TO THE DEAD

TO THE DEAD
Memaafkan



"Maafkan kelancangan saya, tapi kedua manusia ini dilarang keras memasuki dunia siluman." Yu Juan mendengar penjelasan dari Prajuritnya bahwa ketika alarm berbunyi mereka segera menyerang Janson dan Anaya bersama-sama, tapi Prajurit itu benar-benar tidak tahu kalau kedua manusia itu memang tamu yang diundang Ratu. tapi Prajurit itu beralasan ia hanya menaati peraturan yang ada, dia menyerang Anaya dan Janson karena peraturan itu.


"Aku tahu apa yang kulakukan, dan Ratu pun tahu apa yang dia lakukan. Kedua manusia ini memang tidak sengaja memasuki perbatasan. Entah mereka masuk lewat pintu gerbang dunia siluman atau mereka masuk dengan cara lain, misalnya dengan terowongan bawah tanah yang dibuat secara manual. hal itu bisa terjadi jika ada pelapis dimensi di sana yang berfungsi menghubungkan dunia manusia dan dunia siluman" Jelas Yu Jian panjang lebar.


"Saya tahu saya bersalah,


tapi saya tidak tahu kalau mereka adalah tamu yang diundang oleh Ratu." Prajurit itu semakin menunduk mengakui kesalahannya. Anaya yang terjatuh tadi perlahan bangkit terduduk, ia melihat Nona Yu Jian tengah memarahi Prajurit yang menyerangnya.


"Tau ataupun tidak kau tetap harus mendapatkan hukuman! Karena bersikap lancang." Yu Jian berkata tegas kepada Prajurit tersebut, raut wajahnya menandakan ia sedang kecewa.


" Tolong maafkan saya panglima!" Prajurit itu sampai berjsujud untuk memohon maaf.


seberapapun prajurit itu bersujud kepada Yu Jian, prajurit itu tetap tidak mendapat maaf dari Panglima.


"Sudahlah Nona maafkan saja, yang penting Janson sudah selamat, kasihan dia. Maafkan saja Nona. " Anaya perlahan berdiri sambil berkata pelan pada Yu Jian.


Yu Jian yang melihat Anaya bersusah-payah untuk berdiri bergegas membantunya. Dia mendekat lalu menggandeng tangannya kemudian merangkulnya. Anaya sudah sempurna berdiri dengan sanggahannya adalah Yu Jian sendiri.


Anaya berkata sekali lagi sudah memaafkan prajurit tersebut. Yu Jian awalnya menolak permintaan Anaya untuk memaafkan Prajurit tersebut dan Yu Jian akan memilih menghukumnya saja. Tapi karena Anaya memaksa Yu Jian untuk memaafkan Prajurit tersebut akhirnya Yu Jian menyetujui kalau Prajurit tersebut dimaafkan.


...*****...


Siang hari kini telah menjadi sore, cahaya Jingga memenuhi langit-langit di dunia siluman.


Dua orang manusia yang kini telah berada ada di lantai atas istana. Tepatnya lantai 300 istana dunia siluman, mereka tengah bercakap-cakap membicarakan banyak hal.


Beberapa menit lalu Yu Jian bilang kalau dunia manusia dan dunia siluman amat berbeda, jika di dunia siluman 1 hari maka di dunia manusia satu minggu lamanya. Itu berarti 1 jam adalah 1 hari di dunia manusia. Itu yang membuat Janson khawatir.


Yang membuat tambah rumit adalah ketika Yu Jian bilang pintu perbatasan akan terbuka seminggu lagi. Itu berarti selama mereka di sana pasti di dunia manusia sudah sekitar 3 tahun 2 bulan lebih. Dan mungkin Ayahnya Janson pasti mengira Janson telah mati terbakar di rumah Anaya tanpa ada jasadnya.


"Kita di sini sudah 12 jam, kira-kira segitu. Aku tidak tahu seberapa paniknya Ayahmu mencari kita selama 12 hari." Anaya berkata pelan karena dia tidak tahu harus berkata apa karena situasi mereka teramat rumit.


"Apa kau lapar Janson?" Anaya bertanya padanya yang segera mendapatkan gelengan dari Janson. Anak lelaki itu tidak lapar karena sedang khawatir.


Di ruang tersebut untungnya tidak melayang-layang, semua perabotan di dalamnya terlihat normal dan terletak di lantai. Namun tidak mengurangi keindahan ruangan tersebut. Ada cermin besar, vas bunga dengan bunga yang indah - ukurannya juga besar kira-kira sebesar televisi. Cermin lengkung yang sangat indah entah fungsinya untuk apa? Sedangkan mereka berdua tengah duduk di kursi yang terbuat dari rotan dan juga empuk.


Tok Tok Tok..


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh dan mengabaikan sejenak kekhawatiran mereka tentang dunia manusia, ataupun tentang kepanikan seluruh keluarga Janson.


"Bisakah aku masuk?" Suara tersebut terdengar familiar ditelinga Janson dan Anaya.


"iya." Anaya berseru menjawab pertanyaan tadi. Sekejap pintu terderap terbuka, Seorang Wanita berkulit kuning langsat berkilau serta rambutnya yang kini tergerai, wajah cantiknya terlihat. Serta mengenakan pakaian yang hampir seluruhnya hitam.


"Nona Ratu," Anaya bergegas berdiri dan memberikan salam hormat padanya, di sebelahnya Janson juga ikut berdiri memberikan salam hormat.


"Kalian tidak perlu melakukan itu, kalian bukan dari kasta siluman. Tapi aku akan menerima penghormatan kalian. Terima kasih sudah menghormatiku." Shi ya ikut menunduk melihat penghormatan mereka berdua kepadanya.


" Bisakah aku duduk?" Tanya Nona Ratu kepada Anaya, tentu saja Anaya segera mengangguk mendengar ucapan tersebut.