
Pelayan itu melayani mereka dengan sangat baik dan ramah, Anaya menunjuk pesanan spageti dan pelayan tadi mencatat apa yang Anaya mau, Janson memilih daging sapi yang dipanggang dan ditaburi saus gurih, steak.
Pelayan tadi memberikan hormat lalu berbalik dan mengantarkan catatan yang kemudian diantarkan pada sang koki, untuk minumannya para pelayan sudah menyajikan minuman terbaik di sana.
"Ada yang mau jus? " Galih menawarkan pada Janson dan Anaya sedangkan Aliza sudah selesai makan sedari tadi, Galih mengangguk setelah tidak mendapatkan respon Apapun.
"Kakak ada rapat kalian harus cepat pulang nanti ya, kakak duluan." Janson terlihat hanya mengangguk tidak memberi jawaban apapun.
"Tuangkan jus." Janson menyuruh pelayan yang sedari tadi berdiri agar mendekat padanya dan menuangkan jus yang terlihat segar itu, "Apa kau mau? " Tanya Janson.
Pelayan itu beralih menuangkan Jus ke gelas Anaya.
Nuansa restoran ini sungguh mewah lampu lampu gantung di atas sana beberapa berlapis emas, alunan musik pun dimainkan dengan indah membuat suasana menjadi tenang.
Aliza memperhatikan Aku dan Janson, ia sesekali tersenyum simpul.
"Eh Anaya, kalian sebenarnya berbicara apa sampai lama sekali. Dan aku penasaran apa kalian sudah ciuman atau belum.. " Alixa berbicara asal.
Mendengar kalimat barusan Janson hampir tersedak oleh air jus. Ia terlihat terbatuk batuk..
Para pelayan menjadi panik segera menuangkan air putih, Janson meneguknya perlahan.
"Kalau bicara jangan sembarangan kita ada ditempat umum Aliza!" Janson berseru ketus.
Aliza mengangkat kedua bahunya ia merasa sedang berbasa basi saja menunggu mereka makan, karena koki butuh waktu setidaknya setengah jam memasak semuanya sampai matang. Apalagi daging sapi tidak bisa diolah sembarangan oleh koki.
"Kalau gak mau jawab ya sudah, toh hanya basa basi. Jangan di anggap serius, jus nya.." Aliza menyodorkan gelas ke arah pelayan di sebelahnya. Pelayan yang memegang botol jus ada tiga orang, dan mereka tidak boleh bergerak atau pergi sebelum mereka pergi dari sana atau menyuruh mereka pergi.
Pipi Janson terlihat kemerah merahan karena digoda oleh Aliza, "Anaya apa kau pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Aliza.
"Tidak pernah, walaupun keluargaku tergolong kaya kami belum pernah kemari. Aku tidak pernah tertarik dengan kemewahan disini, ini kali pertama aku berkunjung ke sini." Jawabnya.
"Sayang sekali ya, padahal kalau bisa dari dulu kalian bertemu. Resto ini dipilih karena ini tempat yang Janson sukai. Ini juga berada di dalam kompleks perumahan M Mawar, dekat dengan rumahmu Anaya. Janson kala itu membawa kartu Card yang isinya banyak uang untuk menuju ke sini." Aliza menjelaakan.
"Eh, saat di pertigaan kompleks Mawar itu kamu bawa kartu Card? Tapi di kantungmu tidak ada apapun saat aku cuci." Balas Anaya.
"Mungkin Jatuh Anaya, aku tidak mempermasalahkan benda itu toh isinya sudah diblokir kakak Galih setelah aku bilang kartunya hilang." Janson berseru.
"Anaya kalian bilang malam mencekam itu kalian sedang di intai bukan? Kalau siluman itu mengincar kamu, lantas kenapa dia mencoba melemparkan Janson juga dari atas gedung rumahmu, bukannya dia hanya mengincar kau!" Aliza berseru heran dengan Fakta aneh yang ada di sekitar.
"Aku juga tidak tau kak. Semenjak aku dan keluargaku berlibur di danau hijau wilayah timur itu semua hari hariku terasa ganjil, selain aku punya teman bernama Meli di sana." Anaya menceritakan.
"Meli, nama itu terdengar Familiar bagi keluargaku. Aku pernah mendengarnya dimana ya kira kira?" Aliza mencoba mengingat ingat sesuatu.
Pembicaraan ini tiba di ujungnya ketika pelayan mengantarkan troli ke meja mereka, tudung saju terbuka dan para pelayan meletakkannya di atas meja.
"Silakan menikmati ~" Pelayan itu berbalik setelah berkata ramah padanya.
"Setelah makanan selesai kita akan mencari tau siapa sosok meli yang kau bilang sebagai temanmu itu Anaya. Satu satunya cara adalah kembali ke danau itu." Aliza berujar serius, lalu ia menyuruh Anaya segera menghabiskan makanannya.
*****
Saat semua orang di restoran itu tengah sibuk dengan aktifitasnya masing masing, seseorang menyelundup dari pintu belakang.
Pakaiannya hitam hitam gelap dan membawa sejumlah senjata api.
Staf yang kebetulan berjaga dekat dengan pintu belakan tiba tiba tertodong oleh pistol miliknya.
Staf itu ketakutan tapi tidak bisa berbuat apapun karena kapanpun pelatuk itu ditekan maka tamat riwayatnya.
Dengan segenap tenaga ia mencoba melawan dengan memukul kepalanya namun naas, pelatuk itu ditekan seketika peluru keluar dan suara yang membuat gaduh terdengar di setiap penjuru restoran.
Door!!
Pintol itu mengenai perut koki itu dan penjahat itu kabur melalui pintu belakang karena merasa ia telah gagal.
"Chef, Chef!!" Staf itu berusaha membangunkan koki itu, namun ia sudah tewas di tempat.
Di ruang makan semua orang berseru panik. Termasuk Anaya ia sampai menjatuhkan gelas jusnya karena terkejut.
Dari dapur sebuah masakan yang ditinggal berubah menjadi gosong dan tiba tiba meledak.
Blar!!
"Aaa... " Salah satu staf wanita terlempar dari dapur karena ledakkan gas itu, api langsung menjalar ke mana mana.
"Anaya, Aliza.. Lari!! " Janson berteriak. Sebelum kerumunan odang mengurung mereka, kepanikan segera menjalar di gedung restoran tersebut.
Dari arah dapur api itu menjalar cepat ke karpet, gorden dan barang barang lain yang mudah terbakar.
Pintu keluar sudah di depan mata tapi mereka bertiga terjebak di kerumunan orang, terjepit jepit di antara orang orang.
"Anaya kau dimana?" Janson berteriak.
"Di bawah.. " Jawab Anaya.
"Janson, kak Aliza!" Anaya menunjuk kak Aliza masih tertinggal di belakang.
Aliza terlihat tersangkut oleh karpet merah, kakinya tergulung dan tidak bisa bergerak.
"Janson! Anaya!! Tolong... " Aliza menangis di sana, sedangkan api sebentar lagi sampai di karpet merah dan terus menjalar cepat.
(Tidak aku tidak mau satu orang lagi yang celaka, siapapun tolong Kak Aliza..) Benak Anaya.
Dari arah atap bangunan melesat cepat sesosok bayangan putih seperti anak kecil yang Anaya kenali di malam mencekam saat itu.
"Apakah.. "
"Itu, dia.. "
Janson dan Anaya ternganga melihat apa yang ada di depan sana berlari secepat kilat lantas menyambar tubuh Aliza serta memotong ikatan karpet merah dengan cepat dan tidak membuat Aliza terluka.
Walaupun Aliza berteriak tapi teriakannya menjadi sia sia.. Karena ia tau siapa yang menolongnya dari api.
Matanya yang merah, kulit putih pucatnya dan rambutnya yang panjang punggung. Dan pakaian putihnya yang compang camping di bagian ujung.
"Bibi Amelia.. Bibi menolongku, trimakasih." Aliza hampir menangis lagi karena terharu sudah diselamatkan oleh Amelia.
"Dasar anak anak yang merepotkan, Galih bilang aku harus menjemput kalian ternyata melindungimu toh. Pantas saja dia memberiku tanda tadi sebelum pergi. Hisss dasar anak anak ini!!" Amelia melesat menembus kaca dan meletakkan Aliza di luar gedung yang aman dari kobaran Api.
"Bibi, siapa yang menyerang kami?" Aliza berseru bertanya pertanyaan pertamanya setelah digendong.
"Hanya penjahat kelas teri yang berusaha bertahan hidup, jangan khawatir soal mereka, mereka sudah keluar sedari kau ku selamatkan. Dan kau harus perhatikan sekelilingmu Aliza, ada yang mengintai kalian di kejauhan sana, itu lebih berbahaya dibanding manusia." Jelas Amelia sebelum melesat pergi dari sana.
Aliza menatap tidak mengerti.