TO THE DEAD

TO THE DEAD
Teriakan Janson



Kuda kuda yang ditunggangi Janson sempurna telah tiba di halaman rumahnya yang luas layaknya kebun buah, Tanpa ragu lagi Janson berteriak dengan nada kencang.


"Ayah!! Aku pulang!" Janson langsung melompat dari atas kuda setelah melepaskan kakinya dari tali kekang.


Anaya masih ingin melompat dari atas kuda tapi, kuda itu tiba tiba duduk sendiri.


"Eh, kok kudanya bisa duduk sih?" Anaya heran sendiri.


Dian telah melepaskan tali kekang di kakinya dan turun bersama Anaya. Kuda kuda itu tengah mencari rumput segar yang ada di taman. Karena memang mereka kelaparan.


Sedangkan Janson telah sempurna ada di depan pintu rumah.


"Ayah, Janson pulang!!"


Harusnya sedari tadi mereka keluar dan menemui janson dan Anaya yang sudah ada di depan halaman rumah.


Tapi jangankan menjawabnya, rumah Janson terlihat sepi dan tidak berpenghuni. Kemana semua orang? Apa mereka keluar kota bersama?


"Ayah!! Bibi, paman, Kakek, Aliza.. Kalian dimana?? Jawab aku!!" Sia sia saja Janson berteriak seperti itu. Rumahnya tetap kosong layaknya tak berpenghuni.


Dari tepi rumah tiba tiba ada seseorang yang masuk dari sana. Itu salah satu satpam yang berjaga di sekitaran rumah.


"Eh, pak satpam!!"


Satpam itu terkejut seperti melihat hantu saja."


"Hii... Kamu siapa dek!! Kok mirip Den Janson."


"Pak, ini memang aku!! Yang lain kemana pak kok dirumah sepi begini, aku sudah menekan bel berkali kali tapi tidak ada yang menanggapi. Kemana semua orang?"


"Saya tidak tau den tadi saya habis bangun tidur, jadi tidak tau. Tapi saya punya kunci cadangan kalau den Janson mau masuk." Seru satpam tadi.


"Baik pak, trimakasih."


Hal yang difikir keluarganya akan menyambut dirinya dengan tawa bahagia, menjadi hanya angan angan saja. Karena keadaan rumah yang sudah porak poranda dari dalam.


banyak perabotan yang pecah, atap atapnya yang telah runtuh. Banyak kaca bertebaran di mana mana dan yang paling Janson kenali.


"Bi Ina, Kakek.. Bibi.. Paman!! Kalian kenapa??"


Janson melihat aggota keluarganya sudah dalam keadaan yang mengenaskan sekali, terluka dan tertimpa benda benda, ditambah Ayahnya, Aliza dan Galih kakaknya entah ada dimana.


Sayang sekali kakeknya meninggal. Akibat sesak nafas karena debu debu itu terlalu berbahaya untuk tubuh rentanya.


Kebahagiaan yang seharusnya menjadi Akhir dari kisah ini berujung duka kembali. Pertanyaannya adalah siapa yang menyerang tempat ini dalam waktu 1 jam saja. padahal cuaca di luar sangat stabil. Tapi kenapa di dalam rumah bisa terjadi hal semacam ini.


"Bi ina katakan bi, siapa yang menyerang rumah??"


"Den, larilah.. Dia bukan manusia, dia siluman. Dia terlalu kuat bahkan untuk den Janson.


"Anaya, apa kau pernah mendengar nama raja Vezi?" Tanya Bibi dan paman Farhan.


"Tidak, aku tidak pernah mendengarnya. Memang ada apa." Tanya Anaya.


"Pergi selamatkan Fariz, Galih dan Aliza dari cengkramannya. Mereka dibawa hidup hidup ke alam siluman.


Janson kali ini tidak bisa berkata apa apa lagi setelah Farhan berbicara seperti itu.


"Apa!! " Janson berujar pelan.


"Pergi selamarkan diri kalian, kalau tidak mereka juga akan menangkap kalian. Kami tidak bisa menginfokan banyak hal tapi, kalian harus pergi ke hutan." Farhan berseru.


"Tidak tidak. Aku sudah melalui banyak hal untuk tiba di rumahku tapi kanapa jadi seperti ini.. kenapa!! Ayah, Aliza, kak galih.. Huk uhuk.. hikk. Kenapa mereka bisa dibawa oleh siluman Vezi itu. Anaya apakah aku sekarang menjadi terlibat dengan masalahmu? Memangnya mereka mau mengincar apa darimu? Kau hanya manusia biasa..Kenapa semuanya bisa sangat rumit seperti ini!!!" Janson hanya bisa terduduk lemas saat ini, ia menangis sekencang kencangnya bahkan menjerit sejadi jadinya..


"Maaf, maafkan aku Janson maaf, hiks.. " Anaya perlahan lahan mendekat dan memeluk Janson yang sudah tidak terkendali.


Janson bahkan menyakiti telapak tangannya sendiri saat ini, dia menggenggam pecahan kaca tajam di tangannya dan tidak ia lepas lepas sedari tadi hingga darahnya menetes dan membanjiri telapak tangannya.


"Kenapa semua ini bisa terjadi dalam waktu secepat ini, aku belum bisa melihat wajah Ayahku Anaya. Kenapa semuanya terjadi hingga seperti ini.. aku tidak rela.. tidak akan pernah rela.." Janson berkata lirih padanya serta masih sesenggukan, sedangkan Anaya tengah membalut telapak tangan Janson yang sudah melepaskan pecahan kaca tajam itu.


Jangankan menjerit kesakitan saat diobati wajah Janson seperti kosong sekarang, nyawanya seperti berkurang separuh karena keluarganya hampir hancur di depan matanya.


Satpam tadi juga yang menatap kejadian menangis histeris tapi tidak sehisteris Janson.


Kak Dian hanya menunggu di luar tidak ikut masuk sepertiku, jadi dia tidak tau.


Usai kesedihan Janson, Satpam itu menelfone kantor polisi dan Ambulans untuk menyelamatkan Bi ina dan Paman Farhan dan Bibi Janson. Keadaan Paman Farhan Dan Bibinya sama seperti Janson. Mereka baru saja kehilangan putri satu satunya yang mereka punya.


Setelah kejadian itu, Janson tetap memperhatikan aku walau wajahnya tidak seceria dulu, Paman dan bibinya masih menampungku walau tragedi itu terjadi.


Dan hingga hari itu tiba.


"Anaya, Aku akan pindah ke luar negri bersamamu. Paman dan bibi tidak ikut mereka mengirim kita sekolah di luar negri agar tragedi ini tidak terulang lagi. Paman bilang ia akan menyusul setelah menjual rumahnya."


"Tapi Janson, apa kau tidak apa apa, kita tinggal bersama di luar negri? Aku merasa tidak enak." Anaya bergumam.


"Tidak apa, jangan khawatir ya. Yang penting kita bisa selalu bersama." Janson mendekapku dengan erat dan rasa hangat yang nyaman.


"Maaf aku tidak bisa berbuat apapun pada keluargamu, maaf karena aku mereka jadi hilang.. Maaf.. Maafkan aku." Anaya menangis, Janson mengelus elus kepalanha menenangkan.


...*****...


Tiket pesawat telah disiapkan sebulan lalu, kini aku dan Janson sudah berumur lebih dari 10 tahun, Aku berumur 11 tahun dan Janson 13 Tahun. Kami akan bersekolah di asrama luar negri, tentu saja kamarnya terpisah, dan tak lupa ku bawa kotak leluhurku itu.


Penerbangan dengan tujuan korea akan berangkat 1 jam lagi.


Itu adalah panggilan untuk kami agar menarik koper koper kami, kami pergi ke luar negri ditemani oleh bi Ina. Ia mengantar kami sampai masuk ke pesawat, tentu saja ia tidak ikut.


Kami melambai padanya yang masih tampak luka di lehernya, dan pesawatpun lepas landas dari bandar udara.


Janson memengang tanganku, "Anaya berjanjilah kau akan terus betsamaku, selamanya!!" Janson menatap. mataku.


"Aku berjanji.. Aku akan selalu bersamamu Janson."


Suara lesatan pesawat dan pesawat sudah dalam penerbangan di udara lepas, kami berdua tertidur setelah makan makanan di pesawat, Aku menyenderkan kepalaku di bahu Janson dan Janson bersandar di kursi pesawat.


Dari belakang Ada seseorang yang mengawasi kami berdua.


"Takkan ku biarkan kalian lolos dari pengawasanku, Putri Anaya dan Pangeran Janson, Aku Quen tidak akan pernah berhenti mengawasi kalian, akan berbahaya sekali jika pergi ke luar negri tanpa pengawasan, jadi kalian akan baik baik saja ketika aku yang menjaga. Karrna Shayana bisa kapan saja bertindak." Gumam Quen.


...ΩΩΩΩΩΩ...


*Sebuah rasa sakit selalu datang secara tiba tiba, terlepas dari apa yang sudah ditakdirkan dan diramalkan sepagai pertanda ataupun kutukan sekalipun.


Sebuah batasan yang seharusnya menjadi batasan telah dilampaui dan dilanggar, sampai akhir hal seperti kemalangan akan terus terjadi*.


Seorang nenek nenek yang saat ini duduk di kursi goyangnya bergumam lirih saat ini.


"Pertama kepergian Anakku dan menantuku, sekarang penderitaan cucuku dan temannya. Apakah dimasa depan nanti adakah saatnya aku pergi menyusulmu Kezi? Aku tidak tahan dengan semua penderitaan yang diberikan lagi oleh Ibumu terhadap anak dan cucu cucuku. Linda anakku dan Anaya cucuku sedang membutuhkan bantuan tapi bahkan aku tidak bisa membantunya.. Bagaimana pendapatmu Amelia?"


"Nona Laras anda tidak perlu menyesal, cinta anda pada pangeran kezi itu memang sudah seharusnya terjadi, lagipula kalau cucumu tidak datang ke kota bansar, kota itu akan segera hancur karena kedua siluman yang dikirim. oleh ratu itu. Trimakasih karena cucumu melindungi kota bansar ku."


Laras menggeleng. "Tidak Meli, aku yang berterima kasih karena kau telah menjaga cucuku itu dan juga kakaknya. Qiunaya yang tersegel pasti tidak akan tinggal diam karena situasinya bertambah kacau, Ambisi ratu itu sudah sangat diluar kendali dan bengis.. Maka harus ada yang bisa menghentikannya."