TO THE DEAD

TO THE DEAD
Cahaya misterius di palung laut



Setelah kejadian yang membuat Janson berfikir tentang betapa senangnya ia mengetahui wajah dari Ibunya yang sedari dulu ingin dilihatnya ia terdiam kembali dengan apa yang barusan ia lihat, ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Jika Ibunya waktu itu masih hidup lantas apa yang membuat Ibunya kini telah mati, bukankah Janson melihat kejadian itu dengan jelas bahwa Ibunya tidak sakit lantas mengapa ayahnya bilang Ibunya sakit sakitan sejak ia mengandung Janson. Meski tau bahwa ibunya adalah istri kedua Ayahnya namun Janson berhak bertanya selengkapnya pada Ayahnya tentang Ibunya.


Ruangan Janson kini telah hening, lampu lampu biasa tergantung di langit langit kamar perawatannya, dan sesekali Janson menatap tirai hijau di sebelah ranjangnya tak ada suara dari Anaya, pasti gadis itu telah tertidur lelap. Sementara itu Janson masih terdiam diri dan hanya bisa menatap sekitarnya dengan terbatas.


Ia mengingat lagi percakapannya dengan Anaya waktu mereka melihat berbagai kenangan masa lalu. Sistem itu bilang mereka bisa melihat kenangan dengan waktu 15 detik lebih lama dibanding sebelumnya.


Hal itu membuat Janson semangat ingin melihat lagi wajah Ibunya dan masalah apa yang terjadi di masa lalu, apa yang sebenarnya disembunyikan Ayahnya dari Janson.


"Ibu aku kangen,.. Aku pasti akan melihat wajah Ibu lagi bulan depan." Cetus Janson lalu menutup matanya.


Angin malam memasuki jendela kamar perawatan mereka yang terbuka. Sedari tadi dibiarkan terbuka oleh salah satu perawat yang kini tertidur di ruangannya.


Itu adalah ruh Anaya yang masuk dan bergegas berbaring di tempatnya.


Tak beberapa lama ia mengejap ejapkan matanya menatap sekeliling dengan bingung. Setelah tau itu tempatnya dimana dan kamarnya dekat jendela yang terbuka tadi, Anaya tau ia berada di rumah Janson dan bukan rumah sakit. Anaya tertegun ia sedang memeriksa sakunya dan kunci rumahnya hilang.


"Kemana kunci rumahku? Bukankah selama ini ada di saku?" Anaya cemas jika kunci rumahnya tak ditemukan lantas bagaimana ia membuka pintu besi yang berisi uang dirumahnya juga pintu gerbang rumahnya. Tapi setelah difikir fikir ia kelelahan setelah ruhnya berbicara dengan Kakaknya Anaya memutuskan beristirahat.


Besok ia akan kembali ke rumah apapun pendapat Ayah Janson. Ia harus mencari satu set kunci itu segera.


(Xin padahal sudah mengurus kunci Anaya, padahal Anaya tak ada kewajiban apapun untuk selalu menjaga rumah, dengan mudah Xin menggandakan kunci rumah yang baru, xin tau bahwa Hans membawa kunci rumahnya jadi Xin sudah mengambilnya kembali dari kantong Hans sekaligus menaruh kunci palsu saat ia terburu buru keluar dari rumah).


...*****...


Nun jauh di kedalaman paling dalam di lautan yang disebut palung laut, dengan tekanan dan suhu yang tinggi. Membuat tak ada satu manusia biasapun yang mampu menembus ujung dari kedalaman tersebut.


Di saat kedalaman hutan yang gelap muncul setitik cahaya biru yang memancar dengan pancaran yang hanya terlihat sekedipan mata, batu yang sangat luar biasa dan terlindungi ratusan tahun dari manusia dan dunia luar.


Di atas kedalaman sekitar 100 meter dibawah air, seorang penyelam sedang mengamati ujung palung laut tersebut. Ia menemukan kura kura yang baru keluar dari kedalaman palung laut, beberapa spesias ikan beberapa justru memasuki palung laut tersebut. Saat itulah penyelam itu memberikan kamera pengawas bawah air pada ikan tersebut.


Lantas ikan itu kembali berenang ke kedalaman palung laut. Setelah penyelam selesai menanamkan alat perekamnya ke tubuh salah satu ikan air dalam, ia kembali ke atas permukaan air laut, dengan kapasitas tabung oksigennya yang ada di punggungnya membuatnya harus menghentikan kegiatannya di dasar palung laut.


Kepalanya timbul di tepi kapal pribadi yang sedari tadi diam di luasnya samudra.


"Apakah sudah selesai memasang perekamnya pada ikan?" Tanya seorang wanita yang kini berjongkok di tepi kapal, sambil memegangi handuk kering yang dibawanya. Pria itu sempurnya telah menaiki tangga kapal menuju ke atas, kemudian ia duduk sambil menerima handuk kering itu.


"Ya sayang aku sudah memasang kamera itu pada ikan, sekarang kita lihat hasilnya dari sini apakah ikan itu menangkap sesuatu di palung laut sana atau tidak." Pria itu sekarang kembali ke dalam kapal untuk mengganti bajunya sembari mengawasi ikan tadi.


Ini penemuannya yang ke sekian kalinya, dan inilah saatnya membuktikan kecanggihan kameranya dari kedalaman sana. Meski telah ditempelkan pada sisik ikan kamera kecil itu juga mampu berpindah pindah ke setiap hewan yang ada jika ada kemungkinannya ikan itu mati karena sesuatu, layar layar monitor yang gelap digantikan dengan sinar sensor. Kamera tersebut tengah memindai wilayah kedalaman yang ada di palung laut sana.


Wajahnya terkejut karena menatap layar laptop yang kini tak menunjukan apapun lagi setelah cahaya itu terlihat, hanya ada layar hitam sepenuhnya. Dan sensor kameranya rusak seketika di bawah laut sana, meski masih menempel pada sisik ikan namun kamera kecilnya itu rusak dan tak bisa apa apa di kedalaman laut.


Ini adalah kejadian yang terus berulang ulang, saat dia ingin tau tentang cahaya bawah laut yang sering ditakuti orang orang di sekitar pulau ulafa, mereka sering melihat cahaya gemerlap dari sebuah palung laut. Meski disana tak sebesar palung mariana namun cukup besar untuk ditinggali makhluk raksasa sebesar pesawat kecil semacam helikopter. Palung di laut ulafa adalah palung yang berkedalaman 900 meter, dan lebar 200 meter. Salah satu pulau di dekat palung tersebut adalah pulau Ufalu, jaraknya hanya 20 meter dari palung laut itu, sedangkan pulau Ufala jaraknya 600 meter dengan palung laut, dipisahkan oleh samudra yang membelah dua pulau. Pulau ufalu lebih kecil dibandingkan ufala yang ukurannya dua kali lipatnya.


Pintu didorong dari luar membuat tatapan pria itu teralihkan.


"Farhan, kak Fariz menelfone kak. Katanya Janson sedang sakit dirumah, bisakah kita pulang? Aku kangen dengan si pirang itu juga putri kita, sudah lama aku tak bertemu dia pasti kangen." Maya bicara setelah melihat suaminya ada di lantai dengan tatapan kagetnya, istrinya tak ikut kaget saat itu karena mereka adalah salah satu peneliti yang ditugaskan meneliti laut. Mereka seminggu ini memang sibuk.


"Maya, aku barusan melihat cahaya dari dalam palung kali ini jelas sekali cahaya itu berasal.."


Maya bukannya ikut membahas malah bersedekap dan berujar dingin.


"Aku tak mengerti denganmu Farhan, kita ini seorang peneliti, dan jika cahaya itu ada mungkin dari salah satu senter yang kebetulan masih menyala di dalam laut. Mungkin milik para penyelam. Tak ada yang ingin aku ketahui dari palung sana, jadi mari kita lupakan tentang cahaya itu lagi. Berkali kali kau bilang hal yang sama, cahaya aneh lah dimalam hari, air laut yang tiba tiba tawar lah di sekitar palung.. Apalagi kali ini melihat cahaya di palung.. Hentikan semua omong kosong itu."


"Maya, aku mengetahuinya dari ikan yang ku pasangkan kamera dengan sensor malam, cahaya itu tidak secara langsung rerlihat, tapi dengan sensor. Lebih dari itu ada beberapa patung manusia di dasar laut sana. Yang berupa manusia secara keseluruhan..."


Setelah Farhan melanjutkan kalimatnya, maya berhenti berkomentar mengejek padanya. Ia justru membalik layar laptop mengarah padanya, "Sebuah artefak, mengapa kau tak bilang sejak tadi..." Tapi laptop itu benar benar mati dan rusak seketika setelah maya memeriksanya.


"Bagaimana mungkin, file kita yang diteliti selama seminggu disini hilang dalam sekejap, tapi aku masih punya satu cara mengetahui apa itu, kita lihat kamera yang kupasang didekatmu.."


Maya mengengkat kuncir rambut yang telah terpasang di rambut suaminya, tentu saja masih ada disana. Ia menyalakan layar dan memasukkan data seminggu penelitian mereka ke laptop lain setelah itu mereka memutar rekaman yang dilihat oleh suaminya.


"Hah.."


Maya menghentikan siaran setelah cahaya itu muncul, dan ia memperbesar gambar di area sekitarnya yang terkena pantulan cahaya.


Benar saja ada sekumpulan patung yang memegang batu yang bercahaya itu, beberapa wajah itu dikenali olehnya yang meneliti lama.


"Mereka sepertinya penduduk asli pulau Ufalu, pulau yang sekarang hanya tinggal hutan dan tak berpenghuni, dikatakan dalam sejarah para penduduknya mati karena suatu bencana gempa atau penyakit. Karena dideteksi waktu itu pernah terjadi gempa yang membuat tanah retak. Dihitung dari jumlah rumah yang tersisa dari pulau ada satu hal yang aneh, 100 orang termasuk kepala sukunya menghilang. Tak ada mayat yang pernah ditemukan ataupun bekas tulang tulang yang ada di dalam tanah. Hanya tersisa rumahnya. Semua penduduk bagai hilang sitelan bumi. Penelitian panjang ini sudah dimulai setelah rumor rumor itu beredar, rumor para roh yang menculik mereka."


Farhan diam bukan karena kaget mendengar penjelasan itu, tapi justru kecewa karena istrinya maya justru tengah membicarakan takhayul.


"Yang benar saja, maya kau ini percaya itu??!"


Maya menggeleng tertawa, farhan menghela nafas sambil menepuk dahi.