
Heng menuruni bukit di jalan yang berbatu kerikil, ia memakai sepatu jadi kakinya tidak terkena batuan tajam.
Setelah melewati jalan berbatu, Heng sampai di tepi sungai. Dari sana terlihat aliran sungainya yang cukup deras, ikan ikan terkadang meloncat dari permukaan membuat Heng tidak sabar ingin menangkap ikan ikan itu dengan anak panah di punggungnya.
Heng mulai. meloloskan satu anak panah di punggungnya dan memasang panah itu pada busur, ia mengarahkannya perlahan ke depan dan menunggu saat ikan ikan itu meloncat dari bawah air. Satu menit berlalu dengan cepat, beberapa ikan meloncat dari permukaan, kini Heng telah menunggu dengan sabar, ia secepatnya merarik busur dan melesatkan anak panah itu.
Panah itu telah melesat ke arah ikan ikan yang sedang ayik meloncat dan tidak menyadari akan bahaya di sekitar, beberapa ikan telah tertusuk panah milik Heng. Panah itu mengalenai 3 ikan ukuran sedang sekaligus.
Heng meloloskan kembali busur panahnya, dan memanah kembali ke arah ikan ikan yang berloncat loncat ke permukaan air.
2, 3 ikan langsung terkena panah Heng, sesekali ikan ikan berhenti meloncat karena sudah menyadari ada bahaya di sekelilingnya.
"Sudah cukup, aku sudah dapat 10 ikan. Aku rasa sudah cukup perbekalannya." Heng mengemasi busurnya dan mengumpulkan ikan hasil tangkapannya di kotak kayu ukuran sedang. Heng kini mulai membuka bajunya dan menceburkan dirinya ke sungai, Heng berenang di aliran sungai yang jernih airnya. Tubuh tua Heng telah dibasuh oleh air dan ia mengakhirinya dengan cepat, ia kembali memakai pakaiannya.
...*****...
Di atas perbukitan, Rey yang tengah menyiapkan bahan untuk sarapan pun mengeluh dalam gumaman, "Anak anak kota ini, apa mereka selalu terbangun saat matahari akan menyengat ke wajah mereka dibandingkan bangun sebelum mentari terbit, sungguh aku tidak mengerti cara hidup orang kota seperti mereka yang selalu menggampangkan masalah, cara hidup kami dihutan selalu berwaspada dibanding mereka dengan teknologi canggihnya, kami bisa menaklukan hewan liar dan membuat penawar racun dengan cara alami, dan itu sangat berharga dibandingkan dengan obat obatan kimia mereka yang sebenarnya perlahan merusak mereka sendiri." Rey mendengus dengan perkembangan zaman yang menurutnya semakin hari semakin merusak lingkungan.
"Uhh suara berisik siapa ini..?" Anaya terbangun karena ocehan Rey yang kian mengeras, dan membuat nyawanya kembali dari mengembara saat terlelap.
"Ooh baguslah salah satu dari kalian sudah bangun, Nak cepatlah bangunkan yang lain sarapannya sebentar lagi akan siap dan kita harus segera meneruskan perjalanan ini sebelum mentari terbit. Jadi bergegaslah!" Rey mengomel saat Anaya sempurna sadar.
"Baiklah Nek." Anaya tanpa banyak bicara dan bertanya segera menuruti kata kata Rey. Anaya mendekat ke arah Dian terlebih dahulu dan mengguncang guncang tubuhnya.
"Kak, Kak Dian bangun Kak. Kita harus bangun dan bersiap berangkat lagi." Anaya mengguncang guncang Dian dengan sungguh sungguh namun Dian masih saja tertidur pulas.
Anaya kini beralih dan mencoba membangunkan Janson terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan trik sebelumnya karena ia tau kelemahan Janson.
"Nek boleh Anaya munta sedikit aroma masakannya? " Anaya bertanya pada Rey.
"Tudak apa apa, kamu makan duluan pun gak masalah kok." Rey menggangguk angguk.
Rey menuangkan sup itu ke mangkuk Anaya yang sempurna terulur padanya.
Aroma langsung menguar dari sup udang itu, kepul asapnya juga mengelilingi hidung Anaya yang menerima mangkuk yang penuh sup udang panas, ia dikasih sumpit yang terbuat dari bambu oleh Rey, Anaya memakan sup itu di samping Janson yang tertidur supaya Janson menghirup aroma dari sup udang itu, dia memang sengaja ingin membangunkan Janson dengan aroma makanan secara Janson kan memang rakus!
Janson yang masih bertamasya di mimpi menghirup sesuatu yang membuat ia perlahan lalan terbangun, trik Anaya mulai berefek pada Janson.
"Hihi, Janson memang tak bisa lepas dari nafsu makan ya sampai tudurpun ia rela bangun demi makanan, Lucu sekali." Anaya menyumpit lagi beberapa udang dan mulai bercakap cakap dengan Rey.
"Nek, Anaya mau lagi sup udang itu sisa sedikit kan ya buat Anaya semua saja!!" Anaya mengeraskan suaranya dengan sengaja.
"Eh nak Janson, supnya masih banyak Anaya tidak bisa menghabiskan satu panci besar ini sendirian bukan? Memangnya perutnya muat? Lagian kita berlima harus membagi makanan ini secara rata." Rey menjawab seruan Janson yang tidak sopan, sedangkan Anaya tertawa puas karena sukses menjailinya, Anaya tadi berbicara keras di dekat telinga Janson, makanya Janson langsung berseru begitu usai matanya terbuka.
Janson yang menyadari ia telah dikerjain Anaya maju dan menggelitiki Anaya, Sup udang itu telah ditaruh di tempat Rey karena isinyansudah habis, Anaya tidak begitu lapar ia hanya makan beberapa udang saja.
"Hahaha.. Eh geli Janson, Hahaha.. Hentikan!!" Anaya yang terperangkap gelitikan Jansin tidak bisa menghindarinya.
"Salah siapa tadi mengerjaiku, akan ku hukum kau!" Janson masih menggelitiki Anaya.
"Kalian berdua! " Rey berseru menghentikan.
"Hentikan itu dan bangunkan teman kalian itu, kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Anaya membangunkanmu karena kita harus bergegas, aku yang bilang begitu. Tadinya aku ingin membangunkan kalian dengan caraku. Ku guyur pakai air dingin! Sudah jangan buang waktu lagi bergegaslah, Heng pasti sudah selesai memburu ikan." Rey berseru serius pada Jansom dan Anaya.
Anaya mengangguk pada Rey, "iya Janson, aku memang sengaja membangunkanmu seperti itu, karena Nenek bilang dia tidak bisa meninggalkan desa lama lama. Ayo kita sebaiknya bergegas." Anaya berdiri dan menggoyang goyang bahu dian kembali.
Sedangkan Janson dikasih mangkuk sup udang oleh Rey, ia makan dengan lahap dan bahkan minta tambah satu mangkuk lagi tapi Rey menggeleng jatah semua orang memang hanya satu mangkuk.
(Benar benar anak yang rakus) Rey bergumam sambil menatap Janson.
Tak beberapa lama Dian membuka mata dan bangun, tapi saat Anaya memberikan mangkuk sup udang Dian menolak untuk makan.
"Nek, Aku tidak lapar dan aku sudah bangun dari tadi aku hanya menutup mata aku akan turun ke sungai dan mandi, Dah Anaya." Dian kondisinya lebih parah dia benar benar tidak mau makan sama sekali, selama tinggal di rumah Heng pun hanya dia sendiri yang makannya paling sedikit. Bahkan sering menolak makan.
Kesedihannya membuat Rey dan Heng tidak tau harus berbuat apa lagi, mereka bukan keluarganya dan hanya Anaya yang tersisa dari semua keluarga Dian. Tapi, status Anaya adalah anak majikan dan itupun tidak termasuk keluarga dimata Dian. Dian benar benar kesepian dan putus asa karena kehilangan keluarganya.
Sampai dia menolak makanan dan memilih kelaparan.
Anaya langsung berdiri dan meninggalkan bukit untuk menyusul Dian.
"Kak, kak Dian tunggu! Tunggu dulu," Anaya berlari dan berhenti sejenak karena nafasnya putus putus.
Dian berhenti karena kasihan. "Ya, ada apa Anaya?" Tatap Dian datar.
"Kak aku mengerti kakak sedih tapi-"
"Hentikam itu, kau itu bukan keluargaku dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu, kau lebih beruntung dibanding aku kau tau!! Karena terlibat masalahmu aku dan keluargaku meninggal, seharusnya bibi maksudku ibu menjauh dari keluarga kalian sedari awal. Tawaran dan bayaran menggiurkan agar aku dan Mila tetap bersekolah, kau tau! Ayahmu itu terlalu baik pada keluargaku itulah salahnya. Jadi Ibu dan Ayah jadi berhutang budi.. Sedangkan aku, aku tidak ingin berhutang budi padamu maka hentikan kepedulianmu." Dian yang kemarin berterima kasih padanya kini menjadi benar benar menjauh.
"Ku kira hanya kak Dian yang masih tersisa di keluargaku, sepeninggal Ayah dan Ibu seharusnya aku tidak mati matian menghindari serangan Wayana. Wayana menyerangku setiap malam! Apa kakak tau? Kak Dian pasti tidak tau. Jadi tidak hanya kalian yang menjadi korban, aku juga. Aku menganggap Kak dian keluarga karena nasib kita sama Kak. Hanya itu. Aku harap kita bisa sama sama melewatinya itu akan jauh lebih baik." Anaya berbalik meninggalkan Dian setelah berseru.
Langkah Dian langsung terhenti saat itu juga. "Tunggu sebentar, bukankah pada malam itu mata Anaya berubah menjadi merah selintas.. Apa aku salah lihat? Saat Janson menggendongnya mata anaya itu bukan coklat tapi merah. Apa Anaya itu siluman?" Dian terdiam memikirkan kejadian tempo hari.