
Keduanya mulai sibuk melihat lihat buah yang akan mereka santap, Laras bahkan sempat sempatnya mengambilkan sebilah pisau untuk Pemuda yang baik hati, tamu yang membantunya saat ini.
Di dalam kain awalnya tidak terlihat buah apa saja yang ada di dalamnya, setelah terbuka lebar. Buah buahan yang di bawa oleh Pemuda tadi beraneka ragam. Ada buah mangga, melon, pisang, apel, anggur. Semuanya penuh satu ikat.
"Ayo Nona silahkan di nikmati," Kezi menyuruh Laras agar mulai memakan buah buahan itu, sejak beberapa jam lamanya Laras memang tengah dilanda rasa lapar yang cukup hebat. Perutnya bahkan sempat melilit, namun sengaja ditahan oleh batinnya.
Berjam jam ia mencari buah buahan yang dapat di makan di pedalaman hutan namun sia sia saja. Dan dirinya malah akan digigit oleh Ular berbisa.
Kezi terus menatap wajah Laras yang mematung melihat buah buahan yang banyak dan bertumpuk tumpuk. Tidak sabar lagi atas keraguan Laras yang membuat suasana hening dan beku, Kezi mengambil buah apel lalu memotongnya dengan sebilah pisau yang berada tepat di tengah keduanya yang sedang duduk bersebelahan.
Kezi cekatan melakukannya dan menawarkan buah yang telah terpotong di tangannya di depan Laras, ragu ragu Laras mengambil lalu mulai mengunyah buah apel merah tersebut.
"Bagaimana rasanya? Apakah enak?" Kezi bertanya sebanyak dua kali.
"Iya, ini enak. Rasanya sangat manis." Laras menjawab pertanyaan Pemuda itu.
Kezi yang mendengarnya terlihat sangat senang, ia akhirnya bisa lebih mengenal Gadis Manusia ini dibandingkan dengan pertemuan mereka yang sebelumnya, saat Laras benar benar ketakutan hanya dengan melihat perwujudannya sebagai Siluman.
Tidak disangka mereka akan akrab mengobrol saat ini, berbincang dan yang lebih penting lagi Laras bisa dihadiahkan bunga biru darinya. Moment yang sangat berharga bagi Kezi.
Seekor burung pipit berada dekat dengan tempat mereka duduk, Kezi melemparkan beberapa makanan ke arah burung itu, sengaja ingin memberi hewan itu makanan.
"Apa kau menyukai hewan?" Tanya Laras sambil melirik ke arah Kezi, sedari tadi ia memperhatikan gelagat Pemuda di sampingnya yang tidak pernah melukai hewan, ular berbisapun jadi mainan.
"Aku sedari kecil terbiasa hidup di tengah tengah hewan hewan ini, jadi aku tidak sedikitpun merasa takut atau benci dengan mereka. Aku selalu nyaman berada di dekat hewan. Aku seperti punya teman banyak." Jelas Kezi sembari sesekali melemparkan lagi biji bijian yang biasa dimakan burung.
Laras tersenyum semakin lebar setelah mendengar penjelasan dari Pemuda di sebelahnya.
"Siapa namamu?" Laras bertanya pada Kezi - yang langsung menghentikan gerakan tangannya yang melempar biji bijian ke depan - setelah mendengar Pertanyaan Laras.
"Namaku Aji. Nah sekarang saya ingin bertanya juga, Nama Nona siapa?" Kezi menjawab pertanyaan sambil melontarka pertanyaan berikutnya.
Laras tertawa lebih dulu dengan apa yang Kezi tunjukan. Raut wajahnya Kezi tiba tiba membuat Laras tergelak tertawa.
"Ada apa?" Kezi menatap Laras heran.
"Kau, kau lucu sekali.. Hahaha," Laras tertawa diluar kendali sambil terus menatap ke arah Kezi.
"Hm?" Kezi tetap saja heran, entah apa yang sedang di tertawakan Laras.
"Alismu melengkung tadi, hehe.. Aku tidak pernah melihat alis yang melengkung ke atas begitu. Seperti huruf U tapi hanya setengahnya. Tadi alismu begitu.. Hahaha.." Laras kembali tertawa sambil memegangi perutnya. Kezi akhirnya paham maksud Laras.
"Alis ya! Ya ini memang alami, tidak tau kenapa?" Kezi berkata datar menyela sisa tawa Laras.
"Salam kenal ya." Kezi memperlihatkan senyumnya yang teramat manis, hal itu membuat Jantung Laras seakan ikut berhenti berdetak, wajah tampan Kezi membuatnya terpaku beberapa saat.
PETOKK..
Suara ayam di dekat mereka membuyarkan lamunan Laras, membuat wajahnya yang merah merona teralihkan, Kezi ikut menatap ke arah suara.
Ayam jantan yang tengah berkokok karena ada pasangannya yang sedang bertelur.
Laras kembali melanjutkan memakan buah buahan tersebut bersama Kezi. Hanya suara renyah gigi yang sedang bekerja memenuhi sekitar, beberapa saat setelah itu Kezi ingin pergi, ia mulai beranjak bangkit dari duduk dan melangkah.
Melihat langkah Kezi Laras ikut beranjak berdiri. Ia berseru menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu, tunggu dulu-" Laras bergegas secepatnya ke hadapan Kezi.
"Aji, apakah kau akan ke sini lagi?" Laras bertanya.
"Ya, tergantung dengan kesibukanku Laras, karena aku kan seorang pemburu. Aku harus berburu dihutan untuk mendapatkan penghasilan. Aku tidak bisa janji besok akan menemuimu atau tidak. Aku tidak hafal rutenya jadi-" Kezi memberikan alasan yang paling masuk akal.
"Kalau kau tidak datang, aku akan kesusahan mencari makanan di dalam hutan. Aku belum pernah tinggal di dalam hutan sendirian seumur hidupku." Laras berkata terus terang pada Aji alias Kezi.
Kezi terdiam sesaat lalu memberikan Laras sejumlah koin uang, ia meyerahkan semua uang yang ia bawa untuk Laras.
"Hah? Apa ini, kau memberikan uangmu!" Laras langsung menggelengkan kepalanya lalu menyerahkan kembali dua kantung uang itu.
"Katanya kau butuh untuk keperluanmu, makanya aku memberimu ini. Anggap saja sebagai tanda pertemanan kita Laras, aku akan kembali secepatnya. Setelah uangku kembali terkumpul, aku juga akan memberikan hadiah lain untukmu. Aku juga dulu pernah ada di posisimu, aku ditolong seseorang sampai jadi pemburu hebat. Tak ada salahnya menolongmu bukan?" Kezi tersenyum setelah mengungkapkan kalimatnya, suasana hangat tercipta lagi di antara keduanya.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mata Laras berkaca kaca setelah beberapa saat menatap wajah Kezi.
GREP!
Laras memeluk Kezi untuk meluapkan tangisannya, ia sangat bahagia bisa bertemu orang sebaik dirinya. Tinggal di hutan dengan kenyataan sebatang kara membuatnya terpuruk beberapa hari, kedatangan Kezi membuat semangatnya perlahan pulih.
"Hei, kau tak perlu berlebihan. Sampai memelukku!" Kezi menepuk nepuk bahu Laras agar lekas melepaskannya, situasi itu membuat wajah Kezi tak terkendali.
Pipinya terlihat sekali merah menyala. Seakan terkejut dengan reaksi Laras yang tiba tiba.
'Seumur umur, Aku tidak pernah dipeluk wanita kecuali Shi ya. Ini pertama kalinya membuat degup jantung kencang, keringat terus berjatuhan. Astaga tenanglah..' Laras yang masih memeluk Kezi tentu merasakan Detak jantungnya.
'Dia berdebar debar, berarti aku tidak merasakannya seorang diri. Ini bagus aku akan menganggapnya lebih dari teman. tapi apakah dia menyukai aku? Ah ya, aku tidak tau soal itu." Wajah laras langsung murung dan melepaskan pelukannya, setelah lepas dari pelukan Laras Kezi langsung berbalik pergi. Ia berlari sepanjang perjalanan sambil bergumam.
Laras menjadi bingung dengan tingkahnya. Memutuskan melanjutkan memakan buah dan membereskan rumah tua itu.