
Janson terlihat begitu tenang dimata Fariz, berbeda dengan masa kecilnya saat itu yang selalu menangis kala ia ada di keramaian dan area tepi pantai. Kala tenang Fariz harua membawanya mandi di samudra atau di bak mandi yang penuh dengan air.
Janson sama sekali tak pernah tenggelam di dalam air dengan waktu yang lama, kala itu di kolam renang ia menghilang, dan ia ditemukan di kolam dewasa dengan keadaan tertidur di dalam air, ia dibawa ke dokter dan dokter tak mengerti dimana letak salahnya kalau anak di depannya sehat sehat saja, Fariz seketika bingung dengan pernyataan tersebut.
"Bagaimana mungkin Dok, jelas jelas Janson sudah didalam air selama berjam jam, kenapa tidak ada satupun air yang masuk dalam paru parunya?"
"Pak kami seluruh pihak medis akan berusaha mengetahui penyebabnya, tapi untuk saat ini beri kami waktu. Dan jika putra bapak baik baik saja baguslah, ini merupakan keajaiban."
Saat mendengar penjelasan tersebut keluar dari mulut dokter yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun, Fariz hanya bisa mengangguk setuju kemudian pergi dari sana, batinnya masih tak percaya bahwa itu adalah keajaiban. Tapi kala Fariz berusia delapan tahun ia baru menyadari sesuatu. Walau Fariz berenang atau mandi tubuhnya tetap kering dan tidak basah sama sekali. Hanya pakaiannya yang basah, rambutnya sama sekali tak terkena air.
Hingga saat ini Fariz takkan cemas jika Janson terluka, karena Janson berbeda.
*****
Mataku terasa berat, tapi aku mencoba membuka mataku dan terasa sedikit pusing di bagian kepalaku.
Suara suara yang membuatku menoleh dan penglihatanku masih sangat kabur dan pendengaranku belum normal, tapi.aku mengenali suara itu itu Ayahku.
"Janson," Fariz mendekatkan tempat duduknya ke ranjang putranya.
"Syukurlah kau sudah sadar nak, Ayah mengkhawatirkanmu karena kekadian kemarin itu, jika masih sakit istirahat saja." Fariz tak membiarkan Janson duduk dan menatap dirinya, tanpa bantahan Janson kembali terlelap
Di kamar sebelahnya, Anaya masih terbaring tidur, tapi ia sedang berbincang dengan Xin Kakaknya.
Di dalam sebuah kabut fikiran yang tebal Anaya tengah diuduk di ruangan itu ditemani beberapa minuman dan snack.
"Anaya, dalam lintas waktu itu aku sudah mempelajari kisah masa lalu para siluman, dan banyak nama dilayanr yang aku rekam dalam memoryku. Apa kau ingin melihatnya? Karena sedari kita disana kau hanya memperhatikan batu bukan!?"
Anaya mengangguk, "Ya tapi batu itu aneh, masa manusia disihir menjadi batu olehnya. Apalagi batunya ada di kedalaman palung laut.. Itu tak biasa kak."
"Palung laut tempat paling dalam dibumi."
Anaya mengangguk. "Aku tadi sempat memperhatikan juga sebuah pulau dekat ujung palungnya, namanya pulau ufalu kak."
Xin memegang dagunya dan mulai berfikir, itu adalah informasi awal yang menarik, mengunjungi pulau itu. Karena setalah Xin melihat sejarah siluman yang awalnya tak ia mengerti karena melihat sekumpulan orang orang yang sedang menciptakan sesuatu lalu, mereka digantikan dengan kisah keluarga kerajaan dan dibagian akhir ada wanita bernama Laras. Dan Xin terkejut karena itu adalah nama neneknya.
"Anaya sebelum mengunjungi pulau yang kau sebutkan itu ayo kita berkunjung ke nenek di kota Soro." Xin menatapnya, menepuk bahunya sambil tersenyum.
Mendengar berkunjung ke neneknya Anaya menjadi senang dan ia mengangguk.
Yang Anaya mengerti adalah neneknya berhubungan dengan siluman, sisanya dari penjelasan Xin Anaya sama sekali tak mengerti. Xin sama sekali tak pernah menyimpan rahasianya, hanya saja Ayah dan Ibunya merahasiakan dirinya dari Anaya Adiknya.
Xin tau sejak Anaya lahir Xin ingin sekali bermain dengannya.
Terkurung di rumah dengan segel itu tidak enak, meskipun kau dikasih kebutuhan sesuai yang kau mau. Xin cemburu tiap kali Anaya pulang dengan senyum di pipinya.
Sejak saat itu Xin mulai mencari cara menghibur diri dengan mengubah bentuknya atau mempelajari buku sihir, cara mengendalikan kekuatan namun hanya terbatas. Sesekali ia memecahkan barang di sekeliling rumah karena bosan, atau membakar sisi rumah, saat mereka tak ada di rumah lantas Ayah dan Ibunya memarahinya.
Namun itu merupakan alasan Xin agar berlatih dengan Ayah atau Ibunya. Xin menjadi lebih kuat saat ia berlatih dengan Ayah dan Ibunya, saat itu mereka tau harus membagi waktu antara bertemu Xin dan Anaya, sisanya pekerjaan. Anaya sekarang hanya bisa berjalan jalan seminggu sekali, sedangkan Xin bisa belajar kekuatannya selama tiga hari, ia kini merasakan tawa yang ada di bibir Anaya waktu itu, kebersamaan itu membuatnya tersenyum, rasa cemburunya pada Adiknya memudar digantikan dengan rasa sayang pada Adiknya. Kini terbalik Anaya yang hanya bisa bersama orang tuanya seminggu sekali.
Namun siapa sangka Anaya mengundang teman temannya saat Xin sibuk berlatih. Anaya terdengar ceria saat mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan teman temannya.
'Tertawa bersama teman, aku tidak memiliki teman..'
"Fokuslah Xin!" Teriak Hermawan yang sedang melajukan pukulan ke sekian kalinya, membuat lantai retak hancur berlubang.
Latihan Xin dilanjutkan oleh Ayah dan Ibunya, kaki Xin kokoh dengan kuda kudanya. Berbeda dari kuda kuda manusia yang berlatih bela diri dari pecak silat, karate atau ilmu beladiri lainnya. Xin berdiri sambil melatih sihirnya jadi kuda kudanya mengambang di atas tanah. Secara ia adalah siluman maka ia takkan menapak di atas tanah, gravitasi tak akan berpengaruh padanya karena ia takkan jatuh menimpa tanah, kecuali jika ada yang memukulnya hingga tekniknya dipatahkan oleh lawan baru ia akan ambruk ke tanah tanpa sihir Xin hanyalah roh yang mirip manusia.
Ditengah tawa Anaya bersama teman temannya di atas sana, di kedalaman 100 meter ada Xin yang mati matian menghindar dan memberikan serangan yang berkali kali lipat, setelah berjam jam Anaya pun kini tinggal sendiri bersama para pembantu barulah Hermawan menghentikan latihan, keduanya bergegas ke salah satu tuas di pojok ruangan lalu menekannya.
Xin tidak diperbolehkan menekan tuas itu kecuali dengan seizin Ayahnya.
Selain tak punya teman ia dilarang terlalu sering berkeliling di luar rumah, membuatnya sering marah dan melampiaskannya pada dinding keras di bawah tanah, saking seringnya mendapat pukulan dia berhasil membuat gua yang menembus dunia siluman, tapi ia menutupi gua itu dengan teknik sihir, dinding di ruangan itu tertutup oleh gumpalan tanah kering dan pintu besi.
Sejak kejadian orang tuanya yang meninggal, diam diam Xin berlatih di dunia siluman sana, sering membuat hewan hewan di dunia siluman memasuki gua yang ia buat, Xin terlihat sibuk bahkan setelah Anaya tau tentang dirinya, ia masih sibuk sendiri di ruangannya. Bahkan ia meneliti semua hewan hewan itu di dalam ruangan bawah tanahnya.
Setelah kejadian yang menunjukan semua awal masalah ada pada neneknya, Xin berfikir sudah waktunya ia dan Anaya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dirahasiakan semua keluarganya darinya.
Pasti ada sesuatu hingga semua ini terjadi bukan? Fikir Xin.
Hingga dia mambuat akar keluarganya, dari neneknya dan kakeknya yang entah siapa, kalau orang tua Ayahnya sedari awal Xin atau Anaya tidak tau. Sedari dulu mereka hanya punya satu Nenek, yaitu Nenek Laras.
Kini Anaya kembali ke ruangan atas dan runya kembali ke dalam raganya setelah menarik tuas itu.
Di kamar perawatan di rumah Janson, keadaan yang tadinya siang kini berubah lagi menjadi malam. Janson di dalam lintas waktu itu menanyakan sesuatu hal yang penting yaitu tentang siapa orang yang ada di sebelah Anaya, Anaya tidak pernah menutupi hal apapun pada temannya ia segera menjelaskan bahwa Xin adalah kakaknya dalam lintas waktu tersebut, ketika mereka akan dikembalikan dalam dunia mereka.
Setelah mendengar jawaban itu Janson hanya bisa terdiam diri.