
Sungguh saat ini kejadian yang tak pernah terduga dari hari hari sebelumnya yang tenang dan damai, sekarang mereka hanya menunggu Galih sadar sejak tadi siang Xin tau bahwa Galih akan sadar pada tengah malam.
Maka dari itu, Xin memutuskan akan membawa kendaraan melaju di jalan raya. Ia akan mendorongnya dengan kekuatan sihir. Tak ada siapapun di jalan raya jadi ia bisa menarik atau mendorong gerobak besi ini.
Pertama tama Anaya dan Janson seperti biasa memasang sabuk pengaman untuk alat keselamatan, cuaca masih sore dan perjalanan mau tak mau harus berlanjut walau tanpa Galih yang menjadi pengemudi.
"Kakak yakin akan menggunakan sihir? Kakak baru saja berlatih selama seminggu. Apakah itu bukan ide yang bagus?" Anaya mulai meragukan kemampuan kakaknya.
"Anaya jika kita tidak melanjutkan perjalanan kakak khawatir akan bahaya yang akan datang dari hutan ini, tadi siang saja buaya raksasa, malam ini apa lagi. Apakah kau tidak takut? Ditambah lagi sihir milikku terbatas, tak bisa digunakan terus menerus. Sihir juga berhubungan dengan materi seperti asupan gizi, tapi kakak bisa mengubahnya menjadi sihir karena memakan binatang yang punya kualitas bagus, jika bergantung satu hari saja kakak mungkin tak bisa membantu kalian, jika sihir kakak habis kakak harus bertarung sengan kekuatan manusia biasa." Jelas Xin pada adiknya.
"Lalu, apa kakak bisa mengendarai mobil ini dengan sihir?" Tanya Anaya.
"Kak Xin, jangan kencang kencang mengemudinya ya." Celetuk Janson.
Mereka masih berdiskusi, dan Xin mempunyai ide yang bagus.
"Anaya, Janson. Kakak akan membuat mobilnya melayang sedikit di tanah. Itu lebih mudah dikendalikan dari pada pakai mesinnya." Ucap kakak Anaya.
Xin memulai sihirnya, ia kini menyalurkan tenaganya ke seluruh sisi luar mobil dan membuatnya melayang 5 centi dari tanah.
'Tidak terlalu sulit ternyata melayangkannya, namun masalahnya sihirku hanya bertahan beberapa menit.'
Xin langsung memacu kecepatan mobil itu. Anaya dan Janson terkejut dan sontak terjerembab ke depan, beruntungnya mereka berdua sudah memakai sabuk pebgaman. Kini tugas keduanya memegangi Galih yang masih pingsan.
Mobil Yoha merah itu melaju dengan cepat di jalanan, baru lima menit melakukan perjalanan mobil itu tiba tiba berhenti dan menghantam tanah.
Meski hanya 5 Senti, saat mobil melaju kencang dan berhenti lagi itulah penyebabnya adanya hentakan ke depan.
Namun jarak dari area sebelumnya lumayan jauh berjarak 1-2 kilometer.
Setelah lima kali menggunakan sihirnya dari lokasi awal mereka di tepi aliran sungai Xin akhirnya mengalami saat saat lelah. Ia berada di batas menggunakan sihirnya.
Beruntungnya Xin memangkas perjalanan menjadi setengah hari, jarak mobil dari pemukiman penduduk adalah 59 Kilometer lagi.
Kakak Anaya itu bergegas mengambil beberapa bunga dan beberapa hati ular perbekalannya, kini hanya tersisa 2 hati ular dan beberapa bunga buket bunga.
"Anaya sepertinya kakak perlu lagi bunga atau hewan hewan langka dunia siluman." Xin berseru dari depan.
"Apakah kakak tidak bisa menunda sampai besok? Ini sudah larut malam, lihat bahkan Janson baru terlelap." Anaya balas berseru.
Di sepanjang perjalanan tadi Janson dan Anaya sudah puas berteriak karena kaget oleh cara mengemudinya Xin. Sekarang situasinya sunyi dan gelap, tidak ada lagi daun daun berwarna hijau, yang ada di luar sana adalah kabut tebal.
"Tempat macam apa ini, kenapa banyak sekali kabut di sini." Tanya Anaya mulai memperhatikan sekitar.
"Gawat!" Xin bergumam pelan.
Anaya menoleh tidak mengerti menatap kakaknya. Sekali lagi menatap kabut kabut tebal di tepi hutan, kabut kabut ini menghalangi pandangan hingga menutupi jalanan, dan kini mobil tak dapat melaju lagi karena Xin kehabisan sihir.
"kenapa raut wajah kakak jadi berubah." Gumam Anaya.
Pepohonan saja tak terlihat di luar sana apalagi di tepi jalan raya, penyebabnya apalagi kalau bukan karena kabutnya yang menghalangi pandangan mata. Setidaknya kabut kabut itu tak mampu masuk ke dalam mobil milik Galih karena kaca dan juga celah celah mobil tertutup rapat oleh teknology yang telah dimodifikasi, bahkan ada oksigen cadangan di dalam mobil. Tapi masalah besarnya adalah mobil itu terlihat bercahaya dan mengundang perhatian penghuni hutan.
Kresek kresek
Terdengar suara sesuatu di luar sana yang sedang melakukan sesuatu di luar mobil, namun Xin menyuruh Anaya supaya tidak berisik, masih ada sihir terakhir dan Xin menggunakannya untuk memadamkan lampu di dalam mobil dan mematikan mesin mobil.
Tanpa perlu bertanaya pada Xin. Anaya sudah tau kalau situasi sangat mencekam sekarang ini. Dengan kabut setebal ini dan tak tau ada bahaya apa yang ada di dalam hutan sana, ini adalah keadaan paling mengarikan yang pernah ada, namun Anaya dan Xin memutuskan tidur.
Di sepanjang malam selalu saja ada suara bising yang terdengar di luar sana, entah makhluk makhluk seperti apa yang tinggal di lingkungan seperti ini, untuk melihat saja tak bisa.
Beruntung Galih terbangun saat waktu menunjukkan pukul 04.00 Pagi, jadi Lelaki ini tak pernah mendengar hal hal mengerikan yang ada di luar sana sebanyak yang Anaya dan Xin dengar.
Saat sinar matahari muncul ke permukaan bumi dan menyapu bersih kabut kabut, Galih mulai bangkit dan pindah posisi.
Anaya dan Xin masih tertidur di tempatnya dan Galih heran kenapa lokasi mereka ada di tempat paling berbahaya.
"Ke, kenapa mobil ini ada di tempat yang penuh dengan kabut beracun, aku harus segera memindahkan mobilnya segera kalau tidak oksigennya tak akan cukup!!" Galih segera menjalankan mobil tersebut hingga mereka keluar dari wilayah kabut itu. Beruntung wilayah kabutnya hanya sepanjang 10 kilometer, Yang berarti mereka tadi di titik awal kabut itu. Meski hanya di titik awal tapi tetap saja itu berbahaya. Galih terus melanjutkan perjalanan sepanjang 59 kilometer lagi.
'Bagaimana Xin melajukan mobil tanpa bahan bakar? Apakah ia menggunakan sihirnya sampai habis? Jika begitu aku tak boleh menyusahkannya lagi.'
Galih sudah melakukan perjalanan sejauh 180 kilometer dari kota bansar, dan sekarang mereka melewati dua gunung yaitu gunung Ireng dan putih, sedangkan tujuan mereka adalah pantai Gunung Bulo, jalanannya memang dibuat seperti itu. Kota soro adalah kota yang terletak di tepi pantai, ada juga beberapa warga yang tinggal di kaki gunung dan menetap.
Beberapa bukit tertinggi di sana berjumlah 4. Dan masing masing bukit berjauhan jaraknya.
Galih masih berfokus pada jalanan yang membelah hutan, di sepanjang perjalanan Janson mulai terbangun dari tidurnya, ia menatap senang kakaknya akhirnya bisa sadar setelah pingsan.
"Kakak, sudah sadar kak?" Tanya Janson mendadak.