
Bentrok kekuatan dari energi tak kasat mata kini telah terjadi di wilayah utara di perbatasan dunia siluman.
Teriakan dari Shi ya, rintihan dari prajurit yang terkena serangan dari Wayana, Tembakan pohon pohon berduri yang di kendalikan jarak jauh oleh Mayana, Yu Jian yang memekik pada sebagian prajurit agar melindungi, serta isakan Anaya menghiasi suasana peperangan tersebut.
Wayana yang tengah berada disisi selatan tengah bertahan habis habisan bersama dengan Mayana, karena bukan hanya pasukan Shi ya yang dirugikan, pihak musuh juga ikut merugi.
...******...
Quen meloncati batang batang pohon dengan gerakan yang indah, seakan ia tengah menari di setiap gerakannya.
Sementara gerakan Rey gesit seperti seekor tupai, yang lincah meniti setiap dahan yang ada di depannya. Rey bergerak seakan dahan dahan itu hanyalah sebuah tali penghubung antar pohon. Nyatanya setiap pohon yang berada di sana jaraknya hampir dua meter jauhnya.
Mustahil bukan jika mereka meloncat dari jarak sejauh itu, apalagi untuk seorang manusia biasa.
Tetapi wajar saja jika mereka dibesarkan di tengah hutan, tentu sering bergaul dengan para binatang buas, bahkan sebagian besar binatang seukuran harimau hanya teman bagi Rey, Heng ataupun Quen sendiri.
Catatan : * Manusia selalu menyesuaikan diri dengan sekitarnya, beberapa bahkan keluar dari zona aman atau nyamannya.*
Itulah yang terjadi pada Rey dan Heng semasa tinggal di liingkungan yang sama. Sementara Quen mungkin berbeda, karena memang persahabatannya dengan Rey dan Heng belum panjang.
Terkadang Quen masih enggan bercerita, atau menyendiri, pergi tanpa bilang kepada sahabatnya.
Entah dia sedang melakukan apa?
...*****...
Janson terus memperhatikan wajah Anaya yang serius sepanjang perjalanan ke perbatasan, tidak! Wajah Anaya serius semenjak ia bertengkar dengan Janson. Anaya hanya menangis sedikit lantas menghentikan tangisnya. Anaya tidak cengeng lagi di dunia siluman.
(Apa yang terjadi padamu Anaya? Kau banyak sekali berubah! Apakah aku tidak salah menyimpulkan ini, kau seperti orang lain bagiku.) Batin Janson yang sejenak termenung sebelum salah satu tanah tajam menghentikan lamunannya.
Anaya tetap fokus menangkis serangan, bahkan dari tiga arah yang berbeda.
Dari mana Anaya belajar bela diri? Pertanyaan Janson dalam benaknya, setau Janson Anaya tidak pernah bercerita pernah kursus bela diri. Anaya hanya bercerita ia itu suka memukul tanpa sadar pada samsak sedari kecil, itupun tanpa Anaya sadari.
Pada malam hari tertentu bahkan Anaya pergi seorang diri ke lantai bawah. Almarhum Ibunya bilang Anaya tidur sambil berjalan.
"Ini aneh Hermawan! Anaya berjalan tanpa melihat." Bukannya ikut berseru panik seperti istrinya, Hermawan justru mengabaikannya.
Ia bilang 'Penyakit seperti itu sangat lumrah terjadi, aku dulu tidur sambil menyetir Linda. Jangan membesar besarkan masalah.' Dengan santainya kalimat itu meluncur dari mulut suaminya. Linda menggeleng geleng mendengar jawaban konyol tersebut.
...--------...
"Janson jangan melamun! Kau melamun saat peperangan begini!" Anaya berteriak padanya karena hampir saja salah satu duri beracun mendarat di tubuhnya.
"Jangan melamun!" Anaya mengingatkan sekali lagi pada Janson.
"Iya!" Janson menjawab singkat sembari menangkis lagi beberapa duri tajam yang menghampiri, melindungi tuubuhnya dengan besi tipis.