TO THE DEAD

TO THE DEAD
Balas dendam



Pasukan kerajaan Hirina yang tak terhitung jumlahnya sekarang beramai ramai mengacungkan berbagai macam senjata kepada Wayana, dari mulai tombak, pedang dan lain sebagainya.


Tatapan mereka penuh kebencian pada Wayana. Jika mereka mau, kapan saja mereka bisa mengeroyok Wayana dengan senjata senjata tersebut, dan menyeretnya ke hadapan Raja Vezi.


Kali ini Wayana hanya tersenyum melihat tingkah Para Pasukan Siluman tersebut.


"Aku kesini bukan untuk berperang," Wayana berkata datar dengan ekspresi dinginnya. Tatapan Para Pasukan itu tetap tidak berubah kepadanya.


"Apa yang sebernarnya kau inginkan, Heh!" Kalimat itu terlontar keluar, tapi bukan dari Pasukan yang sedang mengacungkan tombak melainkan Seseorang yang perlahan mendekat ke kerumunan.


"Shayana,.." Sosok Wanita berambut putih mengkilap, dengan matanya yang merah menawan, wajah kuning langsatnya terlihat bagus, Langkah demi langkah menerobos kerumunan. Dengan senang hati Para Pasukan itu menyingkir.


Wayana terkejut gembira mendengar suara Shayana.


Kini Shayana persis berada di depan Wayana, tatapannya terlihat datar, begitupun raut wajahnya.


"Sekali lagi, kau mau apa datang ke sini Wayana?" Shayana bertanya datar padanya, tangannya sibuk memainkan seutas tali, yang lainnya ada di balik punggunggya. Cara berjalannya terlihat Anggun, bak Putri Putri Raja.


"Maafkan kelancanganku Shayana." Wayana langsung bertekuk lutut dihadapan Wanita muda tersebut.


"Kau seharusnya memanggilku Ratu Dewi Shayana. Tapi tidak mengapa.., LANCANG DIRIMU!" Nadanya terdengar lembut di awal namun keras di Akhir, Ia adalah Selir Raja Vezi yang ke dua setelah Permaisuri meninggal. Shayana kini menggantikan peran Permaisuri di kerajaan. Wayana adalah siluman angkuh yang menjadi bonekanya. 'Wayana dan Mayana itu cocok, karna mereka sama sama Bod*h, bisa bisanya membiarkan sepupuku mendeteksi mereka, sudah ku kirim mereka ke dunia manusia untuk tinggal di sana! Aku hanya menyuruh Siluman tua tidak berguna ini untuk mencelakai satu Gadis saja, Tapi lihat.. Cih.. Menjijikan!" Gerutunya dalam batin.


Karena memang merasa bersalah dan telah kalah, Wayana kembali menginjakan kakinya di kerajaan Hirina.


"Maaf, maafkan-"


PLAKK.


Belum selesai kalimat Wayana, tamparan melesat di wajahnya.


"Bodoh!" Shayana berujar pelan padanya. Mata Wayana terbelalak, kini ia tau arti kata kata Shayana waktu itu.


*SEEKOR SEMUT TIDAK BERGUNA! BISAKAH KAU MENJADI SENJATA KECILKU? AKU TIDAK YAKIN KAU DAN REKANMU BISA MEREMUKAN SATU KOTA BANSAR ITU.


Semut rendahan sepertimu memang pantas di injak.. hahaha*..


Ledekan terus menerus yang ia terima kala menjadi bagian dari sekelompok besar penjahat. Dari ia dicap sebagai penghianat, hingga terasingkan di dunia manusia. Itu semua karena perbuatan Shayana. Ia adalah dalang dari semua hal yang menimpa Wayana.


Harusnya aku dari awal tidak menuruti perintah dari Wanita licik ini, Aku tidak akan kehilangan Mayanaku. Dia..


"Kau bilang apa?" Shayana tiba tiba mendekat pada Wayana.


"Ti, tidak ada yang aku ucapkan Ratu Dewi Shayana."


Wayana melupakan satu hal kecil, bahwa Shayana bisa membaca isi hati setiap siluman, kemampuannya teramat langka. Itu yang membuatnya bisa mengendalikan Raja.


"Aku tidak mungkin salah dengar bukan?" Shayana berceloteh sambil mengelilingi Wayana, mendesaknya agar mengaku.


"Dasar Siluman lemah!" Shayana tidak tahan lagi, ia sekarang tengah mencengkram leher Wayana kuat kuat.


"Oohok- ohok- ohok." Wayana tercekik oleh Shayana, Wanita keji itu langsung melempar Wayana ke udara. Wayana tidak bisa melakukan apapun karena kehabisan tenaga.


'AKU AKAN MENGHABISIMU DALAM SEKALI.HANTAM, Bonekaku!' Shayana menyeringai sembari berkata di batinnya.


'Apa ini akhirnya, Mayana aku akan menyusulmu..' Tidak secepat itu Wayana akan mati, di belakangnya melesat seseorang yang pernah ia sakiti. Sekarang dialah yang akan membantu menyelamatkan nyawa berharganya.


BUKK!


Pukulan telak mengenai Shayana, ia terpental beberapa langkah, Wanita cantik namun keji itu tersungkur. Beruntung ia tidak melihat siapa yang menyerangnya barusan.


"Hah!" Wayana terkejut mengetahui siapa yang membantunya.


Sosok itu tidak berbicara sepatah katapun, ia langsung membawa Wayana menjauhi lokasi itu.


Setelah mereka berdua lolos, Shayana bangkit sambil meluapkan amarahnya. Ia menjentikan jemarinya, seratus para pasukan siluman terpental jauh dari dekatnya. Mereka segera tersungkur bergulingan di atas tanah.


"AAAAAKKKKHH.. SIAPA YANG BERANI MENYERANGKU! AKAN KU BALAS PERBUATANNYA...


Dan aku akan segera membalasmu Putra Mahkota!" Nada ancamnya kepada dua orang tersebut dan Putra Mahkota kerajaan Hirina.


Shayana bergegas berbalik meninggalkan perbatasan hutan KIONH bagian barat.


...*****...


Amelia terus melesat di antara pepohonan dekat perbatasan hutan KIONH. Ia membawa Wayana musuh besarnya, kini Wayana hanya terlihat sedih tidak seperti dirinya yang dulu ganas dan keji. Setelah kepergian Mayana, kegiatannya menghancurkan kota Bansar jadi tidak berguna lagi.


"Kenapa kau jadi lemah seperti ini, ini bukan Wayana yang aku kenal!" Amelia mencoba menenangkannya, sebenarnya aneh jika meli membantu Wayana. Bukannya Wayana itu musuhnya? Kenapa dia justru membantu musuh.


Memang benar Wayana adalah musuh Amelia dan yang lainnya, tapi itu sekarang sudah tidak berlaku. Wayana kini lebih lemah dari Amelia, tenaganya hilang karena pertarungan hidup mati beberapa bulan lalu. Awalnya ia ingin balas dendam pada Anaya, ia memberi informasi pada pesuruhnya, tapi akibatnya ia malah hampir terbunuh.


"Kenapa kau menyelamatkanku Meli, lepaskan aku dan biarkan aku mati. Aku tidak punya harapan lagi. Mayana... Dia telah tiada." Wayana berguman lirih.


"Apa yang kau ucapkan itu! Hentikan, sudah berapa kali ku bilang. Selama perjalanan berhentilah bicara! Aku tau ini berat bagimu, sudahlah.." Amelia terus melesat di antara pohon.


"Lepaskan aku Meli!" Wayana tidak peduli dengan apa yang Amelia lakukan padanya dia berusaha melepaskan dirinya dari pegangan Amelia.


"Wayana, apa yang kau lakukan. Hentikan sekarang!" Amelia berusaha lebih mencengkram Wayana lebih erat namun Wayana sudah berhasil menyingkirkan kedua lengan Amelia dari samping tubuhnya, Wayana terjatuh ke bawah pepohonan lebat.


Amelia bergegas ikut menjatuhkan diri karena tidak ingin melihat Wayana terluka, ia juga menghindar dari pepohonan dan ranting yang tajam.


Wayana merasakan sakit di bagian tubuhnya kerana ranting ranting itu, namun tak sebanding dengan rasa sakit kehilangan Rekannya.


"Mayana.." Gumamnya, ingatan terngiang di benaknya Wayana sangat merindukan Mayana.


...


..


Bersambung...