TO THE DEAD

TO THE DEAD
xx



Pelayan itu melayani mereka dengan sangat baik dan ramah, Anaya menunjuk pesanan spageti dan pelayan tadi mencatat apa yang Anaya mau, Janson memilih daging sapi yang dipanggang dan ditaburi saus gurih, steak.


Pelayan tadi memberikan hormat lalu berbalik dan mengantarkan catatan yang kemudian diantarkan pada sang koki, untuk minumannya para pelayan sudah menyajikan minuman terbaik di sana.


"Ada yang mau jus? " Galih menawarkan pada Janson dan Anaya sedangkan Aliza sudah selesai makan sedari tadi, Galih mengangguk setelah tidak mendapatkan respon Apapun.


"Kakak ada rapat kalian harus cepat pulang nanti ya, kakak duluan." Janson terlihat hanya mengangguk tidak memberi jawaban apapun.


"Tuangkan jus." Janson menyuruh pelayan yang sedari tadi berdiri agar mendekat padanya dan menuangkan jus yang terlihat segar itu, "Apa kau mau? " Tanya Janson.


Pelayan itu beralih menuangkan Jus ke gelas Anaya.


Nuansa restoran ini sungguh mewah lampu lampu gantung di atas sana beberapa berlapis emas, alunan musik pun dimainkan dengan indah membuat suasana menjadi tenang.


Aliza memperhatikan Aku dan Janson, ia sesekali tersenyum simpul.


"Eh Anaya, kalian sebenarnya berbicara apa sampai lama sekali. Dan aku penasaran apa kalian sudah ciuman atau belum.. " Alixa berbicara asal.


Mendengar kalimat barusan Janson hampir tersedak oleh air jus. Ia terlihat terbatuk batuk..


Para pelayan menjadi panik segera menuangkan air putih, Janson meneguknya perlahan.


"Kalau bicara jangan sembarangan kita ada ditempat umum Aliza!" Janson berseru ketus.


Aliza mengangkat kedua bahunya ia merasa sedang berbasa basi saja menunggu mereka makan, karena koki butuh waktu setidaknya setengah jam memasak semuanya sampai matang. Apalagi daging sapi tidak bisa diolah sembarangan oleh koki.


Pipi Janson terlihat kemerah merahan karena digoda oleh Aliza, "Anaya apa kau pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Aliza.


"Tidak pernah, walaupun keluargaku tergolong kaya kami belum pernah kemari. Aku tidak pernah tertarik dengan kemewahan disini, ini kali pertama aku berkunjung ke sini." Jawabnya.


"Sayang sekali ya, padahal kalau bisa dari dulu kalian bertemu. Resto ini dipilih karena ini tempat yang Janson sukai. Ini juga berada di dalam kompleks perumahan M Mawar, dekat dengan rumahmu Anaya. Janson kala itu membawa kartu Card yang isinya banyak uang untuk menuju ke sini." Aliza menjelaakan.


"Eh, saat di pertigaan kompleks Mawar itu kamu bawa kartu Card? Tapi di kantungmu tidak ada apapun saat aku cuci." Balas Anaya.


"Mungkin Jatuh Anaya, aku tidak mempermasalahkan benda itu toh isinya sudah diblokir kakak Galih setelah aku bilang kartunya hilang." Janson berseru.


"Anaya kalian bilang malam mencekam itu kalian sedang di intai bukan? Kalau siluman itu mengincar kamu, lantas kenapa dia mencoba melemparkan Janson juga dari atas gedung rumahmu, bukannya dia hanya mengincar kau!" Aliza berseru heran dengan Fakta aneh yang ada di sekitar.


"Aku juga tidak tau kak. Semenjak aku dan keluargaku berlibur di danau hijau wilayah timur itu semua hari hariku terasa ganjil, selain aku punya teman bernama Meli di sana." Anaya menceritakan.


"Meli, nama itu terdengar Familiar bagi keluargaku. Aku pernah mendengarnya dimana ya kira kira?" Aliza mencoba mengingat ingat sesuatu.


Pembicaraan ini tiba di ujungnya ketika pelayan mengantarkan troli ke meja mereka, tudung saju terbuka dan para pelayan meletakkannya di atas meja.


"Silakan menikmati ~" Pelayan itu berbalik setelah berkata ramah padanya.


"Setelah makanan selesai kita akan mencari tau siapa sosok meli yang kau bilang sebagai temanmu itu Anaya. Satu satunya cara adalah kembali ke danau itu." Aliza berujar serius, lalu ia menyuruh Anaya segera menghabiskan makanannya.