
Rumah yang tak layak.
Mulyo berbalik dan hendak melihat kedua anak majikannya, hanya untuk memastikan apakah kegiatan keduanya sudah usai atau belum.
Aliza masih berkutat dengan nasi bungkus hangatnya, kerupuk renyah menghiasi mulutnya yang penuh lauk dan nasi.
"Ternyata makanan tepi jalan juga tak kalah enak dari buatan rumah ya, kerupuk ini aku suka sekali." Aliza berceloteh selagi mulutnya penuh.
"Ya namanya juga nasi bungkus, kalau aku suka kerupuk udang ini jauh lebih enak dan gurih lho.. " Celetuk Janson sambil bergaya paling menikmati rasanya kerupuk udang di depan Aliza. Membuatnya ngiler menginginkan kerupuk udang juga.
"Janson, iih aku mau!! Kerupuk nya bagi dong, kau pelit sekali sih!" Celetuk Aliza sambil mencoba meraih kerupuk udang yang dipertahankan Janson dengan sebelah tangannya, karena tangannya yang lain tengah menahan Aliza yang terpengaruh oleh perkataannya barusan.
"Bagi bagi bagi!! Pokoknya bagi!!" Celoteh Aliza.
"Enggak aku gak akan kasih, enak saja!! Beli sendiri sana di warung!!" Janson berseru.
Pergulatan kecil itu terus berlangsung bahkan sampai Mulyo melihat mereka tetap tidak mau mengalah satu sama lain, benar benar merepotkan bagi Mulyo. Sedangkan Anaya tengah membuka kunci garasi sedari belasan menit lalu. Ia tidak jadi makan di restoran karena keadaan disana yang kebakaran sebelum pesanan yang diantar. Sedangkan Aliza sudah makan sore dan siang. Perut Anaya sampai berbunyi beberapa kali di dalam mobil milik Janson. Tangannya saja gemetar karena ia akan kehabisan tenaga membuka kunci garasi.
Mulyo yang tidak menghiraukan pertengkaran kecil kedua sepupu itu menoleh lagi pada Anaya. Kali ini tatapannya menyelidik.
"Kenapa dengan Anak itu sekarang?" Mulyo memperhatikan Anaya yang terasa janggal baginya.
"Aku, tidak kuat.. " Anaya lunglai dan terduduk di depan pintu garasi sebelum ia memutar kunci tersebut apalagi membuka garasinya.
Mulyo bergegas berlari menuju depan garasi karena melihat Anak itu yang kelihatan lemas, jika diperhatikan lagi sejak beberapa jam lalu raut wajah Anaya banyak berubah menjadi pucat pasi.
Janson yang masih berebut kerupuk udang dengan Aliza di dalam mobil kini menoleh melihat sopir suruhan Kakaknya yang tengah berlari panik.
"Ada apa?" Janson bergumam kecil, kewaspadaannya menurun dan tangannya kini melepaskan kerupuk udang itu, Aliza yang menyadari Janson menyerahkannya menjadi heran, tatapan matanya membesar menatap kerupuk udang itu diserahkan dengan suka rela padanya.
Batin Aliza bertanya tanya sejenak, 'Tumben sekali anak itu tidak pelit, biasanya di rumah ia bahkan tak rela berbagi kue jika bi Ina sedang membuat kue, si rakus itu akan menyembunyikannya di kamar karena ia memang punya ruangan penyimpan makanan, lantas menghabiskannya dalam sehari. Sekarang tumben sekali ia menyerahkannya begitu saja, ada apa ini... Eh pak Mulyo kemana?' Aliza menyadari sesuatu karena di sekeliling mobil hanya ada dirinya saja, "Eh eh, kemana pak Mulyo dan Janson?" Sesudah pertanyaan itu keluar tampak mendekat kedua orang yang Aliza kenali mendekat dengan wajah yang panik.
"Cepat naik Den Janson, Anak ini pingsan kita bawa dia ke rumah sakit. Non Aliza pasang sabuk. Pengaman dan sudahi dulu makan sorenya.. " Seru Mulyo dengan wajah panik.
"Eh eh eh eh.. Ada apa ini Janson? Anaya kenapa bisa pingsan begini," Aliza ikut memandang khawatir.
"Apa mungkin karena Anaya tidak makan selama seharian ini, Aliza katamu setelah aku bangun dan bertanya bukannya Anaya langsung pulang ke rumah ya? Padahal makanan di rumahnya sudah habis, kemarin lalu itu aku memakan sisa makanan terakhir yang dia punya.. Harusnya sejak awal aku tidak kesini jika tidak-" Gerutu Janson.
"Tenang Den, sepertinya Anak ini hanya pingsan karena kelelahan. Kita bawa dia untuk di infus dulu di rumah sakit. Jangan khawatirkan, sekarang pasang sabuk pengaman kita akan pergi.. "
Mobil itu segera melaju ke jalanan sana, salah satu dari mereka sama sekali tidak menyadari ada benda di depan garasi yang tertinggal di sana. Satu set kunci rumah.
...******...
Tetes tetesan dari infus mulai memasuki tubuh Anaya Prisila yang sekarang hanya bisa terbaring diam di kamar rumah sakit, ditemani oleh Janson dan Aliza yang bermata merah dan pilek usai menangis berjam jam karena Anaya tak kunjung sadarkan diri dari pingsannya.
Ada rasa sedih dan sesal dihati kedua sepupu itu pada Anaya.
Dari arah belakang pintu didirong dan dokter masuk untuk memeriksa keadaan pasien.
"Permisi.. " Dokter menyela keheningan yang ada di sana serta ingin diberi ruang untuk memeriksa keadaan pasiennya.
Janson beranjak menepikan tempat duduknya, Aliza yang duduk di seberang hanya bisa terdiam dan mengusap air matanya. Mulyo mengulurkan sebongkah tisu untuknya. Aliza mengambilnya dan mengeluarkan ingus dari sana.
Srott...
Suara itu tidak mengganggu dokter yang memeriksa keadaan pasien, malah dokter tersenyum mendengarnya.
Dokter terlihat menatap tidak percaya terhadap pasien yang satu ini.
"Apa ini..? " Dokter dibuat bertanya tanya sendiri. Mendengar hal itu keluar dari mulut dokter Mulyo berdiri dan menjadi penasaran.
"Ada apa dok, apa yang terjadi dengan Anak ini?" Tanya Mulyo.
Mulyo tak tau harus berkata apa di depan Dokter, ia benar benar tidak menyangka ini akan terjadi, anak itu sekarang berada di ambang kematian hanya karena tidak makan?
"Apakah dia bisa sadar?" Tanya Mulyo.
"Kemungkinannya hanya 30-50% bagi pasien yang koma, tapi keadaan ini jelas berbeda jadi kemungkinannya 50- 80% Jelas ia bisa sadar, namun ada kemungkinan ia tak akan sadar atau mati di 20% lainnya. Saya tidak akan berhenti memeriksanya, saya akan menyuruh suster untuk memasang alat di tubuhnya dan memasang alat pendeteksi detak jantung di kamar ini. Tunggu sebentar-" Dokter berbalik dan meninggalkan ruangan.
Janson langsung menanyai Mulyo mengenai keadaan Anaya, Aliza sepupunya Janson juga melakukan hal yang sama.
Mereka meminta jawaban atas apa yang mereka tanyakan, namun Mulyo hanya bisa berkata-
"Anaya baik baik saja, tenanglah Den, Non." Jawab Mulyo sembari meneteskan air matanya.
Janson yanh mendengar dan melihat raut wajah supirnya menjadi sedih.
"Anaya.. " Janson kembali ke tempat dudiknya dan memegang tangannya erat.
Waktu terus berlalu dan kini sudah tengah malam, dalam alam bawah sadar Anaya yang kini tengah terbaring ia mulai menggerakkan jemarinya.
...*****...
Kabut kabut mengelilingi di sekitarnya, Anaya kini tak bisa melihat apapun yang ada di sekelilingnya kecuali kakinya yang terasa berat dan tak dapat bergerak kemanapun. Nafasnya tidak sesak tapi kabut ini membuatnya tidak tau ada dimana.
"Dasar adik bodoh ini!!" Suara itu terasa dekat namun Anaya tak dapat melihat apapun yang ada di sekitarnya, suara itu seakan mengambang ambang saja.
"Kamu siapa, lepaskan aku dan biarkan aku kembali ke tubuhku!!" Teriak Anaya ke segala arah.
"Hahaha.. Kau memang ada di tubuhmu bodoh! Tapi aku membuatmu dalam keadaan koma. Jiwamu sekarang jadi tahananku!!"
"Untuk apa kau menahanku, siapa kau berani sekali mengendalikan aku, cepat lepaskan!!"
"Kau ini, dasar bocah!! Kau merasa bebas karena telah membunuh orang tuamu sendiri ya?"
Mendengar ucapan sembarangan itu Anaya benar benar marah.
"Apa maksudmu!! Aku tidak mungkin penyebab Ayah dan Ibu meninggal."
"Diam, kau. Memang penyebabnya bodoh!! "
"Tidakk!! bukan!!" Anaya berteriak.
Sosok itu kini amat dilihatnya dengan baik, kabut kabut perlahan menyingkir usai sosok itu melambaikan tangannya.
Anaya melihat wajahnya dengan tatapan matanya yang membesar, "Kau kenapa mirip denganku?"
"Bodoh, aku ini kakak kandungmu.. Masa tidak paham juga, lalu untuk apa tadi kau kupanggil adik hah?"
Anaya tak mampu lagi menjawab, "Namaku Xin, kau bisa memanggilku Qiunaya. Nama ini pemberian ibu dari kelahiranmu saat usiaku 15 tahun. Dan sekarang usiaku 24 tahun, sedangkan usiamu 9 tahun bukan Adik.. Kau pasti bingung kenapa aku tidak terlihat selama ini, kau pasti menganggap dirimu itu anak tunggal ya? Itu memang benar karena aku hanya terlahir sebagai jiwa dan ragaku mati di dalam sana.. Ibu dan Ayah sama sekali tidak mengerti karena mereka masih merasakan kehidupan di dalam sana, sedangkan diagnosa dokter telah menyatakan aku meninggal."
"Matamu, merah.. Apa kau siluman? "
Xin tersenyum, "Rupanya kau tak terlalu bodoh ya, iya aku siluman. Jika jiwa siluman hancur ia bisa di cap meninggal, tapi jika tubuhnya saja. Maka itu hanya dianggap sebagai koma.. Aku mendapati wajah yang mirip denganmu karena aku mengcopy nya dari dalam rahim ibuku sendiri. Ketika kau lahir aku bisa berwujud terlihat seperti manusia. Namun aku tidak dibolehkan keluar dari rumah, akh belajar di ruang khusus selama bertahun tahun, yaitu di dimensi yang berbeda Adikku.. Aku juga bisa melindungimu dari jauh karena aku mengcopy ragamu jadi aku tinggal menyelimuti penangkal di seluruh tubuhmu.. Hingga-"
"Hingga apa? " Tanya Anaya.
"Hingga saat kau mencari masalah dengan Amelia, koordinat tidak langsung Wayana."
"Eh.. " Anaya tampak bingung dengan ucapan Xin.
"Apa maksudmu?" Anaya tidak mengerti.