TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kebingungannya



Anaya terduduk di bebatuan kerikil kecil di tepi hutan, ia tengah melamun sembari menunggu Janson yang sebentar lagi akan selesai mandi. Anaya di balik batu juga sedang berganti pakaiannya setelah rambutnya yang panjang terlihat setengah kering ia memutuskan mengganti pakaiannya.


Kali ini Anaya mengikat rambutnya setelah dirasa cukup kering, dengan poninya yang masih terlihat serta liontin mengkilap biru, disana ada jiwa seekor burung bangau dan dijari kanannya Anaya memperhatikan lagi cincin yang tak terlihat disana.


Selama ini ia tak pernah menyangka akan diberikan benda yang istimewa seperti itu, sedangkan ia hanya manusia biasa yang tak memiliki kekuatan sihir seperti kakaknya, ia malah memperoleh benda ini.


Pakaiannya sempurna rapih dan di lipat dan ditaruh di keranjang.


Dari balik batu besar setinggi tiga meter, Janson lewat di sebelah batu itu sambil berhenti di dekatnya.


"Kau sudah ganti baju Janson? Kenapa gak pakai handuk dulu?"


"Aku memang mandi seperti ini Anaya, dan ini keren tadi airnya berganti sendiri kala aku menggunakannya. Seperti mandi dibawah showerku sendiri, airnya juga segar terkadang ada ikan yang kulihat meloncar dan mencipratkan airnya padaku, ikannya besar sekali tadi aku sempat memikirkan kalau menangkap ikan itu dan dijual akan berapa harganya ya." Janson mengoceh panjang lebar.


"Tak ada manusia yang pernah menjelajah hutan yang seperti ini apalagi menangkap ikannya, pasti didalamnya ada buaya dan makhluk buas lain, sebaiknya kita segera sudahi ini dan membereskan sisanya. Ayo," Anaya menggenggam tangan janson dan langsung berjalan setelah itu.


Anaya merasakan ada yang memperhatikan mereka di dekat sungai, sebelum bahaya itu mendekat ia segera berlari dari sana.


Beberapa saat lalu Janson berteriak betulan karena Kakaknya Xin yang menyamar menjadi ular, ditambah lagi burung bangau yang melesat dari atas, lokasi mereka telah diketahui.


Dari dalam sungai meloncat seekor aligator sepanjang 8 meterd engan besar 3 meter. Ekornya yang bergerigi, kulitnya yang keras serta gigi giginya yang tajam, mulut besarnya itu mengangga dan bersiap menyerang mereka yang tengah berlari. Kecepatannya diatas rata rata mereka berlari.


Anaya menoleh lagi untuk sekedar mempercepat langkahnya dan menarik Janson agar tetap berlari.


Aligator itu merayap semakin mengikis jarak di antara mereka, dan kala mereka sempurna melewati hutan hutan Janson menghentikan langkah mereka dan ia berbalik dan melangkah ke samping hutan menyusuri semak semak dengan perlahan lahan dan tak membuat suara berlindung disebalik pohon selebar 4 meter, sempurna menutupi tubuh mereka dan Janson menemukan lubang di pohon itu, mereka bergegas masuk satu persatu.


Dengan tubuh yang besar otomatis penciumannya juga tajam membuat aligator itu mendekati lubang tempat Anaya dan Janson bersembunyi.


Keringat segera membasahi dahi kedua bocah ini, membuat Janson kali ini harus mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum buaya itu mendekat ke arah lubang pohon tempat Anaya bersembunyi.


"Janson, jangan nekat! Kita harus tetap disini, kau takkan menang melawa buaya itu!!" Anaya berbisik serius padanya, anaya mengerti tentang kekhawatiran Janson tapi ia tak mau kehilangan temannya secepat ini.


"Kita tak punya pilihan Anaya, lihat ada akar akar pohon di dalam sini. Kau akan memanjat ke atas pohonnya. Buaya tak bisa memanjat ke atas pohon, biar aku yang mengalihkan perhatiannya." Belum sempat aku akan menjawab tidak dan menolak tawarannya barusan, tetapi Janson sudah keluar dari lubang pohon. Kali ini aku tak bisa menahannya untuk tetap berada di dalam sini. Aku hanya bisa melakukan apa yang Janson bilang padaku yaitu melindungi diri.


Aku segera meraih tali yang seukuran 30 senti ini dan bergegas bergelantungan gua gua pohon yangcukup lebar dan panjang hingga ke atas sana, aku menduga satu hal dan boleh jadi ini salah, yang mempunyai lubang ini apakah hewan itu, suasananya terlihat hampir gelap gulita namun celah celah yang sedikit berlubang pada kayu pohon disebabkan oleh laron laron pemakan pohon tersebut, hanya hewan hewan kecil itu yang mampu membuat lubang sebesar dan sebanyak ini. Tapi jika buaya saja berukuran 8 meter dengan besar 3 meter, bagaimana dengan laronnya? Aku tak sempat memikirkan hal itu karena buaya itu sudah sempurna berada di lubang masuk tempatku tadi memanjat.


Jika beberapa menit lalu aku tidak memanjat mungkin aku telah ada di mulut buaya itu.


Beberapa kali melihat ke bawah sana yang berjarak lebih dari tiga meter itu, mulut buaya itu masih saja berusaha masuk melalui lubang pohon itu, sementara Janson entah ada dimana sekarang apa yang ia rencanakan, apa ia akan meninggalkanku di lubang ini? Perasaanku tidak enak sekarang, lubang pohon ini entah menuju kemana sekarang!


Di luar sana janson juga memanjat pohon yang berada tidak jauh dari tempat Anaya memanjat celah pohon dibawah sana.


Dengan berpegangan pada ranting yang berhasil ditajamkan oleh dirinya sendiri, Janson mencoba mendarat di tubuh buaya itu sembari menancapkan kayu tajam dan cukup besar itu. Ia sudah menyiapkan kerikil dan tali untuk mendarat di punggung buaya raksasa tersebut.


"Aaahh.."


Terdengar teriakan kencang yang berasal dari atas ketinggian sana, rupanya itu sosok Anak Lelaki yang nekat sedang berayun dengan tali tali akar pohon yang menggantung. Kebetulan moncing buaya itu sedang terjepit di dalam lubang maka Janson akan menjalankan rencananya untuk melukai mata buaya itu supaya tak bisa lagi mengejar mereka.


Buaya besar itu ukuran tubuhnya saja sudah besar apalagi ketebalan kulitnya. Rasanya mustahil bagi Janson untuk membuat buaya itu terluka, apalagi membuat kedua mata buaya itu buta, yang ada malah dia akan dilahap di dalam mulutnya saat buaya itu mdmbuka mulutnya, hal itu tentunya sangat beresiko.


Anaya yang sudah sedari tadi memanjat lubang di dalam pohon baru saja terlihat keluar dari lubang itu, dan tak ada yangmenghuni lubang didalamnya. Mungkin penghuninya sudah terlalu tua untuk berada disana.


Baru saja Anaya mencoba melongok ke bawah sana, Janson temannya sudah sempurna mendarat di punggung Aligator air tawar tersebut, Anak itu berusaha menancap nancapkan kayu tajam itu di punggung buaya untuk menyakitinya.


"Heaaahhh.. Heaaahhh!!"


Bukannya kayu itu menancap ke dalam daging bagian dalam malah, tangan Janson yang terluka sebab kulit di punggung buaya itu sangat tajam, kayu tajam yang berada di genggaman tangannya patah menjadi beberapa bagian usai kayu itu menabrak kerasnya kulit buaya tersebut.


Janson menoleh ke arah tangannya yang kini terus mengeluarkan derasnya darah dari sana.


"Janson!!" Teriakan lain terdengar dari atas pohon sana, tidak salah lagi itu suara dari Anaya yang kini berteriak karena mencemaskan Janson yang kini berusaha melawan sendirian pada seekor buaya raksasa.


Belum sempat Janson mendongak dan menjawab, buaya itu sekarang sempurna melepaskan moncongnya dari lubang kecil di pohon itu, sekarang buaya itu jengkel pada Anak yang sedari tadi ada dipunggungnya.


Getaran hebat dirasakan oleh Janson yang masih berada di punggung sang Aligator raksasa, membuat Janson hampir terjatuh dari punggungnya yang besar dan lebar tersebut, tangannya memegang kulitnya yang berongga namun tajam itu sekali lagi.


Membuat kedua tangannya kini terluka dan berdarah darah disana, tentu saja Janson merintih kesakitan, tertusuk jarum kecil saja rasanya amat menyakitkan apalagi tergores tangannya cukup dalam.


"Aaahhhkk!!" Janson tak tahan lagi dengan rasa sakitnya, kini ia berteriak.


"Janson!!!" Anaya masih berteriak dari atas pohon lalu berusaha memikirkan sesuatu agar Janson bisa keluar dari punggung buaya itu, di sebelah Anaya terdapatbeberapa helai tanaman menjalar yang tebal, hingga terbetiklah sebuah ide yang tak pernah ada sebelumnya.


"Aku akan menggunakan tanaman ini untuk berayun dan meraih Janson!" Anaya bergegas memutus tanaman menjalar itu, tanaman itu panjang hingga ada di berbagai pohon di sekitar mereka.


Anaya lamgsung melompat dari ketinggian lebih dari sepuluh meter. Dan ia berteriak sambil mengulurkan tangannya ke depan.


"Janson pegang tanaman ini!!"


Janson yang mendengar teriakan dari atas mendongak dan perlahan lahan mulai berdiri di punggung buaya yang masih terus bergerak ke sana kemari karena berusaha menjatuhkan Janson.


Tepat saat Janson terlempat dari punggung buaya, Tanaman merambat itu sampai disana dan di detik berikutnya tanaman itu tersangkut di dahan pohon lainnya. Meskipun ketinggian dahan pohon ini hanya Lima meter tapi lokasinya cukup jauh karena tanaman menjalar itu seolah memutari berbagai pohon yang ada.


Namun yang ada mereka sekarang entah berada dimana, dan lokasi mobil kakaknya ada di belakang mereka yang mungkin berjarak puluhan kilo meter.


"Janson sepertinya aku harus menggunakan cara ini," Anaya berseru sambil sesekali menarik nafasnya yang terdengar tersengal sengal.


"Ash.. Tanganku!" Rintih Janson.


"Kenapa? Oh astaga.." Anaya melihatnya, tangan temannya kini berdarah darah. Karena mereka meninggalkan alat alat mandi dan dedaunan sekarang yang ada hanya ada baju mereka. Beruntungnya Anaya punya pita yang menjadi hiasan di bajunya saat ini, ia membuka pita yang ada dipinggangnya lalu membalut tangan Janson dengan benda itu.


"Maaf karena aku tak membawa obatnya, supaya tidak infeksi kita pakai pitaku dulu ya." Anaya merobek pitanya menjadi dua dengan ranting tajam.