TO THE DEAD

TO THE DEAD
pelindung misterius



Anaya kini telah sampai di rumahnya, dia langsung beranjak tidur setelah membereskan belanjaannya yang ia beli di toko depan. Telur dan roti tawar, air dan Snack ringan.


“Lelahnya aku, ingin banget tidur sekarang. Nanti saja membereskan semua ini.. masih banyak waktu yang aku miliki.”


...-----...


Sosok yang meneror Anaya waktu itu terlihat mendekat dan entah datang dari mana. Dia melesat cepat dan segera memasuki halaman rumah Anaya.


Lantas kini melesat menaiki anak tangga menuju ke kamar Anaya..


“Tinggal satu langkah lagi, aku bisa menghabisi anak ini dan tugasku selesai.. “ makhluk hitam itu berusaha mendobrak pintu untuk masuk.


Sihir hitam menggumpal di tangannya dan menghantamkannya pada pintu kamar Anaya namun.


Sihir itu tampak terserap saat bersantuhan dengan pintu kayu ini.


“Mustahil.. bagaimana mungkin ia memiliki sihir? Anak itu hanya manusia biasa.. atau jangan jangan.. ada hal lain di rumah ini.. tapi apa itu?” gumam wayana.


Sekali lagi wayana mencoba menggumpal kan sihir hitamnya itu lalu menghantamkan sihir kuatnya ke arah pintu Anaya untuk masuk dan menghabisi anak perempuan kecil ini.


Hal yang sama kembali terjadi kali ini disertai dentuman penolakan oleh pintu kamar Anaya.


Hal yang terjadi tiba tiba ini membuat wayana terkejut, sihirnya kali ini memantul lalu terarah padanya. Wayana berusaha menghindar dari sihir miliknya sendiri, lantas sihir itu terserap lenyap setelah gagal mengenai Wayana.


“bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Bagaimana bisa sihirku menghilang sebelum meledak..” Wayana bergumam, dengan posisinya yang berdiri dengan kuda kuda kokoh, karena berusaha menghindari sihirnya.


“Wah wah.. ternyata disini juga ada sosok yang kuat, enak sekali rasanya sihirmu..” Suara itu berasal dari balik pintu kamar Anaya. Anak itu meracau entah membicarakan apa.


Namun itu membuat Wayana tercengang. Hal yang satu ini tak pernah disangka olehnya.


Anaya keluar dengan wajah yang menunduk ke lantai, pintunya terbuka tiba tiba tanpa disentuh sekalipun.


“hei gadis kecil.. apa yang kau bicarakan..”


“Kau tampaknya masih bingung.. biar aku jelaskan sedikit.. jangan memanggilku dia!! Karna aku tak sama seperti dia.. aku lapar.. lapar.. mau sihir.. beri aku sihirmu.. yang banyak!!” wajah Anaya tampak berlibur di bibirnya, wajahnya berubah pucat disertai matanya yang berubah tatapannya.


“heh?” Wayana kini berseru, lantas tertawa menggelegar.


Membuat tawanya terdengar menggema di rumah Anaya.


“Wajahmu itu, kenapa wajahmu seperti ini.. dan tatapanmu berubah menjadi merah? Apa artinya kau memang benar ya targetnya.” Wayana mendekat pada Anaya sambil menyelidik.


“AKU TAK PEDULI APA YANG KATAKAN!! BERIKAN SIHIRMU...!” Anaya berteriak lantas mata hitamnya yang berpandangan kosong kini berubah menjadi kemerah merehan. Masih redup namun tampak jelas berubah.


Entah mengapa anak manusia ini bisa bergerak secepat Wayana, padahal tak ada Aura siluman pada tubuhnya. Dia bukanlah Anaya yang asli.. dia seperti sedang dikendalikan oleh sesuatu..


Wayana segera menghindar darinya cepat, dia meninggalkan kecepatannya. Membuat Anaya bingung menyerangnya dari mana.


Namun tak berhenti disini Anaya mencoba hal lain. Yaitu menciptakan sihir serapan yang rakus memakan siluman apapun.


Wayana kini tampak panik, karena serangan Anak ini bisa berbelok dan meledak tiba tiba. Wayana mencoba menghindar sebisa mungkin.


“Nyam nyam.. enak sekali~” Lirih Anaya.


“Gawat, ini tak pernah terduga olehku.. sihirku juga belum mengalami pemulihan yang penuh. Aku bisa binasa dimakan olehnya... Sebaiknya aku mundur terlebih dahulu..” Wayana akhirnya pergi dari sana menggunakan teknik berpindah dengan cepat.


Setelah perginya wayana Anaya yang entah kenapa kini memperlihatkan matanya yang merah menyala.


“sihir hitam.. cuih.. ini sih hidangan penutup yang tidak enak.. tapi ini baik untuk pertumbuhanku.. kenapa banyak sekali hantu hantu di sekeliling rumah ini.. membuatku harus menjaga anak ini, Minggu lalu juga karena dia menginap aku terpaksa harus menjaga rumah ini sendirian.. dasar anak manja kau adikku..” Anaya yang tengah kerasukan pun kembali ke kamar dan menutup pintunya dengan suara kencang.


BRAK!


...---------...


Sosok asing yang baru muncul setelah anaya menggebrak pintu dengan kencang itu merasakan sesuatu yang ganjil. Lantas menggunakan penglihatannya yang lain saat menjadi manusia dahulu.


Sisa energi indigonya masih tersisa hingga kini dan itu bercampur dengan energi gelap milik wayana.


Selama hantu hantu yang dekat dengan Anaya tidak membahayakan dirinya sosok itu takkan muncul di dalam dirinya.


Aura lain terlihat di dalam dirinya berwarna merah terang sedikit keputih putihan.


Energi yang keluar dari cahaya itu meletup letup, dan entah mengapa ada dua garis kehidupan yang berbeda dari tubuh itu.


“Apa yang barusan terlihat ini benar benar ada, bagaimana bisa? Bukankah Anaya hanya manusia, energi di dalam tubuhnya dua duanya terlihat amat berbeda.. meski terlihat mirip satu sama lain dan saling melengkapi.. namun ini jelas jelas berbeda.”


Amelia mengingat ingat lagi saat saat mereka bertemu di pondok terbengkalai. Saat itu Anaya yang tengah pingsan seolah baik baik saja walau terluka.


Dia awalnya jalan jalan sendirian di tengah hutan mangrove dan bertemu dengannya, lalu Anaya diajak jalan jalan oleh Amelia mengelilingi hutan. Mereka bahkan sempat berpisah beberapa jam setelah itu.


****


ANAYA KECIL 7 TAHUN.


Anaya akan masuk sekolah beberapa Minggu lagi, dan ini adalah perayaan oleh Linda dan Hermawan selama seminggu. Hermawan telah membeli sebuah hotel yang dekat dengan danau hijau teluk timur yang memiliki pemandangan alam yang menakjubkan.


Lihatlah air danaunya benar benar berwarna hijau muda, benar benar indah.


Karena ada banyak rumput laut yang berada di kedalaman danaunya menghiasi di kedalaman 50 meter lebih dan selebihnya tidak diketahui. Karena danau ini bahkan luasnya hampir sama dengan danau Toba. Bedanya danau ini tak memiliki pulau di tengahnya. Dan berada di kota bansar.


Mobil berwarna silver memasuki gerbang bambu di wilayah timur kota bansar. Dan disambut hotel yang berbintang 3 disana. Fasilitas cukup mewah namun hotel itu sudah berusia belasan tahun dan pemiliknya hampir bangkrut.


Hermawan dan Linda adalah konsumen yang akan membelinya sebelum rampung. Dan akan diratakan oleh tanah dan dibangun kembali namun hotelnya akan berbeda sekali dengan yang ini.


“apakah harganya mahal mas?” Tanya Linda pada Hermawan.


Melihat keadaan hotelnya yang banyak kerusakan dan banyak kamar yang juga berantakan. Air yang tak berfungsi dengan baik dan masalah lainnnya. Sedangkan Hermawan hanya ingin membangun hotelnya. Namun ia tak ingin membeli dengan harga penuhnya. Itu untuk biaya pembangunannya akan berkurang.


Si pemilik hotel menyetujui, dan ia akan menaruh saham sebesar 10 persen.


“cukup.murah sayang, 230 juta. Untuk hotel yang sudah belasan tahun itu cukup murah. Namun itu hanya harga 90 persennya. Jaga penuhnya dan juga tanahnya bisa dikalikan 2.” Untuk biaya pembangunan jangan khawatir. Aku punya sihir kan, kita berdua bisa bersama sama memperbaikinya menggunakan sihir. Kita perbaiki fondasinya terlebih dahulu dan menambal semua retak yang ada. Sisanya biaya Cat dan perabotan adalah 100 juta. Aku takkan menambahkan bintangnya menjadi bintang lima.. hanya membuatnya lebih layak huni, dan kita bisa menaruh tempat rahasia kalau kita bangun sedari awal.. tanah di wilayah ini kuat sekali..” bisik Hermawan, saat Anaya masih Asyik bermain sendirian.