TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kehilangan



BEBERAPA HARI SEBELUMNYA..


Setelah kebakaran yang melanda perumahan Kompleks Anaya. Dan setelah semua api yang membakar rumah Anaya padam, para warga berduyun-duyun mendekati rumah tersebut hanya untuk memastikan jasad Anaya benar-benar hangus terbakar. Sungguh mereka semua tidak mempunyai hati dan akal sehat. Mana mungkin mereka percaya begitu saja kepada rumor yang tidak jelas asal-usulnya.


Ditambah lagi perbuatan masyarakat itu kepada Anaya, membakar rumah seseorang termasuk tindakan kriminal bukan?


Rumah Anaya memang benar-benar hagus terbakar, atap yang tadinya berdiri megah kini Hanya berupa onggokan kayu, ruang tamu yang megah, toilet, dapur, dan semua isinya telah hangus terbakar menjadi debu. Yang tersisa hanyalah puing-puing dinding.


"Akhirnya petaka yang menimpa Kota Bansar sekarang sudah sirna. Kita semua bisa bergembira sekarang kita harus merayakannya." ucap salah satu warga yang bersorak-sorai bahagia.


"Apa kalian sudah tidak waras?" Suara tersebut datang dari arah belakang para kerumunan warga. Suara itu terdengar dengan berat dan tegas.


Kerumunan warga yang bersorak-sorak bahagia mendadak menoleh hampir separuhnya, dahi beberapa warga berkerut heran melihat ada Seseorang Lelaki berusia 48 tahun, berpakaian rapi, terlihat seperti pengusaha sukses. Dirinya Tengah menatap tajam kepada kerumunan warga tersebut.


"Siapa kau?" tawnya salah Seorang Warga.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku dan dari mana aku, lagi pula aku tidak punya urusan dengan para Warga licik seperti kalian. Yang bisa kupastikan tindakan yang kalian lakukan hari ini bisa ku laporkan kepada pihak yang berwajib. Kalian semua akan terseret dalam tuntutan dan dijebloskan di balik jeruji besi." Lelaki yang tengah berujar tegas kepada para warga tersebut tidak lain adalah Fariz Ayah Janson sendiri. Para Warga tidak takut dengan ancamannya, bahkan mereka berseru semua ini memang seharusnya terjadi, mereka juga tidak takut dengan ancaman Fariz sama sekali.


" Wah wah, rupanya ada pahlawan di tengah hari begini. Aku tahu kau memang seorang pengusaha sukses, tapi kali di kau tidak seharusnya ikut campur masalah kami. Ini bukan urusanmu!" Yang berbicara barusan itu adalah Pak Wawan. Pak Wawan ikut berseru tegas kepada Fariz.


"Aku jelas berhak ikut campur atas tindakan kalian!" Mereka berdua sekarang terlibat perdebatan panas.


"Iya jelas bisa! Karena yang kalian habisi sekarang adalah Putraku, Janson Bram. Anak Lelaki yang kau biarkan menembus api besar di depan sana. Akan ku laporkan kalian sekarang juga!" Fariz berseru tegas kembali, Pak Wawan benar-benar kehabisan kata-kata menanggapi Fariz. Ia tidak menyangka akan berurusan secara langsung oleh seseorang yang memang sangat terkenal sukses di daerah Kota Bansar.


"Apa! Jadi maksud Anda Anak Lelaki yang berteman dengan 'si pembawa kutukan' itu Putra Anda?" Pak Wawan benar-benar tidak menyangka akan hal seperti ini. Benar - benar suatu kenyataan yang mengejutkan.


"Tentu saja, Dia adalah Putra Bungsu keluarga Bram." Fariz memberikan penjelasan singkat. Tadi ia menyangka semua percakapan akan berhenti begitu saja sampai di sini, dalam sekejap kemudian Pak Wawan malah tertawa.


"huahahaha.. Anak Lelaki itu terkena kutukan, Pak. Dia tidak bisa diselamatkan. Bagaimana mungkin Anda membiarkan Putra Bungsu Anda berteman dengan dia. Kau benar-benar Ayah yang tidak baik!" Ucapan Pak Wawan lebih dari cukup untuk mematik sebuah gas yang keluar menyengat menjadi sebuah ledakan. Api emosi di dalam dada Fariz tersulut, pria paruh baya itu mendadak menyerang Pak Wawan.


"Bicara apa kau tadi! Tarik ucapanmu kembali, tarik ucapanmu!" Fariz membabibuta menyerang Pak Wawan yang segera berdebam ke tanah jatuh tersungkur akibat dorongan Fariz.


"Lepaskan, lepaskan Aku!" Pak Wawan meronta-ronta akibat serangan dari Fariz, tubuhnya menerima pukulan bertubi-tubi yang dilepaskan oleh Fariz. Para Warga yang melihat pergulatan mereka segera melerai dengan cara memegang kokoh kedua lengan Fariz secara kencang.


Fariz yang merasa tidak puas memukul Pak Wawan tersebut segera meronta-ronta meminta dilepaskan. Dirinya meronta sambil berseru - seru bawa ucapan Pak Wawan tidak benar. Juga tentang semua gosip gosip yang beredar di tengah masyarakat. Itu hanyalah Hoax.


Tapi mau bagaimanapun juga berita yang sudah tersebar luas tersebut tidak mampu di bantah hanya dengan kata-kata saja. Fariz memerlukan banyak bukti untuk membuktikan Anaya memang bukan Seorang Gadis yang terkutuk.


Mobil pemadam kebakaran tiba di saat pertengkaran mulai mereda. Juga para polisi yang datang dari arah sebaliknya, mereka meminta keterangan atas semua kejadian ini kepada Pak Wawan juga Fariz.


Fariz terpaksa menyudahi pertengkaran demi memberikan bukti kepada kepolisian setempat.