
Mobil berwarna merah yang sangat bagus terlihat mengkilap dengan Galih yang memakai kacamata hitam yang menawan, membuat perhatian di luar restoran menjadi tertuju padanya, terutama Gadis Gadis cantik yang ada di sana tahu betul bahwa dia merupakan anak pertama pasangan Fariz dan juga Amina dia putra tunggalnya, dan dalam sekejap mereka berkerumun ingin berfoto dengan putra pengusaha sukses yang selalu ada di berita utama kota Bansar.
Karirnya yang hampir setara dengan Ayahnya membuat Galih terkenal dan juga menjadi kebanggaan Ayahnya.
Sedangkan Janson yang menoleh ke arah Gadis Gadis itu justru di acuhkan oleh mereka.
"Kak Galih kita foto yuk.."
"Kak aku mau foto bareng.. "
"Aku juga, satu kali saja.. "
Galih perlahan membuka kacamatanya dan belum membuka pintu mobil yang terhalangi oleh Wanita wanita itu.
"Aku tidak punya waktu untuk melakukan foto bersama, aku sibuk. Menyingkir dari pintu mobilku!" Seru Galih dingin.
"Ayo semuanya, turun sudah sampai. Dan kalian berdua pesanlah makanan kakak akan bilang ke kasir supaya billnya dikirimkan lewat e-mail saja." Galih turun lebih dulu dan beranjak mendekati kasir restoran.
"Ish dasar, aku mau foto juga malah di usir, ini pasti gara gara dia bawa adiknya ini.. Memang dia selalu menyusahkan berada di manapun, bagaimana bisa jadi Adiknya Galih Akbar..." Celetuk salah satu es anita itu.
Janson mendengarkan semua omongan itu, sungguh dari dulu ia benci jika ia selalu dibandingkan seperti itu.
"Ada apa denganmu." Anaya memperhatikannya yang kini muram.
"Tidak ada, ayo kita makan. Dan Aliza lain kali kita jangan Ajak Kak Galih sama supir saja ya.. " Janson berseru pelan.
Aliza menoleh cepat padanya, "Mana bisa begitu. Kalau sama supir nanti kita gak bisa mengobrol santai tau. Kau tau juga kan supir suruhannya kak Galih lebih cerewet lagi. Aku tidak suka berada di dekatnya, dia bau!!" Aliza menyindir.
"Iya tapi setidaknya aku tidak dapat dihina lagi seperti tadi." Janson membalas berseru pelan
"Bukannya itu hal yang sudah kau dengar berkali kali, kenapa kali ini kau agak emosian?" Aliza heran.
"Baru kali ini aku dipermalukan di depan Anaya. Aku mulai membencinya."
"Eh.. " Anaya yang sudah melangkah jauh berbalik dan memperhatikan.
Setelah mengatakan kalimat itu, Janson melangkah pergi berlawanan arahnya dari menuju restoran.
Anaya yang teringat kata kata galih tentang.. (Aku serahkan sisanya padamu.) Membuatnya kini menjadi lebih waspada akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Anaya berbalik dan berlari ke arah Aliza.
"Ada apa dengan Janson?" Tanya Anaya setelah sampai.
"Kau lebih baik tidak tau, dan ayo kita masuk." Bujuk Aliza mencoba membuat Anaya mengabaikan Janson.
"Tidak, kalian adalah tanggung jawabku. Kak Galih masih di dalam masuklah jangan ikuti aku, aku akan kembali sebentar lagi." Tanpa menunggu balasan Aliza padanya Anaya langsung berlari menyusuri trotoar pejalan kaki.
Janson berada di dekat halte bus ia terlihat duduk di sana.
Anaya memperlambat langkahnya ketika hampir tiba di sana.
"Untuk apa menyusulku masuk dan makanlah, apa kau tidak lapar?" Janson menatap dingin lurus ke arah depan ia tidak menengok sama sekali.
"Ada apa denganmu? Kenapa tiba tiba pergi."
"Sudahlah ini bukan urusanmu Anaya, kau kembali saja dan makan."
"Aku ingin disini saja, bersamamu." Jawab Anaya serius.
Anaya yang kini melihat raut wajah Janson berubah mengangguk pelan.
...*****...
Mereka kini hanya memperhatikan orang orang yang berlalu lalang di sekitar halte bus kecil itu.
Anaya menatap Janson perlahan yang terlihat kembali melamun di sampingnya, tatapannya memang ke arah salah satu gedung yang ada di hadapannya tapi fikirannya ada di tempat lain.
"Kau kenapa, apa yang kau fikirkan?"
Janson menggeleng, ia merasa tak ingin menceritakan apapun.
"Oh iya, saat aku akan pulang bi Raina bilang kau masih tidur, apakah kau bangun saat pukul tujuh?" Tanya Anaya berusaha membuat suasana hati Janson berubah.
"Iya, aku memang punya kelainan itu.."
"Kelainan? " Anaya bingung mendengar penjelasannya.
Janson mengangguk memastikan, "Dulu sewaktu aku bayi, aku di diagnosa penyakit putri tidur sesaat. Dokter bilang jika tubuhku terus memaksakan diri bertahan maka itu akan semakin buruk. Aku selalu bangun pukul tujuh karena penyakitku, begitulah aku aneh kan ya Anaya." Janson berujar padanya.
"Kau tidak aneh kok Janson, utu kan memang penyakit. Jadi aku tidak akan bilang kau aneh."
Janson menyeringai, "Tidak semua orang seperti dirimu Anaya, mereka membandingkan aku dengan Kakakku dulu maupun sekarang, masa kecil selalu dibanding bandingkan. Bahkan sampai urusan hobi dan kepribadianku. Aku sering sakit dulu dibandingkan dengan Kakak aku yang paling lemah, Kak Galih dulu tidak pernah sakit satu kalipun di masa sekolah. Aku seminggu sekali sakit, selalu rutin seperti itu. Kak Galih disiplin sedangkan aku baru masuk pukul 08.00 satu jam karena bersiap siap, bangunku kan pukul 07.00 tepat, sedangkan kelas pertama mulai setengah jam kemudian. Mereka selalu mengolokku dengan berbagai macam nama olokan. Aku menjadi malas sekolah dan memutuskan sekolah di rumah, Home schooling. Karena aku tidak mau di ejek lagi dan di permalukan aku lelah menghadapinya." Curhatnya.
Anaya menepuk nepuk pundak Janson sambil menatapnya dengan senyuman simpul.
"Tidak apa apa aku mengerti Janson, lagi pula aku tau rasanya diasingkan dari mereka semua. Aku akan selalu membuatmu tidak merasakan masa masa itu lagi, aku akan berusaha." Anaya mengulurkan kelingking.
Janson menanggapi jari kelingking Anaya dengan antusias.
Keduanya tersenyum di saat Halte bus sempurna merapat di dekat mereka yang tidak mempedulikan situasi.
Anaya beranjak berdiri setelah berhasil membujuk Janson untuk. Kembali ke restoran tempat Galih dan Aliza berada.
"Ayo Janson kamu lapar kan setelah ini!? "
"Tentu saja lapar, siapa yang tidak mau daging sapi.. " Janson berlari cepat menuju pintu masuk resto yang seperti pintu otomatis.
Puluhan karyawan dan ratusan pengunjung sedang memesan di meja masing masing.
"Anaya, Janson! " Terlihat di tengah sana ada Aliza yang melambai ke arah mereka berdua sengaja supaya keduanya tau posisi Aliza.
"Itu mereka ayo kita kesana. " Janson tiba tiba menggenggam tangan Anaya lalu berjalan dengan riang.
Anaya sendiri terdiam dia hanya memperhatikan lengannya yang digenggam Janson dan memperhatikan lagi raut wajah teman lelakinya.
Kali ini ia lebih mengenal Janson lebih jauh, kebersamaan merekapun jadi lebih dekat dibanding sebelumnya. Setelah Janson dan Anaya saling mengungkapkan perasaan, Anaya semakin canggung ketika ada di dekatnya. Dan saat Janson menggenggam lengannya rasanya ada yang aneh dengan detak jantungnya, sepertinya berpacu pebih cepat.
Anaya menatap wajah Aliza yang senang dan Galih yang tampak tidak peduli, Janson melepaskan genggaman ketika dia ingin duduk di kursi sementara Anaya, dia masih berdiri di sana karena merasa aneh.
"Anaya apa kau tidak mau makan di sini, apa suasananya membosankan untukmu? " Tanya Galih.
Anaya tertegun lantas menggeleng kencang, lantas bergegas menarik tempat duduknya lantas duduk.
Terlihat Aliza dan Galih sudah memesan makanan mendahului mereka, Galih yang masih sibuk dengan ponselnya sesaat ia meletakannya dan melambaikan tangan, salah satu pelayan yang sedang berbaris di belakang sana mendekat dan menjulurkan buku menu.
"Kalian mau makan apa?"