TO THE DEAD

TO THE DEAD
kebersamaan masa lampau



Di sisi lain taman yang berada di halaman seluas setengah hektar itu, Aliza masih mengejar ngejar Janson di sisi taman lainnya.


Anak Gadis itu berlari sambil memegang sebuah sapu lidi di tangannya. Berteriak teriak pula pada Janson. Rupanya kekesalan Aliza tidak terbendung lagi.


"Janson!! Sini kau! Jangan jadi pengecut! Beraninya hanya menggangguku!" Aliza masih mengejar Sepupunya itu.


"Biarin biarin, weee!" Janson sengaja menjulurkan lidah pada Aliza.


"Lihat Anak Anak itu, kian hari bukan bertambah dewasa malah semakin kekanak kanakan. Terutama Fariz ini dia sudah punya dua anak, tapi lihat tingkahnya-" Ledek Burhan. Fariz Ayahnya Janson masih memalingkan muka.


Burhan tertawa melihat wajah Anaknya yang merajuk. Galih berdiri dari duduk lalu melangkah pergi.


"Kau mau kemana?" Tanya Farhan Pamannya.


"Itu." Galih menunjuk Aliza dan Janson yang masih bergulat, rupanya Aliza berhasil menangkap Janson. Anak Lelaki itu terlihat pasrah menerima pukulan dari Aliza.


"Hei, sudah sudah hentikan. Waktu tahun baru cuma setengah jam lagi. Ayo berkumpul di sana." Galih melerai keduanya, bahkan melempar sapu di genggaman Aliza.


"Tidak mau! Janson selalu meledekku! Dia harus minta maaf, huh." Aliza yang walaupun sudah dilerai oleh Galih, tetap saja Gadis itu masih berusaha melepaskan cengkraman Galih sambil berteriak kepada Galih.


"Dia meledekku habis habisan Kak! Pokoknya dia harus di beri pelajaran, dia tidak mau minta maaf!" Aliza menunjuk Janson yang masih meledeknya dengan menjulurkan lidah kepada Aliza.


Karena kesal melihat pertengkaran mereka yang tak kunjung usai, Galih terpaksa berkata kasar kepada mereka berdua.


"SUDAH DIAM! KALAU KALIAN MASIH BERTENGKAR! HADIAH TAHUN INI TIDAK ADA!" Keduanya langsung tertegun setelah mendengar kalimat Galih. Jansonpun melangkah kembali ke tempat dimana acara itu, Burhan yang melihat Janson mendekat ke sana langsung menyapanya.


Sedangkan Aliza masih cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis itu juga merajuk pada Galih.


Galih mendekat pada Sepupunya, lalu menepuk bahunya.


"Aliza, ayo ke sana. Kalau Janson masih mengganggumu biar Kakak yang hadapi dia. Maaf Kakak tadi membentak ya, soalnya kalian gak nurut sih!" Galih berusaha membujuk sambil berkata lembut. Aliza yang tadi masih cemberut, kini perlahan mulai menengok Galih.


"Jadi tujuan Kakak itu ya?" Aliza bertanya.


"Tentu saja, memang apa lagi!. Lihat lima belas menit lagi kembang apinya mau di nyalain lho. Aliza emang mau ketinggalan nonton kembang api di langit ya?" Galih bercakap cakap dengan Aliza, supaya amarah Aliza pudar.


"Enggakkk! Gak mau terlewat..!!" Aliza menggeleng kencang ke arah Galih.


"Ya makanya, ayo cepetan. Nanti telat." Galih menggenggam tangan Aliza. Mereka langsung berlari bersama. Di antara rerumputan yang hijau dan lembut di kaki. Satu keluarga bisa mereyakan tahun baru dengan 'Riang Gembira'.


...ΩΩΩΩΩ...


Berbeda dengan saat ini, Satu keluarga sedang dirundung duka karena Janson telah dinyatakan meninggal dunia.


Aliza yang selalu diganggu olehnya dulu, sangat merasa kehilangan sosok Janson. Walau ia terkenal Nakal. Tapi mereka hanya punya satu sama lain di rumah. Janson tidak pernah akur dengan Anak lain seumurannya.


"Janson.." Aliza berkata lirih sambil tetap menatap halaman luas di bawah sana dari lantai tiga.


Di sisi lain kamar, di dalam rumah yang sama. Suara pecahan kaca, bantingan sesuatu selalu terdengar di setiap menit. Kamar itu diisi oleh Fariz Ayahnya Janson.


Sedangkan Farhan dan Istrinya hanya menatap kosong ke arah lapangan depan rumah, keadaannya sama seperti Aliza. Juga para pembantu di rumah itu. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun. Termasuk jika itu kata yang tidak penting.


...-----------...


Di pedalaman hutan dekat dengan kota Bansar, di sebuah desa yang hampir mati. Penduduknya hanya 50 Orang saja di sana. Dan itu belum termasuk Heng, Quen, Rey dan ketiga Anak yang mereka selamatkan.


Ketika beberapa bulan lalu, saat kesalah pahaman selesai. Yu Jian menyerahkan dua kuda Putih pada Anaya dan dua kuda Coklat pada Janson, kemudian mereka berdua memberikannya juga untuk Rey dan Quen.


Tentu saja Rey dan Quen sangat berterima kasih pada Anaya.


...******...


Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan, suara percakapan yang mengundang gelak tawa terdengar di seberang meja, Rey dan Quen juga Heng tengah berbincang ria di sana. Tetapi di depanku sekarang ini.


Dian Keponakan Bi Marni, bahkan tidak menatap kami sekarang. Aku dan Janson telah mengajaknya berbicara, tapi tidak mendapat tanggapan berupa jawaban dari Dian. Ia hanya menatap kosong sekarang.


Didalam Fikiran Dian sekarang.


(" Maaf, maafkan Dian Bibi, kalau Dian tadi bersikap-" Kalimat Dian terhalangi oleh desah desahan Marni yang nafasnya sudah hampir hilang.


"Tidak masalah Dian, Semua ini memang salah Bibi nak, Semua ini karena Bibi tidak menceritakannya dari awal padamu. Sekarang pesan Bibi katakan semua yang kau dengar ini kepada An- ay a.." Mata Marni terpejam, nafas yang ada di hidungnya sudah berhenti. Jantungnya pun tak lagi berdetak.)


Dian merasa amat bersalah pada Bibinya sampai sampai ia mengingat saat Bibinya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya.


Anaya yang tengah bersitatap dengan Janson untuk meminta saran, Janson hanya mengangguk selintas sambil memberi isyarat. Anaya mengangguk padanya.


Anaya memegang tangan Dian dengan kedua tangannya sambil berkata "Semua akan baik baik saja, Bi Marni akan bahagia disana. Jangan sedih ya."


Dian menatapku dengan mata yang berkaca kaca, entah apa yang ia fikirkan sekarang ini. "Aku tidak punya keluarga lagi Anaya." Dian berkata lirih.


Anaya menggeleng pelan "Kau masih punya Aku. Anggap saja Aku keluargamu, Aku juga kehilangan keluargaku sewaktu kecelakaan.."


"Ep 1 (Kecelakaan)" (Aditya berguling sebisanya, Anaya yang akhirnya tersadar dipelukan Aditya berteriak parau..


"AYAAAAHHH.. IBUUU.." Kecelakaan itu terjadi di depan matanya..)


".. Jadi tidak perlu sungkan ya Dian. Aku juga termasuk keluargamu." Anaya tersenyum dengan segala luka yang telah ia lewati selama ini.


Dian bergegas berdiri dari duduknya, Anaya kira Dian marah padanya. Ternyata Dian berjalan ke arahnya lalu memeluk Anaya.


"Hiks.. Terima kasih Anaya.." Dian merengkuhnya kemudian melanjutkan tangisnya, Anaya menepuk nepuk bahunya menenangkan Dian.


...******...


Dikejauhan dua alam yang berbeda, Wayana tengah menembus tebalnya halang rintangan hanya demi tiba di puncak tujuan, Siluman hitam itu tengah menuju kerajaan Hirina.


Kerajaan yang menjadi pusat kehancuran kota Bansar di masa lampau. Suatu kerajaan yang telah mengusir Putra Mahkotanya sendiri karena ia membawa aib. Raja yang menguasainya adalah Vezi.


Para pasukan kerajaan Hirina mengetahui ada Siluman yang memasuki wilayah kerajaan, dengan insting tajam alami yang pasukan siluman itu miliki, segera mereka mengetahui posisi Wayana.


Baru beberapa langkah setelah melewati perbatasan, ia telah dikepung seratus ribu pasukan.