TO THE DEAD

TO THE DEAD
Rencana Janson



"Anaya, Janson dan Dian kalian kembalilah ke kamar masing masing, ini sudah larut malam." Rey menyuruh mereka kembali ke kamar masing masing.


Tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan dengan Nenek Rey dan Kakek Heng lagi, mereka bergegas melewati bingkai pintu kayu yang sedari tadi terbuka, Janson yang paling akhir keluar maka Janson harus menutupnya.


"Anaya mau ku antar ke kamar?" Janson bertanya, sebelum mereka melangkah dari depan pintu yang tertutup.


"Tidak perlu Janson, aku akan bersama Dian benar kan?" Qiunaya mencoba bicara dengan nada normal.


"Anaya, kamar kita terpisah, lagi pula tidak se-arah. Sejak kapan kau menghindari Janson? Kamar kalian kan bersebelahan. Kamarku ada di belakang rumah sebelah dapur, kamar kalian kan di sebelah ruang tamu." Dian menggeleng menolak.


"Ayo Anaya, aku akan mengantarmu." Janson lebih dulu mengulurkan tangannya sebelum Qiunaya membujuk Dian agar mengiyakan ungkapannya.


"Aku bisa jalan sendiri.." Anaya melangkah terlebih dahulu.


"Eh, Anaya kau kan baru sadar!" Janson mengekor mengolikuti Anaya dari belakang.


"Sudah jangan cerewet!" Qiunaya risih berseru galak.


'Dasar mereka itu.. Pfff' Dian melangkah kembali ke arah dapur menuju kamarnya.


*****


Qiunaya membaringkan badannya di atas kasur. Sementara Janson berseru kesal kembali ke kamarnya.


'Anaya aneh sekali hari ini, oh iya lampionnya ketinggalan di padang ilalang.' Janson baru teringat sesuatu saat itu.


Anak Lelaki itu melangkah cepat melewati ruang tamu, tangannya hendak memegang gagang pintu.


"Hei, nak kau mau kemana malam malam." Dari belakang Heng muncul menghentikan gerakan tangan Janson.


"Eh.. Kakek Heng!" Janson menoleh ke arahnya - membalikan badan.


"Kau mau kemana Nak?" Heng bertanya.


"Itu Kek, lampionku tertinggal di padang ilalang dekat sungai. Aku lupa tidak mengambilnya." Janson menjelaskan.


"Sepenting itukah sampai kau nekat ke luar sana saat tengah malam begini?" Heng menatapnya tidak percaya.


"Ini penting sekali, Kek." Janson menegaskan.


"Hmm. Tadi Dian sudah membawanya masuk saat kau menggendong Anaya ke dalam. Ada di meja dalam kamarmu apa kau tidak lihat?" Heng menjelaskan.


"Be - benarkah, aku belum ke kamarku Kek. Trima kasih." Janson membungkuk mengucapkan terima kasih.


"Iya, iya.. Sudah tidurlah.." Heng tersenyum. Janson melangkah kembali ke lorong dan berbelok di tikungan sana, sosoknya hilang di tikungan sana. Heng tersenyum senyum sendiri.


"Anak anak zaman sekarang mengenal kata suka terlalu dini, ini menggelikan.. Tapi lucu." Heng duduk di kursi goyang memperhatikan jendela sambil menyeruput teh di atas meja menikmati malam yang dipenuhi kunang kunang yang kadang hinggap di jendela yang terbuka, membuat malam bagaikan dipenuhi bintang yang jatuh.


*****


Janson membuka pintu kamarnya, benda yang langsung ia pandang pertama kali adalah meja di kamarnya.


Benar ucapan Heng, Lampion berwarna kuning itu ada di sana. Janson langsung mengambilnya dari atas meja lalu duduk di tepi ranjangnya sambil memandangi lampionnya.


"Akh.. Gagal lagi aku mengungkapkannya pada Anaya, kenapa ini sulit sekali sih. Apa susahnya.. Anaya kau mau kan jadi perempuanku?.. Tinggal bilang begitu saja aku tidak bisa.. Kenapa sih..!!" Janson meruntuki dirinya sendiri sambil sesekali memukuli kepalanya dengan bantal yang kasar di tempat tidurnya. Akhirnya Anak itu membenamkan wajahnya di atas bantal lalu memandangi lampion kuning bertuliskan kata di belakangnya.


"Apa Anaya tidak melihatnya ya karena di bagian belakang? Jadi haruskah aku tulis di bagian depan? Tapi aku akan malu kalau sampai Dian dan atau semuanya melihat. Apa aku harus memikirkan cara lain.


"Huh.. Aku ngantuk," Janson berbaring memandangi langit kamar yang hanya bergantungkan lampu minyak, kamarnya tidak temaram ataupun terang Janson melirik ke arah kakinya.


Teringat lagi saat Anaya mengobati kakinya dengan Daun sampai darahnya tidak keluar lagi, dan Anaya juga membalut Kakinya sesampainya di kediaman Heng. Anaya tidak mau dibantu diobati, ia melakukannya sendiri.


'Tadi Anaya terjatuh di dadaku,.. Dan.. Aku akan terus mengingatnya, kami juga berpelukan saat di pekan raya dan saat di tepi sungai.. Anaya sangat manis. ...umm.. " Setelah kalimat gumamannya Janson terlelap dalam tidurnya.


Sedangkan di kamar sebelah..


Qiunaya mendengarkan semua kalimat Janson barusan, 'Anak itu benar benar sangat mencintai separuh diriku. Kenapa Jantungku berdetak begitu kencang.. Dan kenapa pipiku juga panas? Akh.. Tidak tau ahh.." Qiunaya segera terlelap tidur sambil membuat separuh dirinya menghapus ingatan tentang pertarungan dengan kaum Abadi.


'Tapi, sebentar kalau aku hapus semuanya separuh diriku tidak akan siap menghadapi serangan yang tiba tiba. Aku akan menghapus setengahnya saja. Aku akan membuat Anaya ingat tentang pertarungan itu, akan ku samarkan saja Nyi Yunha itu. Akan ku manipulasi dengan hewan BELUT NAGA LISTRIK. Yah, begitu saja.' Itulah rencana Qiunaya terhadap separuh jiwanya.


Qiunaya menutup rapat kedua matanya, terlelap sudah keduanya dalam mimpi masing masing.


Sedangkan Dian masih beberapa menit lagi terdiam, sesekali terisak di kamarnya lalu terlelap.


*****


Sinar mentari pagi muncul di ufuk timur, ujung cahayanya menerobos kisi kisi rumah sampai menembus ke dalam, rumah di kediaman Heng keadaannya memang cukup terbuka.


Itu adalah rumah yang sudah berdiri melebihi usianya, sudah ada sejak pedesaan tersebut masih ramai dan belum terputus dengan dunia luar.


Meskipun rumah yang terbilang sangat tua, rumah itu masih layak untuk ditinggali. Heng cukup merenofasinya beberapa kali dengan kayu, paku, dan jerami ilalang. Heng mendapatkan alat tersebut dari desa desa mati lainnya di kawasan tersebut. Bukan hanya desanya yang hancur. Baru baru ini ada banyak siluman yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah desa pedalaman dan itu menghkawatirkan sebagian penduduk pedalaman.


INTERMEZO + PENJELASAN SINGKAT.


*Tapi kita tunda dulu penjelasan itu nanti, kalian tidak mau kan membaca penjelasan tentang desa mati di sekitaran pedalaman, dan melupakan kisah sang tokoh utama yaitu Anaya, karena Author memang hanya menulis maksimal 1000 kata lebih saja setiap babnya, karena itu juga sudah lumayan untuk penulis pemula macam aku ini.


Lagi pula, Thor belum pernah liat tentang komentar pembaca yang antusias banget membaca tiap babnya. Kayak di novel lainnya yang terkenal itu lho, yang selalu menunggu Upnya novel Si Penulis.


Baru ketemu satu, dan itu menanyakan tentang karakter "Amelia" Di Novel ini. Mungkin pembawaan alurnya kurang kali ya,


Gini deh, biar aku perjelas lagi para tokoh yang ada di Novel (TTD) : (To The Dead) ini.


Tokoh utama :


* ANAYA


* FARIZ


* AMELIA.


Apakah sudah jelas, kalau belum catat deh.


Antagonisnya. :


* WAYANA (SILUMAN HITAM)


* MAYANA


* SHAYANA


* RAJA VEZI


Peran pendukung tapi penting.


* QIUNAYA


* LINDA


* HERMAWAN


* KEZI


* LARAS


* ALIZA


* GALIH


* MANG KARMAN


* BURHAN


* RIZKA


* HENG


* QUEN


* REY


* SHI YA


* YU JIAN


* NYI YUNHA


* MANG UMANG


* ADITYA


* DIAN


* BI INA


* BI IMAH


* BI MARNI


* MILA


* AMINA


* FANNYA


* HANS


* SURYO


Selain itu adalah tokoh Figuran alias pelengkap ceritanya, ceritanya dari awal emang panjang ya.


*Kembali ke alur ceritanya..*


Heng melangkah melewati lorong dalam rumahnya, belum sempat ia mengetuk pintu kamar tempat Anaya tidur, pintu tersebut tampak terbuka dari dalam.


Dengan raut wajah yang kebingungan Anaya berjalan keluar tanpa melihat ke arah depan tempat Heng berdiri.


"Ada apa denganmu Nak? Apakah tidurmu tidak nyaman semalam?"


Mendengar seruan dari Heng, Anaya refleks mendongak ke atas. Gadis itu tidak menyangka akan disapa sepagi ini oleh tuan rumah.


"Anaya cuma bingung Kakek Heng, kenapa ada di sini. Padahal kan semalaman Anaya terpisah dari Janson." Anaya menjawab.


"Ooh, soal itu. Kau mungkin shock ya sampai melupakan kau sudah digendong oleh Janson sampai ke sini." Heng menepuk nepuk pundaknya membesarkan hati.


"Be, benarkah? Kenapa aku tidak ingat Kakek?" Anaya bertanya polos.


"Tanyakan detail itu pada Sahabatmu saja Nak. Jangan padaku." Heng hanya menjawab lurus dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


Anaya mengangguk.