
Diantara pepohonan yang rimbun dan semak belukar yang berwarna kecoklatan hitam, seorang wanita tua yang berbadan cukup bugar sedang melakukan aktifitasnya yaitu berlatih memanah dan berpedang dengan sebuah samsak batu batuan sungai yang keras. Ia menajamkan anak panah, pedang, golok ataupun pisau kecil. Di pinggangnya terdapat dedaunan herbal yang habis dipetik saat menajamkan peralatannya tadi.
Ia sekarang sedang memanah dengan anak panah yang sudah ditajamkan, beberapa ikan yang ukurannya cukup besar tepat melenting saat keluar dari sungai dan terkena panah wanita tua itu, ikan itu langsung tertancap di dahan pohon, ada banyak ikan yang tertancap disana setelah beberapa menit memanah. Senyum terukir usai mendapati hasil memancingnya kini memperoleh hasil banyak.
Ikan yang tertancap pohon tadi segera dimasukkan ke kantong baki yang ia bawa, tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan.
Sempurna saat ia selesai menyimpan ikan, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Quena, apa kau sudah memancing ikannya? Kalau sudah serahkan pada rey biar dia mengolahnya dan kita bisa makan, eh.." Ia tertegun melihat baki terbuka itu dipenuhi panah.
"Kenapa banyak panah dibaki?"
"Itu karena aku menangkapnya dengan panah."
"Apa kau serius? Kau lebih kuat dari yang terlihat, ini hebat sekali. Kau selalu melakukan hal hal ajaib sepanjang aku mengenalmu. Apa penyebabnya?"
"Itu bakatku," Jawab Quena.
Pria tua bernama Heng itupun berbalik lalu melangkah, Quena menyusulnya dari belakang mulai mengikutinya, sesekali Quena menengok ke arah belakang. Ia merasakan ada aura aneh dari arah luar hutan,aura itu sedikit terhirup olehnya.
Langkah Quena yang tadi cepat kini mulai menghentikan kakinya untuk melangkah mengikuti Heng temannya.
"Aura ini, apakah tidak salah terasa di hidungku? Aku samar samar merasakan getaran yang memancarkan aura milik siluman yang ku kenal, selintas aku dapat mengingat hal itu lagi. Hal yang membuatku menjalankan jalan ini dan membuat kamuflase, kenapa tiba tiba muncul, apakah beliau sudah kembali?" Gumam Quena.
Heng yang merasa bahwa Temannya berhenti melangkah mengikutinya, jadi Heng menoleh untuk tau apakah ia masih ada di belakang atau tidak.
"Ada apa berhenti Quena, desanya ada di ujung jalan ini, ayo kita masak ikannya sebelum sore hari makanan harus matang, atau aku akan kelaparan malam ini.." Heng berseru pada Quena yang sedari tadi diam membatu.
Wanita itu menggeleng selintas lalu melanjutkan langkah kakinya.
'Mungkin hanya perasaanku saja.'
Setelah melewati sebuah persimpangan di jalan setapak sebuah gerbang kayu yang disanggah oleh bongkahan batu besar sebagai dindingnya terlihat disana. Batu batu yang tersusun rapih serta sedikit tajam pada dindingnya, tidak mungkin dipanjat karena penuh lumut di batunya, gerbangnya pun hanya bisa dibuka dan ditutup dari satu arah, ada parit parit kecil yang menghalangi jalan mereka, dan mereka tidak bisa masuk karena pintu masih tertutup.
Heng mengeluarkan sebuah batu yang yang penuh warna dan melemparnya ke arah gerbang, batu itu bukan batu melainkan buah yang meledak dan mengeluarkan asap berwarna hijau kekuningan.
Dari tanda itu gerbang diturunkan dan menutupi parit, membuatnya seperti jembatan kecil di atas parit selebar 1 meter. Sedangkan panjang gerbangnya lebih dari 3 meter dan terbuat dari kayu terbaik di hutan Kionh, hutan yang merupakan penjara bagi orang orang yang terjebak si hutan, hutan itu dihuni sekumpulan orang termasuk Quena, Heng, dan Rey. Para penduduk juga menemukan segel batu di empat penjuru hutan. Mereka bisa merasakan aura tekanan yang kuat di empat titik batu, yang membuat mereka tak bisa keluar atau melewatinya, mustahil. Selain itu lambat laun segel itu bergerak terus ke arah tengah desa, seakan hutan kematian tengah melahap sedikit demi sedikit hutan di pedalaman.
Hutan Kionh adalah area yang menjadi perbatasan antara hutan dunia manusia dan siluman. Bisa dibilang kalau hutan yang satu ini adalah area terlarang karena setiap malam dan pagi selalu berkabut yang tidak hilang bahkan setelah hujan. Di area luar hutan Kionh Ada yang dinamai hutan kematian oleh penduduk dan manusia diluar sana karena pepohonannya berwarna hitam. Seluruh area hutan kematian hampir seluruhnya berwarna hitam kecuali daerah yang ditinggali Quen Heng dan Rey, lokasi itu dinamai hutan kehidupan, Hutan kehidupan tidak lebar seperti hutan kematian, besar dan luasnya hanya setengah dari Hutan kematian dan lokasinya tertimbun oleh tumbuhan hutan kematian, hutan kehidupan dulunya sangat luas dan hutan kematian tadinya tidak ada, sejak insiden 100 tahun lalu terjadi, hutan kehidupan hampir hilang. Dan diluar ketiga hutan itu adalah wilayah yang aman bagi manusia.
"Quena, ada kabar buruk dari ke empat segel yang ada di hutan ini, kepala suku juga akan menyampaikan hal ini kepada semuanya, untuk mencari solusi ke depannya.. Kami tak mau ada di dalam sini selamanya."
"Ada apa Heng, ada apa dengan segelnya?"
"Sudahlah kita berkumpul saja di aula desa."
Percakapan itu berakhir saat mereka telah melewati gerbang dan kini harus menuju aula setelah meletakkan baki ikan dan peralatan berburu.
Heng tiba di depan pintu rumah yang terbuat dari kayu, terlihat tidak rapih dan tidak bermotif, hanya papan kayu yang digerakkan dengan tarik ke atas, lantas digantung di atap rumah. Dengan tali yang terikat pintu itu takkan terjun ke bawah.
Pinti sedang dinaikan oleh orang di dalam, "Akhirnya kalian tiba juga, ku kira kalian takkan datang dan langsung pergi ke aula begitu pengumuman itu disampaikan!" wajah Rey terlihat usai ujung kalimatnya selesai, "Letakan bakinya dan lekas ke aula, pengumumannya sudah dimulai!"
Tanpa sedikitpun kesempatan untuk Heng atau Quena berbicara ,Rey lebih dulu meraih baki dan peralatan berburu milik Heng dan diletakkan di luar rumah. Lalu lengan Rey menggenggam tangan kedua temannya.
Quena dan Heng tidak bereaksi apapun dengan sikap Rey. Mereka hanya diam dan ikut melangkahkan kakinya.
*****
Dikejauhan lalu lalang para penduduk mulai berkerumun dan kini duduk di kayu kayu yang tersusun melingkar di sekitar aula desa. Sedangkan kepala desa berdiri di kayu besar setinggi satu meter lantas mulai berbicara.
"Semuanya, sejak seratus tahun kita tinggal di hutan ini dan sejak itu pula kita terkurung, ada segelintir kabar buruk dan baik di hutan. Kabar buruknya adalah tentang segel yang mengurung kita, dari bulan ke bulan mulai bergerak ke arah desa, hutan yang mengalami perubahanpun kini semakin luas.tahun lalu sekitar desa masih cukup luas, tapi kini terkikis beberapa senti. Meskipun terkikis sedikit, tapi itu tidak terjadi selama sebulan sekali tapi seminggu. Kabar baiknya adalah, hewan hewan buruan nantinya tak usah dicari mereka akan mendekat kedesa kita, jumlah mereka cukup banyak untuk keperluan kita... Yang kita lakukan selanjutnya adalah air, air sungai sebentar lagi akan ikut berubah sama seperti wilayah bagian luar."
Quena berdiri dari duduk, 'Ternyata Wayana sudah mempercepat segelnya.. Gawat, mereka tak bersalah. Wayana hanya menginginkan aku informan terakhirnya..'
Heng dan Rey menoleh bingung, "Kenapa kau berdiri Quena?"
"Oi, kau. Apa yang kau lakukan? Ayo duduk."
Quena menggeleng kali ini, itu berlaku dengan pertanyaan Rey dan Heng juga.
"Ada apa dengannya?"
Quena tampak maju ke depan, dan berbicara.
"Untuk masalah yang selama ini menimpa kalian aku minta maaf, karena aku ingin berkata hal yang kusembunyikan selama ini, aku bukan manusia, tapi siluman yang menyamar, dan lagi usiaku bukan 40 tahun tapi 400 tahun, dan aku tidak terikat di dalam hutan ini." Quena berbicara sambil maju ke arah kepala Desa.
"Siluman!!" Kepala desa terkejut dengan Fakta yang disampaikan dengan tiba tiba olehnya.
Lantas setelah Quena berbicara hal seperti itu ia ditodong dengan tombak tajam oleh ketua desa.
"Jangan berani lagi kalian mengambil hal berharga kami-"
"Aku datang dari kerajaan, dan sekarang kerajaan itu sudah hancur, aku bukan siluman yang tak bermoral seperti lainnya, aku siluman yang mendapatkan bimbingan dan didikan sejak kecil.aku adalah ujung tombak yang mulia Kezi. Hentikan omonganmu itu yang menuduhku, lagi pula hutan ini disegel bukan karena diriku melainkan siluman yang menjadi musuhku."
"Aku mungkin hanya bisa membuat segelnya melambat selama seratus tahun, tapi tampaknya hal itu kini tak berguna lagi, sejatinya segel itu sangat cepat membuat hutan ini hancur. Tapi berkat tekanan energiku yang menghambat segel menjadi membuat bagian kecil hutan ini terlindungi. Kini aku mau menyampaikan bahwa aku akan keluar dari hutan ini sendirian. Dan kalian apa bisa menjaga diri disini?"
Semuanya terdiam setelah Quena mampu menyela ucapan Kepala desa.
Heng dan rey mulai berlari ke arah Quena, "Dari saat kau masuk di daerah ini.. Aku sudah mencurigaimu Quena, tapi tak sangka kau mau memperlambat segel itu untuk kami. Trimakasih."
Quena menggeleng dan menyuruh semuanya berhenti bersimpuh karena setelah Heng berbicara begitu semuanya jadi seperti ini.
"Teman, aku mungkin hanya bisa membebaskan dua orang yang ada di hutan ini untuk menemaniku pergi dari hutan ini."
"Bawa ibu ini saja dan anaknya pergi," Rey menawarkan pada Quena.
"Kalian Heng dan Rey.. Kalian punya aura yang sedikit berbeda dari manusia kebanyakan. Kalian punya itu, aku tak bisa membawa yang lain kecuali kalian."
Para penduduk mulai protes dengan perkataan Quena,
"Mengapa?"
"Kami juga mau pergi!! Apa tidak bisa!!"
"Dasar egois siluman egois."
Mata Quena berubah merah, dan ia mengeluarkan satu trik yang membuat seluruh suara orang orang menjadi samar.
Hening datang tiba tiba dan membuat orang orang bingung sesaat. Namun mereka kini sadar akan dimana posisi mereka dan mulai meinggalkan aula.
"Heng, Rey darah kalian tak sepenuhnya manusia, kalian juga masih titisan siluman. Meski sekarang bakat kalian belum muncul tapi aku yakin kalian itu kuat."
Heng yang berusia 50 tahun menoleh ke arah Rey yang juga berusia 48 tahun.
"Pakai ini, batu delima, dan kalian harus meminum air aura ini. Kalian mengerti kan kalau manusia biasa takkan bisa menang melewan makhluk hutan kematian, itu juga berlaku untukku. Kalian harus ikut bersamaku dan menjemput seseorang, aku bisa melambatkan segel ini dengam darahku dan bahkan melubangi segelnya, namunitu hanya bertahan selama setahun, lalu segel akan kembali seeprti semula. KIONHKIONHKIONH