
Wayana berusaha memulihkan dirinya yang terluka parah dan hampir sekarat, ia sampai di perbatasan antara dunia manusia dan Siluman berada, perbatasan itu disebut hutan Kionh yang berupa pepohonan hitam meranggas dan langitnya yang selalu berwarna abu abu.
Wayana terkapar ketika ia sampai di sana, ia yang selama perjalanan banyak memuntahkan darah berwarna hitam dari dalam tubuhnya yang ringkih tanpa ada sedikit tenagapun, karena tak mau menyerah ia tiba di perbatasan dalam keadaan yang sekarat.
"Apa yang terjadi padamu?" Suara itu mengawang awang di telinganya yang pendengarannya mulai pudar.
Wayana bahkan tidak bisa berbicara dengan lancar, "Ak.. Ku kal ah.. "
Sosok yang ada di depannya menghembuskan nafas keras, "Yang benar saja, kita akan bilang apa nanti pada beliau kalau mengetahui rencana kita yang gagal sebelum dimulai, lagi pula siapa yang bisa menggagalkan latihanmu?" Wayana menerima ejekan dari rekannya yang terlihat santai menanggapi dirinya yang tengah sekarat.
"Ber henti menertawakanku. Cepat bantu aku, tuangkan ramuan penyembuh.. " Wayana tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya yang melebihi kemampuannya dalam menahan sakit selama ini.
"Memang siapa lawanmu itu, hingga kau hampir musnah?" Rekannya memberikan ramuan itu di mulutnya Wayana, sedangkan Wayana didudukan oleh Rekannya.
"Dia bukan dari bangsa siluman atau dari kalangan manusia Mayana, dia amat berbeda. Aku bahkan baru melihat mata itu, mata yang memancarkan begitu banyak rasa takut dan energi tak terbilang.. Kekuatanku seolah terserap jika ada di dekatnya." Wayana menjelaskan tentang apa yang diketahuinya.
"Biar kulihat dalam penglihatanmu.. " Mayana mulai menerawang ingatan Wayana, ia mempunyai kemampuan melacal keadaan sebelumnya hanya dari menatap matanya.
Seketika dari dalam mata Wayana kilatan kilatan kejadian mulai dari kemunculannya menjadikan banyak anak kecil sebagai tumbal, dan menghidupkan satu Roh bernama Amelia yang menjadi koordinatnya untuk sementara, kilatan kilatan kejadian saat angin puyuh dan juga pertarungannya dengan Roh Amelia dan yang lainnya hingga, ia yang gagal melukai salah seorang anak yang memancarkan sinar biru dimatanya, dan sampai pada tragedi ia dipukuli habis habisan hingga hampir mati karenanya.
Seketika Mayana refleks melepaskan terawangannya pada Wayana. Dadanya bergetar dan matanya menatap tegang.
"Itu, itu mengerikan sekali.. Kita harus melaporkannya Wayana." Mayana berujar.
"Tidak, jika beliau mendengar ini sebelum kita menghancurkan kota itu sesuai perintahnya maka.. Kita akan habis Mayana. Dan bagaimana kau bisa lupa tentang tujuan kita, bukan demi dirimu atau diriku bukan demi beliau yang menginginkan ini. Keserakahannya itu yang membuat kita tidak bisa berbuat apa apa, dan jika kita gagal kau bisa lebih menderita lagi.. Kau sudah kehilangan semuanya bukan? Kini aku takkan membiarkan kau kehilangan lagi.. " Wayana menunduk.
"Apa maksudmu, aku baik baik saja. Kita hanya perlu menghancurkan kota itu sehancur hancurnya Wayana. Apa yang barusan kau katakan? Jika tidak aku akan menghancurkan jiwa Gadismu ini Wayana.. " Hal itu meluncur begitu saja seolah dia bukan rekannya.
"Maaf Ratu, aku tidak bermaksud." Wayana hampir saja mengacaukan segalanya karena terbawa ingatan.
Mayana terhuyung pingsan di tempat, Wayana mencoba menangkapnya dan membaringkannya di dahan pohon besar, udara dingin sekarang ia menyelimuti rekannya.
"Maaf, Mayana.. Karna diriku kau yang harus menderita." Wayana bergumam pelan.
Bulan yang terlihat di langit malam terlihat samar di langit hutan Kionh yang dipenuhi serangga dan hewan berbahaya, kabut tebal nan dingin terus bertebaran di sana tak henti hentinya keluat dari permukaan tanah, kadang kala menghalangi pandangan mata.
*****
Mayana yang tertidur pulas di atas pohon berwarna hitam dan paling besar di sekitar mereka. Salah satu serangga kecil berbentuk kalacengking keluar dari masing masing mulut mereka saat tertidur pulas.
Binatang itu kecilnya hanya seukuran kepalan tangan namun kecepatan gerakannya melampaui binatang tercepat yang ada di dunia alam Fana yaitu chita atau burung elang sekalipun, binatang ini punya teknik sihir untuk melakukan perpindahan cepat.
Tekanan udara kini semakin padat saat binatang itu memasuki dimensi yang jauh berbeda dari perbatasan, cuaca yang berganti menjadi panas memungkinkan ia berganti bentuk sebagai burung elang, sihir itu mengadaptasi cuaca yang ada di sekitarnya dengan cepat.
Elang hitam coklat itu terbang dengan kecepatan tinggi dan perlahan menurunkan kecepatan di wilayah istana.
Mengubah lagi bentuknya menjadi seorang manusia.
"Ratu, kedua siluman itu tampak tidak meyakinkan melawan manusia di dunia fana, kelihatannya mereka justru amat ragu ragu melakukannya."
"Hmm baiklah,.."
Laporan sedang dijelaskan secara terperinci dan lengkap, tidak hanya itu ia juga melaporkan hal hal yang tidak penting seperti berapa kerusakan yang ada di alam Fana dan juga para korbannya termasuk yang lain sebagainya.
Ratu terlihat menyimak dengan baik, hingga saat ajudan itu hendak pergi ia gagal. Lehernya langsung dipenggal setelah menyampaikan informasi itu.
Darah hitam menggenang di sepanjang 2 meter dari hadapan sang ratu yang disebutkannya, wajahnya ratu berkerut karena kesal setelah mendengar kabar berita yang tadi disampaikan.
"Ternyata penduduk dunia fana cukup kuat juga untuk melawan bawahanku, ini aneh selama 200 tahun ini manusia dunia fana hanya berusaha menyelamatkan diri dan tidak pernah melawan semua bawahanku yang ku kirim ke sana, aku mengirim bawahanku ke sana karena keturunan itu belum terlihat setelah 40 tahun lamanya, manusia itu juga tidak terlihat di wilayah ini. Kalau tidak terlihat maka tidak ada.. Akh!! Wayana harus ku kurung dulu di hutan perbatasan, suatu saat pasti ia akan datang sendiri, jika kota itu kubiarkan dulu. Sesaat.. Aku akan menunggunya!" Ratu bergumam kecil, semua bawahan yang mendengar gumamannya tidak sanggup berfikir apa apa atau memberikan reaksi apapun karena sedikit saja reaksi atau tindakan mencurigakan kepala mereka akan dalam bahaya.
Ratu itu sangat ambisius dengan kebengisan tiada tara.
"Cepat kurung siluman itu, dan bunuh salah seorang yang paling kuat di kota itu. Ingat lakukan dengan diam diam." Perintah tegas itu terlontar dari Ratu ambisius itu.
Beberapa siluman terlatih itu melesat cepat setelah mendapatkan perintah.
"Hahaha.. Kalian para manusia Fana tidak akan pernah bisa memenangkan permainan ini." Ratu bengis berseru senang tertawa di singgasana emas. Petir abadi menggelegar di atas sana.
Beberapa siluman bergerak secepat kilatan petir di atas sana, salah seorang yang bersembunyi di belakang pohon hitam untuk terlindung dari jangkauan istana terus memperhatikan, beberapa saat kemudian ia berpindah tempat untuk kembali ke dunia Fana.
"Aku mulai paham rencana ratu itu, ukh dia licik sekali, sabarlah sedikit aku akan membebaskan anda.. " Dirinya bergumam.
Tangannya terus melewati dahan dahan sempit sembari berlari menyusul para bawahan Ratu itu, terus mengikutinya dalam jarak aman agar tidak dapat dideteksi oleh mereka.
Kecepatan mereka berbanding jauh, akhirnya mereka tidak terlacak setelah melewati hutan perbatasan dan saat itulah ia berhenti, "Aku gagal menghentikan mereka. Apa yang akan mereka lakukan kali ini?"
Ia meneruskan berlari sambil melewati dahan dahan yeng sempit, kini ia berbelok menuju timur dengan hutan hutannya yang lebih lebat.
Ia sampai di pinti pedesaan, beberapa warga menyapanya dan dari belakang kedua orang terdekatnya muncul tiba tiba.
"Quena kemana saja kau! Aku sudah mencarimu di setiap bukit tapi tidak ada, kau melakukan apa hah?"
Quena terkejut, lalu gugup harus. menjawab apa.
"Kau berantakan dan tudung ini, apa kau mencurinya dari desa seberang barat?"
"Em, sepertinya.. Ini tergeletak di jemurannya."
"Bagaimana bisa kau keluar dari hutan dunia siluman dengan mudah sedangkan aku dan Heng saja terkurung oleh segel milik siluman!"
"E eh, kebetulan kok. Kebetulan saja haha.. " jawabnya pelan.
Heng dan Rey saling memandang.