TO THE DEAD

TO THE DEAD
Membahas permasalahan



Selamat membaca


Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan tokoh, nama dan tempat kejadian itu merupakan hal yang kebetulan saja.


dilarang mengutip bagian cerita ini, ataupun Cover dari To The Dead. karena itu merupakan Cover milik saya sendiri.


Untuk keterangan tentang gambar cover yang lebih jelas silahkan kalian lihat di Ig story saya Tensy_cary dengan Cover gambar anime perempuan berambut hijau.


Happy reading, enjoy dan nikmati alurnya seperti kalian menonton film.


_____________________________


Fariz menuliskan semua inti cerita yang ada didalam catatan yang ia bawa di tangannya, ia menuliskan beberapa nama yang mengaitkan masalahnya dahulu hingga sekarang.


"Hal yang ingin paman bahas kali ini, seluruh cerita yang ada di buku ini Anaya termasuk hal privasi keluargaku."


Fariz menatap Anaya dengan serius.


"Ada beberapa nama yang terkait dengan masalahku beberapa tahun lalu, pertama aku bertemu dengan hantu Amelia setelah kebangkrutan Ayahku dari kota,.." Fariz melingkarkan nama Amelia diatas namanya.


Anaya mendengarkan dengan sama seriusnya, dan yang terpenting ialah, Xin juga ikut menyimak penjelasan Fariz.


"Kedua adalah nama siluman Wayana, ia yang mengendalikan hantu bernama Amelia. Ketiga Adalah nama Ayahku Burhan dan Sahabatnga Mang Karman. Keempat adalah nama yang sama sekali tidak ku ketauhi dan baru saja menolongku, namanya Ruth Ibunya Janson."


Anaya terkejut, Xin sama terkejutnya seperti Anaya.


"Aku belum pernah mendengar nama yang ketika disebutkan membawa aura yang sangat, sangat besar dan menekan sebuah perti ini.. " Xin sejenak merasa tertekan oleh nama barusan.


'Ruth, Ibunya Janson! Sepanjang aku mengenalnya Ibunya memang tak pernah terlihat.'


"Anaya, Janson sangat tidak mengenal Ibunya sedari ia lahir, maka dari itu ia dirawat oleh istri pertamaku. Ruth adalah istriku yang kedua sekaligus cinta pertamaku."


Xin yang mendengar nama itu disebut dua kali menjadi tidak kuat menahan auranya yang keluar dari tiap nama itu disebutkan.


"Kelima adalah wanita misterius yang dinaikan oleh sopir kami dalam perjalanan menembus hutan, namanya Laras." Fariz melanjutkan dan melingkari kelima nama itu.


"Apa kau tau tentang salah satu dari mereka Anaya?"


"Anaya, setelah orang itu menyebut nama sebelum nama nenek kita Kakak merasa sangat kesakitan di sini, hati hati jangan sampai kau merasakan hal yang sama. Dan tolong jujur saja kali ini, tapi usahakan dia akan membantu kita.. " Xin bicara di pikiran Anaya.


'Baik Kak.'


"Paman, Laras adalah nama nenekku."


Fariz yang sedari tadi diam, mulai membeku mendengar pengakuan cepat dan tiba tiba seperti itu.


"Nenek?"


"Ya, beliau sekarang tinggal di kota sebelah, kota soro dan tinggal seorang diri. Setelah kepergian orang tuaku, aku tidak bisa lagi menjenguk nenek di kota sebelah."


"Pantas saja, kau memiliki aura siluman, ada aura aneh dan besar yang menyelimuti dirimu semenjak kau mengunjungi rumahku, bahkan pada saat malam setelah kau tidur di kamarmu ada aura hitam kemerah merahan yang seakan mengawasi kedatangan ambulans yang memindahkan Ayahku, beberapa bunga mawar layu setelah kau pergi. Ada tiga tangkai mawar yang kering dan mati padahal bunganya tidak pernah sakit atau tercabut. Apa ada hal lain yang kau sembunyikan Nak?"


"Aku lupa tidak pernah menghapus jejak auraku padanya setelah bepergian ke segala tempat, apakah itu yang membuat sesuatu itu keluar karena auraku bertebaran di luar dan menghilang saat melewati gerbang rumah.. Aku ceroboh sekali!! Pantas saja siluman itu berhasil menerobos pengamananku.. " Xin mengacak acak rambutnya.


'Kak, bagaimana ini aku tak tau harus membalas apa.' Anaya gemetaran tangannya karena gugup.


"Baiklah, mungkin sudah saatnya aku keluar dengan terang terangan ya.. "


Xin yang bisa kapan saja mengendalikan tubuh Adiknya ini berbuat hal yang sama seperti tempo hari, bedanya kini Anaya hanya ditidurkan jiwanya dan di ambil alih oleh jiwa Kakaknya.


Anaya memejamkan mata kemudian membuka mata lagi, aura dari mata Anaya terpancar jelas dimata Anaya seakan mereka adalah satu jiwa.


Fariz terjatuh dari tempat duduknya, ketika disaat bersamaan pintu masuk terdorong keluar dan Janson berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arah Anaya.


Kedua mata Merah cantik dan Biru muda berkilau itu bertemu dan.


Terjadi percikan energi dari tatapan mereka, mata keduanya saling menyala terang dan tanpa sadar Janson dan Anaya melayang di udara.


Fariz yang terduduk di lantai menatap seolah tidak percaya, Aliza menjatuhkan semua kantong belanjaan mereka, mulyo bergidik ngeri menatap kedua orang anak itu dan lalu terduduk dilantai sama seperti Fariz.


Hal seperti itu hanya terjadi sekitar 10 detik hingga Akhirnya Janson kembali ke keadaan semula tapi dengan kondisi pingsan, sama halnya dengan kondisi Anaya dan Xin Kakaknya.


Ketiga jiwa kini berada di lautan waktu dan lorong dari berbagai dimensi.


Ada jutaan lorong yang menghubungkan ke setiap dunia, sisi dan tempat, tapi ada satu lorong yang berbeda dan mereka tak perlu memilih jutaan lorong lorong tadi.


"Selamat datang di jelajah singkat 10 detik, sang dua legenda. Saya akan menunjukan 10 detik kejadian masa lalu dari kedua legenda. Ini dia.. "


Di layar lorong lorong itu, terdapat banyak sekali kilasan kilasan yang tak dapat dimengerti sama sekali, seluruh adegan dipercepat dan Anaya hanya melihat di bagian laut dan pedalaman serta masa lalu sebuah batu. Xin hanya memperhatikan kisah para siluman dan kisah neneknya. Janson sebaliknya ia hanya ingin tau wajah Ibunya, Janson melihat wajah Ayahnya dan Ibunya yang bertatap dari dalam dan luar laut, mereka bertemu dengan cara seperti itu, Ayahnya sering mengunjungi sebuah pulau, namanya pulau Ufalu.


"Kilasan 10 detik selesai, kembalilah ke sini dalam waktu bulan depan kami akan menjelaskan kilasan balik lebih lambat dan waktu bertambah menjadi 15 detik. Selamat memahami dua legengda."


...*****...


Fariz di ruangan rumah sakit memesan kamar ekstra untuk Janson di rumah sakit, perawat menambahkan ranjang di kamar 152 tempat Anaya kembali diinfus karena pingsan.


Entah hal apa lagi yang terjadi barusan, Fariz menangis karena Janson dan Anaya tak kunjung bangun setelah berjam jam.


10 Jam berlalu, hingga malam kini tepat pukul 00.00 tengah malam,Anaya dan Janson mulai menggerakan jari dan membuka mata saat Fariz, mulyo dan Aliza tertidur di ruangan itu.


"Ayah, tapi apa yang terjadi tadi..? Aku melihat wajah ibu di dalam mimpi dan pertemuan Ayah dan Ibu.. Apa maksudnya?"


Anaya memegang kepalanya karena pusing melihat kilas kilasan dalam waktu cepat, "Aneh batu itu batu apa hingga membuat semuanya berubah. Batu yang besar sekali.."


"Anaya, apa kau juga mengalaminya, tapi hei siapa yang datang bersamamu dan menggengam tanganmu tadi?"


"Janson kau melihatnga juga?"


"Tentu saja, siapa dia?"


"Kak Xin Qiunaya namanya."


"Hah, Kakak?"


Sementara di ruangan tempat Xin tersegel, "Kepalaku rasanya pusing sekali, aduh.."


Xin terjatuh karena suatu rasa aneh dan tenaganya terkuras banyak sekali hingga membuat otot mata dan kepalanya menjadi sangat nyeri.


Hanya dia saja yang memiliki dampak paling tinggi karena ia hanya berupa inti jiwa saat masuk ke area sana.


"Mata biru laut ini dan mataku bisa menciptakan ruang tersebut secara spontan dan aku dapat penjelasan dari kisah nenek dan sejarah siluman, dan wajah ratu yang disebutkan oleh Yawana. Aku akhirnya bisa tau wajahnya dan, aku bingung di kilasan 10 jam tadi, siapa orang yang dicintai nenekku,wajahnya terlihat tampan sekilas dan banyak yang tidak kupahami karena kilasannya sangat cepat. Sistem tadi juga memberi tau jika ia hanya bisa memberikan kepingan cerita itu sebulan sekali." Xin mengatur nafasnya berulang ulang kali hingga ia terbaring dan tertidur di kamarnya karena ia kelelahan.


...----------------...


Trimakasih kalian sudah senantiasa mendukung karya saya ini, saya terharu sekali sudah banyak yang suka dan menikmati ceritanya.


Tapi saya tidak ingin berpuas diri, saya akan terus melatih kemampuan saya ini dan rencananya saya akan buat novel ini dalam beberapa versi atau buku.


Apakah kalian siap membacanya, di kisah yang berbeda pula. Dan karakternya nanti tidak berfokus pada Anaya dan Janson.


(Spoiler sedikit)