TO THE DEAD

TO THE DEAD
Si nenek bijak



Xin dengan berat hati kembali ke dalam rumahnya dan masuk kembali ke ruang rahasinya.


Genderuwo itu kini menghapus auranya yang bertebaran di sana kemudian segera kembali ke pohonnya di halaman belakang rumah bi imah, ia menghentikan gerakannya saat sesuatu mengintainya dari belakang.


"Wo apa kau sudah menjelaskan kenapa keluarganya di incar?"


"Belum eyang, aku tidak berani menatap mata yang penuh amarah dan aura aneh itu. Meski aura dari tubuhnya kecil tapi ketika bertatap denganku aura matanya selalu menekan kekuatanku, bakat sihirnya sudah terlihat sekali, jauh lebih besar dibandingkan kedua orangtua anak itu, bahkan aura matanya sebanding dengan makhluk dari hutan hitam. Aku tau hanya sekali melihat, jiwanya juga secara alami mampu menjadikan energi apapun sebagai kekuatannya, dan masih banyak lagi yang ada padanya, aura mata merah mengkilap ya barusan terkurung dalam segel rumahnya, aku selama di luar sini tak mampu mendeteksi aura aneh disana. Namun setelah menginjakkan kaki disana aku merasakan betapa hebatnya Xin ini. Meski di usia belia ia mampu bertarung tanpa sadar." Genderuwo itu menjelaskan sambil menahan reaksi ketakutannya.


"Apa yang kau katakan itu sangat benar? Jika begitu kau harus terus awasi dia jangan sampai ada yang membebaskan. karena begitu Xin terbebas dari kurungan area rumahnya ia akan memberikan sinyal secara total ke semua area di daerah sini. Aura itu juga pasti akan menarik perhatian para siluman lainnya di luar kekuasaanku, bahkan mungkin bahaya dari penguasa dunia siluman dalam hutan sana, sang ratu!" Yawana memberikan instruksi pada Genderuwo cucunya.


"Baik eyang. " Wo mengangguk.


"Apa aku perlu mengajarinya cara mengendalikan aura eyang?"


"Benar juga, kau harus mencobanya.. "


"Baiklah jika begitu.. "


...*****...


Mentari pagi mulai menerangi ruangan rawat nomor 152 kamar di lantai 15 gedung rumah sakit. Para perawat dari semalam sampai pagi terus berlalu lalang, sesekali mengganti makanan pasien, sesekali mengganti infus atau kebutuhan lainnya.


Anaya masih tertidur di ranjangnya dan Janson dan Aliza sudah pulang dari semalam karena Anaya sudah tersadar kembali di rumah sakit, rasa cemas Janson berkurang banyak.


Keadaan Anaya yang masih tidur dihampiri oleh Kakaknya Xin.


"Anaya, bangun."


"Kak Xin, kenapa kakak bisa ada di rumah sakit?"


"Ini masih dialam mimpimu, aku hanya tidak ingin membuat orang di sekitarmu cemas lagi, aku akan mulai bicara. Ini tentang keluarga kita yang menjadi incaran, sepertinya aku mulai menemukan beberapa petunjuk mengenai teka teki ini, pertama masalah kita ini sangat besar, dan kedua apa kau bisa menemukan teman Ayah dulu? Sebenarnya dia itu yang membuat kakak kehilangan tubuh Kakak tapi dia amat menyayangi Ibu kita, bilang padanya bahwa Ibu masih hidup dan kau butuh pertolongan darinya, namanya Hans."


"Paman Hans?"


"Apa kau kenal, "


"Ayah selalu bilang kalau paman Hans berbahaya kak, dia juga telah meracuniku saat aku umur 5 tahun."


"Ba - bagamana bisa kau baru menceritakan ini pada kakak!!"


"Aku pikir Kak Xin tau." Anaya mengangkat bahunya.


"Baiklah lupakan apa yang ku bilang meminta bantuan pada paman Hans, ini mengenai rumah, sore tadi ada orang yang bisa memasuki rumah orang tua kita dengan sengaja. Apa kau ceroboh dan kehilangan satu set kunci rumah? Jika memang benar maka berhati hatilah bisa jadi orang itu kembali.. "


Dalam sekejap Xin menghilang dari depan Anaya dan saat itu juga mata Anaya terbuka.


Belum sempat omongan yang terlontar dibalas oleh Adiknya, xin sudah terlebih dahulu meninggalkan alam fikiran Adiknya untuk kembali le salam ruang segel bawah tanahnya.


Mata Anaya sedikit kabur pandangannya karena ia baru saja bangun, tidak begitu lama setelah matanya melihat dengan jernih dan jelas ia beranjak duduk di ranjangnya.


"Apa Kakak tidak bisa menjelaskan dengan lebih baik? Aku selalu bingung dan dihantui perasaan penasaran atas apa yang terjadi di masa lalu orang tua kita kak. Ditambah lagi aku sendiri dan rumah berantakan, setelah kejadian mencekam itu aku belum membereskan apapun lagi."


Dorongan pintu kamar membuat Anaya yang sedang larut dalam gumam menoleh pelan.


"Eh dek Anaya sudah bangun, saya membawakan makanan bubur silakan dimakan. Itu saja ya saya permisi."


"Iya, " Anaya hanya tersenyum dan berkata singkat padanya.


Di sisi lain lorong lorong rumah sakit kosong, tak ada lagi yang menjenguk Anaya sampai hari kini menjadi sore disana.


Anaya kembali berbaring dan ingin berbicara dengan Kakaknya lagi melalui fikiran mereka yang saling terhubung.


"Kak, apakah aku boleh bertanya?"


"Tentang apa kali ini,"


"Kakak tersegel di sini dah hanya mampu terbuka dengan darah siluman atau darah seseorang yang spesial saja, lagi pula setelah melewati itu kalian masuh perlu menemukan segel. Ada segel cap kerajaan di pintu segel, apa kau sanggup Anaya?"


"Bagaimana kalau segelnya dipindahkan saja kak?" Setelah mendengar kemungkinannya kecil, Anaya mengganti pertanyaan.


"Kakak belum pernah mencobanya tapi, akan ku coba mencari caranya.


"


'Apakah perlu untuk memeberi tahunya mengenai aku yang sebenarnya diincar? Bukan dia? Tapi, matanya berbinar ingin membantuku dengan lebih.'


Anaya memegang lengan Xin mendekat dan membuyarkan lamunan Kakaknya.


'Sebenarnya kenapa Ayah dan Ibu memisahkan kami dan menyegel kakak di ruangan yang gelap? Apa aku bisa tau dengan membaca di perpustakaan?'


Xin membawa Jiwa Anaya lagi kali ini mereka berkeliling dengan meninggalkan tubuh mereka di tempat sana, xin membawa Anaya terbang bersamanya berkeliling di danau wilayah timur, dan menceritakan banyak hal tentang keadaan dulu saat ia kecil, dan xin juga sempat mencerotakan keanehan pada tatapannya dulu.


"Paman Hans dendam pada Ayah karena aku Anaya, sejak Aku menatapnya hingga paman kehilangan kekuatannya untuk berdiri dan pingsan, paman Hans mulai menyalahkanku dan Ayah tentu saja tidak terima dengan sikap paman hans, mereka berkelahi dan sejak saat itu mereka menjadi musuh. Ibu bilang pada Ayah kalau mataku berubah merah dan mengkilap. Anehnya lagi Ayah dan Ibu tidak merasakan apapun kecuali aura dari mataku yang besar setara dengan aura mereka."


"Mata Kakak?"


"Ya, masalah besarnya adalah mata kakak yang sangat kuat, bisa merubah energi apapun menjadi sihir kuat, lalu bisa dipancarkan lagi pada mata Kakak. Kakak belum bisa menguasai Aura dan sihir Anaya. Jadi beri waktu kakak untuk belajar lagi, sebelum rencana pemindahan segel terjadi. Setuju?"


"Iya,"


Mereka saling tersenyum dan masih berjapat tangan dengan perasaan senang, setelah percakapan singkat. Xin mengantar Anaya lagi ke tubuhnya dan Anaya bengun saat hari telah menjelang malam.


Sebuah mobil baru saja memasuki parkiran rumah sakit dan bahan berhenti.


Beberapa Anak kecil dan satu pria dewasa melangkah bersama mereka, Aliza yang postur tingginya lebih pendek dari Janson dan berambut bergelombang berjalan paling belakang dan beriringan dengan Janson yang membawa buku yang pernah dibaca oleh Anaya beberapa hari lalu di rumahnya.


Pria yang datang adalah Fariz Ayah Janson yang ingin mendengar satu penjelasan lagi darinya karena ia bermimpi hal yang buruk sekali kemarin malam. ditambah kebakaran yang terjadi kemarin sore, meski bukan di kompleks Anggrek tapi tetap saja ini harus dibahas.


Ruangan kamar didorong dan terlihat Anaya baru saja membuka mata dan beranjak duduk, ia berfikir diam disana.


"Anaya, apa paman bisa bertanya."


"Paman?"


Janson terlihat melambaikan tangan tanpa berbicara dengan Anaya karena ada Ayahnya saat ini.


"Bisa kita bicara hanya berdua, Janson Aliza kalian pergi dengan pak mulyo di mobil membeli beberapa minuman di luar untuk kita, ini kartunya jangan sampai hilang."


Janson mengangguk sambil menyerahkan buku dan bingkisan buah disana.


Lantas berlari lagi menyusuri lorong rumah sakit, kali ini mereka sedang adu lomba lari.


Pintu kembali ditutup oleh Fariz. "Aku punya sesuatu pertanyaan untukmu nak, dan apa ini ada yang aneh dari bau auramu, ada aura kuat menyelimuti dirimu? Aura makhluk apa lagi ini,"


'Ingat Anaya jangan beri tau keberadaanku.. '


"Itu Aura teman baruku.. "


"Siapa,"


"Entahlah, dia datang dan pergi aku tidak tau persis tapi dia bukan Makhluk jahat."


'Apakah paman curiga.. ' Benak Anaya dengan keringat dingin membasuh dahinya.


'Anak ini, ia mulai berbohong..' Fariz merasakan aura di jiwanya mulai ada energi abu abu yang menyelimuti meski hanya sedikit.


'Tampaknya kebohongannya tidak parah, mungkin ini menyangkut privasinya. Aku tidak tertarik dengan itu tapi aku penasaran apa yang disembunyikan anak ini?'