
Ketakutan.
Hal itu yang Wanita itu rasakan, detak jantungnya kini berpacu begitu cepatnya. Wanita itu mengesot kebelakang berusaha menjauh dari sosok hitam tinggi yang menyeramkan baginya.
Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya yang kotor oleh lumpur dan debu, terdapat luka lebam di sekujur badannya.
"Ja -jangan sakiti Aku, kumohon." Wanita itu hampir menagis sembari terus mengesot ke belakang. Pangeran itu terus maju di hadapan Wanita tadi. Bukan menakuti melainkan memberi bantuan padanya.
"Jangan!!!" Tangannya hampir memegang pundak Wanita itu, namun seruannya barusan menghentikan gerakannya. Pangeranpun pergi dari sana.
Lengang..
Hanya semilir angin yang terhembus menerpa Wanita itu, perlahan lahan Wanita itu mencoba mengintip keadaan.
Tidak ada siapapun di hadapannya kecuali seekor kadal yang terkadang lewat di depannya.
"Hahhh." Wanita itu akhirnya bisa bernafas lega, jantungnya pun kini mulai kembali berdetak normal.
'Akhirnya, aku bisa selamat dari kedua bahaya itu. Kau sekarang aman Laras.. Huhh tenanglah sekarang.' Laras berucap di benaknya.
...********...
Gebahan kuda terdengar berirama, berketipak ketipuk terdengar di telinga. Pangeran tengah menunggangi kuda putih dengan secepat mungkin. Matanya memang menatap ke arah depan dan teramat fokus.
Tetapi fikirannya tidak tenang melayang layang entah kemana.
("JA - JANGAN") teriakan itu terus berdengung di telinganya.
"Kenapa aku terus memikirkan Wanita manusia itu, padahal aku baru pertamakali melihatnya dan Aku tidak peduli pada aktifitas mereka, kenapa kali ini terlihat berbeda?" Gumam Pangeran bersamaan saat kudanya meloncat di sebuah jurang. Tidak masalah kuda itu bisa dengan mudah melewatinya.
Kuda itu terus bergerak hingga tidak terasa sudah mencapai istana. Kuda liar tersebut disuruh kembali ke hutan, tak lupa Pangeran mengucapkan terima kasih.
Pangeran Kezi tengah memeriksa keadaan sekitar pelataran istana. Hanya mencoba untuk memastikan supaya ia tidak tertangkap basah sudah melanggar peraturan dengan keluar istana tanpa izin.
Beruntung ridak ada siapapun yang keluar istana untuk berjaga jaga di sana, Pangeran hanya keluar untuk mencari suasana baru saja, terlalu bosan ia berada di istana. Ia lelah mengurusi dokumen yang tidak ada habis habisnya, walau telah dikerjakan sekalipun.
Setelah lolos melewati penjagaan luar istana Pangeran melanjutkannya dengan memanjat pohon dekat dengan kamarnya.
Sesampainya di kamarnya sendiri Kezi langsung merebahkan badannya di ranjang, rasa senang menyeruak dari senyumannya.
'Wanita tadi cantik sekali,' Benaknya.
Prokkk, prokkk, prokkk,
"Wah, Kakak hebat sekali ya!" Kata kata itu terlontar saat Kezi sedang asyik asyiknya berhayal tentang Wanita manusia itu, walau ia tidak tau namanya. Nampaknya ia ingin mengenalnya lebih dekat.
Kezi yang mendengar seruan itu bergegas bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Kezi pada adiknya.
"Aku, aku dari setengah jam lalu ada disini, Ayah menyuruh Kakak untuk turun jika sudah bersiap siap! Hayo Kakak, pasti keluar lagi ya.. Kalau Ayah tau, Ayah pasti akan marah lho!" Adiknya itu sangat cerewet seperti Ibunya, walaupun Adik tiri ia menyayanginya.
Pangeran Kezi adalah Anak Pertama dari permaisuri, dan satu satunya yang terlahir darinya. Karena setelah kelahiran Kezi beberapa jam kemudian Ibunya menghembuskan nafas terakhir.
Di hadapannya kini Adik tirinya yang menyayanginya namun cerewet, usia merekapun terpaut 12 tahun, Kezi sekarang berusia 28 tahun.
"Kau Cerewet sekali sih Shi ya.. SINI KAU!!" Kezi kesal pada Adiknya hingga melemparkan banyak bantal ke arahnya.
Shi ya segera menghindar sebelum ia terkena oleh lemparan Kakaknya.
"Wleeee gak kena gak kena!! Wlee.." Shi ya masih meledek Kezi sambil menjulurkan lidahnya.
Saat bantal ke lima belas terlempar selurus dengan pintu, Shi ya juga menghindar dari sana, kebetulan pintu terbuka dari sana.
Ada Ibu tirinya yang masuk sambil membawa sarapan.
Plokkk
Bantal itu telak mengenai Ibunya, semua yang ia bawa juga tumpah ruah ke tanah.
Shi ya dan Kezi tidak menyangkakan hal tersebut, keduanya terkejut bersamaan.
Ibunya menghembuskan nafas yang berat dengan penuh emosi, ia menganggat mereka berdua menggunakan satu tangan saja.
Shi ya dan Kezi sudah berteriak meminta maaf, kedua tangan mereka terantup.
"Maaf Ibu," Shi ya menjerit "maaf Ibu Ratu, Maaf." Kezi ikut berteriak.
"Apa yang kalian lakukan heh.." Shayana benar benar dalam amarah.
"Sekarang, BERSIHKAN KEKACAUAN YANG KALIAN BUAT INI!!" Shayana berteriak kepada kedua Anaknya.
...***...
Dalam sekejap keduanya sibuk mengepel lantai dimana makanan itu tumpah ruah, Kezi masih saja menyalahkan Adik tirinya begutupun sebaliknya.
"Kerjakan dengan benar!" Shayana mengingatkan mereka berdua agar tetap fokus dan tidak bertengkar lagi, keduanya mengangguk patah patah.
...ΩΩΩΩ...
Laras sekarang sendirian di tengah tengah hutan belantara yang hijau dan sangat luas, sesekali dirinya bertemu dengan reptil seperti ular dan buaya sungai.
Kadang kala ia menemukan beberapa buah buahan untuk dimakan disana, bertahan hidup di hutan belantara sungguh bukan hal yang mudah. Terlebih lagi mendung tebal telah tiba di hutan, bergumpal gumpal dan suram.
"Apakah akan turun hujan, Astaga Aku tidak tau harus berteduh dimana?" Laras segera beranjak dari tepi sungai, ia harus sesegera mungkin membuat atau menemukan tempat bermalam sementara.
"Aku tidak mungkin bermalam di bawah pohon, aku sebaiknya mencari gua saja." Laras hampir mengelilingi setiap sudut hutan untuk mencari gua untuk bermalam, sayangnya tidak ada satupun Gua di hutan itu.
"Aku sudah berkeliling berjam jam, dan tidak menemukan Gua apapun! Bagaimana ini?" Laras kebingungan saat itu juga.
Ia bergegas mengelilingi hutan lagi, dan saat itulah ia menemukan sebuah rumah yang separuh roboh.
Laras melihatnya di kejauhan lantas bergegas mendekat kesana, di antara rintik hujan kecil yang mulai turun. Keberuntungan masih berpihak padanya.
"Siapa pemilik rumah ini? Entahlah, yang penting aku bisa bermalam sementara disini. Kalau melihat rumah Aku jadi teringat..
("Ayahhhh, Ibuu.." DORR..) Ingatan Laras melayang saat kejadian penembakan orang tuanya di depan matanya oleh pasukan belanda yang menyerang indonesia pada tahun 1895.
####
"LARAS SELAMATKAN DIRIMU NAK!!" AYAHNYA BERTERIAK DAN MENYURUH PUTRINYA LARI DARI SANA, LARAS TIDAK SANGGUP MELIHAT ORANG TUANYA YANG SEDANG DALAM BAHAYA, KEDUANYA DITODONG DI BAGIAN PELIPIS.
"TA..TAPI, AYAH."
DORR..
LETUSAN PELURU SUDAH DILEPASKAN KEPADA AYAHNYA. DEGH!!
HATI LARAS REMUK SEKETIKA MENYAKSIKAN ORANG TUANYA BERLUMUR DARAH, SEDETIK BERLALU LARAS BERTEKUK LUTUT DAN MENANGIS.
"LARIII NAK!!" SEKARANG PASUKAN BELANDA ITU MENGANGKAT PAKSA IBU LARAS.
LARAS SENDIRI YANG TADI BERLARI MENJAUH KINI TELAH TERTANGKAP PASUKAN BELANDA.
"TIDAAAAKKK JANGAN SAKITI IBUKUUUU!! TIDAAAAKKK!!" LARAS BERUSAHA MERONTA MELEPASKAN DIRINYA. SAMPAI IA MENGGIGIT KEDUA TANGAN ORANG ITU, MEREKA REFLEKS MELEPASKAN LARAS, LARAS BERLARI DAN..
DORRR..
PELURU BERIKUTNYA TELAH KELUAR.
"LA RI.." KALIMAT TERAKHIR IBUNYA TERLONTAR.
AIR MATA LARAS TERJATUH SERAYA MENGHENTIKAN GERAKANNYA, SEKARANG PISTOL ITU TERARAH PADANYA.
LARAS BERBALIK ARAH DAN BERLARI KE ARAH HUTAN.
PASUKAN BELANDA IKUTMENGEJARNYA, BEBERAPA DARI MEREKA TURUT MEMBAWA PISTOL DI TANGAN.
LARAS TERJATUH KARENA TIDAK SENGAJA MENYANDUNG BATU, 'SIAL.' BATINNYA MENGGERUTU.
PASUKAN BELANDA KINI TENGAH MENGEPUNGNYA DARI SEGALA ARAH, MEREKA BERENAM DAN LARAS SEORANG DIRI.
"MAU LARI KEMANA KAU GADIS KECIL?" PASUKAN BELANDA ITU MULAI MENDEKAT, LARAS HANYA BISA TERDIAM.
SALAH SATUNYA TELAH MENJAMBAK RAMBUT LARAS.
"AAKKKHH SAKIT." LARAS MERINTIH DISERTAI TANGIS YANG KEMBALI MEMBASAHI PIPINYA.
"BAGAIMANA SEBELUM KITA LENYAPKAN, KITA CICIPI DULU GADIS INI.." SARAN SALAH SATU DARI MEREKA.
LARAS MENGGELENGKAN KEPALANYA KERAS KERAS.
"JANGAN TAKUT YA," LIRIH PASUKAN BELANDA YANG LAIN.
DUAK!!
LARAS MENENDANG TEPAT DI BAGIAN PENTING DARI PRIA, PASUKAN BELANDA ITU MERINTIH KESAKITAN.
"KITA HABISI SAJA WANITA KURANG AJAR INI!!" SERU ORANG YANG LAIN.
LARAS MENGGIGIT TANGAN KEDUANYA LAGI, LALU BERANJAK LARI, KALI INI DIA BERTERIAK MEMINTA PERTOLONGAN.
"TOLOOONGGG, TOLOOONGGG!!"
PASUKAN BELANDA KEMBALI MENGEPUNG DAN LARAS KEMBALI TERJATUH, BANTUAN TAK TERDUGA DATANG DARI SESUATU.
SOSOK HITAM MIRIP SILUMAN DATANG TERANG TERANGAN DIHADAPAN KE ENAM ORANG ITU, MEREKA LARI TUNGGANG LANGGANG KARENA TAKUT.
DAN DISINILAH LARAS BERTEMU DENGAN PENYELAMATNYA YANG MENYERAMKAN.
"SI, SIAPA KAU!! JA- JANGAN MENDEKAT.." LARAS MEMUNDURKAN BADANYA, KETIKA IA BERTERIAK LAGI SOSOK ITU MENGHILANG ENTAH KEMANA.
"DIA TIDAK MENYERANGKU?"