TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kematian Bi Marni dan Mila



" Aku memang kesal karena Ibu membohongiku. Tapi," Kalimat Dian tertahan karena Bi Marni Ibu angkatnya beserta Mila sedang dalam sekarat menuju hembusan napas terakhir. Dian berbalik lagi memeluk keduanya dengan air mata yang terus bercucuran.


Dian sekarang benar-benar merasa bersalah terhadap Ibu angkatnya.


" Maaf, maafkan Dian Bibi, kalau Dian tadi bersikap-" Kalimat Dian terhalangi oleh desah desahan Marni yang nafasnya sudah hampir hilang.


"Tidak masalah Dian, Semua ini memang salah Bibi nak, Semua ini karena Bibi tidak menceritakannya dari awal padamu. Sekarang pesan Bibi katakan semua yang kau dengar ini kepada An- ay a.." Mata Marni terpejam, nafas yang ada di hidungnya sudah berhenti. Jantungnya pun tak lagi berdetak, kalimat Bi Marni belum usai dan terpotong-potong. Dian tidak tahu apa yang harus ia lakukan, kepada siapa semua informasi ini akan dia berikan. Sekarang Dian bersedih karena telah kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya.


"BIBIIIIII... MILAAAAA." Sejak Bi Marni menghembuskan nafas terakhir, saudaranya Mila juga turut menghembuskan nafas terakhirnya 5 detik setelah kepergian Bi Marni.


Dian berteriak histeris. Air matanya tidak dapat dibendung lagi, sementara dari jarak 200 meter dari lokasi Rey, Dian serta Mayana Siluman Ular sanca Emas, ada pertarungan yang tak terelakkan di sana.


Mendengar isak tangis Dian yang sangat berlebihan menurut Mayana, Siluman Ular Sanca Emas itu tengah menatap bosan ke arah Gadis Kecil bernama Dian juga Mayana tidak sabar untuk menghabisi Wanita bernama Rey. Mayana tiba-tiba menyerang tanpa peringatan karena emosinya meningkat, ia jadi sedikit melupakan tujuan awalnya.


"AKU BOSAN MENDENGAR ANAK KECIL INI MENANGIS, AKU AKAN MENGHABISI KALIAN SEMUA DI SINI!" Mayana bersiap dengan kuku-kuku tajamnya, Ia mengeluarkan jarum sepanjang 3 meter dari balik jubahnya.


"Aku akan meladenimu disini!" Rey balas berseru kencang membalas seruan Mayana. Rey juga ikut maju dengan golok tajam nya.


"HIAAAA.." Mayana mengacungkan jarum besar nan panjang itu, bersamaan dengan teriakan Rey yang beriringan dengan 2 besi yang saling bergesekan kencang.


"UKHHH!" Rey berusaha menahan tenaga Mayana yang terlalu besar. Walaupun Siluman Ular Sanca tersebut tidak sekuat Wayana tetap saja bukan lawan sebanding untuknya.


Kini tenaga Rey mulai terkuras habis, langkah Rey mulai terdorong ke arah belakang diiringi seruan gembira dari Mayana Siluman Ular Sanca Emas.


"Kau akan ku habisi sekarang Wanita lemah!" Mayana bersorak gembira, Ia tersenyum ke arah Rey terlihat di matanya taring-taring Mayana yang cukup panjang, menghunus di dua arah berbeda.


Sementara Dian Gadis Kecil yang bersama Rey, tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Rey. Dian hanyalah manusia biasa, namun melihat Rey yang akan segera binasa oleh Mayana. Dian mengambil bebatuan sebesar buku ia melemparkannya tepat di punggung Mayana.


"HIAAA.." Jerit Dian seiringan dengan meluncurnya batu itu ke arah punggung Mayana, walaupun dia sekarang tengah bersedih pertarungan antara Rey dan Mayana mengalihkan kesedihannya untuk sesaat.


Kini mayana berbalik menyerang Dian, Siluman Ular Sanca Emas tersebut mengacungkan pedang tipis dan tajamnya itu ke arah Dian.


Sadar dengan perbuatannya, Dian Segera balik kanan dan melarikan diri. Diiringi jeritan Rey yang tadi sudah terjatuh oleh serangan pertama Mayana, Wanita usia 50 tahun itu bergegas bangkit dan menolong Dian yang sekarang dalam bahaya.


"Jangan ganggu Bocah Kecil itu lawan MU itu Aku!" Seru Rey dengan lantang!


Langkah Mayana tepat terhalangi oleh Rey yang mendadak ada di depannya. " Wah. Wah. Ternyata Wanita Tua sepertimu cukup gesit juga! Tapi itu belum cukup untuk mengalahkan siluman hebat sepertiku!" Mayana menyombong.


"Kita lihat saja Mayana, siapa yang lebih hebat dan siapa yang lemah!" Rey membalas dengan ekspresi datar.


Dian saking Takutnya tidak menoleh ke arah belakang, Gadis Kecil itu terus berlari karena ketakutan. Ketika sudah berjarak 5 meter Gadis Kecil itu berhenti di bawah pohon besar berwarna hitam, nafasnya memburu tipis- tipis.


" Apakah.. Aku tidak dikejar lagi?" Dian memberanikan diri menoleh ke belakang. Firasatnya benar tidak ada apa apa di belakanynya. Justru sesuatu yang lain yang tengah mengendus dirinya.


Desis desis sesuatu terdengar tidak jauh dari tempat Dian berdiri. Dian hanya bisa terdiam diri di sana, ia sengaja tidak bergerak lagi dari sana.


...******...


Di sisi lain dari lokasi Dian ataupun Rey yang tengah beradu kekuatan.


Siluman Hitam Wayana tengah bersiap menghadapi sesuatu yang datang dari arah utara.


Debu debu hitam segera terlihat di kejauhan, hanya butuh beberapa detik debu kecil itu membesar. Artunya musuh akan segera mendekat.


Rahang Wayana mengeras.