TO THE DEAD

TO THE DEAD
Membahas Bu Rizka



Pagi ini suasana ruang tamu tampak sepi, Ayahnya Burhan seperti biasa datang hanya di kala pagi untuk mengantarkannya.


Perjalanan menuju gerbang sekolah tidak jauh, Dinas pendidikan kota bansar, SD Anggrek 1, jalan Anggrek blok Utara. (0869).


Seketika terlihat gerbang sekolah dan Burhan berhenti tepat di samping gerbang yang sudah terbuka.


"Fariz belajar yang rajin ya, ayah mau kerja."


"Siap Yah.." Fariz memberikan tanda hormat. Lantas melangkah melewati gerbang sekolah, tapi kala Fariz baru beberapa langkah, dia kembali melambai ke arah Ayahnya. lalu meneruskan berjalan.


"Hei Fariz, pagi.." Handika menyapa dari belakang, dia berlari dari gerbang menuju ke arah Fariz lantas menepuk pundaknya keras


"Dih, ada apa sih Dika. kalau mau nyapa yang bener dong, masa dari belakang? elu penculik apa!?" Fariz kesal, tepukan tangan Handika cukup keras tadi.


"Sorry, sorry deh.. namanya juga Repleks."


"Refleks, bukan Repleks."


"Sama aja, sama sama Repleks"


"Ah ya terserah deh!" Fariz menyerah, memutar bola matanya tak peduli. Dika adalah Dika. kalau bahasa gak lancar, ya seterusnya gak akan lancar.


Kedua anak lelaki usia 8 tahun itu mulai menuju lorong lantai 1, " Eh Fariz,"


"Ada apa?"


"Kemarin di kantin, ada ribut apa sih. sampai mamang tukang bakso ngomel ngomel."


"Eh, tau dari mana kau Dika?"


"Mamang bakso itu tetanggaan sama rumahku, ya cuma beda satu rumah doang sih." Jelas Handika. Mereka baru sampai di anak tangga menuju ke lantai dua. Kelas mereka ada di ujung kelokan.


"Terus, kenapa dengan Bu guru?"


"Kata tetanggaku, Bu Rizka hutang padanya kemarin. Pas traktir kau dan bapakmu, dia sampai jual jam tangan lho." Handika menjelaskan seluruh cerita.


Fariz seakan-akan tidak percaya dengan cerita dari Handika, tapi menilik ibunya dulu.


...ΩΩΩ...


"Tenangkan dirimu Zahra.." Burhan berseru lirih. Berusaha menenangkan istrinya.


"Biarkan saja, biar anak itu tau siapa dia. Dan **Anak itu pergi dari sini.."


"Aku yang membawanya, Zahra. demi kau.."


"Heh, demi aku.. mas g*la ya, pantas saja.. lebih baik ceraikan aku mas. atau mas pilih anak gak jelas itu."


"Aku pilih Fariz**!"


(Aku ingat kalimat itu, aku tau aku bukan siapa siapa. hanya anak buangan.. Ayah memilihku dibanding ibu.)


...ΩΩΩ...


Fariz berdiam diri di lorong, kelas hanya tinggal beberapa langkah lagi padahal, dia malah melamun di jalan itu.


Suara gerutuan guru mulai terdengar di ujung lorong, nampaknya 0elajaran ini akan segera di mulai. Karena Fariz melamun. Maka.


PLAK!


Handika menamparnya, berusaha membuat Fariz tersadar dari lamunan.


sontak saja Fariz mengaduh, jelas jelas tamparan Handika keras. mana mungkin Fariz tidak terasa.


Nyut nyut, sambil menggerutu mereka berbisik bisik saling debat. guru sudah sempurna berada di pintu masuk.


"Pagi Anak anak.., kalian sehat kan?"


"Sehat pak,"


*Tring... tringg.. tring..*


"Riz,"


"Ya,"


"Jajan yuk, beli risol."


"Ayok lah.."


Pelajaran Pendidikan tadi, separuh lebih tak ada yang masuk pada kedua otak bocah ini. mereka malah semangat jajan di kantin.


Lorong lorong kelas lantai dua, tidak lengang pun tidak ramai. Guru guru mulai menuruni tangga, tak sengaja berjumpa dengan orang yang mereka bicarakan tadi pagi.


"Pak, saya mohon berikan saya kesempatan sekali saja, saya butuh biaya untuk kebutuhan putra saya."


"Apa saya terlihat peduli, atau kasihan pada anda Bu Rizka. saya menurunkan ibu karena ada guru honorer baru dan lebih terlihat cerdas, dibanding anda."


"Kasih saya kesempatan sekali saja pak, sekali saja." Bu Rizka sedari tadi memohon mohon kepada kepala sekolah.


"Mohon maaf, Bu saya sudah urus semua surat penurunan jabatan ibu sebagai guru tetap, dan anda akan mendapatkan potongan gaji karena setengahnya akan digunakan untuk hutang anda bulan bulan sebelumnya. beberapa pedagang di sini sudah protes puluhan kali, dan saya sebagai kepala sekolah yang baik. Saya harus segera menyelesaikannya. Jadi kepindahan Bu Rizka sudah di atur dan -" Kepala sekolah menyerahkan surat penurunan jabatan dan sekaligus pemindahan mengajar.


Bu Rizka tertegun memegang surat tersebut, betapa tiba tiba semua ini terjadi, dia hanya dekat dengan sekolah ini dan dia harus pindah mengajar ke sekolah lain yang jaraknya jauh dari rumahnya.


"Baiklah pak.." Bu Rizka ingin sekali menangis namun itu adalah ruangan kepala sekolah, dia harus pulang sekarang. Dan mengemasi barang barangnya di ruang guru.


Rizka seperti habis bangun dari mimpi indah, dia di pensiunkan awal sekali. Dan bicara soal sekolah dasar, di sana hanya ada 1 sekolah dasar di kota bansar. Karena yang lainnya adalah asrama SMP dan SMA negri. Di daerah bansar bagian Utara. Sisanya jaraknya 17 kilo dari sekolah itu, dan berarti Rizka harus pindah rumah.


'Bagaimana ini, kontrakanku menunggak 3 bulan, lalu aku harus bilang apa ke ibu kontrakan..' Rizka melangkah meninggalkan lantai dua, lalu mengajak Fiqri berkemas. Dia juga harus pindah sekolah.


Fariz yang sedang berada di dekat gerbang sekolah melihat gurunya Bu Rizka pergi dengan raut wajah sedihnya.


'Kenapa ibu guru sedih?' Batinnya melihat gurunya yang berjalan menjauh lalu hilang saat kendaraan angkot menampung mereka.


Handika tak lama kemudian mengejutkan Fariz dari belakang, sontak Fariz memukulnya dengan gemas.


Handika tertawa.


...*****...


"Eh, aku duluan ya Riz.." Ucap Handika


"Iya, dik.." balas fariz


Fariz melambai pada Handika. mereka telah di jemput oleh orang tuanya masing masing, Burhan yang baru sampai mendadak bingung melihat Fariz.


"Barusan itu temanmu ya nak?" Burhan tiba tiba muncul di sebelah Fariz membuat terkejut sejenak, namun karena Fariz sudah terbiasa dengan kelakuan ayahnya. dia jadi tidak kagetan lagi.


"Eh, ayah. iya tadi namanya Handika teman sebangku Fariz." Jawab Fariz sambil memandang ayahnya.


"Ooh, baguslah kalau bisa langsung akrab bersama temanmu di hari pertama masuk sekolah, tidak seperti dulu saat kau kelas satu.. haha.." Burhan mengingat momen moment lucu saat Fariz tidak pernah akur dengan teman temannya itu.


"Ish, ayah. masa lalu ngapain di ungkit. lagi pula aku masih kecil kan saat itu." Fariz cemberut. wajahnya jadi terlihat muram dan kemerah merahan.


"Bagi ayah, kau selalu kecil nak." Burhan mengelus selintas kepala anaknya.


membuat Fariz menatap bingung pada ayahnya ini. tentu saja. apakah nanti setelah Fariz dewasa sekalipun.. masihkan ia akan dianggap kecil oleh ayahnya.


Apa takkan pernah berubah, apakah maksudnya ia akan tetap menjadi anak yang sama seperti dulu walau sudah berubah?


"Ya sudah ya sudah, ayo kita pulang saja." Namun Fariz terlanjur kesal. dia mengenakan kaki dengan kencang ke tanah.


"Ye, anak ayah merajuk ni ye..."


"Tidak, siapa pula yang marah..."


Burhan tertawa saat melajukan kendaraannya.