
Xin yang sekarang ini tampak marah jadi semakin marah setelah Anaya Adiknya tidak memahami apapun yang dia ucapkan sedari tadi.
Xin berbalik cepat dan mencengkram kerah bajunya, membuat Anaya tergantung dan tampak sesak nafas dibuat Xin.
"Aahkh, lepaskan apa yang kau mau dariku. Sesak sekali.. Lepaskan!!" Rintih Anaya.
Wajah Xin mengeras, tatapan matanyapun semakin merah menyala karena rasa amarah.
"Kau penyebab kedua orang tua kita mati, karena kau bergaul dengan hantu bernama Amelia itu!! Kau yang menyebabkan semuanya terjadi, dari dulu keluarga kita telah diburu apa kau tau!! Kau mungkin tidak tau bahwa nenek kita adalah buronan yang dicari di seluruh dunia siluman!! Kau malah mencari masalah dengan menunjukan auraku pada Amelia itu...!!" Bentak Xin pada Anaya.
Xin melemparkan Adiknya ke bawah, melepaskannya dari cengkraman setelah itu dia menepuk nepuk tangannya membersihkan auranya dari Anaya.
Anaya terbatuk batuk sambil memegang lehernya, rasa sesak lehernya kini berkurang banyak, Air matanya keluar di ujung mata karena menahan sesak nafas barusan.
"Apa maksudmu dengan keluarga kita yang diburu, nenek yang menjadi buronan. Apa maksudnya.. Aku kan masih sembilan tahun. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi aku sungguh tidak bermaksud menggiring Ayah dan Ibu pada kematian mereka.." Anaya menunduk sedih sambil mengingat semuanya.
"Sejak kau ada, aku dan kedua orangtua kita telah melihat jelas, kau mirip sekali dengan nenek.. Inti jiwamu adalah murni manusia Adikku.." Xin berbicara lagi.
"Lalu Ibu dan Ayah bagaimana??" Anaya mendongak.
Ketika itu pula suasana yang ada di sekitar mereka adalah kabut gelap mulai tersingkir secara perlahan, dan kedua orang yang Anaya kenali melangkah di sana.
"Ayah dan Ibu sekarang menjadi koma Anaya." Xin menunjukan kedua inti jiwa Milik Linda dan Hermawan dalam kotak pusakanya.
"Kotak, ayah dan ibu masih hidup?" Anaya beranjak mendekat pada Xin Qiunaya untuk melihat kedua inti jiwa milik kedua orang tuanya.
"Panggil aku Kak Xin dulu, kau ini apa tidak pernah sopan pada Kakakmu hah!!"
"Iya maaf Kak Xin."
Xin merentangkan tangannya dan tersenyum.. "Sini peluk Kakak."
Anaya tersenyum lalu memeluk Kakaknya yang memang telah menunjukan sesuatu padanya beberapa jam lalu padanya lewat mimpi.
"Akhirnya aku tidak sendirian lagi, aku takut sekali Kak.. Siluman itu selalu saja datang ke rumah dan beberapa bulan ini harusnya makanan sudah habis, rotinya lagi lagi muncul setelah beberapa roti berjamur. Di rumah banyak kejadian aneh setelah Ayah dan Ibu meninggal. Aku takut sekali Kak!" Anaya berceloteh selama di pelukan Xin.
"Walaupun kakak tidak terlihat olehmu, sebisa mungkin Kakak tak akan membiarkanmu terluka Adik. Kakak sudah berjanji pada kedua orang tua kita, Kakak akan terus berada di sisimu dan melindungimu. Kau itu sepenuhnya manusia, dan kau sama sekali tidak sama seperti Kakak. Kau tidak berkaitan dengan dunia yang penuh bahaya itu, sama seperti nenek kita. Nenek Laras." Xin mengelus punggung Anaya.
Setelah ungkapan Xin, Anaya melepaskan pelukan dan menatap Xin dengan tanya.
"Apa semuanya berawal dari sejarah Nenek kak?"
Xin terkejut atas ungkapan Anaya yang menyimpulkan tiba tiba.
"Ya, semuanya berawal dari sana.. Memangnya kenapa?"
Anaya terdiam mengingat beberapa lembar terakhir yang ada di buku yang pernah ia baca.
"Kisah nenek ada di salah satu buku milik Paman Fariz Kak, aku pernah melihat judul yang tertera di sana. 'Misteri Laras' tapi isinya hanya beberapa kalimat, 'Kami bertemu dengan wanita itu dan kami bawa, setelah sampai tujuan dia menghilang entah kemana..' lalu kalimat berikutnya 'Namanya Laras. ' Aku sempat kaget ada nama nenek di buku Paman Fariz tapi aku tidak bertanya karena itu mungkin cerita privasi."
"Memastikan sesuatu,"
"Tolong bantu kakak Anaya, kakak bisa menghidupkan lagi Ayah dan Ibu walaupun sebagai siluman, tapi kakak perlu memastikan dulu bahaya apa yang memburu keluarga kita selama hampir 100 tahun ini, nenek laras pernah bercerita kalau ia diincar dan dibenci seratus tahun lalu, usia nenek sekarang hampir 156 tahun, karena nenek hidup 100 tahun di dunia siluman maka beliau ke dunia siluman rata rata umur 16 tahun, ditambah 100 tahun dan 40 tahun sisanya membesarkan Ibu dan melihat kita cucunya. Kakak belum tau pasti akan seperti apa rintangan yang ada di depan karena kakak hanya mendengarkan cerita yang dibacakan Ibu dan nenek saja. Ibu melarangku mengetahui hal hal tentang siluman apapun itu bentuknya, dan nenek selalu bersedih kala melihatku tapi kala melihatmu justru beliau tertawa, apa maksudnya.. Untuk golongan siluman usiaku tergolong masih kecil sama seperti dirimu, dari yang kulihat semua siluman yang ada di kompleksmu rata rata adalah 100- 200 tahun, bukan siluman tapi hantu biasa.. Apa kau mengerti Anaya?" Xin berbalik dan melihat wajah Adiknya lagi yang tampak bingung sekali.
"Kakak aku bingung.. Apa bisa diulang lagi penjelasan tadi..?" Anaya menggaruk kepalanya.
"Haduhh.." Xin menepuk dahinya sendiri.
"Sudahlah aku sudah menahan jiwamu cukup lama, dan kembalilah. Ingat satu hal jangan biarkan siapapun terlibat dalam masalahmu, terutama Janson!! Siluman itu tampaknya juga membencinya karena silsilah Ayahnya temanmu yang dulu mengalahkannya kalau tidak salah kala 40 tahun lalu bukan? Berhati hatilah Adikku.. " Xin mengangkat adiknya ke atas ada selingkar cahaya yang melayangkan jiwanya, kedua sosok replika Ayah dan Ibunya sengaja ditampilkan saat Anaya tertidur di kamar oleh Xin, supaya Anaya mengerti namun gadis itu malah semakin bingung.
Saat cahaya itu mulai menghilang tinggallah Xin sendiri di dalam kegelapan itu, ia menyalakan lampu lampu kecil di sepetak ruangan gelap berkabut itu.
"Sejak Anaya lahir dan ragaku tercipta, Ayah dan Ibu memberikan ruang gelap berkabut dimensi ini padaku, semua yang aku inginkan sudah ada, dan makanan tentunya. Aku hanya bisa keluar sebulan sekali, ruang ini disegel dengan darah kedua orang tuaku dan sekarang segelnya takkan bisa terbuka. Yah ruang bawah tanah itu harusnya tak pernah ditemukan Anaya bukan? Lagi pula dia bukan siluman takkan bisa membukanya.. Yah mungkin ini memang yang seharusnya.." Gumam Xin sembari meneteskan satu tetes air mata.
Ia memulai sebuah rancangan kisah dimana ia menuliskan nama nama keluarganya dan silsilah masalah, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, pusaran misteri apa yang menyelimuti keluarganya.
Pertama ia menulis nama neneknya di sana, kedua ia menggambar akar dan menuliskan nama ibunya, sedangkan di sebelahnya ia menulis nama Ayahnya beserta tanda plus.
Akar keluarga Anaya.
(Laras)
//
(Linda) \+ (Hermawan)
// \\
(Xin Qiunaya ) (Anaya prisila)
Pertama neneknya namanya dikelilingi lingkaran, dan Xin menggambar tanda Plus.
"Apakah nenek menikah dengan siluman atau semacamnya hingga mendapatkan masalah?"
(Laras) \+ (.....)
//
(Linda) \+ (Hermawan)
// \\
(Xin Qiunaya ) (Anaya prisila)
"Aku perlu beberapa jus buah, aku akan ke taman di ruangan ini dan membuatnya kepalaku terlalu banyak berfikir.. " Xin meninggalkan meja dengan catatan itu.