TO THE DEAD

TO THE DEAD
Menolong Heng



Selamat membaca.


 


Rey berlari tunggang langgang ke arah barat sekitar beberapa meter, Rey segera mengeluarkan ramuan obat herbal.


"Bertahan Heng, bertahanlah." Kalimat Rey bergetar karena rasa kecemasan yang terus menggebu.


"Tidak masalah Rey, kau tidak perlu mengobatiku.." Heng berkata pelan, darah keluar dari mulut dan hidungnya.


"Berkata apa kau! Apa! Lukamu harus sembuh! Rey tidak mau tau!" Rey berusaha mencari obat dari ranselnya, terus mengeduk isinya.


"Kau tidak punya Rey, lagi pula racun milik Mayana tidak ada obatnya. Ini racun paling berbahaya, kau lihat kedua manusia itu sudah tewas bukan? Biarkan aku menyusul mereka, pengorbanan seorang Heng tidak ada apa apanya dibanding Rey." Heng masih terus berujar.


"Ku bilang berhenti..." Mata Rey mulai berkaca kaca karena menahan tangis.


"Rey," Heng mengelus ujung rambut sahabatnya berusaha menenangkan.


"Jangan cengeng seperti dulu, kumohon." Heng berkata pelan.


"Sejak pedesaan hancur, aku sendiri Heng. Orang tuaku tewas karena Mayana, semua karna ulah siluman ular itu. Kau datang dari kota bansar dan meninggalkan kehidupanmu lantas hik.. Lantas menjadi keluargaku. Aku tidak bisa untuk tidak menolongmu, kita sudah melalui ini bersama sama. Makan seadanya, tidur di bawah pohon pisang, kehujanan. Kau bilang kau hanya tersesat bukan di hutan, kau tadinya berkemah dengan yang lain." Mendengar Rey yang bercerita tentang masa lalu itu membuat Heng ikut bersedih.


"Jangan di ingat, keluargaku tidak ada yang mencariku karna memang aku hanya ikut Pamanku. Aku sama sepertimu kehilangan orang tua sedari kecil. Aku sebenarnya tidak bahagia di didik Pamanku, aku bahkan tidak di sekolahkan seperti anak lain. Aku hanya menjadi penonton di perkemahan, melihat Anak Anak lain yang menyalakan api, atau memanggang daging. Aku hanya menonton, tidak melakukan. Aku justru tengah kabur dari Bamanku yang kejam, meninggalkan Bibiku yang baik. Paman tidak kejam pada Bibi." Jelas Heng mengungkit tentang masa lalu kelamnya.


"Heng, Heng tidak boleh pergiii! Pokoknya tidak boleh!" Rey menggeleng keras.


Di atas pohon seseorang tengah mengawasi sebuah drama.


"Tidak ada yang pergi hari ini, cukup ketiga manusia itu saja. Heng akan selamat."


Dengan gerakan lincahnya Quen turun dengan kedua kakinya menyeloroti akar besar yang melilit pohon.


Wanita usia 48 tahun itu tengah memegang botol berwarna hijau.


"Ini penawar racun Mayana. Heng akan baik baik saja, tenanglah Rey." Quen memegang bahu temannya berusaha menahan tangis Rey.


Rey mengangguk mantap, mempercayakan semuanya pada Quen.


Sesampainya di bawah Quen melumuri dada Heng, perut dan bagian lengannya. Tempat Mayana menggoreskan pedang yang berlumur racun tersebut.


"Kita sekarang hanya bisa menunggu Rey." Kini Quen telah selesai melumuri obat pada tubuh Heng, Heng yang sedari tadi sadar kini mulai menutup matanya, membuat Rey tiba tiba berseru panik.


"Quen ramuan apa yang kau berikan!" Rey memarahi Quen.


"Tenang Rey, itu hanya efek samping, Heng hanya tengah pingsan. Karena tubuhnya membutuhkan istirahat. Sekarang kita bawa saja dia kembali ke pedesaan ya?!" Saran Quen.


Amarah Rey mengempis, ia mengangguk.


Apakah Eps kali ini horor?


A. Horor 👻


B. Biasa saja 💁


C. Tidak horor 😪


Silakan berikan pendapat kalian di komentar, kalian juga bisa memberikan kritik atau saran.