
Anaya kembali tersungkur ke bawah tanah sana, ia terguling entah untuk ke berapa kalinya, bajunya penuh dengan bulir bulir tanah, tapi ia tidak kuasa untuk melawan wanita tua di depannya.
Berapa kalipun ia terbang dan mengeluarkan bola bola api, semua itu bisa dihindari dengan mudah oleh lawannya, membuat serangan Anaya tadi tidak berguna.
Anaya tersengal - sengal, masih berbaring di tanah, tubuhnya seakan remuk oleh pukulan wanita tua itu, Anaya mencoba merangkak dan berdiri.
Belum sempat melihat ke arah depan hantaman tak kasat mata kembali membuatnya terlempar jauh dari sana.
Syuuuu.. Whuuuss.. Bruk.. Braakk..
Anaya kembali terlempar kemudian bergulingan di atas tanah, kali ini bukan di tanah lapang melainkan semak berduri tajam. Seketika kulitnya tertusuk ribuan duri usai ia berhenti terguling. Anaya tak sempat merintih kesakitan sekarang, pertarungan masih jauh dari kata selesai.
"Apakah Putri Qiunaya sudah menyerah? Atau ingin melanjutkannya." Wanita itu bersenandung lagi dengan nada yang keluar dari mulutnya, sosoknya mengambang di ketinggian entah sedang mengolok olok Anaya atau justru kasihan.
Entah kenapa saat Anaya ingin bergerak dan juga berkata dengan nada amarah ia justru mulai lemas, dan mendadak ambruk ke tanah.
"Ja, janson.." Gumaman Anaya keluar di saat terakhir kesadarannya memudar, ia tidak kuat lagi melanjutkan pergulatan tersebut dengan kondisinya meskipun pertarungan Anaya dari awal hanya mengandalkan semangatnya untuk melihat Janson kembali di kediaman Heng, ia terbaring pingsan.
"TIDAK, PUTRI.." Wanita tua itu berseru panik lalu secepat mungkin turun dari ketinggian, melesat cepat menahan tubuh Anaya agar tidak ambruk ke tanah, kemudian mendudukan Anaya.
"Putri, katakan sesuatu!" Wanita itu mengguncang guncang tubuh Anaya setelah lama tidak ada respon, nafasnya terhembus pelan dan detak jantungnya nyaris hilang.
(Aku baik baik saja..) dengan tiba tiba mata Anaya langsung membuka. Mendengar seruan itu Wanita tua itu berseru bahagia namun ada yang salah pada sosok Anaya saat ini.
'Bukan! Ia bukan Anaya! Itu adalah sosok kedua dari dalam tubuhnya,' (Author)
Matanya merah mengkilap, kulit Anaya berubah menjadi hitam kecuali wajah dan leher. Sosok yang ada di tubuh Anaya mengendalikan sepenuhnya tubuh itu, sedangkan si pemiliknya tengah pingsan. Itu adalah dirinya yang lain.
Luka luka bekas pertarungan tadi dan tusukan duri duri itu kembali mengecil perlahan lahan dan hilang.
Wanita tua di hadapannya langsung beranjak memberikan penghormatan, tangannya mengepal.
"Salam Tuan Putri Qiunaya."
Anaya dengan matanya yang merah dan suaranya yang lirih, memutari Wanita itu dengan anggun.
(Siapa kau? Kenapa memanggiku di saat yang tidak tepat seperti ini, dan kenapa kau menyerang tubuh gadis ini yang lemah! Tidak bisakah kita bertemu dikala malam saja!") Anaya berkata lirih dan tegas, mata merahnya masih mengkilat menyeramkan, bahkan lebih menyeramkan dibandingkan Siluman lain.
"Hamba tidak memanggil Putri, Gadis yang ada di tubuh Putrilah yang mengikuti saya, maafkan kelancangan saya menyerangnya." Wanita tua itu memohon maaf, tanpa memandang Anaya menandakan benar benar menyesal.
("Anaya" Ini sebenarnya adalah setengah dari diriku wahai kaum Abadi.) Anaya berkata lirih lagi pada Wanita tua itu.
Anaya bangkit dari duduknya sesaat lalu duduk lagi, kini posisi duduknya bersila sambil terus mengobrol dengan orang yang didepannya.
"Begitukah," Wanita tua itu beranjak berdiri ketika tubuhnya digerakan dari jarak jauh oleh Anaya.
("Ya, Mendiang kakekku memberikanku dua nama, Anaya yang artinya 'Fana,' dan Qiunaya yang artinya 'bangkit.' Artinya ketika setengah dari diriku mati, aku akan menguasai ruang sepenuhnya dari tubuh ini. Tapi untuk sementara aku yang terasingkan di dalam diriku sendiri, bahkan tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuaku dari maut. Huh tidak masalah, aku yakin orang tuaku tidak akan musnah secepat itu, mereka juga punya rahasia kecil yang tidak mereka ketahui..") Wanita itu mendengarkan secara seksama.
(Ngomong ngomong, bukankah kita tidak pernah bertemu? Kenapa kau bisa tau aku ada di sini?) Tanya Anaya.
"Tuan Putri, Saya ingin memberikan sedikit informasi pada Putri." Raut wajah Wanita tua tadi banyak berubah dari santai menjadi serius.
*****
Angin berhembus kencang seraya kalimat Wanita tua tadi tentang INFORMASI PENTING tersebut pada Anaya.
Anaya bangkit dari duduknya segera lalu menatap tajam dengan ekspresi serius yang mengerikan.
(Informasi apa? Cepat katakan padaku, aku tidak punya banyak waktu untuk tetap berada di simbol EMPAT AIR ini.) Anaya berkata serius dengan nada yang tetap lirih.
"Ini tentang Ratu Shayana dan rencananya Tuan Putri, tidak lama lagi serangannya tidak hanya ini, melainkan satu kota kecil itu, entah berapa banyak siluman yang akan Ratu Busuk itu libatkan." Wanita tua itu berkata serius.
Anaya hanya bisa terdiam sambil berfikir keras, (Entahlah, aku tidak tau harus melakukan apa, aku saja sulit keluar dari lingkaran pelindung yang menyegelku dalam raga ini, apalagi mengalahkan Ratu itu yang sejak lama mengincarku, Dewi Ratu Shayana bahkan melibatkan banyak orang yang tidak tau menau tentang perkaranya, ini semua demi ambisinya menguasai kerajaan. Berusaha merebut tahta pasti Kakekku, kemudian berusaha melenyapkan Ibuku sedari ia berada di kandungan Nenekku. Hal itu gagal karena Kakekku dari awal melindungi janinnya. Dan Ibuku menikah dengan Ayahku yang juga bukan keturunan biasa. Dan kini Shayana berfikir aku adalah ancaman karena keturunan yang hilang itu! Kini kekuatanku memang masih kecil. Tapi usai aku melatihnya, aku akan setara dengannya.) Anaya berujar sembari menceritakan Kronologi singkat asal usulnya.
"Hamba tau Anda merupakan Titisan dari keturunan Raja Kezi yang tersingkirkan dari istana itu, Tuan Putri Qiunaya, tapi kenapa Anda melepaskan gelang pemberian dari Kakek anda?" Wanita itu bertanya karena melirik pergelangan tangan Anaya yang kosong.
("Aku sengaja kok meninggalkannya supaya mendapatkan bantuan dari Anak itu, sekarang ia pasti berfikir ia tidak gagal melindungi Kakekku dari Ibunya, karena aku masih bernafas. Aku keturunan dari dua kerajaan sekaligus. Sekarang tugasku adalah liburan di bagian kerajaan Soro. Dan diam diam separuh tubuhku akan mendapatkan petunjuk itu sendiri. Boleh aku tau namamu? Wahai kaum abadi yang sama terhormatnya.") Anaya membalikan dirinya.
"Namaku adalah Nyi Yunha. Dari Kerajaan Air wilayah Selatan." Jawab Nyi Yunha.
Anaya tertegun. Ini untuk pertama kalinya kerajaan Air mengunjungi kerajaan darat kecil seperti Kota Bansar dan Soro.
("Aku tidak yakin kau hanya berkeliling di kerajaan ini, apa tujuanmu? Bukankah perang beribu ribu abad itu telah usai.") Tanya Anaya kembali.
"Aku disini tengah mencari seorang Pangeran, Putri. Pangeran penguasa kerajaan 'Air'." Nyi Yunha berterus terang.
("Pangeran, sungguh!") Anaya berseru memastikan, wajahnya seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar ini.
Sekali lagi Nyi Yunha mengangguk memastikan kebenaran itu. ("Bravo aku tak perlu bantuan kerajaan kota soro kalau begitu cukup manfaatkan Pangeran Kerajaan 'Air' ") Batin Anaya.
"Apakah Anda tau Tuan Putri?" Tanya Nyi Yunha.
Anaya menggeleng kuat kuat. Nyi Yunha mengangguk dan melesat pergi mencari Pangeran itu.
Sedangkan Anaya melesat kembali ke arah Timur tempat kediaman Heng berada.