TO THE DEAD

TO THE DEAD
Memikirkan Laras.



Kezi beberapa saat sebelum Shi ya pergi, ia ikut pamit ingin pergi juga. Beberapa kali bertanya kepada Ayahya apakah sudah lebih baik apa belum.


"Sudah, kembali saja kalau lelah. Istirahatlah." Itu yang Vezi ucapkan kepada Putranya. Kezi mengengguk lantas berbalik melangkah pergi.


Kezi keluar dari ruangan aula bersamaan dengan Shi ya datang dari arah lain dan hendak memegang pintu. Keduanya tarik menarik pintu sejenak.


"Kenapa pintunya tidak bisa terbuka," Shi ya heran di sisi lain.


"Kok macet sih," Kezi juga mengeluh ikut menarik.


Saat keduanya masih tarik menarik, Kezi mulai lelah ia mendorong pintu tersebut.


Shi ya terkejut ketika merasakan dorongan kencang,


Duakk!!


"Aduhh..." Shi ya merintih, dahinya terkena gagang pintu yang terbuat dari logam.


Kezi tidak menyangka bisa melihat Shi ya di depan pintu tepat saat ia melintasinya, Kezi tentu saja cemas pada Shi ya.


Sekarang ia mberada tepat di depan mata Shi ya sambil bertanya keadaannya, "apa kau baik baik saja?"


Entah kenapa Shi ya geli dengan tatapan Kezi, refleks mendorongnya.


Kezi terkejut dengan dorongan tiba tiba itu, "Apaan sih, Kakak harusnya lebih hati hati membuka pintu!" Gerutu Shi ya sambil bergegas berdiri, mengabaikan dahinya yang merah terkena logam tadi.


"Huh, sudah ku tanya baik baik jawabanmu begini. Tau begitu tidak perlu cemas aku tadi!" Kezi menyesal telah menghawatirkan Shi ya, tangannya bersedekap.


"Kakak sebaiknya ikut aku," Shi ya mendadak menarik tangan Kezi, ia menyeretnya untuk berlari saat itu juga, karena kaget Kezi hampir terjatuh ke lantai akibat seretan Shi ya beberapa saat lalu.


"Apa apaan kau ini!" Kezi berseru kesal kepadanya, namun Shi ya tidak menanggapi ocehan Kezi. Ada hal yang harus segera Shi ya ungkapkan pada Kakaknya.


****


Di dalam kamar itu sunyi, Shi ya dan Kezi saling menatap dengan ekspresi serius.


"Aku akan serahkan ini kepada Ibu.." Kezi berkata pelan.


"Apa!" Shi ya berseru tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kenapa Kakak mengalah begitu saja, Kakak kan berhak-" Ungkapan Shi ya langsung terpotong oleh Kezi.


"Shi ya, dengarkan ini. Kakak sejak awal tidak ingin berkuasa, urusan politik, mengatur rakyat dan lain sebagainya.. Kakak benar benar tidak tertarik. Kakak hanya ingin menuruti permintaan Ayah kita saja.. Setelah hari penobatan Kakak akan dinikahkan.. Dan pernikahan inipun tidak Kakak inginkan. Biarkan saja kalau Ibu menginginkan posisiku.. Toh Kakak akan menikah dengan kerajaan seberang." Kezi mulai mengeluarkan keluh kesalnya di depan Shi ya.


"Kakak bersungguh sungguh," Shi ya tidak percaya apa yang di dengarnya. Kakaknya sangat baik sekali, meski Ibunya sangat tamak kepada Kakaknya.


Mereka berpelukan, sementara fikiran Kezi tak bisa terlepas dari bayangan perempuan manusia yang baru beberapa jam ini dia temui..


"Shi ya, Kakak hanya minta satu hal saja padamu.." Kezi berkata serius.


"Tolong rahasiakan Kakak yang sering menyelinap keluar istana ya. Ayah bisa marah kalau tau hal ini." Kezi berkata serius sembari mengulurkan tangan.


Shi ya menggenggam uluran tangan Kezi erat, "Iya, aku janji.." Shi ya menyetujui perjanjian itu, Kezi tersenyum.


****


Sedangkan di alam yang berbeda, tepat di sebuah hutan luas seseorang tengah meringkuk memeluk lututnya, menangis mengingat kejadian beberapa hari lalu.


"Ayah... Ibu.. Aku tidak akan mati sia sia di hutan ini, aku janji. Dulu kita berbahagia di kota Soro, sekarang aku bahkan tidak bisa melihat makam kalian.." Laras menagis sesenggukan di dalam keheningan malam, tak terasa ia menagis begitu lama. Dan perlahan ia jatuh tertidur di ramah tidak terawat itu.


Terik matahari menerobos bangunan tua yang setengah runtuh itu, mata Laras bergerak sedikit karena merasa silau dan hangat. Perlahan membuka matanya.


Gadis yang sudah beranjak remaja itu perlahan bangkit terduduk, ia mulai melihat lihat ke dalam rumah tua itu.


Laras banyak melihat tumbuhan ataupun lumut yang tumbuh di setiap dinding rumah, ia menemukan beberapa kamar yang sudah jebol dan rusak. Ada juga beberapa lemari pakaian di sana yang masih utuh, kamar mandinya kotor, dapurnya dua kali lebih tidak layak pakai.


Tapi setidaknya ada air yang ditampung oleh lubang dalam, tertutup oleh kayu panjang. Orang orang desa biasa menyebutnya 'Sumur'


Laras memasuki rumah itu lagi, ia merasa senang bisa menemukan beberapa pakaian ganti. Walaupun pakaian itu harus di cuci terlebih dahulu.


Gadis itu menemukan beberapa tali, ia bisa membuat jemuran dengan itu. Ia berkeliling lagi di dapur. Menemukan pisau tapi sudah berkarat. Laras segera mengasahnya dengan beberapa batu.


Ia menjelajahi hutan, menemukan rotan kering, dedaunan kelapa dan beberapa ijuk untuk membuat sapu.


Laras amat terlihat sibuk melakukan berbagai kegiatan di rumah jebol itu, memang masih layak di huni. Laras juga membersihkan kasur itu walau telah kotor.


Berjam jam ia harus membersihkan lantai keramik yang bertanah. Tidak ada ember ataupun alat lainnya, ia hanya bisa mengandalkan pisau, dan di belakang bahkan tidak ada ember untuk mengangkut air sumur.


Ia harus membuat wadah sendiri. Laras menemukan banyak batok kelapa. Membuat persediaan air dan membersihkan lantai dengan itu.


Setelah selesai dengan beberapa bagian rumah, Laras membersihkan diri di belakang rumah.


"Aku harus makan, atau mencari buah buahan lagi.." Laras mulai bergegas mengambil baju yang baru, walau belum sempurna kering.


Laras meluhat sekeliling hutan, ini sudah tengah hari lewat, Laras melewati begitu banyak buah, tapi tidak layak di makan. Buah itu keras dan tidak ada binatang di pohon itu.


"Artinya buah ini berbahaya," Gumamnya, ia meletakan kembali buah itu.


Sesaat kemudian ia tiba di tepi sungai.


Aliran airnya tidak biasa saat itu, beberapa ular besar bahkan terlihat muncul hilang di dalam airnya.


"Ini bahaya, ada ular di sungai!" Laras mulai menjauhi sungai saat itu.


Sedangkan perutnya terus berbunyi.


"Ukh lapar!" Gumamnya.