
Cuaca bintang gemintang di atas sana kini perlahan lahan tertutup oleh kabut tebal berupa awan awan, beberapa guntur dan angin kencang menandakan cuaca di luar sana kini mulai berubah menjadi gerimis malam, tengah malam kini merangkak ke arah dini hari dan sebentar lagi cahaya di langit sana berubah menjadi biru cerah.
Tetes tetesan air hujan masih menetes dari atas awan awan berwarna abu abu yang bergumpal gumpal di atas sana, beberapa hewan seperti monyet tengah bergelantungan di atas pohon tempat mobil itu berteduh, jalan raya di tengah hutan masih sepi dan tak nampak satu kendaraanpun karena orang orang kota memang jarang ke luar kota. Selain harus melewati kawasan terbuka hutan yang entah banyak sekali bahaya, belum lagi bahaya akan hewan hewan buas. Beberapa jam malam mereka melewati jalan raya hutan Galih selalu menemukan pohon yang tumbang dari kawasan hutan, beruntung hanya pohon pohon yang tumbang.
Xin bisa memindahkan pohon pohon itu dengan kekuatan sihirnya secara cepat jadi tak menjadi hambatan yang berarti.
Galih awalnya tak suka dengan kedatangan orang orang baru di keluarganya karena selama empat puluh tahun hidupnya juga keluarganya bahagia dan baik baik saja. Galih tak mau membuat ayahnya mengenang masa masa buruk itu lagi, Fariz tentu saja trauma dengan masalalunya itu.
Hal hal yang menimpanya dengan marabahaya, sihir dan semacamnya itu sama sekali tak ia inginkan walaupun itu adalah kekuatan yang luar biasa, kehidupan harmonis dengan keluarga saja sudah cukup baginya. Dan ia telah menjalani hari hari pahit bahkan sejak kecil, jadi ia tak ingin hal yang lebih mengerikan dari masalalunya menimpa seluruh keluarganya saat ini. Ia bahkan menangis saat kehilangan Ruth yang menghilang saat melahirkan Janson.
Sinar matahari kini mulai muncul dari belakang mobil karena letaknya memang disana arah timur, Galih yang sangat kelelahan tadi malam masih tidur di posisinya yang menyandarkan kepala pada stir mobil.
Xin membuka matanya, ia terjaga sepanjang malam karena ia merasa menjadi yang bertanggung jawab akan semua perjalanan dan resikonya. Anaya dan Janson masih tertidur dengan sabuk pengaman yang masih terpasang.
Xin melirik ke kaca spion atas, ketiga orang itu masih tertidur di kursi belakang. Meskipun luka luka mereka berangsur membaik tetap saja mereka butuh istirahat karena muka ketiganya pucat pasi.
Diluar sana cuaca masih hujan rintik rintik kecil, Xin melihat beberapa aktifitas hewan seperti tupai dan burung yang terkadang hinggap di atas mobil Galih.
"Sudah lama aku tak merasakan udara segar hutan, aku akan keluar sebentar." Xin meloloskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
Jalanan lengang di luar sana tampak indah dan rintik kecil hujan masih membuat suasana dingin dan sedikit basah, tapi Xin menyukai suasana seperti ini lalu ia mencoba berlari sambil memanjat beberapa pohon tinggi, gerakannya cepat hingga sampai di dahan pohon paling tinggi.
"Sangat indah, dan disana ada kota Bansar. Aku tak menduga ayah aku akan merasa sebahagia ini ketika aku bebas dari ruang bawah tanah itu, aku sangat bahagia sekali saat menikmati hujan gerimis dan menghirup udara segar, dan tadi malam aku bertemu siluman lain yang tidak berbahaya. Bahkan dulu ayah melarangku untuk bertemu hantu sekalipun, dan ayah hanya mempedulikan Anaya yang hanya manusia biasa dibandingkan diriku. Bahkan nenek sekalipun tidak pernah menyukaiku sebagai putrinya, nenek selalu marah marah dan melemparkan berbagai macam benda ke arahku dan bilang aku ini monster! Apa aku telah salah dilahirkan seperti ini ayah. Dan ibu selalu saja menyuruhku untuk menahan semua rasa sakit ini dengan mukul, aku sangat kesal kalian hanya membela anaya dan selalu saja dia. Kapan kalian melihatku kapan masanya kalian menatapku dengan senyuman dan kapan kalian berhenti menyuruhku untuk berhenti bertarung dengan kalian. Kalian hanya menyuruhku berlatih selama sepuluh tahun, jika aku menginginkan hal yang sama seperti Anaya walau sedikit saja aku akan mendapatkan amarah. Apa maksud dari semua yang kalian lakukan? Sedari awal kalian bahkan tak pernah menjelaskan mengapa aku terlahir seperti ini dan mengapa harus menjalani takdir semacam ini, lantas kenapa kalian pada akhirnya hanya meninggalkan pertanyaan untukku ketika kalian menjadi inti jiwa. Apa aku tak berarti seperti Anaya? Andai aku mempunyai keluarga siluman sempurna mungkin mereka akan bangga padaku saat tau aku berhasil mengendalikan aura di level yang cukup tinggi." Xin sebenarnya Siluman yang lemah hati, ia rapuh. Setelah bertahun tahun terkurung tanpa mendapatkan kasih sayang sedikitpun kini ia dihadapkan dengan bahaya yang mengintai Adiknya. Di dalam pesan terakhir bahkan Ayah dan Ibunya menyuruh Xin untuk melindungi Anaya dari jauh. Lantas pergi begitu saja seolah Xin tak berarti.
Saat tangisan Xin yang berupa tetes darah mengalir di pipinya. Seekor anak tupai merangkak di bahunya dan membuat Xin menoleh.
"Ada apa makhluk kecil, apakah kau sedang menghiburku?" Tanya Xin.
Anak tupai itu tengah menggigit gigit buah kacang dan setelah kacang dikupas diserahkan pada Xin.
"Untukku?" Xin bertanya namun tupai tadi menghilang dari bahunya.
Sesuatu melesat ke arah dahan yang ada di depannya, ia seorang wanita dengan paras cantik. Rambut sepinggang dan mengenakan ikat kepala.
"Kudengar namamu Xin apakah aku benar?" Tanya Quena, ia adalah perempuan yang menghampiri Xin dipagi hari yang cerah ini.
"Benar, apa alasanmu memberiku kacang dengan menggunakan sihir wujud binatang?" Xin balik bertanya kepadanya.
Xin yang tampak memakan biji kacang itu mulai mendengarkan dengan serius kisah kerajaan Siluman itu yang tampak menarik baginya.
"Apa yang terjadi pada dunia Siluman sana, apakah berbeda dari sebelumnya?" Tanya Xin.
Quena mengangguk. "Dulu kerajaan Siluman adalah yang terbesar yang makmur dan juga diperintah oleh satu Siluman saja. Selama ribuan Abad itu takkan berubah. Terus menerus secara turun temurun. Hingga suatu hari semuanya berubah." Quena menjelaskan.
Xin telah menghabiskan kacang itu dan melesat ke arah Quena dengan raut wajah penasaran, matanya tak merah hanya memancarkan sedikit aura kemerah merahan dimatanya. Karena auranya tersamarkan oleh tubuh Keysa Quena tak dapat mengenali wajah asli dari Xin.
"Ceritakan lagi tentang kerajaan siluman yang makmur itu, siapa raja pertamanya? Apakah Nyi Quena tau siapa namanya?" Tanya Xin penasaran.
"Dalam catatan sejarah hanya ada sedikit bukti saja, bahwa pada suatu hari muncul beberapa iblis diantara siluman yang membuat kaum kami memperoleh sihir. Dahulu hanya ada beberapa siluman saja yang terlahir dari iblis iblis itu. Hingga suatu waktu mereka menciptakan bebatuan yang mengubah para manusia menjadi bagian dari mereka dengan membuat wujud mereka menyeramkan layaknya siluman atau merekrut ruh ruh yang bergentayangan karena tak memiliki tujuan. Lantas para siluman yang lain terdiri dari bagian setengah hewan dan manusia yang merupakan kutukan dari manusia yang terkena karma kutukan. Lantas dari mereka terdapat silumam siluman murni yang kuat dengan beraneka sihir, dari rekrutan beberapa yang kuat juga ada. Tapi ruh ruh itu hanya bisa memiliki sedikit dari apa yang diajarkan sementara orang orang yang dikutuk hanya mempunyai sihir yang terbatas dan juga kekebalan tubuh. Sedangkan manusia yang diubah secara paksa memiliki kemampuan lebih hebat dibanding mereka. Bahkan lebih hebat dibandingkan para siluman murni, banyak dari manusia yang diubah menjadi siluman memiliki aura mata yang berbeda. Jadi begitu sejarah yang diketahui oleh para siluman di masa depan hingga kini, namun sejatinya siluman hanya berasal dari satu benih saja yaitu iblis dan tak lebih dari pada itu, yang lainnya mungkin hanya mitos belaka." Quena menceritakan secara panjang dan mendetail. Hanya terbatas pada sejarah siluman saja dan tak menyangkut pautkan dengan masalah masa lalu yang telah dihadapi dirinya di masa lalu.
Xin menyimak dengan semangat fakta fakta dan cerita mengenai dunia siluman itu dengan kagum.
"Nyi, bisakah aku berkunjung sesekali ke dunia siluman?" Tanya Xin kembali.
"Aku kira disini jauh lebih damai dibandingkan di dunia kerajaan siluman Nak Xin. Tidak aman, berbahaya sekali. Kau bisa bisa menjadi sengsara disana karena kekuatanmu bahkan tak setara dengan pasukan perang paling kuat disana. Hanya setara anak anak siluman." Quena menggeleng kecil.
Xin menunduk sedih menatap tanah dari atas pepohonan tempatnya berpinda pohon.
"Kau sepertinya tengah melakukan perjalanan dengan keluargamu, apakah anak manusia itu adikmu atau adik angkatmu yang kau anggap seperti siluman?" Kini giliran Quena menanyakan pertanyaan pamungkas sekaligus pertanyaannya sejak keganjilan itu.
Xin menatap ke arah lain.
'Mengapa semuanya lagi lagi bertanya tentang Anaya, lagi lagi dia yang mendapatkan perhatian! Tidak ayah ataupun ibu, sekarang malah Nyi Quena memperhatikannya. Sejujurnya aku tak pernah menganggapnya sebagai adik!! Aku benci kala ia ada dulu. Aku hanya senang saat aku tak bisa lagi dikejar untuk dijadikan jimat oleh orang itu, tapi kehadirannya juga membuatku terus menerus melakukan latihan mengerikan dengan Ayah dan Ibu. Aku membencinya. Aku kira bisa mepihatnya mati saat siluman kuat terpancing oleh aura siluman yang ku pancarkan melalui Anaya, tapi itu membuat kedua orang tuaku justru menjadi inti Siluman. Mereka hampir musnah karena perasaan dendamku dan kini aku menyesal.' Xin masih menatap arah lain.
"Dia bukan adikku, aku hanya menganggapnya sebagai adik Nyi, tidak lebih." Xin menjawab pelan.
Quena menghembuskan nafas kecewa. "Jadi selama ini aku salah sangka. Berarti aku harus segera beranjak pergi dengan kedua manusia itu, maaf telah mengganggumu Siluman cilik. Dan aku merasakan kau menyesal akan sesuatu, ketahuilah nak. Kau beruntung tidak menjadi keluarga dengan manusia sungguhan, karena kau akan mendapatkan bahaya besar terutama dari kerajaan siluman, sang ratu penguasa dari sana. Jika kau merupakan setengah manusia dan siluman tamatlah riwayatmu, maupun itu manusia atau siluman yang merupakan keluargamu. Ia akan tetap memburumu.." Quena melesat dengan cepat meniti dahan dahan pohon besar lalu memghilang dengan cepat, seraya itu terjadi auranya juga menghilang dari penciuman Xin.
"Apa yang dimaksud dengan setengah manusia dan setengah siluman oleh Nyi Quena? Apakah itu adalah. Aku? Tidak pasti bukan, aku pasti salah mengira. Sebaiknya aku membangunkan manusia tukang tidur itu sekarang, nanti lewat dari seminggu bisa sampai di rumah nenek!" Xin melesat juga melawan arah dari arah Quena menghilang.
Dari arah pepohonan dekat dengan Xin, Quena masih menguping seluruh ucapannya.
"Aku ragu ia bukan siluman yang aku cari. Dari ucapannya saja terdapat banyak kebohongan." Quena kembali melesat dan ia akan membawa Rey dan Heng ke hutan lagi tepatnya desa pedalaman untuk tinggal disana sementara waktu.