
"Katakan padaku Nona Ratu Shi ya, apa yang membuat Nona Ratu begitu cemas? Kenapa Anda terburu-buru begini, apakah ada masalah? Bisakah Nona Ratu menjelaskan kepada saya." Anaya berkata demikian karena dia merasa khawatir, ekspresi Nona Ratu Shi ya banyak berubah setelah mendengar ke khawatiran Anaya pada Bi Marni dan kedua Putrinya.
" Anaya sepertinya Nona Ratu ini menyembunyikan sesuatu dari kita. Sepertinya dia tahu di mana Bi Marni, tetanggamu itu!" Mendengar ucapan Janson Anaya menatap tidak percaya pada sahabatnya tersebut. Ekspresi Ratu Shi ya tersebut juga ikut berubah.
"Apakah yang dikatakan Janson benar Nona Ratu, apakah pertanyaan yang aku jawab tentang Bi Marni itu benar? Apakah Bibi dalam bahaya sekarang. Tolong jelaskan semua padaku!" Anaya memohon serta menggenggam kedua tangan Nona Ratu Shi ya tersebut, berharap Nona Ratu menjelaskan apa yang terjadi pada Anaya.
Kekesalan dan ke khawatiran Shi ya akhirnya memuncak, dengan rasa kekesalannya Shi ya refleks menjelaskan apa yang terjadi di dunia siluman. Shi ya bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di beberapa hari lalu.
"Yah memang benar, satu hari sebelum kalian datang ke sini. Aku dikirimkan sebuah informasi penting mengenai Para Siluman yang memasuki perbatasan tanpa izin, yang lebih mengkhawatirkan lagi mereka membawa beberapa manusia. Aku tidak tahu siapa mereka dan dari mana mereka tapi yang pasti keadaan mereka sangat menghawatirkan sekarang, aku sudah menyuruh panglimaku untuk menyerbu di wilayah perbatasan sebelah barat, tapi aku tidak menjamin keselamatan manusia manusia itu. Aku melakukan ini karena suatu peraturan penting yang dibuat permanen oleh Putra Mahkota. Aku harus pergi tidak bisa menjawab pertanyaan kalian lagi. Aku melakukan ini bukan demi manusia-manusia itu, aku hanya mematuhi perintah." Setelah Nona Ratu Shi ya menjelaskan semuanya pada Anaya ia pergi begitu saja, Shi ya sengaja menghilang dari sana supaya tidak dihalang-halangi lagi oleh Anaya.
Anaya mendadak terduduk di lantai yang terbuat dari kayu jati dan terlihat mengkilap, seakan tidak ada lekukannya. Kayu jati itupun di cat dengan warna kuning emas. Elok sekali.
"Bi Marni dalam bahaya. Bibi apakah ia baik baik saja. Janson kita harus ke tempat itu bersama Nona Yu Jian!" Anaya yang ingin menangis segera mengurungkan niatnya dan menahan air matanya agar tidak keluar, sementara Janson terlihat agak kesal kepada Ratu Shi ya.
"Janson, apa kau mendengarku?" Anaya benar benar menunduk ke bawah, ia berbicara namun tidak menatap wajah Janson.
"Aku tidak akan ikut, dan kau seharusnya tidak kesana Anaya. Karna keadaannya mungkin sangat berbahaya!" Janson menggeleng pelan. Meskipun Anak Lelaki itu kasihan kepada orang yang di khawatirkan Anaya, Janson jelas lebih peduli pada Anaya.
"Kenapa? Apa kau tidak peduli pada tetanggaku?" Anaya akhirnya tidak kuat menahan tangis karena kali ini Janson tak setuju dengan pendapatnya.
"Bukan begitu." Janson menggeleng keras keras.
"Lantas." Wajah Anaya kini penuh dengan air mata, menatap Janson setengah marah.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka." Janson berkata pelan.
Anaya bergegas bangkit mendengar jawaban Janson dan ia menatap kesal Anak lelaki itu.
"Aku akan menyelamatkan Bi Marni apapun alasannya, walaupun kau tidak mengizinkanku Janson!" Anaya benar benar marah sambil meneteskan air matanya.
"Jangan!" Janson lebih dulu menolak sembari menggeleng.
"Lepas!" Anaya masih berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Janson yang kuat.
"Aku tidak akan membiarkan kau pergi dan terluka lagi!" Janson sama keras kepalanya seperti Anaya.
"Kumohon Janson firasatku tidak enak!" Anaya mendorong Janson sekuat yang ia bisa, Janson mundur beberapa langkah dan tidak terjatuh.
Anaya berlari menuju bingkai pintu, tangannya hendak meraih gagang pintu kayu.
GREP!
Kedua lengan Janson merangkul tubuh Anaya dari belakang.
"Kumohon jangan kesana Anaya! Aku tak mau kehilangan dirimu." Suara Janson menjadi lirih dan terdengar terisak untuk menahan Anaya agar tidak pergi ke perbatasan menyusul Shi ya dan Yu Jian ke sana.
"Janson," Anaya berkata pelan tapi Janson kembali berkata lirih sambil benar benar terisak.
"Tidak, tidak. Hiks, Anaya jangan ke sana." Janson benar benar menangis sekarang.
"Kita akan ke perbatasan bersama Janson, apa kau setuju?" Tanya Anaya. Janson seketika menghentikan tangisannya lalu melepas pelukannya, sekarang ia menatap lekat Gadis pujaannya itu.
"Baiklah Anaya, kita ke sana!" Janson mengangguk mantap.
...ΩΩΩΩ...
Suara gebah kuda di kejauhan terdengar berirama seiring dengan teriakan dari Panglima perang yaitu Yu Jian, dengan komandonya yang pasti para pasukan segera memutar haluan.
Panglima berencana hendak mengepung lawan.