TO THE DEAD

TO THE DEAD
Bertarung tanpa alasan



Aura itu semakin mendekat ke arah mobil Galih, Xin merasakannya sebelum Aura itu benar-benar sampai ke titik di mana mobil Galih berada di tepi jalan.


Sebuah lubang berbentuk oval memanjang terbentuk dari sana, dari jarak 10 meter 3 orang keluar dengan wajah gelisah, Xin langsung keluar dari mobilnya dan melesat ke arah mereka bertiga di samping pilinan lubang oval yang kini berangsur-angsur menghilang.


Sebuah pukulan aura besar mengarah pada Ketiganya, namun segera ditangkis oleh wanita yang ada di tengah sedangkan dua yang lain Bergas mundur ke belakang.


" Apa yang terjadi?"


" Siapa gadis ini tiba-tiba menyerang? apakah kita dalam bahaya lagi!"


'Auranya sungguh mengerikan, Siapa gadis ini dan kenapa dia menyerang kami semua. Baru saja lepas dari jalanan mematikan itu dan sekarang harus menghadapi gadis ini pula? Oh aku sudah muak akan ku akhiri dengan cepat!'


Tanpa diduga oleh xin wanita di depannya bergerak lebih cepat darinya Dan segera melakukan penyerangan membekukan setiap gerakannya, dan yang lebih parahnya lagi dia kini tak dapat bergerak untuk sementara.


" Tamatlah sudah aku terpojok oleh satu serangan."


Xin mendadak Kehilangan kesadarannya kemudian ia terjatuh tertidur disaat ketiganya kini mulai mendekatinya dan mulai mencari tahu tentang dirinya.


...*****...


Suara gemeretak kayu yang terbakar memenuhi telinga xin yang berbaring di dekat ketiganya, samar-samar in mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka bertiga.


" Dia siluman Quena Apakah dia tidak berbahaya untuk kita kita baru saja keluar dari hutan kionh dan langsung disambut secara tidak ramah begini." Gerutu Rey yang barusan terkena goresan dari cakar harimau di dunia siluman.


" Aku tahu kau khawatir tapi anak ini tidak berbahaya. Asal kalian tahu dari semua siluman yang ada Ada cuma dia yang auranya masih baru. Sepertinya dia masih belum bisa menguasai sepenuhnya pengendalian aura. Kalian Jangan cemas ada aku disini aku akan melindungi kalian, terutama kau Heng." Quena berujar kembali pada teman-temannya.


" Apa yang kalian bicarakan?" Xin telah sempurna bangun dan langsung duduk setelah mendengar percakapan mereka tentang dirinya.


" Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku adalah siluman baru?" Tanya Xin karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka terlebih lagi ia belum tahu pasti apakah mereka bertiga adalah mara bahaya atau tidak.


" Itu mudah nak, karena aku tau kau baru berusia dua puluh tahun, siluman yang lama biasanya berumur ratusan bahkan ribuan tahun. Jadi kau termasuk anak baru lahir kemarin sore. Kau takkan bisa mengalahkanku!" Quena berseru.


"Cih, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang!" Xin tetap pada posisi bertarungnya.


Tak ada gunanya bagi Quena berbicara padanya jika Xin tetap saja mencurigainya.


"Dengar Nak kami ini berada di pihakmu.."


"Omong kosong aku takkan percaya, kau tak punya alasan dengan membawa dua manusia, pasti kau akan memangsanya juga!" Xin bergerak maju dan melepaskan sihirnya yang berbentuk padat, bagaikan jarum dilemparkan dalam bongkahan besar, bukannya menghindar Quena malah mengubah sihir padat itu menjadi cair dengan memanaskannya meggunakan sihirnya.


Aura sihir campuran bertebaran dimana mana.


Xin menggertakkan giginya, baru kali ini ia menemukan lawan yang ahli memakai sihir dengan menggagalkan serangannya. Padahal Xin telah melepaskan sihirnya ke berbagai arah, jangankan terkena bahkan sihir itu sudah dipatahkan bahkan saat menuju ke arah Quena.


Quena merasa aneh dengan aura yang dipancarkan oleh siluman didepannya.


"Siapa kau sebenarnya nak? Aku seperti tak asing melihat auramu, juga aura yang dipancarkan oleh matamu." Quena bertanya sejenak.


"Jangan mengalihkan perhatian, Ayo lawan aku!"


"REY!!" Sebelum Quena menjawab kalimat Xin, teriakan dari Heng membuat Quena menoleh.


Rey disebelah mereka memuntahkan darah, Heng panik dengan apa yang tengah terjadi.


Xin kembali membawa jantung ular yang telah ia masak, dan memberikannya pada Rey, "makan ini satu sendok." Quena tampak melihat dan memberikannya.


Seketika luka itu mulai terlihat menutup sendiri lalu hilang.


Quena seketika menoleh cepat ke arah Xin, "Apakah ini jantung ular Yama?"


"Aku tak tau ini ular jenis apa, tapi yang pasti ular ular itu terus masuk dalam kediamanku!" Xin menjawab.


'Jantung ular Yama adalah obat paling manjur dalam segala hal, bisa mengobati apapun walaupun itu manusia. Ular yama hanya ditemukan pada hutan Kionh dunia siluman dan termasuk hewan yang tinggal dalam gua. Dan disana juga tempat bunga Freziana yang juga fungsinya sama, namun dalam efek yang lebih rendah. Lantas bagaimana anak Siluman ini dapat memasak jantung ular yama? Dan lagi ular itu masuk di kediamannya!'


"Maaf, aku kira kau Siluman jahat, tapi setelah kau berusaha menyelamatkannya barusan aku jadi yakin, kau siluman baik. Maaf telah menyerangmu barusan. Dan apa kalian bersedia mampir di mobil kami, ada banyak ruang untuk kalian kami pinya kursi belakang yang kosong." Xin menawarkan pada Quena dan kedua temannya.


Quena mengangguk lalu membawa Rey dengan menggendongnya, Heng yang juga terlihat terluka akan diobati juga dengan jantungnular Yama, Quena juga ikut memakannya karena dia yang paling parah terlukanya.


...*****...


Quena melihat ada ketiga manusia juga didalam mobil, usai mereka masuk dan duduk di kursi belakang Quena membaringkan Rey disana.


"Rey," Heng menatap prihatin ke arah sahabatnya.


"Tenang Heng, sahabatmu baik baik saja nak, tak usah khawatir." Quena menghiburnya.


Ditengah percakapan mereka Anaya mulai terbangun karena mendengar keributan di dalam mobil.


"Ada apa ini, kok ribut sekali sih. Kak Xin apa yang terjadi?" Anaya mengucek ucek matanya.


"Tak ada apapun Naya, tapi kita kedatangan tiga tamu lain, coba lihat ke arah belakang sana." Xin menjawab.


Anaya bengkit berdiri dan menoleh ke arah kursi paling belakang. "Eh, siapa mereka kak?" Anaya bertanya penasaran.


"Tidak tau, kakak hanya menolongnya. Tolong perkenalkan diri kalian." Xin berseru.


'Bagaimana bisa Siluman ini memiliki adik manusia, dilihat dari sisi manusia atau siluman hubungan mereka amat ganjil.' Quen berguman dalam benaknya.


"Kau siapa?" Tanya Anaya pada pemuda ujung pintu.


"Namaku Heng, siapa namamu?" Tanya Heng pada Anaya.


"Namaku Anaya Prisila, dan yang terbaring ini siapa?" Tanya Anaya lagi.


"Dia Rey, dan di sebelahnya Quena."


Anaya mengangguk angguk sesaat, "Oh jadi nama kalian kak Heng, kak Rey dan kak Quena." Anaya menyebutkan semua nama nama itu.


"Panggil aku Nyi Quena. Bukan kak Anaya." Quena berseru tiba tiba, membuat Anaya menoleh padanya.


"Baik Nyi Quena."


"Anak pintar." Puji Quena.