TO THE DEAD

TO THE DEAD
Salah faham 2



Yu Jian masih berusaha menurunkan suhu di sekitar area pertempuran. Panglima tersebut berusaha sekeras mungkin menyelamatkan sisa pasukannya. Meskipun sebagian yang lain telah terpapar suhu panas ribuan derajat Celcius, Hampir 1/4 dari pasukannya tewas terkena suhu tinggi.


Tapi, semua itu memang biasa jika berbicara tentang pertempuran. Jikalau ada yang hidup pasti ada yang mati, semua itu resiko dari sebuah pertempuran.


"Aku payah, benar benar payah!" Yu Jian merasa bersalah kepada para pasukan yang gugur di medan perang, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri.


"Ini semua bukan salahmu Panglima. Ini karna pertempuran masa lalu, kalian tau. Tidak hanya manusia yang mempunyai sejarah panjang tentang peperangan. Di dunia Siluman hal itu juga sering terjadi. Masalah utamanya adalah kekuasaan, ingin berkuasa, atau ingin merajai semua sudut di muka bumi. Lalu membiarkan Kebaikan perlahan sirna. Tidak peduli apapun juga. Tapi kalian berdua tidak terlihat seperti itu. Kalian berdua berbeda. Walau aku tidak mengerti sama sekali, bagaimana bisa manusia biasa seperti kalian bisa dengan mudah menenembus portal waktu? Apakah kalian siluman?" Ratu Shi ya sekarang menatap kepada Anaya juga Janson.


"Aku tidak mengerti Ratu." Anaya menggeleng menjawab polos.


"Tadi kan sudah ku jelaskan dari awal, kami hanya masuk menggunakan jalan rahasia, lantas tiba di terowongan. Eh, sampai di ujungnya kami malah melihat hutan! Aku sudah menjelaskannya bukan?" Janson menyergah pembicaraan antara Ratu Shi ya dan Anaya.


"Benarkah?" Shi ya sekarang mendekatkan wajahnya di depan Janson, seakan - akan Ratu Shi ya ingin mendengarkan celotehannya lebih lama.


"Itu memang benar, Aku juga tidak tau Ratu." Anaya melanjutkan pembicaraan yang tertunda karena Janson menyergah. Anaya menundukan kepalanya ke bawah.


"Kalian sepertinya harus tau peraturan perbatasan terlebih dahulu. Jika kalian sudah tau kalian akan mengerti mengapa Aku mendasak kalian terus menerus seperti tadi." Ratu Shi ya berbalik dan beranjak menaiki kuda putihnya. Lantas ia menggebah kuda itu kembali ke kerajaan siluman.


"Panglima antar kedua manusia itu melewati perbatasan! Dan ingat, Selalu jaga mereka." Ratu Shi ya berkata sebelum menaiki kuda.


Setelah Ratu mereka kembali, para pasukan yang tersisa mengikuti di belakangnya. Gerakan mereka seakan akan seirama seperti nada.


Anaya menatap tak berkedip ke arah belakang, meski pertarungan menegangkan itu telah merusak baju megahnya, Ratu Shi ya tetap terlihat cantik seperti biasanya.


Sekarang hanya tersisa Yu Jian, Anaya dan Janson saja di lapangan seluas 2 Kilometer.


"Kau akan membawa mereka pulang?" Tanya seseorang yang mendadak mendekat ke arah mereka bertiga.


Ketiga terkejut secara bersamaan, sementara Pamglima Yu Jian tengah memasang kuda kuda kokoh di depan kedua orang yang mendadak datang itu.


"Siapa kalian?" Yu Jian berkata tegas sembari sorot matanya menatap tajam ke arah depan. Anaya dan Janson di beri kode agar mundur menjauh.


Tentu saja Anaya tidak mengerti kenapa ada kedua orang itu di sini. Janson hampir tidak percaya kedua orang itu ada di sini.


Anaya serta Janson serempak menggeleng ke pada Yu Jian.


"Astaga Quen, Rey saat ini sungguh tidak percaya. Kita bertemu lagi dengan Gadis itu, juga bocah Lelaki itu. Tidakkah kau bosan telah mengintai mereka berdua berbulan bulan di dunia manusia? Kau hendak mengintai mereka lagi hah? Dan kenapa kau justru memangil Siluman itu!" Rey merasa kesal saat Quen seolah memihak Para Siluman.


"Aku punya urusan mendesak saja Rey. Hanya itu." Quen berbisik ke belakang, kepalanya menoleh ke wajah Rey.


"Huh! Baik baik selesaikan urusanmu.. Dan cepatlah.." Rey mendengus kesal sembari bersedekap.


Sedangkan Wanita yang di tatap Quen tidak mengubah kuda kudanya dan tetap menatap Quen waspada.


"Diam di sana!" Yu Jian berseru setelah Quen maju beberapa langkah, mendekat ke arah mereka.


"Nona, tolong jangan bersikap kasar pada mereka. Mereka bukan-" Anaya mencoba menjelaskan perihal keduanya kepada Yu Jian. Tetapi tangan Wanita itu lebih dulu bergerak cepat ke sekitar keduanya. Yu Jian kini sempurna membuat sebuah balon cristal yang kedap suara bagi mereka, namun suhu di dalamnya tetap, tidak akan panas atau dingin.


"Kalian diamlah terlebih dahulu di dalam. Mereka akan aku atasi! Hiaaa.." Tanpa ada peringatan atau bercakap cakap dengan Quen. Yu Jian maju menyerang keduanya dengan sebilah pedang.


"Hah!" Quen tiba tiba mundur dengan cepat sebelum pedang itu menyayat kulit dan membuat luka.


Anaya menggeleng geleng pada Yu Jian sambil berteriak teriak dalam bola cristal.


"NONAAA, NONA HENTIKAN. BIBI ITU ORANG BAIK! NONAA!" Anaya berteriak teriak terus menerus, membuat Janson menutup kedua telinganya rapat rapat.


"NONAAA!" Anaya kembali berteriak kepada Yu Jian agar pertarungan tidak berlanjut.


"Astaga Anaya hentikan! Telingaku sakit mendengarnya kau tau!" Janson berusaha menghentikan Anaya agar berhenti berteriak karena semua yang ia lakukan percuma.


"NONAAAA!"


Di depannya Yu Jian balas menyerang Quen, beberapa kali Quen terkena pedangnya, hingga menyebabkan beberapa dagingnya robek.


"Anaya HENTIKAN!" Janson ikut berteriak pada Anaya. Gadis itu menoleh setelah mendengar teriakan tersebut.