TO THE DEAD

TO THE DEAD
Rencana pulang.



Anaya dan Janson tengah bersiap siap menyandang tas dan perbekalan. Heng, Rey dan Quen akan mengajak mereka mengelilingi berbagai sudut desa. Heng juga harus memperbaiki beberapa rumah warga.


Pemukiman penduduk hancur separuh karena serangan hewan hewan buas beberapa bulan lalu.


Anaya bersandar di tepi ranjangnya, wajahnya memandang langit langit kamar tepatnya memandang lampu minyak bundar yang masih menyala.


"Anaya.. "


Anaya yang memandang langit langit kamar mendadak menoleh ke arah kirinya. Tampak di sebelahnya Amelia yang sempurna berdiri mengambang tak menyentuh tanah.


"Meli, ada apa? Kenapa muncul tiba tiba, sih. Aku kan kaget!" Anaya hampir terjengkang ke atas ranjang karena tindakan Amelia.


"Hihi.. Maaf maaf, kalau mengagetkanmu. Aku kesini karena ada hal yang mau aku ceritakan." Jelas Amelia lalu melayang di atas kasur, posisinya seolah duduk di atas kasur tapi tetap melayang.


"Hal? Ingin cerita? Tentang apa?" Anaya menatap Amelia sambil bertanya.


"Ini tentang Fariz Ayahnya Janson. Fariz tadi dirumahnya mengadakan upacara kematian Janson. Padahal dia kan masih hidup." Amelia menjelaskan keadaan di rumah Janson.


"Hmm, aku sedih mendengarnya Meli. Tapi aku harus bagaimana? Aku dan Janson terjebak disini. Ditambah ada Kak Dian." Anaya tau kemungkinan Fariz akan menganggap mereka berdua mati sangatlah jelas karena jasad mereka tidak ditemukan di rumah Anaya yang hangus seluruhnya terbakar.


"Dan, Aku ada kabar baik untukmu.. " Amelia melanjutkan penjelasan.


"Apa?" Tanya Anaya.


"Ini, aku menemukan kotak ini di ruangan bawah tanah, aku tidak ingin membukanya karena bukan hakku. Sepertinya ini amat sangat berharga hingga di simpan di dalam tanah, kotak ini tidak ikut terbakar oleh api." Amelia menyerahkan kotak itu yang seukuran kotak biasa.


Anaya tidak langsung membukanya karena Kotak itu tergembok oleh besi. dan ada lingkaran aneh di sisi luar kotak.


"Kotak ini sepertinya, amat berharga." Gumam Anaya.


"Anaya, kenapa tidak kau tanyakan pada Quen tentang kotak ini?" Saran Amelia.


"Tanyakan, memang Nenek Quen tau tentang isi kotak ini?" Tanya Anaya kembali.


"Coba saja. Nah aku mau pergi ya, ingin jalan jalan. Sampai nanti Anaya. " Amelia beranjak menghilang dari hadapannya. Anaya tidak membalas hanya melambaikan tangannya selintas.


(*Di dalam benak sana, Tepatnya Qiunaya yang melihat keadaan di luar, oa tengah terkejut mendapati Anaya memegang kotak leluhur kerajaan. Itu adalah satu satunya peninggalan yang amat berharga dari kerejaan Hirina. Isi kotak tersebut merupakan 1 dari 3 pusaka yang hilang Milyaran Abad, dalam sejarah kerajaan. Sekarang kotak yang berisi pusaka itu akan dipegang oleh Anaya suatu saat nanti.)


"Itu, itu peninggalan Kakek. Ternyata ada di sini. Trimakasih Gadis hantu kau telah membantuku menemukan kunci pembuka segel ini. Aku akan segera bebas dari raga ini*."


Anaya masih mengusap usap bagian lingkaran tempat bebarapa lubang di depannya, Gadis itu mencoba mencari caa agar kotak terbuka.


"Haihhh, dia ini tidak tau! Membuka kotak itu ada Syaratnya : Perlu 3 macam darah untuk membuka kotak itu, dan hanya gelangku yang bisa membukanya. Gelangku mempunyai kunci di ujungnya. Kuncinya tergantung padaku. Dan tentang Ayah dan Ibu yang pergi sejak kecelakaan itu, aku merasa bersalah tidak hadir di tubuh ini. Aku tak bisa menyelamatkan mereka. Karena aku tengah sibuk melawan para siluman yang menyerbu kerajaan bibi Shi ya. Kalau aku bisa terbebas dari segel. Ayah dan Ibu bisa hidup kembali. Aku akan menghidupkan kalian lagi. Dengan ritual pembangkitan, aku akan membangkitkan kekuatan siluman yang ada di tubuh Ayah dan Ibu." Qiunaya berbicara di dalam Jiwa Anaya.


"Apa yang terjadi padaku? "


...*****...


Di halaman belakang rumah Heng, Quen dan Rey sedang memberi makan ke empat kuda pemberian Shi ya dengan perantara Yu jian yang merupakan panglima kerajaan siluman di hutan KIONH, sekarang kerajaan Hirina telah terpecah menjadi 3 bagian, yaitu kerajaan yang dipimpin oleh ratu Shayana, kerajaan perbatasan dan kerajaan Shi ya saat ini. Dahulu ketiga kerajaan ini adalah satu, dibawah pemimpin Raja Vezi.


Sejarah panjang peradaban kerajaan siluman telah ada sejak ribuan abad, dan sudah dipimpin sebanyak 3 kali, sebelum Raja Vezi ada ayahnya dan juga kakaknya yang mengelola kerajaan dan bertugas memperluas.


Karena umur siluman tidak bisa diukur bukan berarti mereka tidak bisa binasa bukan? Ayahnya memerintah kerajaan sepanjang 1500 Abad, kakaknya mengelola kerajaan dalam 1200 Abad. sedangkan Vezi baru 1000 Abad, seharusnya sejak pemerintahan belum 1000 Abad, Vezi harus menyerahkan surat kerajaan dan memahkotai putranya Kezi. Namun Kezi menghilang sejak kejadian itu, dia tidak pernah terlihat ataupun kembali ke kerajaan, yang bisa dipastikan ialah Kezi mempunyai keturunan di dunia manusia yang fana.


Meskipun keberadaan keturunan Pangeran Kezi merupakan Aib, Raja tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkatnya menjadi raja jika ia lelaki dan ratu jika perempuan.


Sekarang adalah Abad 1001 pemerintahan kerajaan Hirina telah berlangsung, kerajaan terpecah sejak pemerintahan raja Vezi di abad seribu tahun.


"Kelak kerajaan akan bersatu lagi menjadi satu" Quen bergumam pelan sambil menatap ke langit biru yang terlihat cerah sentosa.


"Apa yang barusan kau katakan?" Rey yang sedang menggosok paha kuda coklat berseru, sedangkan tangannya masih menggosokkan kain pada paha kuda. Padahal kuda itu merasa tidak nyaman kala itu, kuda itu sudah bersuara dan menggerakan kakinya. Rey tidak memperhatikan tingkah kuda itu.


"Eh, bukan apa apa Kak Rey." Quen menggeleng.


Rey terus menggosok paha kuda, kali ini dengan kencang sehingga kuda itu menggerakkan kaki belakangnya.


"Kiiikkkk.. Kiiikkkk.." Rey yang tidak siap dengan apa yang kuda itu perbuat menjadi terpental hingga jatuh di atas lumpur.


Heng yang sedang memberi makan kuda kuda di halaman depan tidak menyadari keributan yang pecah di halaman belakang.


Brukkk


Heng di halaman depan mendadak menoleh ke arah pintu rumahnya yang terbuka. Dian yang sedari tadi sibuk memandangi bunga bunga liar yang indah di halaman tidak memperhatikan Heng saat ini, ia sibuk sendiri.


"Apa yang terjadi di belakang? Apakah ada serangan lagi dari pihak siluman. Astaga!! desa ini tidak terlindungi seperti dulu. Aku harus waspada." Gumam Heng yang bergegas melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah.


tidak seperti dugaan Heng, Rey dan Quen baik baik saja. Tidak ada pihak siluman wayana yang datang menyerang kali ini.


Hanya saja Heng tengah melihat pemandangan yang menggelikan.


"Haaa haaa haaa, kalian berdua ini, tak henti hentinya membuat lelucon." Tawa Heng menggelora seketika, saat melihat kedua temannya kocar kacir dikejar oleh keempat kuda yang sedang dalam amarah.


"Hey bantu kami, jangan hanya tertawa disana!!" Teriak Quen yang mulai marah, ia tersangkut di pepohonan karena dilempar kuda putih yang barusan ia bersihkan bulunya.