TO THE DEAD

TO THE DEAD
Nenek misterius 2



Janson melepaskan pelukannya pada Anaya saat ia sudah bisa tenang. Tangisan Anaya sekarang ini sudah tidak ada. Digantikan dengan usapan tangannya di kedua pipinya.


Seketika itu juga Janson sadar ia sedari tadi melupakan lampion yang ada kunang - kunangnya.


"Anaya astaga lampionnya!" Janson langsung beranjak berdiri dan berlari menuju ladang ilalang di depan mereka.


Lampion yang sedari tadi dikerubuti oleh kunang - kunangpun kosong lagi karena sudah terlalu lama ditinggalkan. Makanannya saja sudah habis.


Janson hanya bisa diam membisu menyaksikan lampionnya, Anaya tidak ikut beranjak terburu buru seperti Janson ia hanya memperhatikan sekilas lalu asyik memandangi kunang - kunang malam yang sesekali hinggap di pundaknya, binatang kecil ini terlihat begitu indah di mata.


Sementara Janson masih sibuk dengan lampionnya yang gagal, mata Anaya menagkap sesuatu yang amat ganjil dari semak hitam di sebelahnya. Anaya tergerak hati ingin mendekati hal itu.


Gadis itu mulai beranjak mendekati semak berwarna coklat kehitaman, tepatnya warna semak semak itu ganjil, warna coklat dan hitam seharusnya terpisah. Tetapi yang satu ini benar benar menyatu membuat warna asing di sana, seperti warna biru tua atau tepatnya biru hitam. Bukankah ini ganjil!?


Anaya mulai melangkah cepat karena rasa penasarannya.


Di sisi lain Janson sedang sibuk memancing kunang - kunang kembali demi lancarnya rencananya. Anaya menyingkirkan semak semak dua warna tersebut.


Semak semak yang tumbuh langka di daerah itu, bernama : Blackblue.


"Anaya apakah kau bisa menunggu kunang kunangnya beberapa saat lagi,.. Anaya.." Janson yang berbalik hendak berbicara pada Anaya justru heran melihat tidak ada seorangpun yang duduk di bawah pohon pinus tersebut.


"Apa mungkin Anaya kembali ke rumah Kakek Heng ya?" Gumam Janson.


("Hachu.. Sepertinya ada yang membicarakanku..") Heng di rumahnya.


"Mungkin sebaiknya aku menyusulnya di rumah." Janson meninggalkan lampion yang penuh dengan makanan kunang - kunang di ladang yang ditumbuhi ilalang liar di tepi sungai.


Baru beberapa jalan Anaya melewati semak semak ia muncul di tepi sungai jernih segerombolan kecil kunang - kunang lewat di sebelahnya.


Anaya tak berkedip menatapnya.


"Kunang - kunang yang berwarna biru!! Cantik sekali.." Anaya mengejar kunang kunang biru itu menyusuri sungai di sana, setiap langkah Anaya selalu meninggalkan jejak kaki, karena tepi sungai itu seperti pantai yang berpasir, pasir di tepi sungai itu sangat bersih.


Tak terasa Gadis itu sudah terlalu lama meninggalkan tempat Janson dan Dian di pedalaman hutan.


Anaya sampai di ujung sungai itu, betapa terkejutnya ia melihat danau yang di aliri air terjun gunung, sungai itu berasal dari air danau yang menyebar luas ke setiap arah. Dari arah timur, barat, selatan dan utara. Ada empat anak sungai yang mengalir dengan aliran yang berbeda, Anaya sendiri datang dari sisi timur. Yang berarti letak air terjun itu ada di sebelah barat di sisi kanan Anaya. Sedangkan danaunya sendiri tengah bercampur menjadi pusaran besar lalu terpecah oleh jalan arah arus, semua itu terus berlangsung berulang ulang.


Anaya melihat kunang kunang biru itu tengah berkumpul menjadi satu, itu adalah situasi ganjil saat kunang kunang itu bertambah dari arah lainnya, yaitu barat, selatan dan utara.


Anaya memumdurkan langkahnya, bahkan ia hendak kembali menuju rumah, tapi jaraknya terlalu jauh. Hal yang ganjil dan mengerikan datang lagi, meski kunang kunang itu centik tetap saja itu mengerikan. Mana ada kunang kunang yang bisa berubah wujud!


Sekumpulan besar kunang kunang tadi hanya berkumpul menjadi seorang nenek tua yang rambutnya sudah memutih.


"Eh.." Bukan Anaya yang mengucapkannya, Anaya saja tidak bisa bergerak apalagi berkata.


'Siapa dia?' Tanya batin Anaya.


Nenek tadi memakai pakaian biru bercampur coklat dan hitam, ketiga warna itu seakan menyatu di bajunya dan sanggulnya. Ia mengenakan tongkat berjalan berwarna biru terang, sangat silau jika melihatnya.


Anaya memalingkan wajahnya agar tidak silau.


"Anak manis, siapa namamu?" Nenek tadi bertanya pada Anaya yang diam.


"An.. A ya.." Bibirnya seolah kelu dan tidak bisa berbicara pada sosok di hadapannya, walaupun usianya terlihat tua Nenek di depannya masih tampak cantik. Cahaya bulan purnama di malam hari menambah suasana.


"Aaaahhh, nama yang bagus untuk Gadis berani sepertimu. Apakah ada orang yang mengikutimu kesini atau kau datang seorang diri? Oh baiklah.. Tanangkan dirimu dulu nak." Nenek tua tadi mengusap wajah Anaya dan memegang bahunya.


"Nah katakan.." Suara lembutnya mengeluarkan rima seperti nyanyian sebuah lagu.


Anaya menghembuskan nafas dengan tenang, rasa tengagnya juga tubuhnya yang bergetar karena rasa gentar kini telah berangsur pudar.


Yang tersisa kini adalah sebuah pertanyaan di benaknya, siapa Nenek misterius ini?