TO THE DEAD

TO THE DEAD
Galih mengenal Xin



Ruangan dengan bentuk kotak besi yang terdapat di kedalaman tanah puluhan meter itu tampak lengang sbeberapa saat, Galih nampak berfikir serius saat memperhatikan sekitar, ia menyadari ada sosok yang melayang ada di tengah ruangan.


Ini adalah hal yang tak terduga yang pernah ia alami seumur hidup, Xin yang hampir berwujud tak terlihat itu nampak mengambang di atas tanah beberapa senti.


Penampilan nya saat dilihat oleh Galih memang sedikit pucat, serta memiliki mata merah darah yang memancarkan aura mengancam dengan tekanan. Mata galih mencoba tak menatap mata itu terus menerus karena ia serasa sesak nafas seketika.


Maka dari itu Galih di saat selanjutnya tak menatap mata Xin secara langsung.


"Ada apa? Janson ku suruh tutup mulut kalau dia bertemu denganku, aku memang sengaja membohongimu, jadi jangan salahkan adik kecilmu. Namamu?"


Galih terlihat tak senang berbincang dengan Xin, namun ini bukan saatnya tuk berdebat, ada sesuatu yang harus segera diketahui olehnya tentang Xin.


"Galih Akbar!" Menjawab ketus.


Xin hanya mengangguk, tangannya masih bersedekap di balik bajunya yang berlengan panjang, meskipun siluman rambutnya selalu ditata rapih bersanggul. Karena bentuk sanggulnya yang berbentuk bunga, maka bisa dipastikan rambut Xin memang panjang. Setelah tinggal di bawah tanah selama sepuluh tahun lamanya.


"Apa yang harus ku panggil, kak atau galih. Sepertinya kita seumuran." Xin berada tepat didepannya. Tinggi Xin hanya sebahu galih. Xin harus mendongak untuk bisa menatap wajah Galih.


"Aku berumur 23, jelas kau harus memanggilku kak, tapi karena hanya berbeda tiga tahun panggil galih saja cukup." Galih menoleh ke arah lain. Xin sedikit tertawa melihat kelakuannya, "Untuk usia siluman, 20 tahun itu adalah masa balita, yang berarti tak lebih dari bayi. Siluman sebenarnya senja kala ia berusia 100 Abad, atau sepuluh ribu abad. Hal itu bisa diketahui dengan banyaknya sifatnya yang mulai pudar dari lupa ingatan, wajah yang mulai tak beraura juga bebauan khas yang berkurang. Itu hanya pengetahuan umum yang ku tau dari mendiang orang tuaku, sebenarnya mereka tak benar benar binasa, hanya saja mereka telah berubah menjadi inti jiwa. Itu yang mendasari perjalanan ini, aku ingin kedua orang tuaku mendapatkan tubuh yang layak." Xin menjelaskan dengan saksama situasi yang sebenarnya pada Galih, tak ada rahasia yang ingin disembunyikan olehnya saat perjalanan petualangan ini dimulai.


Bagaimanapun juga Janson adalah temannya Naya adiknya, Dan ia yang bertanggung jawab menjaga Janson sampai ia kembali ke kota Bansar.


Galih berpikir sejenak sekedar untuk memikirkan semua hal yang diucapkan oleh Xin sesaat tadi.


Sejak dahulu masalah ini bukan hal yang sepele juga bukan hal yang sederhana.


Kemunculan siluman Wayana membawa banyak misteri yang muncul di benak orang-orang, sejuta pertanyaan sejuta misteri terlontarkan. Tentu saja hal itu menimbulkan banyak rasa sakit, kehancuran yang dibawa oleh siluman itu 40 tahun lalu merupakan suatu bencana yang tak dapat diduga ataupun diprediksi dia datang entah karena apa dan mengamuk sampai hampir menghancurkan satu kota.


Membuat semua orang trauma membuat suasana menjadi mencekam, membuatnya menjadi sejarah panjang yang kelam.


Terlebih lagi itu sudah dikabarkan di berbagai kota termasuk Kota Soro. Kota yang berada tepat bersebelahan dengan Kota Bansar yang berjarak sejauh 300 kilometer.


" Baiklah Baiklah aku akan menyetujui rencanamu, tapi bagaimana kita harus memulai? Darimana semua kejadian kejadian ini berawal, bagaimana kau menemukan petunjuk awalnya?" Galih bertanya pada xin.


"Awalnya tak penting bagiku manusia, tapi aku menemukan satu petunjuk." Jawab Xin.


"Hei hei hei, bagaimana kau tidak mempunyai rencana atau petunjuk apapun mengenai awalnya? Kesimpulan perjalanan ini dan tujuannya masih abu abu! Aku takkan pernah mengizinkanmu membahayakan Janson Adikku!" Kini Galih tak punya pilihan selain mencegah, ia tak percaya begitu saja dengan penjelasan Xin! Ia bisa saja menipunya ataupun menggunakan sihir, kemampuannya sangat tak bisa diatasi oleh galih, meskipun itu hanya sihir tingkat bawah.


Janson beranjak dari duduknya setelah Galih mencegahnya pergi untuk mengikuti Anaya dan kakaknya, "Kak, jangan-"


"Cukup!! Janson kakak tak peduli dengan masalah tentang keluarga Anaya, ini bukan urusan kita. Siapapun Wayana itu dia jelas memiliki alasan kuat untuk menawan Anaya demi mendapatkan siluman ini!"


"Tak masalah, aku dan Adikku juga sudah memiliki jalur alternatif, tapi sebelum kau pergi tuan Galih. Kau harus ingat sedang berada di daerah mana sebelum mengajak orang orang disini menurutimu ataupun pergi dari sini seenaknya." Xin bergerak cepat lantas mengikat tangannya di waktu yang cepat, 20 detik. Dibuatnya Galih pingsan kemudian diletakkan di tempat tidur Xin.


"Bagaimana ini kak, kak galih tak setuju Janson pergi bersama kita." Anaya berseru pelan, kepalanya menunduk karena ia yang merasa paling bersalah sekaligus sedih karena tak mampu menjalankan petunjuk pertama.


Anaya baru kali ini menatap wajah penuh amarah Galih, selama ini Galih yang Anaya lihat adalah Galih yang ramah padanya dan tak pernah berprasangka buruk sedikitpun. Kini situasi menjadi rumit dan runyam.


"Kak Xin, kakakku cuma marah sebentar kalau kita berangkat sekarang dan sudah sampai amarahnya pasti reda. Tenang dia hanya kakak tiriku yang super cemas, Anaya tak usah sedih.." Janson menghiburku sembari memegang bahuku.


"Kak galih pernah lebih marah dari hari ini, saat kerjaannya kacau balau karena perbuatanku, di esok harinya kami kembali akur. Sudah ayo berangkat, aku sudah tak sabar memulainya.." Jelas Janson.


"Hei nak, apa kau ingin tau rahasia lagi tentang kenangan yang terputar sebulan depan?"


"Iya,"


"Jadi kau mengikuti kami hanya karena hal itu, tapi tenang saja kami hanya pergi seminggu. Di minggu ketiga kami kembali." Xin tersenyum simpul.


"Aku ingin tau tentang nenek Anaya kak, kalau masalah itu sederhana saja. Rombingan itu pasti akan menyelesaikannya dengan mudah, setelah semuanya kembali Janson ingin bersekolah dengan Anaya.


"Baiklah, ada tiga manusia di tim ini aku akan melepaskan ikatannya termasuk membuatnya sadar dengan cepat." Xin mengeluarkan sihir dari tangannya, kemudian tangan itu terlihat bercahaya lantas ia mengusapkan aura sihir di kulit Galih tanpa menyentuhnya.


Tubuh tak sadarkan diri Galih terlihat perlahan pulih kembali, seakan baru bangun dari tidur panjang Galih menatap bingung sekeliling.


"Dimana ini?"


Janson yang melihat kakaknya kembali sadar segera menghampirinya sembari berseru.


"Kakak!!"


Galih bingung dengan Janson yang tiba tiba memeluknya, lalu ia menatap ke arah lain. Xin dan anaya tetap duduk tak mempedulikan drama kakak Adik ini.


"Oh, aku ingat barusan aku terjungkal lalu menemukan kalian di sini, berdebat dengan wanita itu lalu tak sadar." Galih memegang keningnya sambil memijat pelan di daerah situ.


Janson duduk di samping kakaknya, sambil sesekali menatap Anaya.


"Kak, apa kakak sekarang mau mengemudi ke luar kota? Tadinya kak Xin akan membiarkan kakak di sini dan kami meninggalkan Kakak, tapi karena aku yang meminta jadi kakak disadarkan lagi. Kak aku ikut mereka karena aku mau melihat wajah ibuku kak. Waktu di rumah sakit kami pergi ke suatu lorong dan melihat waktu. Aku melihat wajah Ibu di sana kak dan aku senang. Ayolah kak antarkan kami." Rengek Janson.


Galih terdiam seketika, dari buku yang ia baca tentang kisah Ibu Janson merupakan bagian dari siluman tapi mereka tinggal di bawah air. Galih tak punya pilihan lain lagi selain mengangguk mengiyakan permintaan itu. Janson kini sudah tau kebenarannya, maka tak ada lagi yang bisa mencegahnya.