TO THE DEAD

TO THE DEAD
Obrolan Amelia dan Fariz



Taman yang indah dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, Amelia duduk di sebuah bangku yang berada di tengah tengah pekarangan bunga.


Fariz masih berdiri di belakang Amelia, beberapa saat kemudian ia mulai memberanikan dirinya untuk mulai melangkah mendekati Amelia yang tengah duduk di kursi taman yang terlihat sedikit basah karena air hujan yang turun beberapa saat lalu, sebenarnya hanya rintisan saja yang turun. Namun itu tetap saja bisa membuat basah kuyup karena kehujanan, baju Fariz juga terlihat basah di beberapa tempat.


Langkah Fariz terlalu pelan karena tidak ingin Amelia merasakan lagi rasa yang tidak nyaman seperti barusan.


"Meli, apakah kau baik - baik saja? Aku hanya berfikir bahwa kau tidak nyaman tadi. Aku juga merasa bersalah karena membuatmu jengkel, maaf." Fariz sekarang ini berada disampingnya ikut duduk di bangku taman.


Amelia tidak merasa mendengar kata kata Fariz barusan. Amelia malah sekarang jadi terduduk menatap rumput di bawah kakinya. Entahlah apakah yang ia pikirkan sekarang.


Mungkin perasaan Amelia sekarang ini banyak diantaranya sedih, " Aku takut jika suatu hari nanti aku akan pergi meninggalkan dirimu dan juga keluargamu Fariz, dan Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting untuk saat ini padamu.." Bukannya menjawab pertanyaan Fariz barusan Amelia malah membuat percakapan berbelok ke arah lain.


Membuat kecemasan Fariz kepada Amelia berkurang banyak karena Amelia sekarang ini sudah membuat Fariz penasaran akan hal - hal yang ingin Amelia katakan sekarang.


Fariz mendekatkan duduk dengan posisi miring, kini tatapan Fariz terlihat lebih serius dan lagi tangan Fariz sekarang ini mencengkram lengan Amelia dengan lembut.


"Hal apa yang ingin kau sampaikan padaku Meli? Cepat katakan jangan membuat ku merasa penasaran seperti ini." Rasanya Fariz tidak sabar lagi untuk menghadapi ucapan Amelia, kata yang terucap oleh Amelia begitu berbelit - belit padanya. Jadi apa yang sebenarnya Amelia ingin sampaikan padanya?


"Fariz, Anakmu Janson masih belum meninggal, dia masih hidup."


Setelah mendengar suara yang terlontar dari bibir Amelia sahabatnya, Fariz merasa tercengang, bahagia sekaligus tidak percaya mendengarnya.


Fariz sampai berdiri dari duduknya demi mendengar kalimat tersebut.


"Apa yang barusan kau katakan padaku?" Fariz sekarang ini berada tepat di depan wajah Amelia, sejak Amelia duduk di bangku taman sosok gadis kecil itu tidak lagi kecil tetapi menyetarakan umurnya dengan Fariz wajah Amelia turut beribah seiring ia mengubah status umurnya. Fariz memegang kedua bahu Amelia sambil mencengkram kuat kedua bahu Meli, membuat Meli sedikit meringis menahan nyeri, walaupun Amelia berubahpun Fariz tidak mempedulikan itu.


Amelia sekarang telah menyinggung Fariz putranya, semua sihir ajaib tidak ia hiraukan selain Anaknya.


"Aauuu... Fariz.." Amelia merintih kesakitan.


"Meli, cepat katakan!" Fariz mendesaknya.


"Lepaskan tanganmu dahulu, kau menyakitiku.."


Fariz seketika melepaskan tangannya dari bahu Amelia, dia baru saja menyadari satu hal.


'Apa yang aku lakukan!!?' Gerutunya sembari mengacak acak rambutnya, Fariz memutuskan untuk kembali duduk di bangku taman.


"Maaf Meli, jika aku tadi tidak sadar telah menyakitimu.. Aku sungguh stes selama ini memikirkan Janson, kapan dia kembali. Sudah hampir setahun dia tidak ditemukan. Bahkan hanya sekedar jasadnya saja.. Hiikk.. Hiiiikk." Fariz menutup wajahnya sambil tangannya bertopang di kedua lututnya, sementara kedua tangannya menutup rapat kedua wajah seolah tak ingin Amelia melihatnya menangis.


"Uhh bahuku merah karenamu, aku tidak mengerti denganmu tadi kau mengusirku, setelah aku menyebut Anakmu baru kau mengejarku. Sekarang kau memaksaku! Fariz jangan terlalu mencemaskan mereka, aku melihat mereka baik baik saja. Mereka bersama dengan orang asing tapi mereka bisa di percaya, cepat atau lambat Janson akan pulang. Kau tidak perlu sedih berkepanjangan.. Aku akan pergi, tugasku selesai.."


Tangisan Fariz terhenti saat Amelia bilang ia melihat Janson, dan mereka bersama orang asing. Fariz menoleh ke belakang karena ingin bertanya tapi, sosok Amelia telah hilang dari sana.


Yang tersisa hanya henbusan angin menerpanya di taman indah itu.


...*****...


Mentari yang tadi terik sekarang beranjak tenggelam ke arah barat, ujung cahayanya masih terlihat.


Keadaan hutan sekarang berubah menjadi gelap remang, cahaya lampu minyak segera penduduk pasang di depan rumah atau di dalam rumah.


Kunang kunang berwarna hijau dan kuning bermunculan di sela sela rumput ilalang setinggi betis. Terlihat indah beterbangan mencari makanan.


Beberapa burung hantu terdengar bersuara. Sementara orang orang yang berada di dalam rumah belum terlihat, mungkin tidak tertarik berada di luar.


Anaya yang termenung sambil memeluk kedua lututnya menoleh mendengar seruan dari arah sampingnya.


Melihat sahabat dekatnya memanggil dan duduk di sebelahnya Anaya menjawab pertanyaan tersebut.


"Aku, tidak sedang apa apa." Mata Anaya mengejap cepat lalu memalingkan pandangannya, ia menatap lurus ke arah ilalang yang dipenuhi kunang kunang malam.


Keduanya larut dalam hening.


Janson beranjak berdiri mendekati salah satu ilalang dan mengangkap beberapa kunang kunang di genggamannya.


Grep!


Anaya di dekatnya berhenti memperhatikan ilalang dan menatap ke arah Janson dengan heran.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa lagi, menangkap kunang kunang lah, lihat ini mereka indah bukan!" Janson meluruskan tangannya di depan Anaya.


Terlihat jelas kunang kunang itu membuat tangan Janson sedikit bercahaya di sela selanya.


"Bagaimana Aku melihatnya? Kunang kunangnya tidak terlihat Janson!" Anaya memalingkan lagi pandangannya ke arah semak semak hitam yang terlihat gosong, mungkin habis terbakar.


" Oh iya ya, baiklah aku akan meletakan beberapa kunang kunang pada lampion gantung ini saja. Aku sudah membawa makanan Kunang kunangnya." Janson menaburkannya du dalam lampion itu, setelah selesai Janson meletakannya di ilalang.


Janson kembali dan duduk di sebelah Anaya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Lihatlah kunang kunang hijau ini Anaya, dia bagus sekali bukan?" Janson membuka tangannya di depan Anaya.


Anaya melirik telapak tangan Janson, Janson memang benar cahaya hijau yang berada di punggung hewan itu bintik bintik kuning hijau dan terlihat indah saat terbang, membuat terang sekitar.


"Aku melakukan ini untukmu, supaya kau tersenyum lagi dan tidak murung. Aku belakangan ini mencemaskanmu Anaya. Rasa khawatirku tak kunjung hilang saat kau dalam bahaya, aku takut kehilanganmu. Kau begitu berharga untukku." Janson jujur pada Anaya, wajahnya yang tadi ceria berubah sedih tatapannya tertuju ke bawah rumput kakinya.


Mata Anaya terbelalak ia sontak menoleh pada Janson.


"Jangan berkata seperti itu, Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi. Jangan mengkhawatirkanku lagi, kita sudah melalui masalah. Semuanya sudah selesai, tolong jangan sedih.. Biar Aku saja yang sedih jangan kau juga.." Anaya memegang pundak Janson.


Janson menatap Anaya lekat, mata mereka saling menatap dan saling berkaca kaca karena menahan air mata yang hendak jatuh.


Janson menggenggam kedua tangan Anaya lantas mengangkatnya dan meletakan tangan Anaya di kedua pipinya yang hangat.


"Terima kasih Anaya,.." Janson berkata lirih, mata birunya berkaca kaca. Begitupun mata coklat Anaya.


"Hiks.. Hiks.. Hueeee" Anaya menangis saat itu juga setelah Janson berkata hal seperti itu.


Janson perlahan merengkuhnya, Anaya menangis keras di pelukannya.


Sementara di jarak dekat kunang kunang itu berkerumun di sebuah lampion yang bertuliskan sesuatu di sisi lainnya.


"Anaya Jadilah Perempuanku"