dilokasi perjalanan terus menerus merangkul pinggang Anaya karena Janson penakut, hutan tempat mereka berperang terasa lebih seram daripada biasanya.
"Jangan Khawatir Anak - Anak, Ini sebenarnya hutan yang telah dibakar oleh kekuatan Ghaib milik siluman, mereka dulu menyatakan perang dengan desa kami. Yang mengakibatkan desa kami hanya memiliki sedikit penduduk." Kuda mereka berlari dengan kecepatan sedang, tidak pelan dan tidak kencang.
"Siapa siluman yang menyerang desa Nenek?" Anaya bertanya.
"Siluman itu bernama Mayana, Anaya. Dia mungkin seperti Wayana yang menghancurkan kotamu 40 tahun silam. Sama seperti desaku."
Anaya menggeleng dengan kuat kuat, "Anaya bukan orang asli sini Nek, Anaya baru pindah ketika umurku 5 Tahun, jadi Anaya tidak tau sejarah kota bansar, juga desa nenek ini. Ayah dan Ibuku bukan warga sini."
Pernyataan Anaya barusan menimbulkan banyak pertanyaan yang terlintas dikepala Heng dan Rey.
"Kau bukan anak yang istimewa juga bukan warga sini, tapi kalian kok bisa bisanya terlibat permasalahan dengan dunia siluman seperti ini.?" Rey menatap Anaya tidak percaya.
"Eh, Nenek Rey. Aku lahir di kota bansar tapi kenapa aku tidak terlibat?" Janson bertanya.
"Tidak Nak Janson, kau itu bukan asli sini tanah kelahiranmu juga bukan disini, kau punya sesuatu yang menakjubkan dihidupmu tapi ini bukan saatnya kau mengetahuinya, sekarang adalah tentang Anaya yang entah berasal dari sini atau bukan. Atau kau bisa tunjukan suatu petunjuk padaku Nak, jika tidak mampu menjawabnya." Rey memberikan pilihan padanya.
Rey dan Heng yang menatap kotak itu, menjadi tertegun.
"Kotak Pusaka!! Bagaimana bisa ini ada di dunia manusia, padahal ini hanya dimiliki oleh penerus raja. Dan tampaknya Rey dan Heng mulai mengerti, Hubungannya Anaya dengan para siluman itu. Anaya memang selintas seperti manusia biasa, tapi di dalam tubuhnya pasti ada sesuatu yang selalu melindunginya dari bahaya.
"Apa Nenek tau? " Anaya bertanya kembali. Rey menggeleng patah patah.
Sekali lagi Anaya kehilangan harapan untuk bisa membuka kotak aneh itu.
Langit diatas sana memang terang tetapi pohon pohonnya terlihat gelap dan mengerikan, membuat rasa ketakutan Janson menguar dan membuat Anaya kerepotan menanganinya diatas kuda. Dia benar benar Lelaki yang penakut atas hal hal semacam ini.
"Janson!! Berhentilah merankulku aku tidak bisa, bernafas.. Lepaskan tanganmu.. cepat!" Anaya benar benar dibuat kerepotan.
"Tidak, tidak!! Aku ngeri melihat binatang binatang yang menakutkan itu, aku tidak ingin melihatnya. Kakek berapa lama kita harus melewati hutan seram ini?!" Janson tambah memeluk Anaya dengan Erat sekali.
"Aaakk Janson sesak sesak sesak!!" Anaya menepuk dengan kencang kedua tangan Janson agar melepaskan rangkulan mautnya dari perut Anaya yang mulai terasa nyeri. Anaya bahkan mencubit lengan Janson sampai merah demi perutnya bisa selamat.
"Aduh, perutku sakit, Ini gara gara kau!! Aduh.. " Anaya menyalahkan Janson yang wajahnya pucat karena rasa takut.
Sedangkan dian yang duduk bersama Heng menggeleng gelengkan kepalanya dan menatap hal lain, ia tidak tertarik dengan pertunjukan yang dibuat oleh mereka.
"Anaya oleskan minyak ini di perutmu, nyerimu akan langsung berkurang." Janson mengulurkan minyak itu dari belakang.
"Maaf sudah melakukan hal yang berlebihan." Janson meminta maaf dengan tulus.
Anaya hanya menganguk dan sibuk mengolesi perutnya yang nyeri.
"Kita akan sampai di ujung hutan 10 menit lagi." Heng sebenarnya ingin mempersingkat perjalanan mereka, dengan melewati area ini Anaya dan Janson akan lebih cepat untuk pulang ke rumah mereka. Karena lokasi ini dekat dengan bukit bukit persawahan kota bansar.
"Eh, Anaya sepertinya aku mendengar suara suara mobil dari kejauhan. Apa telingaku salah dengar?" Janson bergumam.
"Tidak Janson, Aku juga mendengarnya. Itu berarti. kita sudah tiba di tepi kota. " Anaya tersenyum bahagia.
"Akhirnya kita bisa pulang, horee.. " Janson bersorak.
"Nak jangan teriak di hutan ini, berbahaya!!" Heng mengingatkan namun sudah terlambat karena Suara Janson yang terlanjur terdengar melengking di sisi sisi hutan.
"Oh, tidak!! "
Suara suara kaki yang merangkak bergerak sangat cepat, dan juga getaran geratan di tanah sangat terasa. Kuda kuda juga terlihat panik.
"Kalian bertiga gebah kudanya, Rey bawa Dian bersamamu jika aku tidak kembali, maka jagalah anak anak ini. " Heng menggebah kudanya ke arah yang berlawanan.
"Dasar Heng! dia sukanya memerintah dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tapi semoga kau tetap hidup Heng. Ayo anak anak!!" Rey menggebah kudanya dibelakang kuda Janson dan Anaya.
Di belakang sana Heng tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang, "Hei Heng!! Kau berlari di arah yang salah. Aku sudah mengurisi Lipan raksasa ini ayo pergi!!" Ternyata itu Quen yang menggunakan banyak beri bius untuk membuat jeda melarikan diri, ia datang dari atas dan tidak memakai kuda. ia seolah bisa terbang.
"Bagaimana bisa? Akh sudahlah, ayo.. " Kuda Heng berlari lebih cepat, sedangkan Quen di atas sana menembus sela sela pohon untuk membuat Heng lari lebih dulu, karena Lipan raksasa itu memang mengincarnya sedari awal.
Lipan raksasa beralih pada Quen yang menghalangi niatnya untuk memangsa buruannya yaitu Heng.
Quen cukup menggeluarkan jarum tipis panjang sebesar benang untuk melawannya, Quen tidak lagi menggunakan perwujudan manusianya karena ia telah membunuh dirinya itu lantas pelacak itupun mati dengan sendirinya, saat pelacaknya mati Jiwa Quen yang tertidur lama menjadi bangkit kembali dan dirinya telah keluar sebagai jiwa murni siluman, tapi tetap dengan wujud Quen yang Heng kenal tentunya.
"Kau telah memilih lawan yang salah tuan Lipan!!" Quen mengacungkan pedang setipis benang itu dan menancapkannya langsung di jantung vital lipan itu, darah langsung keluar bagai pipa bocor dan tamatlah riwayat hewan raksasa itu.