
Mobil Galih kini telah melewati kawasan kompleks perumahan yang ramai, semua orang tengah berbahagia setengah tahun ini karena mereka percaya bahwa satu satunya pembawa petaka di kompleksnya sudah tiada.
Mereka semua terlihat bersuka cita sambil sesekali memandang bahagia ke reruntuhan rumah Anaya.
Terlihat di sekitaran area rumah tersebut telah dikasih garis kuning polisi.
Ketika Galih menghentikan mobilnya persis di depan rumah itu salah seorang warga setempat melihatnya dan segera menghampirinya.
"Hei, nak!!" Teriak pria itu.
"Kau dilarang memasuki area itu tanpa seizin kami!! Kau harus meminta izinnya terlebih dahulu." Ucap pria seusia Ayah Galih itu.
"Paman, paman itu siapanya pemilik rumah ini sih? sampai melarang kami masuk!!" Aliza memotong kalimat pria itu.
"Saya sekarang yang bertanggung jawab atas tanah itu sekarang!!" Jawabnya pada Aliza.
"Bapak bukan siapa siapa dari pemilik rumah ini, lantas kenapa bapak melarang kami masuk ke area tersebut, adikku juga menjadi korban atas kebakaran yang warga disini lakukan, anda tau itu!! Aku bisa saja menyeret anda langsung ke kantor polisi!! Biarkan kami masuk lagi pula saya percaya bahwa pemilik rumah ini dan adik saya masih hidup!!" Tegas galih dengan ekspresi mengancam yang menyeramkan.
Orang itu hanya berbalik sambil mendengus kesal, rekan rekannya yang lain tidak menghalangi lagi Galih dan Aliza. Mereka bisa memulai pemeriksaan di reruntuhan rumah Anaya.
Ketika sampai dimana pintu ke ruang tamu berada, yang kini sudah menjadi debu. Galih menyalakan alat detektor canggih miliknya.
"Aliza kakak akan memeriksa area ruang ini kamu periksa sebelah sana, periksa lantainya siapa tau ada ruangan itu!" Galih memerintah.
"Siap kak!! " Aliza memberi penghormatan pada Galih lantas balik kanan.
Aliza kini memeriksa ruang tengah, dimana ada reruntuhan tangga besi yang hitam disana. Aliza awalnya sedikit heran tadi dia menginjak sesuatu yang ganjil di balik tangga itu.
"Tadi disini aku menginjak apa ya, coba aku lihat di balik tangganya!" Aliza melangkah ke balik tangga, disana terlihat ada kayu yang tidak hangus terbakar oleh api dan ada keset yang juga tidak hangus oleh api, Aliza heran lantas membuka keset itu.
Benar saja, dibalik keset selebar setengah meter itu ada sebuah pintu besi ringan dan area itu terlindung dari lalapan api karena berada di bawah tangga. Disana juga terlihat baju sobek sobekan yang Aliza kenali.
"Ini milik Anaya, dan ini Jam tanggan Janson.. I - itu berarti mereka selamat dan melewati ruang bawah tanah ini!! KAK GALIH!!!" Teriak Aliza.
Galih yang tengah sibuk dengan detektor memalingkan wajah mendengar suara teriakan dari tengah rumah.
Galih langsung berlari ke arah suara Aliza. Aliza langsung terlihat dari balik tangga Galih sempat terkejut dibuatnya.
"Astaga, kau hampir membuat Kakak kaget!!" Galih berseru sambil mengelus dadanya. Sedangkan Aliza justru tengah tertawa terbahak bahak, "Wajah kakak!! Wajah kak Galih lucu banget tau gak, hahaha.. Aku padahal gak ada niat ngagetin kakak." Aliza masih memegang perutnya menahan tawa. Sekarang bukan saatnya untuk tertawa.
"Kak Aliza menemukan jam tangan milik Janson." Mendengar ucapan Aliza yang serius Galih tidak jadi marah padanya.
Wajah Galih juga ikut terlihat serius dan penasaran. "Darimana kamu dapetin ini?"
"Pi, pintu besi!! Ruang bawah tanah!!" Galih berseru tidak percaya, bukan detektornya yang menemukan Justru Aliza yang mrnemukannya.
"Baiklah, tunjukan pada Kakak!" Galih berseru, Aliza segera mengangguk dan menggandeng tangan Galih.
Mereka bersama sama menuju balik tangga tempat dimana pintu ruangan bawah tanah berada. Mereka berdua membuka keset yang menutupi sebuah gumpalan benda aneh, pintu besi berbentuk bulat itu terlihat disana. Galih dan Aliza saling menatap kemudian mengangguk bersama sama. Galih mengulurkan kedua tangannya berusaha menarik tutupnya.
Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka dan jalan terlihat di bawah. Galih merogoh sakunya dan menyalakan senter di ponselnya.
"Aliza kamu tetap di sini ya, jangan sampai ada yang kesini bisa gawat tempat ini bisa disita oleh warga jika mereka tau Anaya kemungkinan masih hidup, mereka membenci Gadis itu." Galih berbisik pada Aliza.
"Iya kak, nanti Aliza jaga di sini. Hati hati ya kak." Aliza tersenyum manis dengan tangannya yang cemong cemong hitam karena arang arang yang bertebaran di sekitar.
Galih turun menuruni lubang kecil nan gelap itu, sambil berpegangan pada jalan besi yang ada di dinding pintunya.
Galih menuruni jalan itu dengan waktu yang lumayan lama, 15 menit hingga ia sampai di ruangan yang hanya ada satu penerangan berupa lentera. Ada jalanan luas di depannya dan itu tidak gelap melainkan disinari cahaya di dinding batunya.
Galih langsung tersadar dan beranjak kembali ke tempat dimana terowongan ruangan bawah tanah Anaya.
"Ini bukan dunia manusia, ini - ini dunia ghaib." Beruntung bagi Galih Terowongan penghubung itu masih disana, karena Galih tidak ditakdirkan untuk benar benar pergi menembus dunia siluman karena ruangan itu hanyalah perbatasannya saja. Saat keluar melewati guanya itulah saat ia tidak bisa kembali.
Dari atas ruangan bawah tanah Aliza telah menunggu lama sekali hingga 30 menit di sana dan ia lelah menunggu.
"Kakak Galih kenapa lama sekali sih berada di dalam sana?" Tak sabar menunggu Aliza memutuskan mulai menuruni tangga besi itu. baru beberapa tangga besi, Galih sudah berada menaiki tangga besi menuju atas dan berpapasan dengan Aliza.
"Aliza kenapa turun, kan sudah Kakak bilang tidak usah!!" Galih berseru.
kini mereka sempurna menutup lagi pintu bawah tanah dan meninggalkan Area itu. mereka menuju mobil merah milik mereka.
"Eh, sudah sore saja padahal kita baru memeriksa ini sebentar. Tapi eh.. " Saat galih memeriksa ponsel, ia menyadari bahwa ponselnya sedari tadi mati.
"Kakak tidak muncul ada setengah jam lebih.. Aliza sampai capek lho.. " Aliza menjelaskan.
"Tapi kakak baru beberapa menit di sana, tangganya memang panjang butuh 15 menit melewatinya. Oohh jadi begitu toh.. Ayo kita kembali Aliza kita jelaskan situasi di sini pada Ayah. Kakak baru saja menemukan seseuatu yang menakjubkan!!" Galih berbisik dan langsung menarik Aliza masuk mobil, mobil itu segera melaju di jalan raya. Wajah Galih terlihat sekali cerah sentosa.
(Akhirnya aku menemukan sesuatu yang bisa membuat Ayah tidak lagi bersedih, aku akan bilang padanya bahwa Janson dan Anaya selamat dan mereka menyebrang ke dunia siluman. )
Sepanjang perjalanan pulang, Aliza menatap wajah Galih secara terus menerus, "Kak Galih kenapa sih terus terusan tersenyum lebar seperti itu? Kok aku khawatir ya sama Kakak galih??" Aliza bergumam.
...ΩΩΩΩΩ...